
●●●●
"Hehee…Zachery, i'm back honey…" ia tersenyum miring seraya menggigit bibir bawahnya.
"Berteman dengan istri mu yang baik hati itu sepertinya menarik Zach." Sepertinya wanita licik ini tengah merencanakan sesuatu.
••••
Esoknya, seperti yang ia katakan kemarin Melodi kembali bertandang ke toko Celo. Ia berencana untuk mendekati Celo dengan menjadi temannya.
Dengan lancangnya ia lansung saja masuk ke ruangan Celo. Meski sudah di peringati tetap saja ia menyelonong, buka Melodi namanya jika bisa menghargai privasi orang lain.
"Maaf Miss, anda tidak bisa masuk kesana." Cegah karyawannya.
"Tidak bisa? Lalu kenapa orang rendahan seperti kalian bisa masuk?" Bahasa kasar selalu saja ia lontarkan.
"Maaf Miss, jika anda mau mencari masalah sebaiknya jangan di toko kami." Lelah bersabar karyawan itu pun terbawa emosi.
"Lancang sekali kau bicara seperti itu pada ku!" Melodi hendak melayangkan tangannya, beruntung Celo bergerak cepat menghalanginya.
"Maaf Miss, jika karyawan saya ada membuat anda kesal, saya minta maaf. Tapi jangan begini, mereka sama seperti kita. Semua manusia itu setara." Walau bicara demikian, tetap saja Celo memasang wajah senyumnya.
"Ahh..maafkan saya, mungkin ini bawaan bayi." Melodi memasang wajah se menyesal mungkin dan tentu saja semuanya palsu.
Usainya ketegangan tadi, Celo dan Melodi terlihat akrab. Bahkan mereka tak lagi berbicara dengan formal dan kaku.
"Mm…apa yang membuat Nona Melodi menyukai bunga?" Mereka berbincang dengan Celo tetap melakukan pekerjaannya menata bunga.
"Entahlah. Mereka sangat cantik dengan warna alami itu, membuat siapa saja merasa tenang dan damai. Jangan formal begitu Miss, cukup panggil Nona saja." Imbuh Melodi, ia benar-benar menghayati perannya.
"Ahh..yy-yya…kalau begitu panggil saya Celo saja." Mereka kembali berbincang kecil dan tak jarang sesekali tertawa bersama.
"Wahh…Miss Celo benar-benar orang special ya. Dengan mudahnya dia membuat semua orang menyukainya." Para karyawan yang tak terlalu sibuk memperhatikan Bos mereka dari jauh.
"Kau benar. Beruntung sekali kita memiliki Bos seperti itu. Baik hati, tidak sombong, cantik pula, terlebih lagi dia tidak pelit."
"Wahh…benar sekali tuh." Sahut yang lainnya setuju.
"Mm..sudah berapa lama kalian menikah?" Tanya Melodi mencoba mengorek informasi.
"Hah??" Terang saja Celo heran, karena pertanyaan Melodi barusan seperti mereka sudah kenal lama.
"Ehmm…itu maksud ku, it-itu…sudah berapa lama kau menikah dengan suami mu? Yya..itu…" ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidaklah gatal. Mendadak ia jadi jadi gugup sendiri.
"Shit! Hampir saja kelepasan." Rutuknya dalam hati.
"Ohh…itu. Tapi dari mana Nona tau kalau saya sudah menikah?" Celo tidak bodoh, ia tau bahwa Melodi sedang gugup. Tapi entah kenapa itu.
"Ahh..itu ya? Kalau itu saya dengar dari pelanggan disini."
"Begitu rupanya." Celo coba menghilangkan kecurigaannya.
"Jadi sudah berapa lama Celo menikah?" Ulangnya bertanya.
"Ini sudah memasuki bulan ke empat. Nona sendiri bagaimana? Sudah berapa lama Nona menikah?" Sekarang Celo yang membalikkan pertanyaan serupa untuk Melodi.
"Saya belum menikah." Sahutnya cepat.
"Mm…maksud Nona?" Heran Celo.
"Bagus. Pelan-pelan akan ku sisipkan kisah cinta ku dan suami mu." Batin Melodi disertai seringai iblisnya.
"Ya…begitulah. Korban pergaulan bebas."
"Maaf…" Celo jadi tak enak hati dibuatnya.
"Mau mendengar cerita ku?" Tawarnya.
"Kalau Nona tidak keberatan tentu." Celo sangat senang jika orang mau berkeluh kesah padanya.
"Aku punya seorang kekasih, dan tentu kami saling mencintai. Kami nyaris saja hampir menikah hari itu, tapi sialnya aku harus hamil dengan pria lain." Sedikit menjeda nya, barulah ia lanjutkan.
"Aku di bawa pergi oleh ayah dari bayi ini jauh dari pria yang ku cintai. Sampai-sampai pria itu akan menikahi perempuan lain. Dan kau tau Celo, mereka gagal menikah, karena di hari pernikahannya dia malah pergi ketempat dimana aku berada."
Deg
Entah mengapa Celo merasa cerita ini sama dengan cerita hidupnya, mungkin kah ini hanya kebetulan semata?
"Mm…entahlah. Sampai saat ini aku tidak mendapat kabar bahwa dia sudah menikah. Mungkin dia masih menunggu ku." Dia mengangkat bahunya acuh.
"Bagus, kau sepertinya terpancing Celo. Tapi sayang, tidak akan ku buat ini mudah, kau harus mengetahui kenyataanya dengan pahit dan menyakitkan." Ucapnya dalam hati sarat akan dendam.
"Maaf, Nona. Jika anda merasa tidak nyaman tidak usah diteruskan." Celo menghentikan curahan Melodi tadi.
"Ya..maaf Celo jika ceritanya menggantung." Ia memasang wajah sesedih mungkin.
••••
Hingga siang ini Melodi masih saja betah merecoki pekerjaan Celo. Entah apa yang sedang di rencanakannya. Bukan Celo namanya jika ia memperlihatkan rasa keberatan.
"Miss… Tuan Zach baru saja menghubungi kami. Beliau berpesan segera hubungi balik, karena dari tadi Miss tidak menjawab panggilan Tuan." Salah satu karyawan kepercayaan Celo yang bernama Sesyil.
"Benarkah? Ahh…ponsel Celo pasti masih di dalam tas." Segera ia beranjak berdiri untuk meraih tasnya lalu mengeluarkan ponsel miliknya.
"Astaga…tiga puluh tujuh panggilan. Mas pasti marah." Gumamnya merutuki diri sendiri. Semua itu tak terlewatkan oleh Melodi.
"Heh…lihat saja, sebentar lagi akulah satu-satunya wanita yang akan Zach cemaskan." Batinnya mendelik kesal kearah Celo.
"Maaf Nona, saya mau menghubungi suami saya dulu sebentar." Izin Celo sopan.
"Tentu. Silakan Celo."
"Mma-.." belum selesai ia menyapa suaminya, Zach sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Astaga Celo…kau kemana saja. Mas hampir seperti orang gila menghubungi mu sedari tadi. Kau kemana saja?" Jelas terdengar kepanikan di seberang sana.
"Maaf Mas, tadi Celo terlalu asyik menemani teman Celo bercerita."
"Teman? Siapa?"
"Pelanggan tetap disini."
"Oh…" Zach cuma ber oh ria saja menanggapi jawaban istrinya.
"Sayang, Mas hari ini makan di luar bersama client. Tidak masalah kan?" Tanya Zach takut-takut.
"Tidak apa-apa Mas. Celo bisa makan siang bersama teman-teman disini."
"Baiklah, Mas tutup ya. I love you my wifey."
"Ya Mas. I love you too." Perkataan terakhir Celo sukses membuat Melodi meradang.
••••
"Bi…bisa tolong Bibi buatkan saya makanan pedas? Saya sangat menginginkannya." Pinta Chris dengan wajah memelas.
"Maaf Nona muda. Anda tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan pedas. Kasihan janin anda Nona muda." Bibi takut akan terjadi sesuatu nanti.
"Sekali ini saja Bi, dan juga tak terlalu pedas." Mohonnya.
"Maaf Nona."
"Baiklah." Chris kembali masuk ke kamarnya. Ia terpikirkan seseorang yang bisa dimintai nya tolong.
Ia meraih ponselnya yang terletak diatas nakas disamping ranjang. Ia menekan nama seseorang untuk dihubungi nya. Sebenarnya Chris juga heran kenapa ia menginginkan makanan pedas seperti itu, apakah ini yang dinamakan dengan ngidam?
"Kau membuat ibu mengidam nak, disaat ayah mu tidak berada disini. Semoga saja pria yang ibu cintai mau membantu kita." Chris mengusap perutnya yang belum membuncit.
"Baiklah, kita akan coba." Chris menyentuh call untuk memanggil. Meski sangat lama, tapi untunglah orang di seberang sana mau menerimanya.
"Apa yang kau inginkan?" Hal pertama yang ia dengar ialah jawaban ketus.
"Maaf Bry.."
●●●●
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman... jadikan FAVORITE
Dukung dengan LIKE & COMMENT
Juga VOTE jangan lupa FREE kok
TERIMA KASIH