Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Jalan hidup



■■■■


Banding terbalik dengan Celo, Zach merasa dunianya seperti jungkir balik. Semua orang menentang pendapatnya, bahkan kedua orangtuanya. Karena itulah Zach memutuskan untuk kembali ke Holland dan memulai lagi semua dari awal. Zach bukanlah tipikal orang yang tak bisa hidup tanpa uang, sedari kecil orang tuanya telah mendidiknya menjadi mandiri. Yang menjadi beban pikirannya sekarang bukanlah uang, melainkan semua yang ada disini, kenangan dan kepahitan semuanya terus membayanginya.


Setelah berbicara dengan papinya, Zach memutuskan pergi ketempat Eric. Meski sahabatnya itu masih bersikap dingin namun tetap saja ia masih memerhatikan kondisi Zach secara diam-diam.


"Sudah kau bicarakan dengan paman tentang kepindahanmu?"


"Sudah."


"Lalu apa sekarang? Kapan kau akan berangkat?" Tanya Eric acuh tak acuh.


"Kau juga ingin aku pergi secepatnya!" Kesal Zach.


Tanpa menjawab Eric berlalu meninggalkan Zach kekamarnya.


Zach tinggal sendiri dengan televisi menyala didepannya, namun tak menarik minatnya sama sekali untuk menonton. Diteguknya lagi sebotol minuman yang tadi sempat ia ambil dari lemari pendingin.


Merasa sedikit pusing Zach merebahkan tubuhnya disofa yang ia duduki hingga ia tertidur akhirnya. Eric yang tak sengaja melihatnya saat ia akan pergi mengambil minum mendekati Zach.


"Semoga dengan semua kejadian ini kau lebih dewasa lagi Zach." Eric berucap pada Zach yang tengah tertidur.


"Heh….tidur jangan disini! Nanti badanmu sakit-sakit semua." Diguncangnya pelan bahu Zach, membangunkannya untuk tidur dikamar tamu.


Dalam keadaan setengah sadar Zach masuk kekamar dan merebahkan tubuhnya dikasur empuk itu.


°°°°°


Pagi harinya, Zach bangun masih dengan kepala yang sedikit pusing. Ia beranjak kedapur yang ada diapart Eric membuka lemari pendingin dan meneguk air kemasan yang ada didalamnya.


"Sarapanlah dulu sebelum kau kemana-mana, sudah kusiap diatas meja. Ingat untuk memanaskannya."


Begitulah kira-kira begitulah isi tulisan dinote yang ditempelkan Eric dipintu lemari pendingin.


"Dasar cerewet." Dengan senyum mengembang Zach mengikuti instruksi yang dituliskan Eric.


°°°°°


Hari ini adalah hari pertama Celo akan bekerja direstoran milik kenalan Russel, sebenarnya dia malas jika harus berdekatan dengan pemuda itu. Tapi bagaimana lagi, ia sedang butuh pekerjaan tambahan dan Russellah yang membantunya.


Seperti renacananya diawal, pagi hari hingga sore Celo tetap membantu bibi ditoko bunga. Bibi akan curiga jika ia berhenti dari sana, makanya ia mencari kerja paruh waktu.


"Bi, mungkin setiap sore Celo akan kerumah mas Zach. Karena maminya meminta Celo makan malam disana setiap hari." Ia coba menjelaskan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang lain pula. Walau ia sadar, kebohongan untuk kebaikan itu nonsens adanya dan juga yang namanya kebohongan suatu saat akan terbongkar juga.


"Apa kau akan menginap disana?" Tanya bibi.


"Tidak bi, Celo akan kembali kerumah malamnya."


"Lalu kenapa tak tidur disana saja? Kau akan kelelahan jika bolak balik dan juga sudah malam nak." Ucap bibi mengutarakan kecemasannya.


"Tidak bisa bi, Celo selalu khawatir akan keadaan ayah. Lagi pula, mami bilang Celo akan diantar supir nanti." Entah sampai kapan ia akan berbohong dan memperbanyak dosanya.


"Baiklah, maafkan bibi karena terlalu berlebihan nak." Diusapnya pelan pipi Celo.


"Tidak bi, jangan minta maaf. Celo mengerti bi, karena bibi sayang Celo kan." Celo balas memeluk bibi.


"Maafkan Celo bi." Batinnya.


"Ya sudah sana. Tata bunganya yang rapi…dasar anak nakal." Mereka saling tertawa setelahnya.


Seperti perkataannya tadi, selesai di toko bunga Celo pulang terlebih dahulu kerumah untuk bebersih. Dan pastinya ia juga mengatakan kebohongan yang sama pada neneknya. Nenek tentu tak bisa melarangnya karena sekarang cucunya sudah memilki keluarga baru. Bagitulah semua anggapan orang-orang terdekatnya, gadis polos itu telah menjelma menjadi seorang pembohong ulung. Entah takdir macam apa yang sedang dijalaninya.


°°°°


Pekerjaan Celo dihari pertamanya berjalan lancar, semua orang ditempatnya bekerja ramah-ramah dan mereka tak ada saling membedakan satu dan lainnya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya, sampai waktunya pulang tiba ia merasa ada seseorang yang terus mengawasi gerak-geriknya.


Gadis itu takut bukan main, ia berpikir mungkin saja orang yang mengintainya adalah komplotan penjual organ tubuh atau penjual wanita. Dasar gadis bodoh.


Celo melihat sekilas, ia berpikir untuk melihat wajah orang itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya, dan jika itu terjadi ia akan menggentayangi penjahat itu.


"Kkak Eric…" ucapnya terkejut dan merasa bodoh. Dan benar, itu Eric ia tak sengaja melihat Celo direstoran tempatnya meeting dengan rekan bisnisnya saat makan malam tadi.


Eric merasa tak ada salahnya berbuat baik dengan mengantar pulang gadis kecil itu. Eric memanggilnya gadis kecil karena ia seperti sudah dekat dengannya dan menganggapnya sebagai adiknya.


"Butuh tumpangan nona kecil?" Ucapnya dengan senyum.


"Apa tidak merepotkan kakak?" Ia merasa tak enak dan takut akan merepotkan.


"Tak apa, kita satu arah. Dan juga Audrey pasti akan senang sekali jika tau aku mengantarmu."


"Baiklah kak. Celo mau." Eric membawa Celo masuk dalam mobilnya.


Dalam perjalanan, Eric buka suara memulai pembicaraan dengan Celo.


"Maaf atas sikap Zach yang sudah keterlaluan. Dia sebenarnya baik, tapi ada suatu alasan yang membuatnya seperti itu seperti bukan dirinya lagi. Aku mengatakan ini, bukan sebagai orang terdekatnya tapi untuk kedua belah pihak." Entah untuk apa dia menjelaskannya.


"Iya kak, Celo tau itu." Ia bingung harus menjawab apa.


"Aku tau kau mencintai pria pengecut itu. Lalu kenapa kau tak mau menanyakan alasan dibalik pembatalan pernikahan kalian kemarin?" Tanya Eric secara gamblang.


"Ka-kkatta siapa? Dari mmanaa kakak tau aku mencintai mas Zach?" Celo sungguh terkejut dengan pernyataan Eric.


"Dari cara kau memandangnya nona."


"Jelas sekali ya?" Celo benar-benar merasa bodoh sekarang. Dan juga ia merasa begitu leluasa berbicara dengan Eric.


"Mm…" Eric hanya menjawab dengan gumaman saja.


"Hah…" Celo menghela nafas berat dan Eric memperhatikannya.


"Setiap orang mempunyai jalan hidup mereka masing-masing dan cara mereka menjalaninya juga pasti berbeda-beda. Kebetulan kami dipertemukan dijalan yang sama, namun jalan itu tak selalu sama dan akan terpisah cepat atau lambat. Bukankah hidup memang begitu." Ia berucap dengan tatapan tak lepas dari jalanan.


Seperti dugaan Eric, gadis ini sungguh dewasa dalam menyikapi masalah hidupnya.


"Kau benar nona, dan jalan itulah yang telah kau lalui."


"Ya." Celo tersenyum melihat kearah Eric.


"O ya kak, kak Audrey apa kabar? Celo belum sempat menghubunginya."


"Dia kecewa padamu, karena kau tak pernah menghubunginya. Ia berpikir kau tak mau berteman dengannya."


"Iya kah? Nanti sampaikan salam Celo pada Kak Audrey ya kak."


"Baiklah. Kalian para gadis sangat kekanakan dan menyebalkan." Gerutu Eric.


Mereka terus bicara sampai tak terasa sudah tiba didepan gang rumah Celo. Mereka merasa cocok satu sama lain dalam hal bicara, mungkin karena latar belakang dan masa lalu mereka.


"Kakak mau mampir?"


"Tidak terimakasih. Ini juga sudah malam, masuk dan tidurlah." Ucap Eric, tangannya coba terulur hendak mengusap kepala Celo namun ia urungkan karena takut gadis itu akan salah paham.


"Baiklah. Kakak hati-hati dijalan dan terimakasih banyak kak sudah memberi tumpangan." Eric tersenyum lalu melajukan mobilnya setelah Celo turun.


■■■■


Seperti biasa


Tekan Favorite


Like, Comment dan Vote


Terimakasih