Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Semuanya berakhir



"Tolong…"


"Celo…"


"Sialan!!!"


■■■■


"Kurang ajar!! Beraninya anak kecil seperti kalian mengganggu kesenangan kami! Keluar!!" Bentak si pria tua.


"Nic…"


"Siap Bos." Nico yang mengerti maksud Eric lansung bertindak. Satu persatu pria didalam sana dihajarnya.


Melihat kegaduhan, Audrey bertindak cepat membawa Celo keluar dari kerumunan dan mendekat ke arah Eric. Sangat jelas dirasanya tubuh mungil nan ringkih itu bergetar hebat entah karena kesakitan atau ketakutan. Yang jelas saat ini, Audrey juga merasa sangat terpukul melihat Celo diperlakukan seperti ini.


"Siapa kalian HAH!! Berhenti! Kalian tidak tau siapa aku!!" Dalam keadaan terjepit masih saja pria tua itu bertingkah pongah.


"Kami? Orang yang akan mempercepat ajalmu!! Nic bawa mereka." Eric menyuruh Nico membawa para penjahat itu keluar, dan tentunya ini belum berakhir.


Eric membawa Audrey dan Celo keluar dari Clubnya, mereka bicara dimobil Eric. Tak bagus bagi Celo jika berlama-lama didalam sana, ia pasti merasa trauma.


"Ini. Minum dulu." Audrey memberikan sebotol air mineral untuk bisa diminum Celo agar ia merasa lebih tenang. Dengan tangan masih bergetar Celo meraih botol itu, Audrey meraih tangannya lalu digenggam.


"Tidak apa-apa. Kau sudah aman sekarang." Audrey membawa gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya kedalam pelukannya, ia juga ikut menangis karena ia merasa kehidupan yang dijalani Celo tak jauh berbeda dari masa lalunya.


"Celo, kenapa kau bisa ada disana? Tempat itu berbahaya." Melihat Celo sudah mulai tenang, Audrey mulai menanyakan apa yang terjadi.


Celo mulai menceritakan apa yang baru saja dialaminya, belum sempat selesai bercerita. Celo teringat nenek dan ayahnya, seketika itu ia lansung panik. Tak mau menunggu lansung saja Eric dan Audrey mengantar Celo pulang kerumahnya. Fokus utama mereka sekarang adalah ke ayahnya Celo sementara untuk mengetahui cerita selanjutnya, Eric punya cara sendiri untuk itu.


°°°°


"Hoamm…rasanya mengantuk sekali… Mungkin karena semalam kurang tidur." Zach merasa matanya sangat berat sekali untuk tetap terjaga. Sambil menunggu panggilan penerbangannya, Zach coba memejamkan matanya sejenak.


Belum sepuluh menit memejamkan mata, Zach terjaga karena terkejut. Rasanya Celo memanggil-manggil namanya minta tolong. Ia merasa ada ikatan tertentu antara dia dan Celo entah apa itu.


"Kenapa perasaanku tidak enak begini ya? Apa karena rasa bersalah?" Zach terus saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Sudahlah. Cepat atau lambat semua akan terlupakan begitu saja." Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua pasti akan berlalu.


Merasa kantuknya sudah hilang, Zach memilih mengecek beberapa e-mail yang masuk diponselnya. Belum selesai dengan e-mailnya pengumuman penerbangan menggema disetiap sudut ruangan.


"Your attention please, passengers of ******* on flight number ***** to Holland please boarding from door A12, Thank you."


Zach mengemasi tasnya dan berlalu ke pintu yang sudah diberitaukan.


°°°°


Baru saja turun dari mobil Eric dengan tak sabaran, Celo disambut beberapa orang tetangganya didepan gang menuju rumahnya.


"Celo, syukurlah kau baik-baik saja." Ucap ibu-ibu yang menghampiri Celo ke toko bunga.


"Dimana ayah dan nenek Celo bu?" Celo bertanya dengan tak sabaran dan hati yang berdebar.


"Sebaiknya kau cepat susul ke rumah sakit nak. Tadi suami dan anak ibu yang mengantar juga beberapa tetangga lain" ucap ibu itu.


"Baiklah bu, terimakasih banyak. Tapi ayah dan nenek Celo baik-baik saja kan bu?" Celo merasa sangat khawatir.


"…." Si ibu hanya diam saja. Ia bingung harus menjawab apa, dalam hati ibu itu berdoa semoga mereka baik-baim saja.


"Kenapa ibu diam saja. Jawab Celo bu." Celo bertanya seraya menggoyang-goyangkan lengan si ibu itu.


"Celo, tenanglah. Sebaiknya kita susul saja kerumah sakit, ibu ini juga tak tau kabar pastinya bukan" Audrey yang sedari tadi mendampingi Celo menenangkannya.


Eric segera mengantar mereka menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh ibu tadi. Melalui spion depan mobilnya, ia terus memperhatikan Celo yang kini tengah dipeluk tunangannya.


°°°°


Sesampainya dirumah sakit, seperti orang yang sedang diburu waktu mereka berlari menuju ruangan yang tadi sempat mereka tanya di resepsionis.


"Celo, disana ruangannya." Audrey menemukan ruangan dimana nenek dan ayahnya ditangani.


"Celo, kau sudah disini nak? Apa kau baik-baik saja?" Celo tak sempat menjawab, sebaliknya ia malah bertanya.


"Bapak juga belum tau nak. Dokter masih didalam, belum keluar dari tadi." Mereka semua cemas menunggu dokter yang belum juga keluar.


"Duduklah dulu." Eric yang dari tadi diam, mulai buka suara.


"Ayo Celo, kita duduk dulu. Ayah dan nenekmu pasti baik-baik saja."


Cukup lama menunggu pintu ruangan tersebut akhirnya terbuka, seorang dokter keluar dengan memakai masker mulut.


"Keluarga pasien."


"Ya, saya anak dan cucu mereka. Bagaimana keadaan mereka dokter?" Tanya Celo.


"Maaf nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkata lain. Nenek anda tidak bisa bertahan, beliau kehilangan banyak darah dan mengalami benturan yang sangat fatal. Untuk ayah anda, beliau dalam masa kritis saat ini. Maafkan kami nona." Dokter berkata dengan sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan pasiennya.


"Nenek…nenek Celo sudah meninggal dokter?" Ulang Celo dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Maaf nona, kami harap anda bisa kuat." Setelah berucap dokter meninggalkan mereka semua untuk kembali masuk kedalam.


"Kakk…nenek Celo sudah pergi. Nenek membawa pergi kebohongan yang sudah Celo ucapkan." Air matanya berderai tanpa bisa dicegah lagi. Audrey hanya bisa memeluknya agar ia merasa lebih kuat dan tegar.


"Celo yang sabar, mungkin nenek sudah rindu ingin bertemu ibu disurga." Diusap-usapnya punggung Celo pelan. Mereka semua yang ada disana hanya bisa menaruh simpati tanpa bisa berbuat apa-apa. Kecuali Eric, ia berjanji akan menghukum dan menghabisi mereka semua yang sudah menyakiti Celo.


Tak berselang lama mereka menunggu persiapan akan membawa nenek Celo pulang. Beberapa dokter barlarian masuk kedalam ruangan penanganan ayah dan neneknya tadi. Mereka nampak sangat panik dan terdengar jelas suara gaduh dari arah dalam.


"Nona, kami harap anda lebih tabah lagi. Ayah anda juga tak dapat bertahan dan beliau….sudah tak ada lagi." Beberapa dokter yang tadi berlarian menghampiri Celo, mereka semua menundukkan kepalanya karena sudah gagal menyelamatkan dua nyawa sekaligus.


"Apa?? Ayah juga?? Ayah….ayah….hiks…hikss…" gadis itu tak dapat lagi membendung kesedihannya. Segera ia berlari dan berdiri diantar dua brankar yang diatasnya terbaring dua orang yang sangat disayanginya.


"Semuanya berakhir. Hidup benar-benar tak adil, tak cukupkah Celo hidup dalam penderitaan selama ini? Kenapa satu-satunya kebahagiaan Celo juga harus pergi? Hu..hu…hu…" Celo menangis meratapi nasib dan kepergian dua orang tercintanya.


Eric mencegah Audrey yang akan menghampiri Celo.


"Biarkan dia sendiri dulu." Audrey hanya mengangguk dan mereka hanya bisa memperhatikan Celo dari jauh saja.


Eric menghubungi seseorang yang sekiranya dapat membantu Celo dari keterpurukannya.


Tut…tutt


"Sukurlah masih tersambung." gumamnya


"Ya Ric. Ada apa? Nyaris saja aku akan menon active kan ponselku."


"Zach, bisakah kau kembali?" Ya, Eric menghubungi Zach.


"Kau gil-" ucapan Zach terpotong.


"Celo, ayah dan neneknya meninggal."


"Apa? Kenapa bisa?" Zach tak percaya dan tak habis pikir.


"Ada orang yang menyerang mereka dan Celo nyaris saja akan dijual pada lelaki hidung belang. Kembalilah sebentar saja, mungkin kau bisa menenangkannya."


"Bukannya aku tak mau Ric, tapi aku tak bisa. Maaf."


"Zach…Zachery….


Tutt tuutt


Zach mengakhiri panggilan mereka secara sepihak.


"Arghhh…." Eric tak tau harus apa sekarang, ia merasa sangat putus asa.


Kepergian orang yang sangat kita sayangi memang sangat berat. Bahkan bisa mempengaruhi akal kita untuk berpikir pendek. Disaat masa paling terpuruk, kita membutuhkan pegangan yang dapat memegang kita erat namun halus. Merangkul kita dengan erat dan menenangkan dengan belaian kata nan lembut.


■■■■


LIKE dan COMMENT jangan lupa ya...


VOTE bagi yang bersedia saja...


MAKASI SEMUA...