Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tidak disiplin



■■■■


Jarum jam terus berputar dan hari pun berganti. Tak terasa besok adalah hari keberangkatan Zach. Mami sibuk mengurusi apa saja yang harus dibawa putranya, meski ada rasa sedih mendalam dihati beliau. Tak lupa juga mami membekali Zach dengan membuatkan makanan kesukaan Zach yaitu rendang.


"Mi..kenapa mami harus repot begini. Kan sudah Zach bilang, Zach bisa masak dan pesan makanan disana." Ucap Zach.


"Ya sudah. Kalau tidak mau tak usah dibawa." Zach merasa lidahnya salah berucap lagi.


"Bukan begitu maksud Zach. Masak rendang itu lama dan ribet, Zach gak mau kalau mami sampai kecapekan dan sakit lagi." Zach membujuk maminya dengan tangan menggenggam tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.


"Mami gak apa-apa, gak ribet juga." Mami membelai lembut wajah Zach.


"Besok berangkat jam berapa?"


"Malam mi."


"Ya udah. Besok mami ikut papi antar kamu ke airport."


"Gak usah mi, Zach gak usah diantar." Tolak Zach, sebenarnya ia berat saat akan meninggalkan keluarganya besok.


"Kenapa?"


"Eric sama Shane yang akan mengantar Zach besok, lagian malam juga. Papi harus kekantor paginya, trus mami gak boleh kena angin malam juga." Zach menemukan alasan yang tepat untuk menolaknya.


"Baiklah." Zach memeluk sekilas maminya, sebelum beliau keluar dari kamarnya.


°°°°


Malam ini seperti biasa Celo bekerja direstoran, tempat ia menambah pundi-pundi kebutuhan keuangannya.


"Celo, bos memanggilmu ke atas." Salah satu teman Celo yang juga pelayan disana menyampaikan pesan dari bos mereka.


"Ada apa kak?" Tentu saja Celo terkejut.


"Kakak juga tidak tau. Pergilah, biar kakak yang menggantikan." Suruhnya, dan mengambil alih pekerjaan ditangan Celo.


"Baiklah kak. Terimakasih." Celo tersenyum dan dibalas senyum juga.


"Kenapa ya bos memanggil Celo? Apa mungkin Celo akan dipecat? Tapi kenapa?" Dalam hati Celo merasa sangat risau.


Tok tokk


Dalam keraguannya, Celo tetap harus masuk kedalam. Apapun yang nantinya akan terjadi, ia harus siap karena ia sadar akan kelalaiannya.


"Masuk." Terdengar suara sahutan dari dalam setelah Celo mengetuk pintu.


"Bos memanggil Celo?" Ucap Celo sedikit rendah dan takut.


"Ah… Celo. Silakan duduk." Ucap wanita yang sebenarnya bibi Russel itu seraya melepas kacamata bacanya.


"…." Tanpa bersuara Celo duduk dihadapan bosnya yang berbatasan denga sebuah meja besar.


"Kau tau kenapa aku memanggilmu kemari?" Tanya bos dengan wajah seriusnya.


"Karena Celo lalai bos. Celo minta maaf, maafkan Celo bos. Tolong jangan pecat Celo, Celo sangat butuh pekerjaan ini." Ucap Celo memelas dan mengkatupkan kedua telapak tanganya.


"Huhh…aku tau kau butuh pekerjaan ini dan aku tidak akan memecatmu. Tapi, aku sangat menjunjung kedisiplinan karenanya maaf, kau harus pindah kedapur sementara waktu." Terangnya.


"Baiklah bos. Tapi, Celo tidak dipecatkan bos?" Tanya Celo masih dengan wajah tegang dan tak percayanya.


"Ya. Tapi ingat, meski kau teman bahkan kekasih Russel sekalipun tetap kau harus disiplin dalam bekerja. Tidak hanya disini, tapi dimana pun kau akan bekerja. Satu lagi, seberat apapun masalah yang sedang kau hadapi, disaat kau sudah masuk dan mulai mengerjakan sesuatu semua masalah itu harus kau singkirkan. Itu hanya akan mengganggu konsentrasimu, dan membuat kau tidak fokus. Ingat, kau bekerja disini untuk melayani orang dan membuat mereka merasa terlayani. Kau mengerti?" Bos Celo memberitaukan sesuatu yang patut untuk dia mengerti.


"Ya bos. Celo mengerti, terimakasih banyak bos." Ucap Celo.


Celo sama sekali tak keberatan akan teguran bosnya barusan. Ia akan menjadikan itu semua nasehat dan juga pengajaran toh ia memang lalai belakangan ini. Semenjak pertemuannya dengan Zach malam itu, Ia sering melamun dan tak fokus. Itu semua karena perkataan Zach yang akan pergi jauh dari hidupnya.


°°°°


Malam ini tak seperti biasa, Celo pulang sedikit lebih larut. Sebab ia harus menyelesaikan semua pekerjaan dapur terlebih dahulu. Meski ia tak sendiri, tetap saja membutuhkan waktu lebih lama dari pekerjaannya sebagai pelayan.


"Celo, sudahlah. Kau pulang saja, biar kami yang menyelesaikannya." Ucap salah satu pekerja dapur, mereka semua sudah mulai dekat satu sama lain sekarang.


"Tidak apa-apa kak, tinggal sedikit lagi." Jawab Celo masih dengan senyumnya.


"Dasar keras kepala." Marah salah satu temannya, tapi dengan bercanda.


Tak lama setelahnya, pekerjaan mereka selesai. Satu persatu memisahkan diri pulang kerumah masing-masing karena tak ada satupun diantara mereka yang satu arah.


"Selamat malam semua, sampai besok." Ucap Celo melambai kesemua teman-temannya. Setelah saling melambai, Celo mulai melangkahkan kakinya untuk pulang juga.


Sebelum pulang, Celo mampir ke minimart tempat dimana ia terakhir kali bertemu Zach. Pikirannya selalu saja terbayang wajah pria itu, bahkan saat ia berbelanja pun ia melihat Zach juga ada disana.


"Sebenarnya aku kenapa? Dimana-mana ada mas Zach." Pikirnya, seraya sedikit mengetuk kepalanya. Celo juga mengusap-usap kedua matanya, karena setelah diperhatikan Zach nampak cukup nyata baginya. Kesadarannya semakin bertambah nyata manakala Zach baru saja keluar dari minimart tersebut.


"Mas…mas Zach, tunggu…" Celo sedikit berteriak memanggil-manggil nama Zach. Terang saja semua orang yang ada disana menoleh kearah gadis itu.


Celo tak jadi memilah barang apa saja yang akan ia beli. Ia coba mengejar Zach, ia harus berbicara sesuatu kepada pria itu.


"Mas…" Celo terus memanggil Zach, ia bingung karena sudah tak tampak lagi. Tak menyerah, Celo tetap mencari dan akhirnya ia melihat Zach yang hampir saja masuk kedalam mobilnya.


"Mas Zach, tunggu sebentar. Ada yang mau Celo bicarakan." Nafasnya terlihat sangat memburu sehabis berlarian.


"Celo.." Zach yang merasa ada yang memanggil namanya menoleh dan mendapati Celo dibelakangnya.


"Tung-nggu sebentar mas." Celo membungkuk dan menyandarkan kedua tangannya pada lututnya.


"Ada apa? Kenapa kau berlarian seperti ini." Zach bertanya, dan tak lupa ia memberikan Celo sebotol air mineral yang ada didalam mobilnya.


"Hosh..hossh…Ce-llo mau bicara sesuatu." Ia berucap usai meneguk air yang baru saja diberikan oleh Zach.


°°°°


Saat ini mereka sedang berada disalah satu bangku yang ada dipinggir jalan. Tepat dibangku yang waktu itu mereka bertemu ketika Celo muntah karena belum makan.


"Kenapa dijam ini kau baru pulang." Karena Celo masih belum bicara juga, Zach akhirnya buka suara.


"Umm..itu Celo sekarang dipindahkan kedapur. Makanya lebih banyak yang harus dikerjakan."


"Kenapa dipindahkan?" Tanya Zach lagi.


"Celo lalai dan tidak disiplin." Celo bicara, namun ia tak menatap Zach. Ia hanya menunduk saja.


"Lain kali lebih hati-hati lagi. Kau bisa terluka jika tak fokus bekerja." Zach berkata dengan tanganya ikut mengusap kepala Celo. Sementara Celo, merasa jantungnya serasa akan lepas dari sekatnya.


Dimanapun dan apapun yang kita kerjakan disiplin sangatlah diutamakan. Karena dengan disiplin, semua akan sesuai dengan porsi dan tata letaknya masing-masing. __Areum Kang__


■■■■


LIKE dan COMMENTnya jangan lupa ya teman-teman.


Bagi yang berbaik hati silakan di VOTE juga ya…


Terimakasih banyak.