Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Flashback



▪︎▪︎▪︎▪︎


*Flashback


"Baby…kau hamil? Astaga…." Teriak Shane datang menghampiri apartement Melodi siang itu.


"Sh-Shhane…" ia terkejut bukan main akan hal yang diteriakkan pria itu.


"Ya baby, ini aku. Kau tau, aku sangat bahagia saat tau bahwa kau hamil anak ku." Ia mendekap erat tubuh wanita itu.


"Anaknya? Shane bilang ini anaknya, bagus lah dari pada anak ini harus punya ayah seperti pria tua itu. Ah senangnya…" teriak Melodi bahagia dalam hati.


"Jaga anak kita baik-baik. Aku akan mencukupi segala kebutuhan kalian, apapun itu." Ucap Shane penuh arti.


"Benarkah?" "Tentu saja." Saut Shane cepat.


"Bagus. Meski tak sekaya Zach, tapi harta Shane juga tidak akan habis tujuh turunan. Ahh…meski mereka berdua sama-sama bisa memuaskan ku, tapi maaf Zach aku harus memilih Shane. Karena dia tidak egois dan posesif seperti mu." Batin Melodi masih dalam posisi saling memeluk.


"Tapi Shane…bagaimana dengan Zach, bukankah kami akan menikah seminggu lagi?" Ia bermain dengan pertanyaannya, juga tangannya bermain di dada Shane.


"Kau tenang saja, aku akan membawa mu pergi jauh darinya. Harus kau tau Baby, dari awal aku lah yang lebih dulu menaruh hati pada mu. Tapi sayang Zach yang lebih unggul segalanya, dia berhasil menarik perhatian dan cinta mu." Shane melepas pelukan mereka. Ia berkata dengan wajah dibuat cemberut.


"Bagus Shane, terus jerat wanita licik ini." Batin licik Shane bersorak.


"Ohh…Shane ku, maaf. Sebenarnya aku tidak mencintai Zach, aku bersamanya agar bisa dekat dengan mu. Maafkan aku, karena kau harus menunggu lama." Wanita itu berinisiatif mencium Shane duluan.


"Dasar ular, lidahnya bercabang dua." Cemooh Shane dalam hati.


"Jadi tidak ada masalah kan kalau kita pergi dan hidup bersama?" Tawarnya lagi.


"Tentu." Melodi melihat peluang emas di depannya.


"Bagus Melodi, pergilah yang jauh dan menghilang dari kehidupan Zach." Shane tersenyum licik tanpa diketahui wanita itu*.


**Flashback off***


"Dari mana kalian yakin saat itu kalau anak dalam pertunya bukanlah anak Shane?" Semua jadi tanda tanya bagi Zach.


"Karena Shane tidak pernah menyentuhnya sama sekali." Kebenaran yang hanya diketahui oleh Eric dan Shane.


"Apa??" Audrey juga tak kalah terkejutnya.


"Melodi selalu mabuk saat bersama Shane, semua rencana pria sialan itu." Eric terkekeh kecil mengingatnya, Zach dan Audrey pun ikut tertawa.


"Kenapa kalian ceritakan semua ini? Bukankah sudah ku katakan semuanya sudah usai dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi." Ujar Zach, ya dia sudah tidak peduli lagi dengan wanita gila itu.


"Sekarang kau bisa bicara begitu, tapi siapa tau saat kau bertemu dengannya nanti kau akan kembali fiperdaya olehnya. Saat bersama iblis itu yang ada di mata dan pikiran mu hanya dia yang selalu sempurna." Cibir Eric.


Pagi ini, Eric, Melodi juga Bi Welma kembali mengunjungi Chris di rumah sakit setalah membereskan kekacauan dan menyerahkan bukti ke polisin. Mereka juga mau tau perkembangan kondisinya.


Saat ini, mereka sedang berbicara serius di kantin rumah sakit sedang Chris ditemani oleh Bi Welma.


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?" Tanya Zach serius.


"Karena ini." Eric menyerahkan rekaman cctv rumahnya.


"Ini…"


"Ya, anak itu. Bryan telah belajar banyak dari kita. Maaf, tapi dia tidak bisa membiarkan Chris begitu saja, saat dia bilang bahwa adik mu itu sudah sadar. Untuk berjaga-jaga ia memasang cctv saat kalian semua lengah." Jelas Eric.


"Hehh….cerdik juga dia." Bukannya marah, Zach malah tersenyum nampak bangga akan perkembangan adik angkatnya itu.


*Flashback


Chris baru saja masuk ke dalam rumah, terlihat sangat sepi rupanya Bibi sedang pergi ke pasar.


Baru saja akan mendudukkan diri di sofa ruang tengah, Melodi yang diikuti seorang pria paruh baya bertubuh tambun menghampirinya.


"Kau!! Sedang apa kau disini hah? Bukannya semalam kakak ku sudah mengusir mu!! Sekarang keluar dari rumah kakak ku!" Teriak Chris seraya mengusir kedua orang itu.


"Mau apa kau Hah!!" Pekik Chris saat pria itu mengikuti perintah Melodi untuk memeganginya.


"Lepas. Pergi dari sini, kau sudah diusir." Tak hanya berteriak, ia meronta-ronta agar bisa terlepas.


"Karena itulah aku kemari. Karena kau hanya dia saja saat kakak mu mengusir ku!" Ia mencengkeram kuat kedua sisi wajah Chris.


"Ashh…" ringisnya kesakitan


"Lalu kau mau aku berbuat apa? Jelas-jelas aku jijik melihat mu, kenapa kau masih berpikir bahwa aku akan membiarkan kau kembali lagi ke kakak ku!" Ujar Chris kasar.


"Ohh…bagaimana jadinya kalau aku bongkar bahwa sebenarnya kau yang menjebak Celo tentang pil pencegah kehamilan sehingga mereka bertengkar, dan kau juga yang memukulinya sampai tidak sadarkan diri." Kali ini Melodi merasa menang melihat ketegangan diwajah Chris.


"Lakukan saja. Toh sekuat apapun kak Zach membenci ku dia tidak akan pernah membuang ku karena apa? Karena darah lebih kental dari air. Lagipula aku sudah berniat minta maaf pada Celo dan kembali menyatukan mereka. Celo wanita baik dan ia tepat untuk mendampingi kakak ku. Tidak seperti ****** di hadapan ku!" Chris tersenyum sinis.


Plakk


"Beraninya kau merendahkan ku!! Lepaskan dia!" Usai menampar Chris, Melodi kembali memerintah pria itu untu melepaskannya.


Plakk plak


Tak tanggung-tanggung dua tamparan sekaligus di terima Chris hingga ia jatuh tersungkur di lantai. Pria tambun itu yang melihat Chris tersungkur tergiur karena p**a wanita itu sedikit tersingkap saat jauh, kebetulan dia juga tengah memakai dress selutut.


"Sayang, kau tidak lupakan bahwa aku boleh melakukan sesuatu?" Pria tambun itu buka suara untuk pertama kalinya.


"Tentu. Lakukan sepuasnya, dia milikmu." Melodi duduk disofa dengan satu kaki dilipat ke kaki satunya, ia juga menyalakan sebatang rokok.


"Apa maksud kalian? Jangan macam-macam!!" Tak menghiraukan teriakan Chris pria itu meraih kakinya dan melakukan perbuatan bin***ngnya hingga puas, tak hanya itu ia juga memukuli Chris disetiap gerakannya. Dengan tak punya hatinya, Melodi malah menikmati pemandangan memilukan itu.


"Inilah akibatnya berani bermain dan berbuat curang dengan ku Chris. Satu beres, tinggal satu lagi. Kira-kira apa kau tau dimana kakak ipar mu itu?" Ia bertanya seraya memperolok keadaan Chris yang sudah sangat memprihatinkan.


Puas dengan pembalasannya, mereka pergi meninggalkan Chris begitu saja. Perlahan Chris meraih tas selempangnya, ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.


"B-bbry…tol-tohl-tol-long akk-uh…." Suaranya tersendat-sendat seperti kehabisan nafas*.


**Flashback off***


"Arghh…." Zach membanting ponsel Eric yang tadi memperlihatkan rekaman cctv kejadian Chris dirumahnya.


"Zach, tenang." Audrey mengusap lengannya agar ia bisa tenang.


"Bagaiman aku bisa tenang, sementara adikku baru saja diperlakukan seperti bin***ng?" Mukanya memerah, air mata juga tumpah disana.


"Kita akan membalasnya berpuluh bahkan ribuan kali lipat Zach. Ingat, Chris sudah seperti adik ku sendiri." Eric juga sama geramnya, tapi dia lebih bisa mengendalikan emosinya.


"Apa rencana mu?" Tanya Zach karena Eric selalu beberapa langkah lebih cepat.


"Untuk sekarang tidak ada, karena kita harus melindungi Celo dahulu." Imbuh Eric.


"Celo?" Nampaknya Zach masih kebingungan dengan semua tragedi ini.


"Ya Celo. Apa kau tidak memikirkan istriku sama sekali? Dia incaran yang sebenarnya Zach!!" Eric emosi setelahnya.


"Astaga." Seperti baru saja tersadar, Zach teringat wanitanya.


Eric salah sangka, ia pikir Zach melupakan Celo. Makanya ia pergi dengan marah dan tak mempedulikan teriakan istrinya.


"Honey…tunggu, kau mau kemana?" Panggilnya.


"Apa yang baru saja terjadi padaku? Kenapa aku bisa melupakan Celo?" Zach mengacak rambutnya kasar, kesal pada dirinya sendiri.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Mudah-mudahan nanti bisa nyicil lagi ya teman-teman…


Jangan lupa LIKE & COMMENT ya


TERIMA KASIH