Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Taman



●●●●


Siang ini Zach akan mengajak istrinya untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Sebelum itu, ia mengajak Celo untuk makan siang terlebih dahulu karena mereka akan menghabiskan waktu seharian untuk berjalan-jalan selain itu sudah lama juga mereka tak makan siang berdua.


"Tempat apa ini Mas?" Celo menatap sekeliling usai keluar dari mobil yang di buka kan pintunya oleh Zach.


"Restoran, kita makan siang dulu. Sudah lama kita tidak makan siang bersama." Zach mengulurkan lengannya untuk di gandeng oleh sang istri.


"…." Tak ada jawaban, Celo hanya memberikan senyum bahagianya sebagai ucapan terima kasih untuk sang suami.


Mereka memilih duduk di tepi dekat jendela yang menampakkan sungai kecil nan indah. Tak butuh waktu lama, sorang waiters datang menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu.


"Mau pesan apa sayang?" Zach bertanya seraya mata dan tangannya sibuk membolak balik buku menu tersebut.


"Mm... Celo tidak paham, Mas aja yang pesan." Ia menunduk malu takut ada orang yang tau dan akan mempermalukan suaminya.


"….." Zach tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Celo.


Takut lidah istrinya tak bisa menerima makanan asing, Zach memutuskan memilih makanan internasional saja. Meski tetap ia mengenalkan makanan khas negara kincir angin tersebut seperti soup ercis, stamppot, dan waterzooi.


"Kenapa Mas selalu memesan banyak makanan?" Saat makanan mereka sudah terhidang, Celo terang saja terkejut. Sama seperti waktu makan di restoran japan hari itu, suaminya lagi-lagi memesan banyak makanan.


"Tidak apa-apa, Mas mau mengenalkan mu makanan khas di negara ini."


"Icip-icip saja." Melihat keterdiaman istrinya Zach melanjutkan kata-katanya.


"Ya Mas." Celo tersenyum dan mulai memakan makanannya, tak lupa Zach menerangkan jenis dan berbahan apa makanan yang di icip istrinya itu.


"Bagaimana?"


"Enak Mas, tapi masih enakan masakan khas negara kita." Tutur Celo tak terlalu puas.


"Karena lidah kita sudah terbiasa, begitu pula sebaliknya mereka akan bilang makanan merwka" enak karena lidah meeeka" juga sudah terbiasa dengan semua ini." Zach meralat cepat ucapan istrinya itu.


"Hehehe…"


Hampir dua jam mereka berada disana menghabiskan waktu untuk saling bertukar pikiran bagaimana menata masa depan rumah tangga mereka.


"Sudah pukul dua, ayo kita jalan lagi." Zach berdiri dan lagi pria itu mengulurkan tangannya, memperlakukan istrinya se romantis mungkin.


"Mas tidak kembali ke kantor?" Celo tak yakin mereka akan pergi jalan-jalan.


"Kan sudah Mas katakan tadi, tidak akan ada gangguan seperti drama di televisi." Di cubit gelasnya pipi wanita yang telah mengisi hatinya tersebut.


Selepas mereka kembali masuk kedalam mobil, Zach melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat kunjungan berikutnya.


••••


Satu setengah jam perjalanan dengan mobil, akhirnya Zach memberhentikan mobilnya di sebuah tempat.


"Ayo turun." Kembali Zach berlaku romantis dengan menggenggam jemari Celo.


"Melihat apa lagi ini Mas?" Wanita itu menelisik area sekitar.


"…."


"Mas, ini…" hampir saja ia tak percaya akan apa yang ada di hadapannya sekarang.


"Ya, ini namanya Keukenhof Park. Taman terindah diseluruh dunia." Seru Zach.


"Celo tidak percaya akan kesini, ini sungguh sangat indah. Terima kasih banyak Mas." Ia memeluk sekilas tubuh suaminya itu.


"Sama-sama sayang." Mereka melenggang masuk ke area lebih dalam.


Disana mereka tidak hanya menemukan keaneka ragaman bunga tulip dengan berbagai spesies saja, tetapi juga berbagai jenis bunga menarik lainnya seperti hyacinth, daffodil, dutch crocus, iris, snowdrop dan tumbuhan subtropis yang ditanam membentuk gugusan-gugusan berkelompok dengan lajur-lajur yang ditata sedemikian rupa berdasarkan tema.


"Apa kau mengenali semua bunga yang ada disini?" Tanya Zach pada istrinya.


"Mm... ada beberapa yang Celo tau Mas. Memang Celo sering membaca buku tentang semua bunga yang ada didunia tapi karena belum pernah melihatnya lansung jadi Celo tidak tau." Senyum mengembang yang tak pernah lepas di wajahnya membuat Zach benar-benar kagum akan sifat istrinya satu ini.


"Dengan di bawa ke sini saja dia sungguh sangat bahagia. Apa sesederhana ini kebahagiaan yang kau inginkan Celo?" Batin Zach.


"Mas, ayo kita kesana." Ajaknya. Jika tadi Zach yang menggenggam tangannya, kali ini Celo lah yang memegangi tangan suaminya.


"Baiklah."


••••


Saat ini, sepasang suami istri itu tengah duduk disebuah gazebo yang terdapat di sudut taman itu. Mereka rehat sejenak melepas penat setelah mengikuti kemauan Celo kesana kemari melihat bunga yang cantik menurutnya.


"Apa ada bunga favoritnya istri Mas disini?" Ucap Zach seraya memberikan sebotol mineral water untuk Celo.


"Ada, Celo suka bunga krisan putih yang tadi kita lewati."


"Mmm…apa Mas tau berapa kira-kira luas taman ini?" Ia bertanya usai menyesap sebotol air yang tadi diberikan suaminya.


"Kata orang-orang, luasnya 32 hektar. Kenapa? Apa kau mau kita membelinya?" Jelas sekali dia bercanda.


"Hahaa…itu tidak mungkin. Celo tidak akan sanggup mengurusnya nanti Mas, apa lagi setelah kita punya anak." Celo juga ikut tertawa menimpali candaan prianya.


Deg


Seketika Zach terdiam, ia memperhatikan istrinya secara lekat. Entah mengapa ucapan Celo tadi sedikit mengganggu pikirannya.


"Mas kenapa? Apa Celo ada salah ucap ya?" Pikir Celo dalam hati.


"Mas, ada apa?"


"Apa kau benar mau punya anak dari Mas?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Zach, ia juga ikut merasakan kecemasan istrinya itu.


"Tentu saja, cepat atau lambat kita pasti akan punya anak kan Mas?" Dengan polos dan penuh keyakinan Celo menyahuti nya.


"Baiklah. Besok kita ke dokter, kita periksakan keadaan kita dan juga kita program kehamilan untuk mu." Di usapnya wajah wanitanya itu.


"Ya Mas. Terima kasih." Mereka berbagi pelukan ditengah hamparan bunga-bunga cantik di sekelilingnya.


••••


"A-appa…astaga, bagaimana ini? Aku hamil? Bagaimana bisa?" Seorang wanita dengan tangan bergetar hebat memegang sebuah alat test kehamilan.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Aku harus gugurkan anak ini." Tak hanya tangannya, bibir wanita itu juga sangat bergetar.


"Aku harus keluar negeri, kalau disini aku akan ketahuan." Beranjak dari duduknya, ia bergegas mengambil sebuah koper besar dan mengisinya dengan pakaian miliknya. Karena terburu ia hanya asal memasukkan saja pakaian itu, tak peduli jika itu akan berkerut dan berantakan.


Segera ia keluar dari kamarnya dan melesat keluar, mencegat sebuah taksi yang melintas di depannya.


"Mau kemana Nona?"


"Ke alamat ini."


Segera taksi itu melaju ke alamat yang diberikan wanita itu. Dari spion depan, supir taksi dapat melihat raut kepanikan di wajah penumpangnya tapi urung untuk dia bertanya takut mengganggu privasi orang lain.


Sementara wanita itu sibuk menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Sial!! Kemana dia? Kenapa tak menjawab ponsel ku?" Dengan kesal di cengkramnya ponsel itu hingga buku jarinya memutih dan juga leluh juga terus mengalir di pelipisnya.


●●●●


**Teman-teman semua jangan lupa ya


Tekan Favorite


Beri Like dan tinggalkan Comment atau saran kalian


Bagi yang bersedia silakan VOTE


TERIMA KASIH BANYAK


#workfromhome


#stayhome


#staysave


Semoga kita semua terjauhkan dari bahaya yang mengintai diluar sana terutama Covid-19


Jika harus terpaksa keluar rumah jangan lupa gunakan masker mulut ya teman-teman


#darikitauntukkita**