Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 97 - Cerberus



Disebuah tempat yang tidak diketahui letaknya, terlihat Harry, pemimpin Cerberus duduk disebuah sofa empuk berwarna gelap. Ditangannya ada rokok yang menyala terang, sangat kontras dengan kegelapan disekitar.


Beberapa botol wine dan gelasnya menghiasi meja di hadapannya.


Pria satu ini memiliki aura opresif yang sangat luar biasa. Bisa dikatakan, lebih mengerikan dari Hajun. Ia melihat kearah proyektor yang menampilkan informasi secara real-time mengenai pengeboman di persimpangan Elisien.


Kedua matanya tidak menampakkan emosi apapun, seolah kejadian itu bukanlah sesuatu yang besar.


Dingin, tidak peduli, dan meremehkan.


Apa yang terjadi di persimpangan Elisien adalah peringatan untuk Hajun. Sudah sejak lama anak itu mencampuri urusannya dan Harry tidak bisa mentolerir kelancangan yang telah ia lakukan.


Selama ini Harry diam karena Hajun tidak pernah benar-benar berusaha menyerangnya. Dia hanya mencari tahu dan melindungi beberapa titik demi kepentingan dirinya sendiri. Karena itulah Harry tidak mempermasalahkan tindakan berani anak muda itu. Dia bisa dengan mudah menghindari titik-titik yang Hajun lindungi dan menjalankan rencananya di tempat lain.


Bagi Harry, itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan.


Namun bocah itu dengan berani melewati batas.


Empat tahun yang lalu, ketika kasus pembunuhan Almera terjadi, Hajun dengan berani memegang ekor mereka dan mencoba untuk mengorek informasi yang seharusnya tidak penting untuknya.


Hari mematikan rokok ditangannya ke asbak. Lalu ia berdiri di dekat sebuah jendela kaca yang cukup besar, memperlihatkan kota Elisien yang gemerlapan. Pemandangan yang begitu indah dan hidup, tidak cocok dengan image nya yang dingin.


Kringgg... Kringgg...


Tiba-tiba saja telepon di ruangannya berbunyi. Harry menerima sambungan dan mendengar suara di seberang sana yang sedang memberikan laporan.


"Bos, dia tidak mau berbicara."


Harry mengeritkna dahinya, mencoba untuk memahami apa yang dia katakan. Ketika sebuah ingatan mulai muncul di otaknya, Harry menjawab.


"Lakukan apapun sampai mereka buka mulut. Aku juga tidak peduli kalau kau menyiksanya."


"Bagaimana kalau dia tetap tutup mulut?"


"Bunuh saja."


Biiip... Biiip...


Sambungan telepon terputus.


Harry kembali ke menatap keluar kaca, mata terlihat seperti menerawang ingatan masa lalu yang ia miliki.


***


Duaak...


Seorang pemuda yang terlihat berumur lewat dari dua puluhan awal menendang sebuah kursi yang di duduki seseorang. Tendangan tersebut membuat kursi itu sedikit mundur kebelakang, namun tidak sampai terjatuh karena ada yang menduduki.


Melihat keadaan orang tersebut yang setengah sadar serta tubuh penuh darah beserta kotoran bercampur, susah pasti bahwa dia telah melewati hal yang sulit.


"Katakan sekarang juga siapa yang mengirim mu?"


Pemuda itu terlihat berdiri di dekat pria yang terikat, ia mencengkram rambutnya dan memaksanya untuk melihat kedua matanya.


Wajah pria itu benar-benar buruk. Ada banyak sekali luka lebam yang mulai membiru dan membengkak. Namun orang itu tetap diam seolah tak peduli jika ia di siksa.


Pemuda itu terlihat menghela napas. Ia merasa lelah karena selalu saja di suguhi jawaban yang sama.


Membisu, tanpa mengatakan apapun.


Pemuda itu tidak tahu kenapa pria yang sudah ia siksa selama lebih dari enam jam itu terus saja tutup mulut. Tidak ada gunanya juga menyembunyikan apa yang dia tahu padanya. Meski begitu, ia mengakui kesetiaan pria ini.


Sejak pemuda itu bergabung dengan Cerberus, dia selalu melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Transaksi ilegal, penculikan, penyiksaan, pembunuhan, prostitusi, narkoba.


Semua ia lihat dengan mata kepalanya sendiri seperti melihat roll film yang mulai berjalan. Meski begitu dia tidak mundur dan terus bertahan disini hingga akhirnya bisa mendapat kepercayaan dari Harry untuk menjadi seorang interogator.


Sebenarnya ini bukan pekerjaan yang cantik karena setiap hari ia harus bermandikan darah orang-orsng yang ia introgasi. Meski begitu, itu bukanlah hal yang buruk.


Pemuda itu terlihat menepuk kepala si pria dengan pelan, namun di tangannya ada sebuah revolver yang jika ia tarik pelatuknya dapat menembus tubuh manusia dengan mudah.


"Hei, aku sudah lelah denganmu. Jika kau tidak berbicara, aku akan menghancurkan isi kepalamu."


Pria itu terlihat sedikit terintimidasi namun ia memutuskan tetap diam. Sejak ia tertangkap, ia sudah tahu akhir seperti apa yang menantinya. Karena itulah dia tidak akan buka mulut meski suatu hari nanti Cerberus akan mengetahui siapa orang dibaliknya.


Keberadaannya seperti sebuah bayangan yang akan menghilang begitu saja jika tidak ada cahaya. Sejak dia menerima misi ini, dia sudah siap akan akibatnya dan dia juga tahu bahwa tidak hanya dia yang menjadi korban Cerberus.


Organisasi kriminal berbahaya seperti Cerberus ini harus benar-benar di berantas. Kalau tidak, kota Elisien akan berada dalam bahaya.


"Aku sih tidak peduli mau kau mati atau hidup, jadi sampai bertemu di kehidupan selanjutnya."


BANG!


SRAAT–


Seketika itu juga, darah segar mengenai wajah pemuda itu. Kemeja putih yang ia pakai tak kalah merah dari darah yang barusan mengenai wajahnya.


"Sepertinya aku harus ganti baju lagi."


Pemuda itu tidak terlalu senang memakai baju warna putih saat melakukan interogasi. Ia tidak suka bajunya terlihat kotor karena darah. Lagi pula, proses interogasi selalu berakhir dengan darah dan penyiksaan yang membuatnya tidak bisa lepas dari hal itu.


Jika di dunia ini ada makhluk yang bisa mencium bau seseorang dengan kuat, mungkin bau pemuda itu akan sangat tidak mengenakkan.


Penuh dengan darah dan kematian.


Setelah interogasi yang gagal selesai, pemuda itu terlihat melemparkan  revolver yang ia pegang kearah seseorang yang sejak tadi berdiri menjaga pintu ruang interogasi.


"Interogasi gagal, cepat ambil mayatnya." Ucap pemuda itu sambil menunjuk ke dalam ruang interogasi dengan ibu jarinya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Aku menembaknya di kepala. Ambil saja semua organ yang masih terlihat bagus."


Tanpa berpikir panjang. Partner yang sejak tadi menjaga pintu ruang interogasi langsung masuk kedalam dan membawa mayat pria yang tidak diketahui namanya tersebut ke ruang bawah tanah untuk diambil organnya dan diperjual belikan.


Seperti itulah nasib orang-orang yang tertangkap oleh Cerberus. Jika tidak menjadi makanan hiu, organ orang tersebut akan diambil sampai tak tersisa.


Pemuda itu terlihat mengambil sepuntung rokok dan menyalakannya.


Asap tebal mengepul dari mulutnya setiap dia bernapas.


"Aku dengar bos baru saja memberi peringatan pada bocah bernama Hajun?" Tanya pria yang sedang mencoba memasukkan mayat kedalam sebuah wadah terbuat dari plastik supaya mudah dibawa.


"Itu benar, coba lihat ponselmu. Media masa sudah mulai heboh." Pemuda yang ada di luar ruangan mengayunkan ponselnya sembari melirik kearah partnernya, seolah-olah menyuruhnya untuk segera mengecek berita dari ponsel miliknya.


Sreeet–


Setelah zipper tertutup rapat, pria yang ada dalam ruangan memanggul mayat dipundaknya dan berjalan menuju ruang bawah tanah.


"Nanti aku akan melihatnya."


"Kau harus melihat secepatnya. Bos kita memang bukan orang sembarangan."


Pemuda itu menatap punggung partnernya dari belakang. Lama-kelamaan bayangannya menghilang dibalik kegelapan.


Pemuda itu memutuskan untuk keluar dari gedung tua tempat dimana ruang interogasi berada.


Sesampainya di luar, ia menghirup udara segar. Setelah lebih dari tiga hari berada di dalam ruangan, dia merasa sangat rindu dengan udara segar yang tidak tercampur dengan bau darah.


Pemuda itu mengangkat kepalanya keatas. Kedua bola matanya memantulkan cahaya bulan purnama yang terlihat begitu terang.


Suhu musim dingin semakin menurun dan menusuk tubuhnya namun pemuda itu tidak menghiraukannya seolah kemeja tipis penuh darah yang ia pakai dapat melindunginya dari rasa dingin.


"Sebentar lagi, semua akan dimulai."


TBC