
Pria itu keluar dari bar sembari memasukkan revolver yang ada di tangannya dibalik mantel yang ia pakai. Ketika dia berjalan, pria itu memancarkan aura berbahaya yang bisa membuat siapapun ingin buru-buru menjauh.
Bekas luka panjang di mata kanannya menambah kesan mengerikan, apa lagi jika melihat bola mata birunya yang dingin. Benar-benar seseorang yang mengerikan.
Di depan bar, ada banyak sekali orang-orang bersetelan hitam sedang berkumpul. Mereka melihat pria yang baru saja keluar dari bar, seketika itu juga mereka berbaris dan memberikan jalan untuknya lewat.
Pria itu berjalan dengan sangat santai, tidak mempedulikan sekitarnya. Dia menjentikkan jari tangannya sebagai aba-aba untuk mengikutinya. Setelah mendengar aba-aba tersebut, orang-orang bersetelan hitam mengikuti pria itu dari belakang.
Angin musim semi berhembus, bayangan orang-orang tersebut lama kelamaan memudar ditelan gelapnya malam. Semua hanya menunggu waktu, tragedi berdarah kota Elisien sebentar lagi akan terjadi.
***
Di sisi lain, Liyuna sedang tertidur nyenyak di kamarnya yang hanya di sinari oleh lampu tidur.
Di dalam tidurnya yang begitu nyenyak, dia sedang berada dalam suatu tempat yang dulunya pernah ia datangi. Ya, ini adalah tempat yang tidak asing, dulu sekali dia pernah datang ke tempat ini.
Tempat yang begitu terang seakan-akan seluruh cahaya di dunia tersegel ditempat tersebut. Kaki Liyuna menapak di atas sebuah kehampaan dan rasanya seperti melangkah di atas langit. Hal ini mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun yang lalu ketika ia jatuh dari tangga. Saat dia tidak sadarkan diri, dia berada di tempat kosong ini.
Meski sudah memanggil-manggil, tidak ada seorangpun yang datang. Tempat yang begitu kosong dan sepi.
Liyuna berjalan perlahan-lahan melewati hamparan cahaya yang menyeruak kemana-mana. Tempat yang serasa tidak ada ujungnya ini tidak memberikan rasa takut di hati Liyuna melainkan rasa tenang dan damai.
Liyuna tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan, selama diperjalanan dia tidak melihat benda apapun selain cahaya yang anehnya tidak membuat kedua matanya silau.
Kedua kaki kecilnya akhirnya memutuskan berhenti ketika kedua indera matanya melihat sebuah gazebo besar terbuat dari emas dan dihiasi berlian murni. Gazebo itu terlihat sangat indah dan berkilauan, apa lagi dengan cahaya yang menyinari di setiap sudutnya. Di dalam gazebo Liyuna melihat ada seseorang yang berdiri di sana.
Sosok seorang wanita berambut hitam pekat yang bergelombang panjang mencapai punggungnya yang kurus. Liyuna berjalan mendekati wanita itu dan hendak bertanya siapa dia namun mengurungkan niat setelah melihat wanita itu mengangkat tangan kanannya yang dihinggapi oleh kupu-kupu biru.
Kupu-kupu tersebut mengingatkannya pada kalung yang pernah diberi oleh Karl sebelumnya saat dia berumur 7 tahun, sebelum Yuriel masuk ke dalam kehidupannya.
"Permisi..." Ucap Liyuna dengan suara lirih.
Mendengar suara Liyuna, kupu-kupu ditangan wanita itu sepertinya meras terkejut karena seketika itu juga dia terbang menjauh dan pergi.
Sebenarnya Liyuna merasa aneh dengan kupu-kupu itu karena tidak tahu dari mana datangnya. Di tempat yang tidak ada apa-apanya ini, kenapa bisa ada kupu-kupu yang tiba-tiba muncul? Liyuna tidak mengerti.
Wanita itu menoleh kearah Liyuna dengan gerakan yang terlihat pelan namun pasti. Kedua bola mata Liyuna membulat sempurna ketika menatap sosok wanita yang begitu dikenalnya.
Dia adalah Liyuna.
Tidak, lebih tepatnya Liyuna asli pemilik tubuh yang saat ini ia tempati.
Liyuna membuka mulutnya, dia ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tidak mau keluar.
Wanita itu tersenyum melihat Liyuna yang datang menghampirinya.
"Halo... senang bertemu denganmu, Liyuna."
"Kau..."
Wanita itu berjalan mendekati Liyuna. Dia berjalan dengan begitu anggun menggunakan gaun merah yang terlihat sangat cantik.
"Tidak perlu terkejut."
"Apa kau Liyuna yang sebenarnya?"
"A-apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku bisa ada disini? Tidak, maksudku.. apa yang terjadi pada tubuhku yang sebenarnya?" Liyuna tidak bisa menahan pertanyaan-pertanyaan yang selalu terkunci dibenaknya selama ini. Setelah melihat Liyuna yang asli dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Tenanglah, tidak perlu terburu-buru."
Wanita yang diketahui sebagai Liyuna asli itu kembali ke gazebo dan duduk di sana. Dia meminta Liyuna untuk mengikutinya.
"Siapa namamu di dunia sebelumnya?" Tanya wanita itu.
Liyuna yang sejak awal tidak pernah memberitahu namanya pada siapapun merasa sedikit ragu. Selama ini, untuk mempertahankan identitasnya dan supaya dia tidak kehilangan jati diri dia selalu meyakinkan diri sendiri bahwa dia adalah Liyuna namun ketika mendengar seseorang menanyakan nama aslinya, dia tidak tahu harus bagaimana.
"Riana."
"Senang bertemu denganmu, Riana."
Riana terdiam. Sudah lama sekali dia tidak mendengar seseorang menyebut nama aslinya. Dia tidak pernah menganggap namanya adalah sesuatu yang berharga, dia juga tidak mempunyai rasa kecewa jika harus berpisah dengan nama tersebut. Bukan karena dia tidak menyukainya namun karena itu adalah nama yang tidak ia ketahui siapa pemberinya.
Sejak dia mengambil alih tubuh Liyuna, Riana sempat mengalami krisis identitas. Dia tidak tahu lagi siapa dirinya namun semua sedikit membaik ketika dia mengubah cara berpikirnya. Ia hanya harus berpikir bahwa dirinya adalah Liyuna dan dirinya di masa lalu adalah seseorang yang memainkan game dimana Liyuna berada. Ia mencoba dengan sangat keras untuk menerima bahwa Liyuna adalah dirinya yang baru.
"Apa kau ke sini untuk mengambil kembali tubuhmu?" Riana menanyakan hal yang selama ini ingin ia ketahui.
Kenapa dia bisa mengambil alih tubuh Liyuna? Dimana Liyuna asli? Dan apa maksud dari gambaran yang sering ia lihat dalan mimpi maupun lamunan.
Liyuna asli tersenyum, ia terlihat sangat cantik sekali ketika tersenyum seperti itu. Dia adalah gambaran ketika Liyuna berumur dua puluhan dan Riana dapat membayangkan seberapa cantik Liyuna saat itu.
"Itu tidak mungkin, jiwa ku telah mati."
Riana merasa terkejut mendengar ucapan Liyuna. Jika Liyuna sudah mengatakan bahwa jiwanya telah mati berarti dirinya yang ada di dunia lain juga mengalami nasib yang sama. Entah karena apa, dia mati ketika memainkan game Red String.
"Bagaimana bisa?"
"Ada alasan mengapa kau ada disini menggantikan ku. Tapi itu sesuatu yang tidak perlu kau pikirkan saat ini. Belum saatnya kau tahu tentang hal itu."
"Kenapa?"
Liyuna tidak menjawab, Riana tahu Liyuna enggan menjawab pertanyaannya karena itu lah dia mencoba untuk tidak terlalu memaksanya dan memutuskan untuk mengalihkan topik.
"Aku selalu melihat sesuatu ketika sedang tidur maupun ketika melihat sebuah benda yang bisa memicu sebuah gambaran. Apa kah gambaran yang aku lihat..." Riana menggantung ucapannya, ia meminta konfirmasi dari Liyuna asli.
"Itu adalah ingatan yang aku miliki."
Riana tidak terlalu terkejut mendengar hal tersebut namun ia meras ada sesuatu yang aneh. Jika itu memang ingatan Liyuna asli, bagaimana bisa timeline nya tidak sesuai? Riana selalu melihat gambaran tersebut dengan timeline acak dimana Liyuna tiba-tiba menjadi dewasa ataupun anak-anak.
"Mustahil, habisnya yang aku lihat itu..."
Belum sampai Riana meneruskan ucapannya, tiba-tiba saja angin kencang berhembus. Membuat rambutnya terbang menutupi kedua matanya dan ketika ia membukanya kembali, Riana sudah berada di kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar dan merenungkan mimpi yang baru saja dia lihat.
Ia ingin berbicara tentang banyak hal dengan Liyuna asli dan dia juga ingin tahu alasan sebenarnya dia masuk ke dunia ini.
Namun ia harus menunggu sedikit lebih lama untuk jawaban yang ia cari.
TBC