
Matahari mulai tenggelam, menyelimuti dunia dengan kegelapan.
Di dalam sebuah kapal pesiar yang mulai berlayar mengarungi lautan, seorang pria berambut sehitam arang sedang duduk tenang di dekat jendela.
Pria itu adalah Harry. Pemimpin organisasi berbahaya yang sedang di buru oleh polisi. Ia saat ini sedang duduk di sebuah kursi kecil dekat dengan jendela. Pemandangan laut di malam hari menjadi objek utama dan satu-satunya yang bisa dia lihat.
Kapal pesiar yang ia naiki memiliki nama yang indah, Red Diamond.
Sebuah kapal pesiar yang hanya berlayar sebulan sekali. Kapal yang entah bagaimana menyembunyikan rahasia kotor para manusia.
Mata Harry sedikit menyipit, ia kemudian memperhatikan buku yang ada di tangannya.
Buku berjudul 'Human's Desire' itu sudah menjadi favoritnya sejak sepuluh tahun yang lalu.
Sesuai dengan judulnya, buku itu menjelaskan tentang bagaimana sifat sebenarnya seorang manusia ketika memiliki keinginan.
Sangat buruk, jelek, dan menjijikkan.
Itulah sifat sejati manusia.
Mereka akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan jika itu harus membuat perjanjian dengan iblis sekalipun.
Tutup—
Setelah selesai membaca buku yang sebenarnya ia ingat isinya, Harry menutupnya dengan kasar.
Malam ini akan menjadi malam yang begitu panjang dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Ah... Sudah berapa lama dia tidak merasa seperti ini? Jantungnya berdetak dengan sangat kencang seolah akan meledak.
Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk memulai acara utama untuk para tamu undangan.
Dan tentu saja, tidak lupa barang lelang yang bernilai tinggi.
Sudut matanya melirik kearah seorang gadis yang tertidur pulas di ranjang.
Tanpa gadis itu ketahui, saat ini dia sedang berada dalam perjalanan menuju kengerian.
***
"Bagaimana dengan persiapnnya?"
Dengan tatapan menyelidik, Feon melihat area sekitar.
Acara malam ini harus berjalan dengan lancar. Dia tidak bisa membiarkan tikus masuk dengan mudah.
Sebagai orang kepercayaan Harry, sudah menjadi tugasnya untuk mengontrol segala hal.
"Semua sudah berada di posisi."
Seorang awak kapal yang sudah bekerja cukup lama di Red Diamond memberikan jawaban positif.
Tentu saja, dia tidak bisa melakukan kesalahan. Bisa-bisa, nyawanya akan melayang.
Sejak awal dia sudah tahu kalau bekerja dalam bidang seperti ini sangatlah berbahaya. Nyawanya bisa melayang kapanpun dan dimana pun.
Meski begitu dia tidak gentar hanya dengan hal seperti itu. Upah yang diberikan oleh para petinggi sangatlah besar. Mungkin cukup untuknya hidup hingga tua nanti.
Begitulah manusia.
Jika dihadapkan dengan uang, mereka akan menggila seolah itu adalah hal nomor satu dalam hidup. Nyawa menjadi nomor sekian dihadapan uang.
"Urusi yang benar, aku tidak akan mentolerir kesalahan." Feon kembali memperingatkan.
Benar, acara pelelangan ini adalah acara yang paling ditunggu-tunggu. Tamu undangan yang berasal dari berbagai macam kalangan, sangat menantikan acara ini.
Karena itulah, dia harus mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Tentu saja, semua demi menjaga nama baik Tuannya.
Di sisi lain, Liyuna yang sedari tadi kehilangan kesadarannya mulai mencoba untuk membuka kedua matanya perlahan.
Namun sayangnya tidak berhasil. Matanya terlalu berat untuk dibuka dan tubuhnya terlalu lelah untuk mendengarkan.
Di saat itulah, ia kembali mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama sekali tidak ia kunjungi.
Sebuah tempat yang memancarkan cahaya menyilaukan dan juga gazebo berwarna emas.
Wanita itu duduk disana. Dengan gaun berwarna merah yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Kau harus segera bangun."
Mendengar perkataan wanita itu, dia hanya bisa menaikkan alisnya.
"Kau harus segera bangun." Ucapnya sekali lagi.
"Aku juga ingin melakukannya, namun tubuhku tidak mau mendengarkan. Jika aku bangun pun, aku pasti sudah berada ditangan para penculik."
Gadis itu mencoba untuk menjelaskan situasinya pada sang wanita. Dia bukannya tidak mau bangun, namun tubuhnya tidak mau mendengarkan.
Dia terlalu lelah. Tubuh kecilnya tidak kuat melewati semua peristiwa ini.
Wanita itu, Liyuna yang asli, berdiri dari duduknya dan menghampiri gadis yang mengambil alih tubuhnya.
Dia mencengkram erat bahu gadis itu, hingga membuatnya meringis kesakitan.
"BANGUN, SEKARANG JUGA!!"
Suaranya begitu putus asa, membuat gadis itu terkejut.
Sejak pertama kali ia bertemu dengan wanita itu, baru kali ini dia berteriak seperti ini.
Keanggunannya tiba-tiba menghilang, berubah menjadi teriakan keputus-asaan.
Di saat itu pula, mata Liyuna terbuka membelalak.
Berkat cengkraman kuat Liyuna yang asli, kesadarannya mulai terbangun.
Liyuna kini menatap keadaan sekitarnya. Dia menatap kedua tangan kakinya yang terlihat baik-baik saja tanpa pengekang.
Wajahnya kini menunjukkan rasa bingung yang begitu kuat.
Bukankah dia diculik? Lalu kenapa tangan dan kakinya tidak diberi pengekang??
Karena sibuk dengan dirinya sendiri, Liyuna tidak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya.
Kedua matanya itu mantap Liyuna dengan seksama.
"Aku tidak perlu melakukan hal seperti itu."
Suara bariton Harry memecah keheningan. Liyuna yang sejak tadi sibuk sendiri terkejut tatkala menyadari ada eksistensi lain yang menemaninya.
Ia menoleh ke sumber suara, mencoba untuk melihat bagaimana rupa penculiknya.
"Meski tidak memakai pengekang pun, kau tidak akan bisa kabur."
Kedua mata Liyuna, membulat dengan sempurna tatkala melihat bagaimana rupa penculiknya itu.
Tidak...
Itu tidak mungkin...
***
"Bagaimana bisa kau mengenal kakakku?"
Lucas terlihat sedang berdiri di atas atap gedung kantor Obelian's Circle bersama dengan Yuda.
"Aku tidak mengenalnya,"
Yuda menatap kesebuah kendaraan yang nantinya akan membawa mereka menuju lokasi tujuan.
"Tapi sepertinya atasanku mengenalnya dengan baik."
"Apa maksudnya?"
Yuda tidak menjawab.
Mau ditanya sebanyak apapun, Yuda juga tidak tahu. Yang dia lakukan hanya mengikuti perintah dari atasan, dia tidak berhak mempertanyakan segala detilnya.
Walau dia termasuk anggota elit, bukan berarti dia bisa berbuat seenaknya.
"Apa sudah siap?" Tanya Yuda.
Dia tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Sebelum semuanya terlambat, dia harus menyusul Liyuna secepatnya.
Dia tidak tahu apa yang Cerberus rencanakan dengan gadis itu. Karena itulah, jika Yuda ingin Liyuna selamat, maka ia harus bergerak cepat.
"Sebentar lagi."
Tiba-tiba saja, seorang karyawan Obelian's Circle datang dengan nafas terengah-engah.
"Tuan Muda!" Panggilnya.
Lucas yang merasa dipanggil segera menoleh ke sumber suara.
"Ada apa? Kami harus segera pergi."
"Maaf Tuan Muda, tapi barusan..." Karyawan itu tidak bisa melanjutkan ucapannya karena ada sebuah tangan yang mencengkram bahunya.
Sosok pria muncul dari balik kegelapan, rambut putih keabu-abuannya terlihat bersinar tatkala terkena pamcaran sinar lampu.
Lucas yang melihat kehadiran sosok yang sangat ia kenal itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutsnnya.
Bagaimana bisa dia ada disini? Bukankah seharusnya Ibunya menahan dia?
Bukankah dia seharusnya tidak bisa keluar dari sana karena menyelamatkan dirinya?
Lalu apa maksud semua ini?"
"Kakak..." Ucapnya lirih sembari menatap Hajun yang saat ini berjalan mendekatinya.
Malam itu, ketiga pria yang pernah saling terhubung kembali bertemu dalam satu tempat.
TBC