
Saat ini Liyuna terdiam dipojokan kasur. Dia menatap pria paruh baya yang dengan santainya duduk di di dekat jendela dengan membelakangi dirinya.
Setelah memastikan bahwa Liyuna saat ini ada di sebuah kapal pesiar, dia menjadi merasa sedikit putus asa.
Liyuna tidak tahu apa yang diincar oleh pria itu. Bisa saja harta keluarganya, hak warisnya, atau yang lainnya. Pria itu juga terlihat tidak mau membuka mata.
"Tidak perlu tegang seperti itu." Ucap pria itu membuka suara.
Pria yang akrab dipanggil dengan nama Harry itu terdengar sangat tenang dan seolah tak tertarik dengan keberadaan Liyuna.
"Kalau begitu, lepaskan aku." Ucap Liyuna memberanikan diri.
Liyuna memang tidak tahu apa maksud pria itu menculiknya, namun jika melihat bagaimana dia diperlakukan, mungkin saja pria itu tidak bermaksud untuk melukainya.
"Soal itu... Tidak bisa."
"Kenapa kau melakukan hal ini?" Timpal Liyuna.
Menurutnya, dia berhak untuk tahu kenapa dirinya diculik dan dibawa ke tempat yang jauh dari daratan.
"Hmm... Kau tidak perlu tahu."
Dahi Liyuna mengerut. Dia merasa kalau pria dihadapannya saat ini sedang mengatakan omong kosong.
Sebagai orang yang diculik, kenapa juga dia tidak perlu tahu? Memangnya dia akan terima begitu saja?
"Apa karena uang? Jika itu maumu, aku akan memberikannya padamu."
Dengan hati-hati, Liyuna mencoba untuk mengorek informasi. Selama berada disini, dia harus tahu maksud dari keberadaannya. Setelah itu, baru dia bisa memikirkan rencana selanjutnya.
Pria itu, Harry, tertawa mendengar ucapan dangkal Liyuna. Sebagai seorang pemimpin organisasi dunia bawah, Harry tidak pernah kekurangan uang.
Ucapan Liyuna membuatnya tertawa karena sangat lucu dan menghibur.
Mendengar Harry tertawa, Liyuna terkesiap. Gerigi dalam otaknya terus berputar dan mengatakan kalau orang ini menculiknya bukan karena uang melainkan karena hal lain.
"Bukan, ya? Kalau begitu karena hak waris yang kumiliki?" Liyuna mencoba menanyakan hal lain.
Jika itu tentang hak waris, besar kemungkinan kalau Harry menginginkan posisi ini. Jika pewaris keluarga Castris tiada, maka kekuatan keluarga tersebut juga akan terombang-ambing.
Tapi Liyuna tidak merasa khawatir, jika kemungkinan terburuknya dia mati, masih ada Yuriel yang akan menggantikannya.
Meski begitu, bukan berarti Liyuna ingin mati. Sebisa mungkin, dia akan bertahan hidup.
Bukankah selama ini itu yang ingin dia raih? Itulah tujuannya setelah masuk dalam dunia game ini.
Lalu... Adegan di kapal pesiar. Liyuna tidak ingat apakah di game ada peristiwa seperti ini atau tidak.
Karena dia tidak pernah memainkan hidden route sebelumnya, ia menjadi tidak tahu.
Apakah dunia ini berbelok kearah yang berbeda? Mungkin saja. Ada yang namanya efek kupu-kupu. Semua mungkin saja terjadi.
Tapi, Liyuna tidak mengetahui hal itu karena dia terlalu fokus dengan tujuannya sendiri. Dia tidak menyadari bahwa semuanya mulai berbeda dari apa yang dia ingat.
"Alasan dangkal seperti itu, aku tidak tahu kalau pewaris Castris Group sebodoh ini."
Mendengar hal itu membuat Liyuna sedikit terkejut. Dia tidak menyangka akan dihina secara terang-terangan seperti ini.
"Aku menang masih banyak kekurangan, karena aku masih perlu di bimbing."
Mata Harry terlihat begitu kosong tanpa emosi. Dia menatap keluar jendela dimana hanya ada kegelapan di sepanjang pandangan.
"Di bimbing, ya? Oleh siapa? Ayahmu, Karl?"
Liyuna mendapati sebuah emosi aneh ketika pria dihadapannya mengucapkan nama Ayahnya. Padahal selama ini pria dihadapannya selalu berbicara dengan datar seolah tak peduli dengan apapun.
Apa semua kejadian ini ada hubungannya dengan Ayahnya, Karl?
Liyuna mencoba untuk berpikir lebih keras. Jika menang tujuannya adalah Karl, maka semua jadi masuk akal.
Liyuna adalah putri satu-satunya keluarga Castris sekaligus pewaris Castris Group yang mahahebat.
Sebagai putri semata wayang, dia selalu disayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya. Karena itu, sangat wajar jika Harry menargetkannya.
Dengan menghilangnya Liyuna, Karl pasti akan kocar-kacir. Dia akan bertindak seekstrim mungkin untuk putrinya.
Tiba-tiba Liyuna menyadari sesuatu. Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal ini, namun dia merasa kasihan dengan Liyuna asli yang tidak mendapat kasih sayang.
Jika tidak ada Liyuna, masih ada Yuriel. Itulah alasan kenapa Liyuna berubah menjadi jahat.
"Tentu saja oleh Ayahku. Beliau adalah orang paling luar biasa yang pernah kukenal."
Semoga ini adalah jawaban yang benar.
Harry mendengus mendengar jawaban Liyuna. Hal ini tidak lepas dari pengamatan Liyuna.
"Luar biasa? Jika kau tahu wajah Ayahmu yang sebenarnya, pasti kau tidak akan mengatakan hal itu."
Wajah Ayahnya yang sebenarnya? Liyuna tidak tahu. Namun dia percaya pada fakta bahwa Karl sangat menyayangi keluarganya.
"Kau..." Liyuna menjeda ucapannya, "sepertinya sangat tidak menyukai Ayahku."
Harry berdiri dari tempat duduknya, membuat Liyuna terkejut.
Apa taktiknya salah? Apa dia tidak sengaja membuat pria itu marah? Hati Liyuna tiba-tiba diselimuti dalam rasa takut.
"Hentikan omong kosongmu. Memangnya aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya."
Meski tidak bisa melihat wajah pria karena selalu membelakanginya, Liyuna tahu kalau pria itu setidaknya sudah berusia 35 tahun keatas.
Mungkin seumuran dengan Ayahnya?
"Jika kau sepenasaran itu, maka akan kuberi tahu. Sebenarnya ini bukanlah rahasia, jadi tidak masalah jika kau mengetahuinya."
Liyuna meneguk ludahnya dengan kadar. Dia mencoba untuk mendengarkan pria dia depannya dengan seksama.
"Kau sangat penasaran, ya? Keponakanku?"
Mata Liyuna membulat dengan sempurna ketika melihat Harry membalikkan tubuhnya.
Keduanya saling bertatapan. Liyuna merasa tidak yakin dengan apa yang barusan dia dengar.
Keponakan? Apa maksudnya itu?
Pupilnya bergetar karena wajah yang ia lihat saat ini sangat tidak asing. Pria dihadapannya saat ini, terlihat memiliki kemiripan dengan Ayahnya.
Secara refleks, Liyuna menutup mulutnya dengan telapak tangan. Pandangannya beralih ke bawah, mantap selimut yang selama ini menyelimuti tubuhnya.
Ini apa? Apa-apaan semua ini?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi otaknya. Liyuna saat ini sedang mengalami syok yang begitu besar.
Jadi pria dihadapannya saat ini adalah...
Liyuna kembali menatap Harry yang berdiri dihadapannya.
"Kau adalah... Pamanku?" Tanyanya dengan suara lirih.
Liyuna masih tidak percaya. Namun wajahnya tidak bisa dibohongi. Lalu matanya... Mata biru langit yang mirip sekali dengan Liyuna.
Meski ada bekas luka di sana, warna matanya tidak bisa dibohongi. Warna mata unik yang akan mengingatkan siapapun yang melihat dengan langit di pagi hari.
Mata yang sama persis dengan milik Liyuna.
Harry tidak menjawab pertanyaan Liyuna. Namun ia terlihat tersenyum sembari menatap wajah Liyuna.
Bip... Bip...
Tiba-tiba suara ponsel Harry terdengar.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Semua sudah siap, panggung selanjutnya akan segera dibuka."
Mendengar jawaban dari seberang sana, senyum Harry semakin melebar.
Matanya menampakkan sebuah kegilaan yang membuat Liyuna merinding.
Fakta bahwa orang yang menculiknya adalah pamannya sendiri juga membuatnya tidak bisa berpikir rasional.
Liyuna saat ini tidak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
TBC