Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 99 - Wanita yang Selalu Menghantui



Di dalam sebuah mobil Hajun terlihat menyalakan sebatang rokok dengan lighter-nya. Ini adalah rokok kedua yang dia hisap hari ini. Biasanya, Hajun hanya merokok sekali setiap hari namun hari ini sedikit berbeda.


Dahinya terlihat mengerut. Melihat kejadian barusan, tidak mungkin jika dia tidak merasa marah.


Titus menutup membuka jendela mobil. Meski terasa sangat dingin, dia tidak punya pilihan lain karena Hajun saat ini sedang merokok. Dia tidak mau dirinya merasa sesak napas karena asap rokok yang terkunci dalam mobil.


Mantel yang tadi Hajun kenakan, Titus letakkan di jok sampingnya. Ia melirik Hajun lewat kaca spion untuk memastikan bahwa bos nya itu baik-baik saja karena tidak memakai baju hangat.


Melihat keadaan Hajun, sepertinya ke khawatiran Titus sangatlah sia-sia. Jika mengesampingkan mood-nya yang sedang tidak baik, Hajun terlihat baik-baik saja.


Bos yang sudah ia ikuti sejak masih remaja itu memang tidak bisa dianggap remeh. Pelatihan yang Hajun lakukan saat masih berada di Obelian's Circle memang bukanlah pelatihan biasa.


Suara dari sirene ambulans, polisi, maupun pemadam kebakaran saling bertubrukan satu sama lain. Membuat suasana kacau disekitar TKP semakin tak terbendung. Orang-orang terlihat berlari dan bersembunyi ketakutan.


Belum ada kepastian berapa banyak korban jiwa yang terluka maupun meninggal namun pastinya, kejadian ini akan membuat heboh seluruh kalangan masyarakat.


Titus mulai menyalakan mesin mobil. Ketika ia merasa mesin sudah panas, Titus segera melaju menuju markas mereka.


Hajun terlihat memandang ke luar jendela. Mobil yang sedang ia tumpangi berjalan melewati mobil Liyuna.


Meski begitu tidak ada satupun diantara mereka yang sadar. Meski kaca mobil Hajun terbuka dan ia melihat kearah luar, kaca mobil yang Liyuna tumpangi tertutup. Para body guard tidak akan membiarkannya terlihat oleh orang luar setelah apa yang terjadi barusan.


"Kenapa aku melihat banyak sekali body guard Obelian's Circle sejak tadi?" Tanya Hajun.


Ia menghembuskan kepulan asap yang ada di mulutnya.


"Ah itu... Saya juga tidak tahu. Sepertinya seorang client yang memakai jasa Obelian's Circle juga ada disekitar sini."


Hajun tidak menjawab. Ia hanya terdiam mendengar penjelasan Titus. Memang tidak aneh jika body guard Obelian's Circle ada disekitar namun jika jumlahnya banyak, tentu saja Hajun menjadi sedikit penasaran. Tidka banyak orang yang menyewa jasa Obelian's Circle sebanyak itu. Biasanya mereka para pejabat atau selebriti yang memang membutuhkan keamanan khusus.


Mobil yang Hajun tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Jalanan tahun baru begitu sepi, hampir tidak ada orang yang keluar menggunakan kendaraan. Mereka lebih memilih berjalan kaki bersama keluarga atau berdiam diri di rumah sembari menunggu hitungan mundur tahun baru.


Titus memarkirkan mobil di basement. Lalu ia membukakan pintu belakang mobil untuk Hajun.


Hajun keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju elevator.


"Aku akan langsung tidur, kau kembali lah ke ruanganmu sendiri." Ucap Hajun.


"Dimengerti."


DING!


Pintu elevator terbuka, menunjukkan lorong sepi yang biasa Hajun lewati. Di lantai ini hanya ada dia karena Titus menempati satu lantai di bawahanya. Hajun bergegas menuju kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Ia tidak menyalakan lampu, sehingga kamarnya terlihat sangat gelap. Meski begitu, Hajun sepertinya tidak merasa kesusahan untuk berjalan dalam kegelapan.


Hajun menutup kedua matanya, mencoba untuk menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Namun entah sejak kapan, kesunyian yang menyelimutinya menghilang.


Suara ombak terdengar begitu jelas di telinganya. Angin laut di malam hari terasa sangat dingin namun bukan itu yang membuat Hajun merasa resah.


Ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang selalu menghantuinya sejak beberapa tahun terakhir ini dan membuatnya susah tidur.


Meski Hajun tahu ini hanya mimpi namun apa yang ia lihat disini selalu bisa membuatnya terbangun dari tidurnya.


Hajun tidak perlu melihat kearah sekitarnya karena dia sudah tahu betul ia saat ini berada dimana. Ia berdiri di geladak kapal pesiar, ditangannya ada revolver yang selalu ia bawa kemana-mana sejak ia remaja.


Ia memakai setelan hitam formal yang kini hanya tersisa kemeja putihnya saja. Tubuhnya basah karena hujan mulai turun sedikit demi sedikit.


Suasana disekitar sangat ramai namun Hajun tidak bisa mendengar apapun yang orang-orang katakan. Ia hanya bisa mendengar suara ombak dan juga angin yang berhembus, begitu juga dengan rintik hujan yang mulai turun ke bumi.


Sekelilingnya terlihat sangat buram, membuat Hajun kembali menyadari bahwa ini hanyalah sebuah mimpi.


Ketika ia mencari sumber suara tersebut Hajun melihat sosok wanita yang selalu menghantuinya dalam mimpi. Dia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas, ia tidak tahu siapa dia namun Hajun bisa melihat air mata membasahi wajah putihnya.


Wanita itu berdiri di pojok geladak, membuatnya sangat dekat dengan laut. Seseorang berdiri disampingnya mengarahkan senjata api di kepalanya.


Awalnya Hajun tidak tahu apa yang sedang terjadi dalan mimpinya ini namun setelah mengulangi berkali-kali, Hajun mulai mengerti.


Wanita itu sedang menangis karena diancam oleh pria yang berdiri disampingnya. Dia mencoba untuk meminta tolong Hajun namun dia tidak mencoba untuk melakukan intervensi.


Hajun paham dengan dirinya sendiri, sangat tidak mungkin baginya untuk menolong orang lain yang bisa membuat posisinya terancam. Wanita itu adalah eksistensi seperti itu baginya. Perasaan asing yang tidak pernah ia miliki sebelumnya, tiba-tiba saja datang padanya. Seolah-olah mimpi yang ia lihat adalah sebuah kenyataan yang pernah terjadi. Namun Hajun bukanlah orang yang bodoh, dia bisa membedakan mana mimpi dan mana yang tidak.


Pria itu kembali mendorong wanita itu mendekat menuju pagar, membuatnya semakin dekat dengan laut. Wanita itu menangis dalam diam, dia meski meminta tolong sekalipun dia tahu bahwa Hajun tidak akan membantunya. Ia hanya menatap Hajun dengan wajahnya yang basah dengan air mata.


Dan saat itu terjadi lagi. Wanita itu di dorong ke keluar dari geladak kapal hingga terjatuh ke lautan. Sebelum terjatuh ia sempat menatap mata Hajun.


Byuurr—


Wanita itu jatuh ke laut.


Dan Hajun tidak melakukan apapun.


Dorrr—


Suara tembakan terdengar ditengah-tengah suara hujan yang mulai deras. Pria yang tadi mendorong wanita itu kini jatuh terduduk dengan tangan penuh dengan darah.


Hajun menatap ke depan, menatap seorang pemuda yang datang dari belakang pria itu. Ditangannya ada revolver yang baru saja ia gunakan untuk menembak pria tersebut.


Setelah pemuda itu memastikan bahwa pria yang ada dihadapannya sudah berhasil ia lumpuhkan, ia berjalan mendekati Hajun.


Melihat hal ini, Hajun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pemuda itu akan memukul wajahnya dan mengatakan sesuatu namun Hajun sendiri tidak bisa mendengar apa yang ia katakan.


Lalu, tiba-tiba saja pemuda itu ikut terjun ke laut. Ia berusaha mencari wanita tersebut. Namun sayangnya hujan semakin lebat dan tubuh wanita itu semakin menjauh diterpa oleh ombak.


Itu adalah sebuah bunuh diri. Pemuda itu pastinya tahu akibat dari perbuatannya. Ia tidak akan selamat jika melihat ombak yang begitu besar. Tidak peduli sehebat apa dia berenang, ia tetap tidak akan bisa menentang alam.


Sementara wanita itu yang telah hanyut terbawa ombak, mungkin saja telah kehilangan kesadarannya.


Malam itu... Dua orang yang ia sayangi meninggal dunia di telan oleh lautan.


Ketika Hajun terbangun dari mimpinya. Semua rasa lelah maupun kantuk menghilang begitu saja, seolah tidak pernah ada sebelumnya.


Hajun merapikan menyeka dahinya yang berkeringat dengan telapak tangannya.


Setiap dia memimpikan tentang wanita itu, ia tidak akan pernah bisa kembali untuk tidur. Rasanya seperti ada sebuah penyesalan dan rasa bersalah yang begitu mendalam, membuat dadanya terasa sangat sesak dan serasa ingin mati.


Meski begitu, Hajun biasanya tetap memaksakan diri untuk kembali tidur dengan bantuan obat. Dia tidak bisa terus terjaga karena ketika matahari mulai menampakkan diri, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Jika Hajun menilik kembali mimpi yang ia alami, Hajun tidak mengerti mengapa kedua orang yang telah menghilang ditelan lautan adalah orang yang berharga baginya. Hanya saja, instingnya mengatakan bahwa mereka adalah orang yang berharga baginya.


Jika instingnya benar, lalu mengapa dia hanya diam saja melihat mereka hanyut terseret oleh ombak? Kenapa dia tidak mencoba untuk menyelamatkan wanita itu? Dan kenapa juga dia tidak berusaha untuk menahan pemuda tersebut agar tidak berbuat sembrono? Hajun tidak mengerti.


Mimpi adalah bunga tidur. Itu adalah kata-kata yang sering orang-orang ucapkan. Namun menurut Hajun, mimpi yang ia lihat adalah sebuah premonisi masa depan yang mungkin saja akan terjadi di masa depan.


Jika memang seperti itu, akan kah dia memilih pilihan yang berbeda dan menyelematkan mereka? Tidak ad ayang tahu akan hal itu karena peristiwa tersebut belum benar-benar terjadi.


Apakah pendapat Hajun mengenai mimpi tersebut benar atau salah, tidak ada yang tahu akan jawaban tersebut. Entah itu sesuatu yang akan terjadi di masa depan atau sesuatu yang terjadi di masa lalu, tidak ada seorang pun yang tahu.


Yang bisa dia lakukan saat ini adalah terus berjalan maju dan melihat sendiri jawaban yang selama ini ia cari.


TBC