Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 113 - Awal Dari Sebuah Cerita (Yuriel's POV)



Semua berjalan seperti yang aku ingat.


Kematian Paman Eldo dan juga Tante Almera. Tidak ada yang berubah.


Aku sudah menjalani banyak sekali kehidupan. Disetiap kehidupan ada hal-hal yang tidak pernah berubah, yaitu kematian Liyuna.


Aku tidak mengerti dimana letak kesalahan dimulai.


Diumur 5 tahun, itu pertama kalinya ku mendengar tentang kebenaran mengenai asal usulku. Orang yang selama ini kuanggap sebagai ayah ternyata bukan ayah kandungku.


Satu tahun kemudian, seseorang yang selalu ku lihat lewat televisi datang dan memberiku sebuah tawaran. Aku yang masih muda menerima dengan senang hati tawaran tersebut.


Aku pikir akhirnya aku bisa bersama dengan keluargaku namun ternyata aku salah.


"Dia tidak datang untuk menjadikanku keluarga."


Aku hanyalah alat baginya. Alat yang bisa dia pakai sesuka hatinya. Ketika aku menginjakkan kaki di kediaman Castris, semua pelatihan keras dimulai. Aku harus menjadi sempurna, aku harus menjadi seseorang yang pantas untuk mengemban nama 'Castris'.


Karl adalah ayah yang baik namun itu bukan berarti dia adalah orang baik di mata orang lain. Bagiku, dia adalah orang yang jahat.


Dia memberiku harapan, membuatku berpikir bahwa akhirnya aku bisa mendapatkan keluarga namun pada akhirnya dia menghancurkan semua ilusi yang telah aku buat sendiri.


Semuanya hancur berkeping-keping layaknya boneka kaca yang dihancurkan dengan tongkat bisbol.


Karl memberiku waktu dua tahun untuk menyempurnakan kemampuanku dalam segala bidang. Aku berusaha sebaik mungkin hingga tak terhitung banyaknya berapa kali hidungku mengeluarkan darah.


Dua tahun bukanlah waktu yang lama, itu adalah waktu yang tergolong sangat cepat untuk anak seusiaku. Namun aku sendirilah yang memilih untuk menerima tawarannya, aku sendirilah yang memilih untuk masuk ke dalam neraka.


Meski tahu bagaimana akhirnya, aku tetap tidak bisa melepaskan tangan itu.


Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama. Hari yang di janjikan telah tiba. Karl membawaku ke kediaman Castris dan mengenalkan ku pada istri dan putri tersayangnya, Liyuna.


Selama dua tahun ini, aku telah membangun sebuah persona palsu.


Gadis yang baik hati, ramah, dan ceria, itu adalah persona yang telah aku buat selama dua tahun terakhir ini. Aku juga telah mempersiapkan diri untuk tidak diterima dan diperlakukan dengan tidak adil.


Lagipula siapa aku ini?


Hanya seorang gadis yang tidak jelas asal usulnya. Seorang gadis yang tidak selevel dengan mereka yang lahir dengan sendok berlian.


Namun sepertinya persiapanku menjadi percuma. Gadis itu, Liyuna Aria Castris tidak seperti yang aku bayangkan. Dia jauh dari kata manja dan tidak sopan, dia jauh sekali dengan apa yang selama ini ada dalam pikiranku.


"Senang bertemu denganmu, Yuriel." Ucapnya dipertemuan pertama kami.


Dia tersenyum dengan begitu tulus, menyambutku dengan ramah dan penuh kehatia-hatian. Berbanding terbalik dengan ekspresi Ibunya yang terlihat sangat terkejut, Liyuna bersikap sangat baik.


Aku terpesona padanya, pada Liyuna Aria Castris.


Ini pertama kalinya seseorang melihatku dengan mata tulus dan hangat sepertinya. Entah sejak kapan, dia telah menjadi seseorang yang bisa menghapus kegelapan dalam hatiku.


Meski begitu aku harus tetap menepati janjiku. Tidak peduli seberapa bersinarnya Liyuna, aku tidak boleh terlena dengan cahaya itu.


Kami tumbuh bersama. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikan Liyuna. Dengan siapapun, tidak peduli apa status mereka, Liyuna akan selalu menerimanya. Namun itulah yang menjadi kelemahan utama dari Liyuna, putri berharga keluarga Castris.


Banyak orang membencinya karena alasan tidak jelas, melukis dirinya seperti orang jahat dan menyebarkan rumor tak berdasar.


Liyuna tidak peduli akan hal itu dan aku juga hanya diam tanpa melakukan apapun.


Persona yang aku buat adalah seorang gadis baik yang selalu di rundung. Orang-orang merundungku, mengatasnamakan Liyuna.


Tentu saja aku tahu bahwa itu semua adalah kebohongan, namun aku tidak menghentikannya. Situasi seperti ini sangat baik untuk tujuanku. Dengan begini, aku bisa membangun reputasi baik dikalangan sosial kelas atas.


Karena selalu bersama, aku menyadari satu hal. Liyuna Aria Castris menyukai putra kedua dari keluarga Ravenray. Putra yang statusnya tidak jelas sama sepertiku.


Aku tidak mengerti kenapa gadis sekaliber Liyuna menyukai orang sepertinya. Menurutku, Allencio Ravenray sama sekali tidak pantas untuknya.


Pada usia 12 tahun, Liyuna resmi bertunangan dengan Allen. Dia merajuk pada Karl agar dirinya bisa bertunangan dengan Allen. Hal itu menjadi berita paling mengejutkan selama satu dekade terakhir. Putri paling berharga keluarga Castris bertunangan dengan putra kedua keluarga Ravenray yang statusnya paling lemah di keluarganya.


Meski begitu, Allen tidak punya pilihan lin selain menerimanya. Meskipun dia terlihat tidak menyukai Liyuna.


Ya, siapapun yang melihat seharusnya tahu kalau Allen tidak menyukai Liyuna. Meski begitu, seolah tak peduli dengan pandangan Allen terhadapnya, Liyuna terus menghujani anak laki-laki itu dengan cinta.


Terkadang Allen membuatku iri. Bagaimana bisa anak laki-laki yang statusnya mirip denganku bisa mendapatkan cinta seperti itu. Sedangkan aku harus berusaha keras untuk mendapatkannya.


Tak lama setelah mereka bertunangan, Tante Almera dibunuh. Sama seperti yang terjadi saat ini, Tante Almera meninggal dengan cara yang sama. Hanya saja alasannya saja yang berbeda. Dia meninggal karena dibunuh oleh perampok.


Berita kematian Tante Almera membuat heboh seluruh penghuni Kota Elisien. Sebuah berita yang tidak akan mudah untuk dilupakan.


Lima tahun setelah kematian Tante Almera. Aku mengetahui alasan mengapa Allen tidak membatalkan pertunangannya dengan Liyuna padahal dia jelas sekali tidak menyukainya. Ya, apalagi jika bukan karena status Liyuna yang lebih tinggi darinya.


Dengan status yang Liyuna miliki, dia bisa berdiri di tempat setinggi apapun dengan percaya diri. Tidak mungkin orang seambisius Allen akan melepaskan kesempatan baik itu.


Ketika aku berumur 17 tahun, aku membuat penawaran pada Allen. Mencoba untuk membuatnya berada disisiku dan mendukungku. Dengan begitu aku akan memberikan apapun yang dia inginkan.


Perselisihan antara Allen dan Zion adalah rahasia umum yang diketahui banyak orang. Dengan kelemahan ini, aku yakin aku bisa membujuknya. Bagaimana pun, mudah untuk memanipulasi orang yang telah dibutakan dengan kebencian.


Tidak sulit untuk meyakinkan Allen. Itu semua juga berkat sifat Liyuna yang terlaku baik.


Dengan sifatnya itu, akan sangat sulit untuknya bertahan di dunia yang kejam ini. Karena itulah aku lebih cocok untuk menggantikan posisinya dan cocok untuk mendorong Allen menuju tempat yang dia inginkan.


Kesepakatan dibuat.


Aku ingat sekali bagaimana Liyuna kehilangan cahayanya ketika mendengar bahwa Allen akan membatalkan pertunangan dengannya.


Meski begitu, aku maupun Allen sudah tidak bisa kembali lagi. Ini adalah pilihan yang telah kami buat dan Allen menilai sifat Liyuna tidak cocok untuk pertarungan memperebutkan kekuasaan.


Kami menjalankan rencana yang telah kami susun bersama. Butuh waktu cukup lama hingga kami berhasil.


Keberhasilan tentu saja harus dirayakan. Kami mengadakan sebuah pesta besar untuk merayakan keberhasilan Allen. Pada akhirnya dia berhasil mendapat tahta yang dia inginkan dan menggulingkan posisi Zion yang terlihat sangat kokoh.


Itulah pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir aku melihat Liyuna. Dia terlihat sangat berbeda, auranya yang selalu terpancar begitu lembut berubah menjadi sangat tajam.


Dari kejauhan aku bisa melihatnya sedang berbincang dengan Allen dan aku tidak menyadari kehadiran Zion yang mendekat.


"Apa kau sudah puas?" Tanyanya.


Wajahnya tidak menampakkan ekspresi sama sekali seolah dia tidak pernah kehilangan sesuatu yang berharga.


"Apa kau yakin telah membuat pilihan yang tepat?"


"Apa maksudmu? Jangan bilang kau marah padaku karena mendukung adikmu."


"Marah? Emosi seperti itu tidak pantas untuk orang sepertimu. Apa kau yakin Allen bisa bertahan di kursi itu?"


"Tentu saja. Karena akulah yang membuatnya berhasil sampai sana."


"Kau tidak mengerti sama sekali. Orang yang dibutakan oleh kebencian  sepertinya tidak akan bisa bertahan dan aku yakin kau tahu kenapa keluarga kami selalu berkahir dengan kematian yang tragis."


Aku diam membisu.


Ya, aku tahu alasan mengapa keluarga Ravenray selalu berakhir dengan tragis dan aku sendiri tidak bisa menjamin mereka bisa bertahan hingga akhir.


Meski begitu, ini sangatlah penting bagiku. Tanpa kekuasaan keluarga Ravenray, aku tidak akan bisa mempertahankan tahta yang berhasil aku ambil dari Liyuna. Bagaimana pun caranya, aku akan terus menggenggam keluarga Ravenray agar tidak lepas dariku.


"Apa kau tahu bahwa selama ini aku selalu berusaha untuk melindungi keluargaku dari mereka? Kenapa kau harus datang dan menghancurkan semua usahaku?"


Aku tidak bisa menjawabnya. Memang benar Zion adalah pria yang dapat diandalkan. Jika itu dia, mungkin akhirnya akan berbeda. Meski begitu aku telah memilih Allen untuk mendukungku karena dia lebih mudah untuk di manipulasi.


Seseorang yang hatinya sudah digelapkan oleh emosi dan kebencian, sangat mudah bagiku untuk mengendalikannya.


Tiba-tiba saja lampu chandelier mati. Kegelapan menyelimuti seluruh ruangan.


Dan ketika semuanya kembali seperti semula, yang ada di hadapanku adalah Liyuna yang jatuh ke lantai bersimbah darah. Ada pisau tajam yang menusuk punggungnya, dia terjatuh dalam pelukan Allen.


Suara tembakan dapat di dengar dari segala penjuru dan hany ada satu hal dalam pikiranku.


"Ah, sepertinya aku membuat kesalahan."


Kupikir itu adalah akhir bagiku namun ternyata tidak begitu. Pemakaman Liyuna diadakan dengan begitu besar. Sara, Ibu Liyuna tidak bisa membendung perasaannya ketika melihat putri semata wayangnya meninggal.


Dia menjadi linglung seperti seseorang yang telah kehilangan semangat untuk hidup. Sedangkan Karl berubah menjadi monster. Dia mencoba melakukan segala cara untuk membalas dendam, meninggalkan semua kekuasaannya ditanganku dan melawan secara langsung.


Lalu Allen...


Dia terlihat sangat menyesali pilihannya. Sepertinya dia terlambat menyadari perasannya pada Liyuna. Dari kejauhan, aku melihatnya berdiri mematung di depan makam Liyuna. Setiap hari dia selalu mendatangi makam Liyuna untuk meminta maaf, hingga pada akhirnya dia menemui ajalnya karena tidak tahan dengan perasaan bersalah yang menghinggapi hatinya.


Allencio Ravenray memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di makam Liyuna. Meninggalkan segala keberhasilannya untuk kakaknya, Zion.


Dan begitulah kehidupan pertamaku berakhir. Aku melanjutkan hidup seperti sebuah robot tak berperasaan. Keluarga Castris hancur, begitu juga dengan Ravenray.


Apakah ini karena pilihanku yang salah? Ya, sepertinya begitu. Aku telah membuat kesalahan yang fatal karena keegoisanku.


Di sisa hidupku yang menyedihkan, aku hidup dalam kesendirian. Jatuh salam kegelapan dan terus berperang melawan musuh yang terlihat seperti hantu.


Karl, Tante Sara, Liyuna, maupun Allen. Tidak ada satupun diantara mereka yang menemaniku di sisa hidupku.


TBC


[A/N: Jangan lupa tinggalkan like dan komen❤️]