
Beberapa bulan yang lalu...
"Bukankah kau sudah terlalu lama membolos?" Tanya Hajun sembari melemparkan handuk pada Lucas yang sedang duduk di matras.
"Tidak masalah seberapa banyak aku membolos, lagi pula nilaiku tidak akan turun."
Lucas menyeka wajahnya yang basah oleh keringat.
"Kalau begitu kenapa kau kembali ke sekolah, buang-buang waktu saja." Hajun berjalan menuju kamar mandi yang ada dibalik tempat latihan.
Disana ada kamar mandi khusus yang bisa digunakan Hajun setelah latihan pagi maupun malam.
Lucas menatap punggung Hajun yang mulai menjauh, "Daripada di Rusia,ebih menyenangkan berada disini."
Lucas merebahkan tubuhnya diatas matras dan menatap langit-langit. Dia merasa sangat lelah setelah berlatih beladiri bersama dengan Hajun.
Kemampuan Hajun memang sangat luar biasa, bahkan untuk Lucas yang dianggap sebagai seorang jenius. Meski begitu, bakat Lucas berada diatas Hajun dan karena itulah Ibunya memaksa Lucas untuk menjadi suksesor Obelian's Circle.
Jika Hajun adalah anak yang muncul 100 tahun sekali, maka Lucas adalah anak yang muncul 1000 tahun sekali.
Perbedaan kemampuan mereka akan sangat terlihat ketika mereka disandingkan. Meski masih sangat muda, Lucas memiliki bakat yang begitu besar sejak ia lahir.
Karena merasa tubuhnya terlaku lengket, akhirnya Lucas mengikuti Hajun dan mandi di shower yang bersebelahan dengannya.
Keduanya hanya dipisahkan oleh kaca berembun yang menyembunyikan tubuh terlatih mereka.
"Cepatlah kembali ke sekolah." Ucap Hajun sembari membasuh wajahnya dengan air.
Lucas yang berdiri di sampingnya dapat mendengar suara Hajun dengan jelas. Dia juga memahami pesan yang tersirat dari ucapannya.
Dia ingin Lucas pergi menjauh darinya.
"Aku tidak mau."
Lucas sangat mengerti dengan apa yang Hanun khawatirkan. Dia tidak ingin Lucas berhubungan dengannya di saat krusial seperti ini karena bisa saja Cerberus mengendus keberadaan Lucas dan menyerangnya.
Itu adalah sesuatu yang harus Hajun hindari. Dia tidak ingin melibatkan Lucas dalam urusannya, meskipun dia tahu kalau Lucas adalah orang yang kompeten.
"Jika keras kepala seperti ini, aku akan menyeretmu pergi."
"Kau tidak bisa mengusirku."
"Kata siapa aku tidak bisa?"
Kedua mata mereka saling bertatapan dengan sangat sengit. Keduanya tidak ingin mengalah dengan keputusan mereka. Terutama Hajun yang yang sudah jatuh terlalu dalam. Dia tidak ingin Lucas ikut campur dengan apa yang sedang ia lakukan.
"Jika kau mengkhawatirkan wanita itu, aku akan melindunginya untukmu."
"Tidak perlu, aku bisa melindunginya sendiri."
"Dengan cara apa? Bukankah sebentar lagi kau lulus."
"Dengan cara apapun, aku akan melakukan segalanya."
"Dasar gila."
"Sejak awal aku memang sudah gila."
Seusai mandi, keduanya kembali ke kamar masing-masing. Beberapa jam kemudian matahari mulai turun dan langit mulai menggelap.
Seperti biasa, Lucas menghabiskan waktunya untuk menonton tv di ruang tengah penthouse milik Hajun.
Meski tidak ada acara tv yang bisa membuatnya tertarik, Lucas tetap menontonnya secara acak karena dia tidak memiliki kegiatan lain.
Hajun tiba-tiba saja duduk disebelahnya dan menaruh sepiring kentang goreng dan saus sambal di meja.
"Kau yang menggorengnya?"
"Titus yang melakukannya."
Keduanya duduk berdampingan sembari menyantap kentang goreng yang masih hangat.
Sejak dulu Lucas dan Hajun memang memiliki hubungan yang cukup baik. Obelian's Circle adalah tempat dimana banyak sekali anak-anak sebatang kara tinggal.
Semua yang bergabung dengan Obelian's Circle adalah orang-orang yang sudah tidak memiliki keluarga maupun sanak saudara. Mereka diberi sponsor dan tempat tinggal lalu dilatih sedemikian rupa agar bisa bekerja dengan baik.
Tentu saja, semua itu dilakukan secara legal. Tidak ada unsur paksaan ataupun manipulasi. Apa yang Obelian's Circle lakukan sudah sesuai dengan hukum yang ada.
Anak-anak sebatang kara yang setuju untuk bergabung akan diberikan keuntungan yang berlimpah, sedangkan yang tidak setuju akan dicarikan panti asuhan yang bisa menerima mereka. Lagipula Obelian's Circle bukanlah tempat donasi, mereka tidak akan mengeluarkan uang secara cuma-cuma.
Pik...
Tiba-tiba saja terjadi black out. Hajun merasa ada yang aneh dengan situasi saat ini.
"Apa? Kenapa listrik bisa mati di perusahaan Obelian's Circle?" Tanya Lucas yang merasa aneh dengan situasi saat ini.
Sebagai seseorang yang telah berpengalaman, Hajun langsung terdiam dan mencoba untuk merasakan pergerakan disekitarnya.
Lucas yang akhirnya menyadari keanehan dari situasi ini juga mulai serius. Semua sikap jenakanya ia buang jauh-jauh.
Lucas berdiri dari sofa dan berjalan perlahan-lahan menuju pintu ke luar. Ia juga melihat ke kanan dan ke kiri dengan pencahayaan yang terbatas.
BRAAAK—
Tiba-tiba saja pintu penthouse milik Hajun terbuka dengan sangat kasar. Puluhan orang berpakaian serba hitam datang dan menyerbu rumah Hajun.
Lucas yang berada di depan pintu dengan sigap menghalau orang-ornag tersebut dan memukul mundur pasukan tersebut namun masih ada beberapa yang bisa kabur.
"Hajun!" Teriak Lucas sebagai peringatan supaya Hajun tetap waspada.
Buugh—
Lucas mencoba untuk menjatuhkan beberapa orang namun semakin lama pasukan berbaju hitam semakin banyak hingga membuatnya terpukul mundur.
Hajun yang tadi masih berada di ruang tengah saat ini sedang mencoba untuk menyalakan lampu emergency.
Pik...
Tiba-tiba ruangan menjadi terang karena seluruh lampu emergency menyala.
Karena pandangan keduanya mulai jelas, Lucas dan Hajun segera mengurus pasukan berbaju hitam yang seenaknya masuk dan menyerang.
Seseorang mencoba untuk menyerang Hajun dari belakang namun dengan sigap Hajun dapat menghalau serangan tersebut dan dia menarik tangan orang itu dan membantingnya.
Praang—
Meja kaca yang ada di ruang tengah hancur berkeping-keping kala terkena hantaman keras dari tubuh seorang pria dewasa.
"Siapa kalian? Dasar sialan!" Lucas tidak bisa berhenti mengumpat melihat orang-orang berbaju hitam yang tiba-tiba datang dan menyerang.
Tak usah menunggu lama, Hajun dan Lucas mampu melumpuhkan pasukan berbaju hitam tersebut dengan sangat mudah. Semua orang terlihat terkapar tak sadarkan diri di lantai.
"Siapa mereka?" Tanya Lucas pada Hajun.
Hajun terlihat memandangi wajah penyerang dengan sangat teliti.
"Cerberus?"
Mata Hajun menyipit ketika melihat sebuah logo familiar yang sangat ia kenali.
Plok... Plok... Plok...
Hajun dan Lucas dapat mendengar suara tepuk tangan berasal dari pintu masuk. Secara refleks keduanya memandangi pintu masuk dengan sangat waspada. Tidak ada satupun diantara mereka yang menurunkan kewaspadaan.
Sebuah heels berwarna hijau army terlihat bersinar dibawah sinar lampu. Sebuah kaki ramping terlihat begitu jelas di mata Hajun dan Lucas.
Seseorang muncul dari balik koridor dan menatap keduanya dari pintu yang terbuka lebar.
Kedua mata Lucas membulat sempurna setelah melihat sosok yang ada dihadapannya. Tidak hanya dia saja, Hanun juga terlihat sangat terkejut melihat wanita itu ada disini.
"Seperti biasa, kalian memang tidak pernah mengecewakan." Senyuman merekah dibibir merah wanita itu.
Dia berdiri menatap Hajun dan Lucas dengan kedua mata ungunya yang angkuh namun penuh dengan kharisma. Rambut peraknya yang terkena sinar lampu terlihat berkilauan dan lembut seperti sutra.
"Ibu?" Gumam Lucas tidak percaya.
Saat ini, Ibunya berdiri dihadapannya secara langsung. Semua terasa seperti mimpi baginya karena Irina tidak mungkin ada di Elisien.
Namun kedua matanya tidak mungkin menipu.
"Senang bertemu denganmu kalian."
Tap... tap... tap...
Suara langkah kakinya menggema ke seluruh ruangan, memecah heningnya malam dengan suara heels nya yang terdengar jelas di telinga.
"Kenapa Ibu ada disini?"
Lucas tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Melihat Ibunya yang tiba-tiba saja datang ke Elisien membuat pikirannya kacau.
Dari belakang, terlihat ada beberapa body guard yang datang bersama Irina. Mereka berdiri dibelakang Irina dengan posisi waspada untuk melindungi Tuan mereka.
"Apa itu yang ingin kau katakan pada Ibumu setelah sekian lama tidak bertemu?"
"Huh, sekian lama tidak bertemu? Aku saja baru sampai ke Elisien beberapa bulan yang lalu."
Irina dengan sangat percaya diri masuk ke dalam rumah Hajun dan duduk di sofa yang ada di ruang tengah, membiarkan Lucas dan Hajun menatap punggungnya dari belakang.
"Apa maksud kedatangan Ibu kemari?"
"Tenang saja, aku disini bukan untuk menjemputmu." Irina menatap lurus kearah tv yang memantulkan bayangan Lucas dan Hajun dibelakang.
"Lalu?"
"Hajun, kau akan mendapat hukuman."
Bagai petir di siang bolong, Lucas tidak mempercayai apa yang Ibunya ucapkan.
'Hukuman? Hajun dihukum?'
Mendengar hal itu, Hajun tetap terdiam tanpa melakukan protes apapun. Dia tahu apa maksud dari ucapan Irina dan mustahil baginya untuk mengelak.
"Kenapa juga Hajun harus dihukum? Bukankah dia sudah menjalankan Obelian's Circle dengan baik disini."
"Itu benar. Diantara anak lainnya, dia adlah yabg paling menjanjikan. Namun kau bermain-main dengan sesuatu yang tidak seharusnya kau sentuh." Kedua mata Irina menajam seperti sebuah bilah pedang yang mampu membunuh siapapun yang ia tatap.
Lucas mencoba mencerna ucapan Ibunya dan pad akhirnya dia mengerti apa masalah yang sebenarnya.
"Itu adalah sesuatu yang tak terelakkan. Kita bekerja di bidang seperti ini, mau tidak mau harus terlibat, bukan?" Lucas menyampaikan protesnya dengan tegas.
Benar, karena Obelian's Circle bergerak di bidang keamanan dan perlindungan, mau tidak mau mereka kan berhadapan dengan musuh klien mereka.
Dan menurut Lucas, tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk tidak berhubungan dengan Cerberus.
"Seharusnya hal seperti itu bisa dihindari. Bukankah kau dengan senagaja masuk dunia bawah?" Pertanyaan Irina tepat pada sasaran, membuat Hajun semakin bungkam.
Dalam situasi seperti ini, jujur adalah pilihan terbaik.
"Mau bagaimana lagi, klien kita ada yang berhubungan dengan mereka? Jika kita ingin melindunginya kita tidak ada pilihan lain selain masuk kedalam dunia mereka."
Lucas masih mencoba untuk membela Hajun. Bagaimana pun juga dia tidak bisa membiarkan Hajun dihukum oleh Ibunya.
"Klien? Kau anggap aku bodoh?! Klien yang kau ucapkan itu baru saja membuat kontrak dengan Obelian's Circle, sedangkan anak ini berhubungan dengan Cerberus jauh sebelum itu.
Mendengar ucapan Lucas yang tidak masuk akal membuat Irina marah. Ia beranjak dari tempat duduk dan berdiri menatap Hajun dan Lucas.
Para bodyguard yang tadi mengikutinya kini menutup akses pintu masuk dengan berdiri di depan sana.
"Kenapa kau menjadi tidak masuk akal? Apa karena kau terlalu lama bersama dengan Hajun?"
"Apa? Beraninya kau bicara seperti itu pada kakak?"
"Aku tidak punya anak lain selain kau."
"Bagaimanapun juga dia adalah kakakku."
"Seenaknya saja kau bicara."
Melihat situasi yang semakin keruh, akhirnya Hajun mengambil langkah untuk memisahkan Lucas dan Irina yang sedang berdebat sengit.
"Aku mengerti akan kesalahanku dan bersedia untuk menerima hukuman."
Dengan cepat Lucas menoleh kearah Hajun, ia menatap dengan tatapan tidak percaya.
Irina yang tadinya berdebat dengan Lucas kini mengalihkan seluruh perhatiannya pada Hajun.
"Jadi kau mengakui kesalahanmu?"
"Tidak ada gunanya menyembunyikan kebenaran karena Obelian's Circle pasti dapat mengetahuinya."
Irina tersenyum mendengar jawaban Hajun. Memang benar bahwa kebohongan adalah sesuatu yang tidak mempan dalam Obelian's Circle yang memiliki segudang informasi.
"Tangkap dia!" Irina memerintah bodyguard yang datang bersamanya untuk menangkap Hajun.
Lucas tidak diam saja, ia berusaha untuk menjatuhkan bodyguard Ibunya namun menghentikan seluruh rencananya karena melihat Hajun yang menatapnya dengan serius.
Itu adalah tatapan yang Hajun gunakan untuk memperingatinya. Melihat hal itu, Lucas tidak mencoba untuk memberontak lagi.
"Seperti janjiku, aku akan membiarkanmu di Elisien sampai kau pulang dengan sendirinya." Ucap Irina, ia berjalan meninggalkan Lucas sendirian.
Lucas menatap punggung Hajun yang mulai tidak terlihat, meninggalkannya sendiri dalam kegelapan.
Malam itu, Lucas tidak bisa berbuat apapun untuk menghalau Ibunya. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang dia takuti, kecuali Ibunya.
Malam mulai larut namun kota Elisien tidak pernah tertidur.
Ketika hari mulai cerah, Lucas telah membuat keputusan untuk menyelamatkan Hajun.
TBC
...
...