Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 139 - Kalung Kupu-Kupu II



Sesampainya di tempat tujuan, Victor dan Allen segera bergabung dengan tim pencarian.


Karl terlihat sedikit terkejut karena bantuan yang Ravenray berikan adalah seorang anak muda.


Meski begitu dia tidak meragukannya. Karena bagaimana pun juga, Zion Ravenray sendiri yang meyakinkannya.


Victor segera mengambil seluruh alat pelacaknya. Ia mengambil alih salah satu super komputer yang dimiliki oleh tim pencarian milik Karl.


Waktu berjalan dengan sangat lambat. Satu menit terasa seperti satu jam.


Namun tidak ada satupun yang bisa mengetahui keberadaan Liyuna. Para penculik terlalu lihai untuk menghindari kamera cctv.


Jika dilihat dari sebagaimana persiapan mereka, sepertinya penculikan ini sudah direncakan sejak lama.


Karl terus memantau jalannya pencarian. Dia melihat satu persatu layar super komputer yang berusaha melacak keberadaan putrinya. Berharap, supaya Putrinya bisa segera ditemukan.


Disisi lain, Allen sedang mengamati apa yang Victor lakukan.


"Bagaimana?" Tanyanya.


"Lokasi terakhirnya disini," Jawab Victor sembari menunjuk lokasi terakhir ponsel Liyuna yang bisa dia lacak.


Dia mencoba untuk mendapatkan data lebih akurat, dengan super komputer yang ada disini, pekerjaannya menjadi sedikit mudah.


"Tapi tiba-tiba menghilang. Kemungkinan besar, ponselnya dihancurkan." Lanjutnya.


"Apa tidak ada cara lain?"


"Hmm... Sulit untuk mengatakannya. Pelaku sangat lihai, mereka berhasil lolos dari semua rekaman cctv ada di Kota, seolah mereka sudah tahu titik buta yang tidak akan menangkap mereka. Sepertinya akan sulit jika tidak ada alat pelacak lain."


Setelah mendengar ucapan Victor, Allen memasang wajah serius.


Dia merasa khawatir dengan keadaan Liyuna. Jika saja tadi dia menemani Liyuna sampai dia pulang ke rumah, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Setidaknya jika penculikan tidak bisa dihindari, dia bisa berada disisi Liyuna dan diculik bersama.


Allen tidak ingin kehilangan Liyuna. Tidak untuk kali ini. Sudah cukup penyesalan yang dia rasakan.


"Tuan Karl, apa tidak ada barang lain yang bisa kita lacak?"


Victor bertanya dari tempat duduknya, dia menatap Karl dengan wajah serius.


Allen yang sejak tadi melamun karena terus menyalahkan diri sendiri juga terlihat terkejut.


Karl membalas tatapan Victor dengan wajah datar, namun pikirannya terus bekerja untuk mencari jalan keluar.


"Sepertinya tidak ada..." Ucapannya terhenti. Karl terlihat seperti baru saja mengingat sesuatu. "... Ada!!"


Mendengar hal tersebut, Allen langsung menghampiri Karl.


"Benarkah ada?" Tanyanya.


"Memang ada, tapi aku tidak yakin jika Yuna membawanya."


"Benda apa itu?"


"Sebuah kalung berbentuk kupu-kupu. Kalung tersebut ada gps-nya. Namun aku tidak yakin Yuna memakainya."


Kalung dengan bandul kupu-kupu. Itu adalah hadiah yang Karl berikan pada Liyuna beberapa tahun yang lalu sebelum dia membawa Yuriel ke kediaman Castris.


Allen terlihat berpikir. Dia kembali mengingat-ingat apakah Liyuna tadi memakai sebuah kalung kupu-kupu.


"Apakah kalung tersebut dihiasi dengan safir biru?" Tanya Allen.


"Benar."


Dengan cepat Allen menatap Victor. Sebagai orang yang telah lama mengenal Allen, Victor paham arti dari tatapan tersebut.


Dengan cepat, Victor membuka sebuah aplikasi buatannya sendiri. Ia mengetikkan sesuatu dengan sangat cepat hingga tidak bisa diikuti.


Tak—


Tak—


Tak—



"Bingo!" Ucap Victor ketika super komputernya menemukan lokasi Liyuna.


Allen segera melihat layar super komputer yang Victor gunakan untuk memastikan.


Dan benar saja, ada sebuah titik yang menandakan keberadaan kalung milik Liyuna.


Setelah itu, Victor dan Allen segera memberikan laporan pada Karl.


Karl berniat untuk segera memerintahkan pasukan untuk merebut kembali Liyuna namun dihentikan oleh Victor.


"Kita tidak bisa merebutnya kembali dengan sembarangan. Liyuna saat ini berada di tengah lautan."


"—!!!"


***


Angin musim gugur berhembus dengan begitu lembut. Membelai wajah seorang pria yang berdiri di tengah jalan.


Beberapa menit yang lalu, dia mendapat misi baru dari atasannya.


Misi itu berbunyi, 'Aktivitas Cerberus telah ditemukan'.


Mau tidak mau, sebagai salah satu agen yang bekerja dibawah pemerintah, dia harus segera berada di lokasi yang diberikan.


Namun, apa-apaan dengan lokasinya?! Kenapa ada ditengah laut?


"Huuuf...."


Udara yang dingin membuat napas yang dia keluarkan membentuk kepulan asap.


Saat ini dia sedang merasa bingung. Dia harus melakukan pengejaran terhadap Cerberus, namun tak lama setelahnya dia mendengar berita penculikan Liyuna.


Gadis itu kembali berada dalam masalah.


Dia ingat betul bagaimana terakhir kali gadis itu mengalami percobaan pembunuhan.


Tapi karena semua itu berhubungan dengan Cerberus, mungkin saja gadis itu juga berada di tempat yang sama.


Pria itu mengambil ponsel yang ada di jaketnya. Ia menelpon nomor seseorang dan menunggu untuk diangkat.


"Aku tahu dimana Nona Liyuna berada." Ucapnya.


Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, Yuda memahami situasi dengan cepat.


Lokasi Liyuna sudah ditemukan bahkan sebelum dia memberitahu pihak Castris.


Itu berarti ada seseorang yang begitu berbakat disisi mereka.


Karena semua sudah terkendali, Yuda kembali menelpon orang selajutnya. Orang tersebut sangat dekat dengan Cerberus.


Setidaknya, itulah yang dia baca dari kertas laporan.


Namun sayangnya ketika telpon telah tersambung, orang tersebut sedang tidak berada di Elisien. Orang itu malah memberinya sebuah alamat yang harus Yuda datangi jika membutuhkan bantuan.


Sebenarnya, Yuda bisa saja pergi sendiri ke lokasi Cerberus berada. Namun semua akan sulit jika dia pergi secara terang-terangan.


Seharusnya dia menyelinap sebelum kapal berlayar.


Tapi, para atasan malah memberikan misi setelah kapal berlayar.


Ingin rasanya Yuda berkata kasar.


Walau begitu, Yuda tidak ada pilihan lain. Dia segera pergi menuju alat yang diberikan dengan mengendarai sepeda motor yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


Seluruh bidak catur telah bersiap di tempat masing-masing. Yang tersisa hanyalah bergerak untuk mendapatkan sang Ratu.


Di musim gugur yang dingin ini, sebuah peristiwa menegangkan kembali terjadi.


Yuda menembus jalanan kota Elisien dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Dia tidak bisa berlama-lama dan harus segera pergi menuju lokasi.


Selain karena misi juga karena Liyuna. Dia tidak bisa membiarkan Liyuna berlama-lama berada di tempat itu. Dia harus segera diselamatkan dan Yuda harus memastikan keselamatannya.


Sesampainya di tempat tujuan, Yuda menatap sebuah gedung yang menjulang tinggi.


Obelian's Circle.


Ini adalah alamat yang diberikan orang tersebut padanya.


Dengan segera dia masuk ke dalam gedung tersebut dan mencari orang yang seharusnya dia temui.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?"


Seperti biasa, para resepsionis yang bekerja disini sangat profesional.


"Aku mencari seseorang yang bernama Lucas."


Beserta alamat yang dikirim, ada sebuah nama yang katanya harus dia temui. Karena orang yang Yuda telpon sedang tidak ada di Elisien, katanya dia harus bertemu dengan Lucas.


"Tuan Muda? Ah! Apakah anda sudah membuat janji?"


"Tidak."


Wajah resepsionis terlihat sedikit ragu. Jika tidak membuat janji, bagaimana bisa dia memanggil Tuan Muda?!


Apalagi saat ini sudah sangat malam.


"Kalau begitu, bagaimana jika anda membuat janji terlebih dahulu?"


"Aku tidak ada waktu."


Yuda menghela napas panjang. Sudah ia duga kalau ini tidak akan mudah.


Yuda merasa sedikit kesal dengan atasannya. Kenapa juga mereka tidak memberikan pasukan untuknya dan menyerbu Cerberus? Kenapa juga harus lewat orang ini? Bukankah dia hanyalah seorang Tuan Muda dari perusahaan keamanan?


Kenapa melibatkan orang luar dalam misi ini?


Apa yang dipikirkan para atasan? Apa mereka sudah gila?!


Walau begitu, Yuda tidak ada pilihan lain.


Dia tetap harus menjalankan misi dan bertemu dengan orang yang bernama Lucas itu.


"Katakan padanya, Hajun yang mengutusku."


Itulah yang para atasan katakan padanya jika ia ditolak untuk bertemu dengan seseorang yang bernama Lucas.


Dan benar saja, setelah mendengar hal itu, resepsionis segera menyambungkan Yuda dengan Lucas.


Malam itu, orang-orang yang saling tak mengenal saat ini maupun dimasa lampau, mulai saling terhubung.


Bagaikan diikat oleh benang merah, mereka berkumpul di satu tempat untuk satu orang.


TBC