
Sepulang sekolah, Liyuna dan Yuriel langsung bergegas menuju ke tempat Noel berada. Setelah itu mereka pulang bersama dan dalam perjalanan, tidak ada seorang oun yang berbicara.
Sesampainya di kediaman Castris, seperti biasa para pelayan menyapa Liyuna dan juga Yuriel. Liyuna merasa ragu untuk membuka pintu kamarnya, tangannya berhenti di depan gagang pintu dan akhirnya ia memutuskan untuk menatap Yuriel yang juga masih berjalan menuju kamarnya.
"Yuri." Panggil Liyuna.
Yuriel menghentikan langkahnya dan menatap Liyuna. Ekspresi Liyuna terlihat seperti seseorang yang penuh dengan penyesalan. Yuriel sendiri tidak mengerti kenapa Liyuna memasang ekspresi seperti itu.
"Ada apa kak Liyuna?"
"Maaf tidak bisa melindungi mu."
Mulut Yuriel terlihat sedikit terbuka, matanya memancarkan sorot nostalgia. Ucapan Liyuna mengingatkannya pada sebuah ingatan yang selalu membuatnya merasa sesak. Setiap mendengar hal seperti itu, tenggorokannya terasa sangat tercekik dan ia seperti kesulitan bernapas. Ya, sekuat itu lah ucapan Liyuna mempengaruhi Yuriel. Yuriel sendiri juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya karena Liyuna adalah orang yang baik. Benar, sejak awal mereka bertemu, Liyuna adalah orang yang sangat baik dan Yuriel tahu dia tidak akan berubah.
"Tidak apa-apa, kak. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu." Yuriel tersenyum dengan senyumannya yang cerah bagai matahari.
Melihat senyuman merekah di bibir Yuriel, Liyuna merasa lega. Sebelumnya dia takut kalau Yuriel merasa sedih karena perlakuan anak-anak padanya. Liyuna sendiri awalnya juga tidak terbiasa dengan sikap anak-anak lain yang berusaha menghindarinya dan selalu menilai dirinya dengan seenak hati.
"Sungguh?"
"Iya, kakak tidak perlu khawatir. Asalkan kakak selalu mempercayaiku, aku tidak akan merasa terganggu."
Liyuna tersenyum mendengar ucapan Yuriel, ia senang karena Yuriel mulai mempercayainya.
"Kalau begitu, selamat malam. Semoga mimpi indah."
"Selamat malam juga, kak."
Setelah itu keduanya masuk ke kamar masing-masing. Seperti biasa, Liyuna langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
***
Keesokan harinya ketika Liyuna dan Yuriel sudah sampai di sekolah, murid lain masih memperhatikan mereka, terutama orang-orang yang tidak sekelas dengan Liyuna.
Namun berbeda dengan sebelumnya, saat ini teman sekelas Liyuna tidak terlalu mengabaikan Yuriel. Meski masih sulit untuk menerima anak itu, mereka mencoba untuk bersikap biasa saja karena Liyuna saja tidak mempermasalahkan status Yuriel.
Masalah yang kemarin terjadi selesai begitu saja, tidak ada kata maaf maupun penyesalan yang benar-benar berarti. Mereka yang mengucilkan Yuriel bertindak selayaknya tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya itu bukan hal yang aneh, pelaku perundungan memang jarang ada yang meminta maaf secara langsung. Ya, semuanya berjalan seperti biasa dan mereka juga mulai mau menerima Yuriel. Setelah mengenal anak itu, dia tidak terlihat seperti anak yang jahat.
Meski Liyuna merasa sedikit kesal dengan tindakan anak sekelasnya, dia mengerti kenapa mereka seperti itu. Mereka adalah Tuan dan Nona Muda dari keluarga terpandang, mereka pastinya memiliki harga diri yang sangat tinggi. Mustahil bagi mereka mengatakan maaf pada Yuriel yang belum jelas statusnya.
"Apa Yuri tidak merasa kesal?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Liyuna ketika mereka makan siang di kantin.
"Aku sudah lupa dengan perasaan seperti itu."
Itu adalah jawaban yang aneh, bahkan bagi Liyuna. Dia tidak mengerti apa maksud dari jawaban Yuriel namun tidak menanyakan apapun.
Hari itu, tidak ada suatu hal spesial yang terjadi. Semua berjalan seperti biasa, membuat Liyuna semakin bertanya-tanya apakah benar ini dunia game. Dia tidak tahu lagi, karena pada titik ini dia merasa hidup, dia merasa bahwa Liyuna adalah dia. Dia mulai menerima kenyataan bahwa saat ini dia adalah Liyuna Aria Castris, seorang tokoh antagonis dalam game yang berakhir tragis.
Benar, ini adalah kenyataan. Liyuna adalah dia dan dia adalah Liyuna. Itu adalah sesuatu yang simpel namun selalu menganggu pikiran gadis berumur 18 tahun itu.
Sesampainya di rumah, tidak ada hal spesial yang ingin Liyuna lakukan. Dia hanya membaca buku pelajaran dan mengerjakan beberapa pr. Setelah itu ia mencoba untuk merajut sebuah boneka kupu-kupu kecil. Boneka itu ia buat semirip mungkin dengan kalung yang pernah Karl berikan padanya dengan menggunakan wol berwarna biru tua.
Ketika boneka yang ia buat sudah selesai, Liyuna merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia merasa sangat lelah hari ini. Lama kelamaan, matanya terasa sangat berat hingga akhirnya dia tenggelam dalam dunia mimpi.
***
Ketika Liyuna membuka kedua matanya, ia tidak bisa melihat apapun dengan jelas. Semuanya seperti tertutup oleh kabut, namun ia bisa merasakan dengan jelas bahwa ada seseorang yang memeluknya.
Pelukan orang tersebut sangatlah hangat, membuat hati Liyuna merasa sangat tenang.
Liyuna tahu bahwa saat ini dia sedang bermimpi. Ya, ini adalah mimpi yang selalu menghantuinya. Sejak pertama kali ia masuk ke dalam dunia Red String, Liyuna selalu memimpikan seseorang. Tidak, lebih tepatnya beberapa orang yang dia sendiri tidak kenal.
Terkadang mimpi itu datang ketika ia tertidur, namun kadang-kadang juga datang begitu saja ketika ia melihat sesuatu yang membuat bayangan itu ter-trigger.
Dia tidak tahu siapa mereka, yang pasti mereka adalah bagian dari ingatan Liyuna asli.
"Aku berjanji akan selalu ada di sisimu."
Suaranya begitu asing di telinga Liyuna. Dia tidak pernah mendengar suara orang yang memeluknya.
'Kau siapa?'
Itu adalah pertanyaan yang ingin sekali Liyuna tanyakan. Tapi sayangnya suara tidak mau keluar dari mulutnya. Meski tahu ini hanya lah mimpi, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sesuka hati. Rasanya seperti seseorang sedang menggerakkan tubuhnya.
Ketika Liyuna mulai merasa nyaman dengan pelukan pria itu, tiba-tiba saja tubuh pria itu menghilang. Cahaya yang begitu menyilaukan menyorot kearah mata Liyuna, membuatnya kesulitan untuk melihat.
Dengan perlahan ia mulai membuka kedua matanya. Liyuna dapat merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya dengan begitu lembut. Ketika kedua matanya benar-benar terbuka, ia bisa melihat langit jingga yang begitu indah. Matahari tampak terbenam dengan perlahan.
Betapa terkejutnya Liyuna ketika dia sadar bahwa saat ini dia sedang berdiri di atas sebuah gedung pencakar langit. Jantungnya berdegup dengan begitu kencang dan tak beraturan. Ia berusaha untuk melangkah mundur, namun tubuhnya tidak bisa di gerakkan.
Liyuna paham bahwa ini hanya sebuah mimpi, namun melihat dirinya berdiri di atas ketinggian membuatnya ketakutan. Dia dapat melihat rumah maupun mobil yang lewat di jalan raya. Meski ukurannya kecil, dia bisa melihatnya.
Tubuh Liyuna tiba-tiba saja terjatuh dari ketinggian, dia berteriak di dalam hati dan menutup matanya dengan erat.
Ketika terbangun, ia mendapati dirinya yang sedang berada di kamar. Rambutnya basah dengan keringat dan jantungnya berdetak tak beraturan. Napasnya pun terasa sangat berat, ia masih bisa merasakan betapa menakutkannya mimpi yang barusan ia lihat. Mimpi itu terasa sangat nyata hingga membuat badannya gemetar. Liyuna tidak ingin merasakan mimpi seperti itu lagi.
Setelah dirinya mulai tenang, Liyuna mengambil notes yang biasa gunakan untuk menulis apa yang ia yakini sebagai ingatan Liyuna asli. Ia menulis apa yang baru saja ia alami ke dalam buku tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam loker.
Karen mimpinya itu, Liyuna dapat dipastikan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Itu pertama kalinya dia memimpikan sesuatu tentang kematian. Mungkin saja hal ini dipicu karena rasa takutnya ketika bertemu dengan Hajun. Namun Liyuna juga tidak menghapus kemungkinan kalau apa yang barusan ia alami adalah sebuah pesan dari Liyuna. Mungkin itu adalah suatu petunjuk yang nanti dapat membantunya di masa depan.
"Mimpi itu mengingatkanku pada..." Liyuna tidak melanjutkan ucapannya. Dia terlihat sedikit melamun menatap apa yang baru saja ia tulis.
Skenario yang ada di mimpinya tidaklah asing, dia pernah melihat skenario yang sama. Hanya saja tidak ada skenario dimana Liyuna dipeluk oleh seseorang. Tapi, skenario dimana dia menjatuhkan diri dari atas gedung, itu adalah sesuatu yang melekat dalam ingatannya.
TBC
[A/N : Hai guyss~ Akhir-akhir ini aku sibuk banget sampai susah nyuri waktu buat nulis😭 oh ya, haruskah aku tetap kasih preview judul untuk chapter selanjutnya? Happy reading!]
^^^Next :^^^
^^^Chapter 42 - Menyembunyikan Sesuatu^^^