Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 59 - Mirror of the World



Setelah Liyuna mendengar nada akhir dari permainan Yuriel, ia langsung membuka pintu. Yuriel yang mendengar suara pintu di buka langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan sosok kaka yang paling ia sayangi. Seketika itu juga ia tidak bisa menahan wajah bahagianya, ia tersenyum begitu lebar dan mengangkat tangannya yang masih memegang bow biola.


"Kak Yuna."


Liyuna berjalan mendekati Yuriel yang terlihat bahagia ketika melihatnya. Yuriel selalu seperti ini, dia selalu terlihat sangat bahagia ketika melihatnya. Mungkin saja Yuriel yang ada di dalam game juga sebenarnya sangat menyukai Liyuna, hanya saja Liyuna memiliki pemikiran yang berbeda.


"Kak, ayo bermain bersama." Ajak Yuriel.


Terakhir kali mereka bermain alat musik bersama adalah ketika Liyuna dan Yuriel berumur 10 tahun, atau tepatnya dua tahun yang lalu. Meski Liyuna memutuskan untuk tidak meneruskan belajar piano namun kemampuan dia tetap bisa dibilang cukup baik. Yah, meski tidak sebaik Yuriel yang sampai detik ini masih menekuni biola.


"Boleh."


Mendengar kata afirmasi dari Liyuna, Yuriel tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia merasa sangat senang karena akhirnya bisa mendengar permainan piano Liyuna. Permainan piano nya adalah salah satu hal di dunia ini yang bisa membuatnya tenang dan melupakan segala mimpi buruk yang selama ini selalu menghantuinya.


Yuriel sangat menyayangi Liyuna. Itu bukan lah suatu kebohongan namun Yuriel juga tidak bisa mempertahankannya. Yuriel sendiri memiliki sebuah rencana dimana dia akan mengorbankan siapapun tanpa pandang bulu.


Liyuna mulai membuka penutup piano dan duduk di kursi, bersiap-siap menunggu Yuriel. Ketika Yuriel sudah selesai bersiap-siap, Liyuna mulai memainkan nada awal.


Mirror of the World.


Yuriel langsung tahu melodi yang Liyuna mainkan. Itu adalah musik yang mereka ciptakan bersama dua tahun yang lalu. Musik dengan nada lambat namun menenangkan hati siapapun yang mendengarnya.


Keduanya bermain dengan sangat bagus tidak ada satupun yang melakukan kesalahan.


Setelah nada terakhir dimainkan, keduanya saling menatap satu sama lain dan tersenyum.


***


Di sebuah gudang terlantar yang ada di kota Elisien, terjadi sebuah kasus pembunuhan. Ini sudah menjadi kasus ke 6 sejak enam tahun yang lalu. Setiap tahunnya ada saja kasus seperti ini dan korbannya pun memiliki kesamaan, yaitu kepalanya tertembak peluru.


"Apakah proses identifikasi sudah selesai?" Seorang pemuda yang memiliki badan tinggi bertanya pada anggota penyidik yang ada di sampingnya.


"Sedang dalam proses."


Keadaan di sekitar gudang cukup ramai karena banyak penyidik dan polisi yang datang ke tempat terjadinya perkara dan tempat tersebut sudah diamankan dengan garis polisi sehingga tidak akan ada yang berani melewatinya.


"Nak Yuda, lama tidak bertemu." Pria paruh baya itu menepuk pundak Yuda dengan ringan. Ia tersenyum melihat Yuda yang dulu sering bersama mengikuti Eris kini telah menjadi detektif resmi.


Piren tahu bahwa Yuda adalah anak yang berbeda dari yang lainnya. Dia bisa dengan cepat mengingat hal-hal yang orang lain saja kesulitan untuk mengingat. Piren juga yakin kalau suatu hari nanti Yuda bisa melampaui kakaknya, Eris.


Pada kasus kali ini, Piren sebagai penyidik senior diminta untuk menemani Yuda yang baru saja masuk menjadi detektif baru. Di umur yang sangat muda, Yuda berhasil menjadi detektif resmi pemerintah, bahkan ia diberikan kewenangan untuk menangani kasus khusus seperti tim Aegis. Berbeda dengan tim Aegis yang bergerak secara kelompok, Yuda adalah satu-satunya detektif yang diberi wewenang untuk bergerak sendirian. Dia tidak memiliki tim maupun partner. Ini pertama kalinya pemerintah memperbolehkan hal ini. Tentu saja mereka memperbolehkan Yuda bergerak secara individu karena sebuah alasan, yaitu karena kemampuan Yuda melampaui detektif lainnya.


Sejak Yuda masuk Akademi, ia telah menunjukkan kebolehannya. Dengan waktu yabg sangat cepat dia bahkan melampaui pencapaian senior-seniornya di Akademi. Setelah lulus SMP, Yuda langsung masuk ke Akademi dan memutus hubungan dengan dunia luar. Sebagai seseorang yang memiliki pekerjaan berbahaya, dia diminta untuk memutus kontak dengan keluarganya. Hanya orang-orang tertentu yang boleh berhubungan dengannya. Tentu saja Yuda langsung menyetujuinya, sejak awal dia memang ingin pergi dari rumah itu.


Pada umumnya, murid Akademi akan lulus pada usia 22 tahun setelah belajar selama kurang lebih 7 tahun. Namun Yuda lulus tiga tahun lebih cepat dari seharusnya, karena itu lah dia mendapat julukan anak jenius diantara murid lainnya. Yuda tidak terlalu mempedulikan hal itu karena baginya julukan seperti itu tidak berarti.


"Lama tidak bertemu, Senior Piren."


"Sudah 4 tahun sejak terakhir kali kita bertemu, saat itu kau masih seorang anak-anak. Waktu berlalu dengan sangat cepat."


"Benar, saat itu juga pertama kalinya aku terlibat dalam kasus ini."


"Sejak saat itu aku tahu kalau kau pasti akan menjadi seseorang yang hebat dan benar saja, kau bahkan lulus dari Akademi tiga tahun lebih cepat dari yang lainnya."


"Semua berkat senior Piren. Jika bukan karena senior aku mungkin masih berada di Akademi."


Yuda mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Piren. Meski dia memiliki pencapaian luar biasa, tidak biasanya murid Akademi bisa lulus dengan cepat. Rekor kelulusan tercepat sebelumnya dipegang oleh mantan ketua Aegis, Reindra. Dia adalah sosok luar biasa yang bahkan Yuda sendiri ingin bertemu.


Yuda berhasil sampai dititik ini juga berkat Piren yang mengajukan dirinya untuk diberi rekomendasi. Piren menilai Yuda layak dan mampu untuk mengemban tugas dengan baik. Tentu saja Piren mengatakan hal ini berdasarkan fakta, dia tidak mungkin merekomendasikan seseorang yabg tidak kompeten. Dengan rekomendasi dari anggot tim Aegis, Akademi mempertimbangkan Yuda dan akhirnya memutuskan untuk memberinya ujian terakhir. Jika dia berhasil maka Yuda akan lulus pada saat itu juga.


Seperti yang terlihat, Yuda berhasil melewati ujian akhir dan menjadi detektif termuda sepanjang sejarah kota Elisien.


"Detektif, tolong ikut saya." Seorang polisi meminta Yuda dan Piren untuk ikut dengannya.


Mereka masuk ke dalam gudang dan menemukan sebuah box berisi puluhan senjata api.


Mata Yuda menyipit melihat hal itu, sepertinya kasus ini bukanlah kasus pembunuhan biasa. Ia yakin kalau kasus ini berkaitan dengan kasus pembunuhan lainnya dan yang menjadi dalang dibalik semua ini adalah orang yang sama.


"Apa organisasi kriminal ikut andil dalam kasus ini." Gumam Piren sembari berpikir.


Yuda juga memiliki pemikiran yang sama. Saat ia berada di Akademi, Yuda mengetahui keberadaan sebuah organisasi kriminal yang selalu berada dibalik bayang-bayang kota Elisien. Mereka bergerak dengan sangat hati-hati bahkan jarang meninggalkan jejak namun sejak beberapa tahun yang lalu mereka mulai meninggalkan jejak yang terlihat seperti disengaja. Ada maksud tersembunyi dari pergerakan mereka dan pastinya semua tidak akan berakhir dengan indah.


"Amankan box yang berisi senjata api ilegal ini dan bawa ke pusat untuk diselidiki lebih lanjut." Piren meminta para polisi untuk membawa box yang berisikan senjata api ilegal.


Dengan adanya box tersebut mereka pasti bisa melacak siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya.


Dalam kasus ini, korban adalah sebatang kara yang tidak mempunyai keluarga, karena itu lah sangat sulit untuk menangkap pelaku karena tidak ada yang bisa mencari keadilan untuk korban.


Sedikit demi sedikit, sosok berbahaya akan muncul dihadapan semua orang, mencoba untuk memporak-porandakan seluruh keluarga elit yang tinggal di kota Elisien. Entah apa tujuan mereka, yang pasti mereka sangat menyukai kekacauan.


TBC