
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Matahari kini menyembunyikan cahayanya dan kegelapan mulai menyelimuti angkasa.
Waktu kerja pun telah usai, seluruh pekerja kantoran mulai keluar untuk pulang dan beristirahat. Tak ada yang terkecuali.
Zion terlihat bersiap untuk pulang, dia membereskan beberapa dokumen terakhir dan memasukkan beberapa dokumen penting untuk di kerjakan di rumah.
"Kita akhiri pekerjaan hari ini, kau pulanglah."
Perkataan barusan ditujukan pada Jay yang terlihat masih sibuk dengan berkas yang sudah diurus oleh Zion.
Jay menatap Zion lalu tiba-tiba saja wajahnya berubah layaknya sisi koin yang berbeda. Dia terlihat tersenyum jenaka ketika sadar bahwa jam kerja telah usai.
Seperti itulah sifat Jay sebenarnya. Ia adalah pria yang bebas dan tidak suka terikat, hanya di dalam kantor saja dia bersikap serius karena harus menyesuaikan tempat.
"Kau juga, istirahatlah."
"Hum."
***
Sesampainya di rumah, Zion langsung mandi. Dia meletakkan tas dan berkas yang ia bawa ke kantor di meja tempat dia bekerja.
Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan piyama tidur supaya dia bisa langsung tidur ketika semua pekerjaannya selesai.
Sejak dia mulai bekerja di kantor, tidka ada satu hari pun ia bisa tertidur dengan nyenyak. Di mejanya selalu ada tumpukan berkas yang tidak bisa diabaikan. Meski begitu, dia tidak mengeluh karena sejak kecil telah dilatih untuk menyelesaikan tugas dengan cepat.
Posisinya sebagai pewaris bisa dikatakan sudah mutlak. Jika tidak ada hal yang bisa membuat posisinya terancam, hampir tidak mungkin dia lengser dari posisinya saat ini. Dia adalah kandidat satu-satunya jika tidak melihat Allen.
Sebenarnya, bukan hal mustahil untuk Allen menjadi pewaris namun jika hal itu dilakukan, pastinya akan menimbulkan kegemparan. Lagipula, di kelas sosial saat ini, asal usul merupakan hal yang penting. Allen sebagai putra yang lahir karena kesalahan sudah pasti akan menjadi bahan tertawaan.
Karena itulah Ravenray saat ini sangat bergantung pada Zion. Keluarga besar ini sekarang sedang berada dalam hal yang cukup membahayakan. Setelah kepergian Ibunya, ayahnya terlihat seperti orang yang berbeda. Mungkin dia visa mengelabuhi orang lain namun tidak bagi Zion.
Sebagai seseorang yang bisa membaca emosi seseorang, Zion tahu bahwa ayahnya saat ini sedang terjebak dalam masa lalu seolah waktunya berhenti di saat ibunya meninggal dunia.
Jika hal seperti ini terus berlanjut maka Ravenray akan jatuh dalam marabahaya. Apalagi jika melihat hubungannya dan Allen yang kurang baik, maka keluarga ini bisa-bisa tercerai berai dan hancur.
Zion tidak menginginkan hal itu. Dia ingin keluarganya bisa bertahan menghadapi semua ini dan selamat hingga akhir. Setidaknya, biarkan keluarganya hidup dengan tenang.
Karena itulah dia berusaha sampai ke titik ini. Jika dia membuat sebuah pilihan yang salah maka dia cukup untuk memilih kembali.
Zion kembali teringat saat dia pertama kali bertemu dengan Allen. Saat itu, anak kecil berumur 4 tahun itu terlihat sangat suci. Anak itu menatapnya dengan mata penuh cahaya. Ya, benar, dengan kedua mata abu itu. Zion tahu betul arti dari tatapan tersebut. Itu adalah sebuah tatapan yang mendambakan sesuatu.
Bagi Allen yang saat itu masih berumur empat tahun, Zion adalah sosok kakak yang tidak pernah ia miliki.
Namun sayangnya saat itu dia juga belum terlalu dewasa. Dia masihlah seorang remaja berusia empat belas tahun yang tidak tahu harus berbuat apa ketika dihadapkan oleh sesuatu yang asing. Seluruh pelajaran yang dia dapatkan dari ayahnya seolah tidak berarti apa-apa di depan sepasang mata asing yang di penuhi cahaya tersebut.
Zion menatap keluar jendela, melihat salju turun menyelimuti bumi.
"Ayah, sepertinya kau mulai jatuh terlalu dalam."
Zion mengigit bibir bawahnya dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah.
Ketika ia mengetahui bahwa ayahnya mulai melakukan penyelidikan tentang kematian Ibunya, Zion tahu bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Tidak peduli seberapa keras dia melarang, ayahnya tetap dia mau mendengar.
"Padahal aku sudah memperingatkan untuk berhenti." Kedua mata Zion mulai menggelap.
Dia bukannya tidak setuju dengan keputusan ayahnya yang ingin menangkap pelaku pembunuhan Ibunya namun Zion tahu lebih dari siapapun bahwa mereka sangatlah berbahaya. Karena dialah Ibunya berakhir dengan tragis, jika saja dia bisa menyembunyikan seluruh hasil penyelidikan yang dia lakukan dengan baik, Ibunya pasti tidak akan berakhir seperti itu.
"Liyuna Aria Castris dan juga Yuriel Castris."
Entah mengapa intuisinya mengatakan kedua orang itu ada hubungannya dengan semua yang terjadi.
Saat pertama kali Zion melihat Yuriel, dia tahu bahwa gadis itu menyembunyikan sesuatu. Dia memakai sebuah topeng untuk menyembunyikan wajah aslinya, mencoba untuk membohongi dunia.
Namun Zion tidak akan terkecoh. Hanya dengan sekali lihat saja, dia tahu bahwa gadis itu sedang menyembunyikan pisau dibalik tubuhnya.
Dan Liyuna...
Dia tidak memiliki kesan pertama yang kuat terhadapnya. Di matanya dia hanya terlihat seperti seorang putri yang dilindungi dalam istana. Namun penilaiannya berubah sejak empat tahun yang lalu ketika dia dengan berani mendekatinya dan memberinya secangkir teh hangat.
Entah apa bubungan keduanya, Zion meras bahwa gadis bernama Yuriel itu sangat terobsesi dengan Liyuna. Namun obsesi itu bukanlah semacam obsesi terhadap rasa kepemilikan melainkan karena rasa takut akan kehilangan. Mata hazel itu selalu menatap Liyuna layaknya sebuah benda yang akan hilang begitu saja.
"Sepertinya aku harus mendekatkan diri dengan Nona Liyuna untuk memahami semuanya."
Malak itu angin berhembus dengan lembut, membawa udara dingin musim dingin menusuk ke tulang.
Ramainya jalanan kota Elisien seolah tak menyentuh tempat itu. Sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota, di sebuah gedung apartemen tua yang sangat sepi.
Dengan secangkir kopi hangat yang hanya sisa ampas saja, terlihat Yuda sedang memakai seragam khusus kepolisian nya. Seragam tersebut ia balut dengan jaket tebal, seolah untuk menyembunyikan identitasnya.
Yuda berjalan menuju meja, mengambil ponsel pintarnya dan juga revolver yang sudah menemaninya sejak hari kelulusan.
Satu jam yang lalu dia mendapat notifikasi dari para petinggi kepolisian untuk datang ke kantor pusat. Dia tidak tahu apa yang ingin mereka bicarakan dengannya karena sebagai seorang agen rahasia, seharusnya mereka tidak sering memanggilnya karena itu sangat beresiko terhadap pekerjaannya.
Namun karena kode yang dikirim kepadanya menandakan kode darurat maka dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Sudah empat tahun lamanya dia hidup dalam kesendirian, mencoba untuk terus memperhatikan pergerakan Cerberus sembari berusaha mendekati mereka dan akhirnya dia hampir berhasil.
Sejak dia diminta untuk menangani kasus pembunuhan Nyonya Ravenray, pekerjaan yang dia lakukan sudah tidak bisa dianggap enteng. Setiap hari dia harus mempertaruhkan nyawa, dia harus siap jika dirinya tertangkap dan di siksa.
Beberapa waktu yang lalu, seorang agen rahasia yang juga diperbolehkan bergerak secara individu melalui perintah khusus tertangkap oleh anggota Cerberus dan tidak pernah kembali hingga sekarang.
Melihat kasus-kasus sebelumnya, sudah dapat dipastikan bahwa agen tersebut telah di bunuh dan disingkirkan.
Dia gagal dalam menjalankan misi, bahkan keluarganya tidak akan bisa melihat jasadnya untuk terakhir kali.
Itu juga akan menjadi akhir bagi Yuda jika dia gagal dalam menjalankan misi kali ini. Seberbahaya itulah Cerberus. Jika dia salah langkah sedikit saja, nyawanya akan langsung melayang. Meski begitu, Yuda tidak takut. Dia telah membulatkan tekadnya setelah melihat kebenaran.
Jika Cerberus tidak dihancurkan, maka semua akan berujung pada akhir yang sama dan Yuda tidak menginginkan hal itu.
Kali ini dia akan melindungi orang yang berharga baginya.
TBC
[A/N : Tadi pagi buka komen ada reader yang bisa nyatuin petunjuk yang aku kasih disetiap narasi dan percakapan dan menyimpulkan dengan tepat. Padahal setiap petunjuk yang aku kasih itu cukup subtle (tidak kentara). Tapi dia bisa menyimpulkan dengan tepat. Rasanya aku seneng banget karena ada reader yang memahami petunjuk yang ada🤗]