
Malamnya, Liyuna tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia berulang kali terbangun dari tidurnya hingga pada akhirnya Liyuna memutuskan untuk meminum segelas susu hangat dan memakan egg mayo sandwhich. Barulah dia mulia merasa sedikit mengantuk dan akhirnya tenggelam dalam dunia mimpi.
Ketika Liyuna mulai menyadari keadaan sekitarnya, dia sudah berada disebuah tempat familiar yang sebelumnya pernah dia datangi. Sebuah tempat luas tanpa dinding penghalang yang dapat dimasuki oleh cahaya dari berbagai arah.
Terakhir kali dia datang ke tempat ini, dia bertemu dengan Liyuna yang asli. Liyuna dewasa yang mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Riana langsung mencari gazebo dimana Liyuna asli berada. Saat ini dia sangat ingin bertemu dengan Liyuna yang asli dan menanyakan beberapa hal. Langkah kaki Liyuna mulai bergerak dengan cepat, dia berusaha mencari gazebo emas itu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Namun entah kenapa sampai sekarang, dia tidak bisa melihat gazebo yang ia cari. Kabut tebal tiba-tiba saja menyelimutinya, membuat pandangannya menjadi sangat tidak jelas.
Saat membuka mata, Liyuna sadar bahwa saat ini dia terbangun dari tidurnya. Cahaya matahari masuk melalui ventilasi kamarnya, menembus jendela perancis yang ada di balkon. Liyuna menatap lamgit-langit kamarnya dan kembali memikirkan mimpinya tadi malam. Dia tidak bertemu dengan Liyuna asli dan langkahnya terhenti akibat kabut tebal yang tiba-tiba muncul, seolah-olah menghalaunya untuk bertemu dengan Liyuna yang asli.
Liyuna menghela napas, padahal dia sangat ingin bertemu dengan Liyuna yang asli dan menanyakan tentang kematian Almera.
Di sisi lain, di kediaman Ravenray.
Zion terlihat berdiri di depan balkon kamarnya ditemani oleh segelas wine merah. Matanya terlihat sangat merah dan kelelahan namun dia tidak bisa tidur. Ketika kedua matanya tertutup, dia akan kembali diingatkan oleh kematian Ibunya. Jika saja dia sudah berad adi rumah saat itu, mungkin saja sesuatu yang berbeda akan terjadi.
Namun kata 'jika saja' hanya bisa digunakan ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita san saat ini, itulah yang Zion alami. Dia kehilangan Ibunya dan keluarga Ravenray dipukul oleh kenyataan bahwa insiden ini merupakan insiden pembunuhan terbesar sepanjang sejarah.
Zion meletakkan gelas wine di meja kecil yang ada di kamarnya dan dia pergi menuju ruang rahasia yang sudah lama tidak dia kunjungi. Di sana terdapat banyak sekali hasil investigasi yang dia lakukan dan asa beberapa informasi baru yang ditambahkan oleh seseorang.
Melihat apa yang terjadi saat ini, kemungkinan besar Ibunya mengetahui ruangan ini dan melihat investigasi yang dia lakukan. Zion memulai investigasi ini hanya karena penasaran dan ingin menjauhkan keluarganya dari bahaya namun keputusannya malah mendatangkan bencana untuk Ibunya. Dia tidak mengira jika investigasi yang dia lakukan akan membawa Ibunya pada pintu dunia baka.
Zion mengambil sebuah artikel tua yang Almera letakkan di meja. Disana ada sebuah informasi mengenai kecelakaan keluarga Castris yang terjadi 15 tahun yang lalu.
Zion bukanlah orang yang bodoh, hanya dengan sedikit informasi dan petunjuk, dia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apa lagi ditambah dengan pesan yang Ibunya tinggalkan dengan susah payah.
Jika target sebenarnya adalah Castris, tidak ada alasan mereka menyerang Ravenray. Kecuali jika Ravenray mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak mereka ketahui.
"Mungkin saja Ibu mengetahui identitas pelaku yang sebenarnya..."
"Atau ada sesuatu yang aku lewatkan..."
Sebenarnya Zion ingin mencari bukti lebih lanjut melalui laptop milik Almera namun sayangnya laptop tersebut telah di rusak dan seluruh jejak telah dihapus sehingga Zion tidak tahu apa saja yang Almera cari. Yang pasti, pelaku bukanlah orang biasa. Seseorang yang bahkan bisa menembus dinding Ravenray, pastinya bukan lawan yang mudah.
***
Dari kejauhan, terlihat Hajun sedang berdiri di depan sebuah layar proyektor yang menampilkan wajah seorang wanita cantik berambut silver. Dia memiliki tubuh ramping yang tinggi dan memakai jas yang memeluk tubuhnya dengan pas.
"Aku dengar Elisien saat ini sedang sangat kacau?" Tanya wanita itu, bibir tipisnya yang dipoles dengan lipstick merah terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya yang pucat.
Dia adalah wanita yang memiliki aura yang mendominasi, benar-benar wanita dengan karisma luar biasa.
"Seperti yang kau dengar, pembunuhan terjadi tepat di depan mata Ravenray."
Jari ramping wanita itu terlihat mengetuk-ngetuk kursi kerja yang dia duduki, menimbulkan suara ketukan yang sangat kentara.
"Kalau begitu, lanjutkan tugasmu disana."
"Aku mengerti"
Sorot mata Hajun menjadi sangat dingin. Dihadapannya saat ini adalah pemimpin Obelian's Circle, Irina. Setelah pembicaraan mereka selesai, Hajun langsung memutuskan sambungan telepon lalu ia duduk di sofa dan menyalakan sebatang rokok.
Akhir-akhir ini Elisien benar-benar sedang kacau, dia memiliki banyak sekali pekerjaan untuk membersihkan sampah-sampah yang suka seenaknya sendiri.
Kedua mata Hajun menyipit, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Titus yang duduk diseberangnha terlihat sedang memeriksa berbagai macam dokumen.
"Sepertinya semua ini berhubungan dengan insiden yang menimpa Nona Liyuna." Ucap Titus setelah membaca seluruh dokumen hasil laporan para bawahan mereka.
"Sepertinya begitu."
"Tapi aneh. Kenapa Cerberus merubah target menjadi Ravenray? Padahal sejak awal mereka jelas-jelas mengincar Castris."
"Mungkin saja Ravenray berhasil mendapatkan informasi yang seharusnya tidak mereka ketahui."
"Contohnya?"
"Identitas pelaku atau sesuatu yang lebih spesifik dari itu."
"Jika itu benar maka..."
"Ya, mungkin saja Ravenray akan terlibat dalam masalah ini."
Titus terlihat mengehela napas. Jika apa yang Hajun katakan memang benar, mereka harus mengorek informasi lebih dalam agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi.
"Itu bukan sesuatu yang baik."
"Ngomong-ngomong, bagaimana laporan dari body guard yang menjaga pewaris sah Castris?"
"Tidak ada hal khusus, hanya ada beberapa orang yang mengintainya namun bawahan kita berhasil mengamankan mereka."
"Selidiki lebih lanjut apakah mereka memiliki hubungan dengan Cerberus atau tidak."
"Aku mengerti."
Setelah menerima tugas baru dari Hajun, Titus langsung bergegas untuk mengumpulkan laporan dan informasi dari body guard yang di sewa oleh keluarga Castris.
Setelah kekacauan yang dilakukan oleh Cerberus, Hajun juga berada dalam bahaya karena sejak beberapa tahun terakhir ini mereka selalu ikut campur dalam masalah Cerberus dan hal ini bisa saja membuat posisi Hajun terdesak. Meski Hajun secara resmi dan formal bekerja dibawah Obelian's Circle, dia memiliki sebuah organisasi yang berdiri hanya untuknya. Tugas organisasi tersebut adalah untuk menghancurkan berbagai macam bisnis ilegal yang ada di Elisien. Hajun bukanlah seorang malaikat maupun seorang saint berhati baik, dia juga bukanlah pahlawan pembela kebenaran namun dia tidak suka melihat orang-orang dirugikan karena bisnis ilegal.
Dia melakukan semua ini karena masa lalunya yang cukup kelam. Sejak kecil, dia melihat berbagai macam kegilaan dan kekerasan yang terjadi karena uang. Mungkin karena itulah, sejak dalam pelatihan yang dilakukan Obelian's Circle dia bisa melewatinya dengan mudah.
Hajun terlihat menyapu rambutnya kebelakang, menatap meja yang penuh dengan dokumen yang Titus bawa.
"Sepertinya aku harus lembur lagi." Gumamnya.
Bip... Bip...
Layar ponsel pintar Hajun terlihat menyala, sebuah pesan dari seseorang masuk. Hajun membuka pesan yang baru saja masuk dan membacanya dengan perlahan.
"Bisa-bisanya dia menyelundupkan ponsel di kamp pelatihan." Suara Hajun terdengar seperti meledek namun bibirnya membentuk senyuman.
Dengan ini babak kali ini ditutup dengan sebuah berita duka hang cukup mengejutkan. Perjalanan Liyuna dan yang lainnya masih sangatlah panjang. Masih ada banyak jalan berbatu di depan sana yang perlu Liyuna lalui.
Waktu bergulir dengan sangat cepat, empat tahun berlalu sejak kematian Almera. Kini Liyuna sudah menjadi seorang gadis remaja berumur 16 tahun.
TBC