Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 76 - Berita Duka



Sudah 4 tahun berlalu sejak Zion datang ke negeri yang jauh untuk menimba ilmu. Sistem pendidikan yang ada di negara ini sangat berbeda dengan Zen, Zion harus menyesuaikan diri dan beradaptasi di lingkungan yang baru.


Bagi Zion, hal seperti itu tidaklah sulit. Zion yang menang sejak awal mudah beradaptasi dalam situasi apapun tidak merasakan kesulitan yang berarti ketika kuliah. Dia belajar dengan baik, memiliki beberapa teman dan mendapat beberapa penghargaan atas prestasinya.


Beberapa minggu yang lalu, dia lulus sebagai mahasiswa dengan nilai terbaik di jurusannya dan telah mengikuti wisuda sebagai tugas akhirnya disini.


Beberapa teman seangkatannya mengajaknya untuk merayakan kelulusan dengan makan-makan dan minum di asrama. Semua terlihat begitu antusias karena sudah berhasil lulus di salah satu universitas terbaik dunia. Mereka juga kagum dengan pencapaian Zion yang luar biasa.


Malam semakin larut dan salju mulai turun dengan lebat. Dari balik jendela, Zion bisa melihat salju putih berjatuhan menghiasi bumi.


Dia menghangatkan tubuhnya dengan meminum segelas anggur merah, sesekali dia juga mendengarkan teman-temannya yang sedang bercerita.


"Zion, apakah kau akan kembali ke Zen?"


"Ya, aku akan kembali."


Seseorang terdengar mendesah pasrah ketika mendengar jawaban Zion yang tak pernah berubah dari beberapa tahun yang lalu.


Saat mereka masih menjadi seorang mahasiswa baru, mereka pertama kali bertemu Zion di lorong kampus. Sejak hari pertama kuliah dilaksanakan, rumor mengenai seorang pria Asia yang sangat cerdas beredar. Hal ini membuat semua orang penasaran bagaimana rupa orang tersebut.


Melihat Zion yang berdiri di pinggir lorong sembari memandangi orang-orang yang berlalu lalang membuat mereka berpikir bahwa Zion adalah orang yang sulit di dekati. Dia seolah memancarkan aura untuk tidak mendekatinya namun setelah beberapa minggu berlalu dan mengenal Zion lebih dekat, dia tidak sesulit itu untuk di dekati. Walaupun terkadang Zion memang terlihat tidak mempedulikan mereka namun mereka tidak merasa marah karena mungkin saja memang seperti itulah sifatnya, tidak banyak berekspresi dan berkepala dingin.


"Sayang sekali. Bukankah kau mendapat tawaran untuk bekerja sebagai asisten dosen disini?"


"Benar, jika kau menerimanya dan melanjutkan studi S2. Kau mungkin bisa menjadi dosen tetap."


"Hei, hei. Kalian ini tidak tahu apa berpura-pura bodoh?"


"Apaa??" Semua memasang wajah tidak tahu dan kebingungan.


"Zion kan seorang pewaris perusahaan besar di Zen, mana mungkin dia bisa menjadi seorang dosen?"


Mendengar hal ini, semua orang yang ada di ruangan merasa seperti dipukul oleh kenyataan. Ya, orang hebat yang bisa segalanya bernama  Altzion Ravenray adalah seorang calon Presdir perusahaan besar. Tidak mungkin dia mau mengambil jalan lain menjadi seorang dosen.


"Benar, juga. Terkadang aku iri denganmu yang memiliki segalanya."


Mata Zion sedikit menggelap setelah mendengar hal barusan. Mereka tidak tahu bahwa status yabg dia miliki memiliki beban yang luar biasa dan tidak bisa dianggap enteng. Jika dia salah sedikit saja membuat keputusan maka akan ada banyak orang yang menderita. Menjadi seorang pewaris tidak selamanya menyenangkan, ada banyak hal yang harus dia korbankan untuk menjaga apa yang dia punya.


Drrtt! Drrrt!


Ponsel Zion terlihat berdering, menandakan bahwa ada telepon yang masuk. Zion terlihat terkejut melihat nama dari orang yang menelponnya.


'Allen?'


Ini pertama kalinya Zion melihat Allen menelponnya terlebih dahulu. Zion terlihat sangat terkejut namun bisa langsung mengendalikan dirinya dan menerima telepon dari Allen.


"Ada apa?"


"Zion, seseorang menyerang kediaman Ravenray dan tante..."


Mata Zion membulat sempurna setelah mendengar apa yang Allen katakan. Suara Allen terdengar sangat serius jadi sangat tidak mungkin untuknya bercanda. Meski Allen membencinya, dia tidak mungkin mengatakan hal seperti itu sebagai candaan. Terlebih lagi sayup-sayup Zion bisa mendengar suara sirine dari seberang sana.


"Pulanglah sekarang. Gunakan koneksi Ravenray untuk mendapat penerbangan tercepat malam ini."


Setelah itu, sambungan telepon terputus. Zion yang baru saja menerima berita tidak masuk akal dari Allen langsung bergegas menuju bandara. Dia tidak memiliki waktu untuk mengganti pakaiannya dan langsung pergi keluar begitu saja dengan pakaian tipis.


Di luar asrama, dia langsung mengendarai mobil yang dia miliki selama di kampus dan langsung bergegas menuju bandara untuk terbang ke Zen. Meski terlihat sangat terkejut, Zion tetap berusaha untuk tenang dan berpikir jernih. Dia mengubungi petinggi di bandara untuk mendapatkan penerbangan paling tercepat hari ini.


Sesampainya di bandara, Zion meninggalkan mobilnya begitu saja di parkiran. Orang-orang menatapnya dengan tatapan aneh karena ia hanya memakai kemeja tipis tanpa syal ataupun mantel.


Wajah putih Zion menjadi kemerahan setelah terpapar hawa dingin cukup lama, tubuh dan badannya pun juga teras seperti membeku. Namun dia tidak mempedulikan hal itu, satu-satunya yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya untuk pulang.


1 jam yang lalu, Allen dan yang lainnya memutuskan untuk pulang setelah mereka membeli kado natal dan saling tukar menukar.


Ponsel Allen berdering, ia melihat layar ponselnya dan langsung menerima telepon yang masuk.


"What's wrong?"


"Boss, I think you must quickly come back to your home."


"Why?"


"Sepertinya, kediaman Ravenray diserang oleh seseorang."


Mata Allen membulat sempurna setelah mendengar ucapan dari Victor. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Jangan main-main denganku. Kau bisa bertanggung jawab atas ucapanmu?"


"Aku serius, Len. Aku mendengar suara tembakan dari laptopmu yang telah aku retas."


Sebelum Allen dan Victor berpisah beberapa tahun yang lalu, Allen memang meminta Victor untuk memodifikasi laptopnya sedikit atau bisa dibilang menyadapnya untuk alasan keamanan. Allen meminta Victor untuk mengutak-atik speaker yang ada di laptopnya supaya dia bisa mendengar jika ada sesuatu terjadi atau ad seseorang yang berusaha menyentuh barang miliknya.


"Dimana kau meletakkan laptopmu terakhir kali?"


Allen mencoba mengingat-ingat kembali dimana dia meletakkan laptopnya terakhir kali dan hanya ad satu tempat yang terpikirkan olehnya, yaitu ruang tamu.


"Lebih baik kau segera cek keadaan rumahmu. Aku memiliki firasat cukup buruk tentang hal ini."


Setelah mendengar hal itu dari Victor, Allen langsung memutuskan sambungan telepon dan pamit pada Liyuna dan yang lainnya untuk pulang dengan alasan ada urusan mendadak.


Dengan sangat tergesa-gesa, Allen mencegat taksi yang lewat dan langsung menaikinya.


"Pergi ke kediaman Ravenray dengan kecepatan penuh."


Mendengar ucapan Allen, sopir taksi langsung mematuhinya. Melihat pakaian yang dikenakan Allen berasal dari brand terkenal, sopir taksi tidak meragukan identitasnya apa lagi Allen memancarkan aura yang sangat berbeda dengan anak seumurannya.


Sesampainya di area mansion Ravenray, Allen langsung membayar taksi yang ia tumpangi dan bergegas menuju pintu gerbang. Karena area mansion Ravenray adalah area pribadi, tidak ada yang bisa masuk selain mobil yang sudah teridentifikasi makanya dia meminta sopir taksi untuk berhenti cukup jauh dari mansion.


Allen bergegas menuju pintu gerbang namun langkahnya terhenti ketika dia melihat beberapa pelayan dan penjaga tergeletak tak sadarkan diri di tanah. Allen segera memeriksakan keadaan mereka namun ia berhenti ketika melihat warna salju disekitar mereka berwarna merah pekat.


'Tidak mungkin!'


Kedua mata Allen membulat dengan sempurna ketika ka memahami apa yang sedang terjadi. Dengan sekuat tenaga, Allen berlari menuju mansion. Di sepanjang perjalanan dia bisa melihat ada banyak sekali tubuh orang-orang yang bekerja untuk Ravenray dipenuhi dengan lubang. Sesampainya di depan mansion, Allen melihat pintu yang terbuka lebar.


Ia berjalan masuk ke dalam dan tidak bisa terlalu bisa melihat dengan jelas karena gelap.


Ada banyak mayat dimana-mana, mayat berserakan di mansion Ravenray, membuat Allen sedikit tidak tahan apa lagi melihat darah yang begitu banyak di kakinya, ia serasa ingin muntah.


Allen mengingat bahwa Almera masih dirumah sebelum dia pergi, Allen mencoba untuk mencarinya dan berharap dia masih hidup. Meski Allen tidak menyukai Almera, dia tidak pernah memiliki pikiran untuk membunuhnya karena yang dia benci hanyalah Zion.


"Tante..." Panggilnya dengan suara lirih. Allen menyalakan lampu yang ada di ruang tamu dan kedua matanya seketika mengerut melihat pemandangan yang begitu mengerikan.


Dengan tubuh berlumuran darah dan rambut yang acak-acakan, Almera terbaring kaku di atas meja ruang tamu dengan tubuh berlubang. Darah segar mulai menetes dari meja, menandakan bahwa Almera tidak akan bis selamat karena kehilangan banyak darah.


Allen tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Untuk kedua kalinya, dia melihat seseorang yang dia kenal mati tepat di depan matanya.


TBC


[A/N : Sampai chapter ini, siapa yang paling bikin kalian penasaran?]