Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 30 - Topeng Yuda



Karl terlihat sedang duduk dihadapan seorang pria yang seumuran dengannya. Ia ditemani oleh asap kopi yang mengepul dari cangkir. Pria yang ada dihadapannya itu terlihat meminum kopi dari cangkirnya, ia sedang menunggu Karl menandatangani semua berkas yang telah ia kumpulkan.


"Kapan semua akan selesai?" Tanya pria itu. Dia menatap Karl yang duduk dengan sangat elegan. Meski hanya diam saja, Karl selalu memancarkan aura penuh wibawa.


"Berdasarkan hitunganku, setidaknya tahun depan aku bisa membawanya pulang."


"Aku mempercayakan semuanya padamu."


"Tenang saja, aku pasti akan menjaganya sebaik mungkin."


Tidak ada yang bisa mempertanyakan kemampuan Karl. Pria itu pun paham betul bahwa Karl pasti akan selalu memegang ucapannya dan berusaha melakukan yang terbaik untuk memenuhi semua janjinya. Namun dia tetap saja khawatir pada putrinya. Dia takut putrinya menderita jika pergi bersama dengan Karl. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksanya untuk mengambil keputusan ini dan mempercayakan keamanan putrinya pada Karl.


Waktu hingga kedatangan Yuriel sisa satu tahun lagi. Prolog yang selama ini Liyuna tunggu, sebentar lagi akan dimulai.


***


Ada sebuah sekolah menengah yang cukup terkenal di Elisien. Biasanya orang-orang dari kalangan elit menyekolahkan putra dan putri mereka di sekolah tersebut.


Sekolah tersebut diberi nama berdasarkan nama seorang Dewi Yunani, SMP Hera. Sekolah menengah pertama tersebut juga memiliki popularitas serta kedudukan yang sama dengan SD tempat Liyuna bersekolah saat ini. Bisa dibilang, setelah lulus SD biasanya murid-murid akan melanjutkan sekolah di SMP Hera dan di SMP tersebutlah Yuda menuntut ilmu.


Yuda yang selalu bersikap tenang dan elegan di luar rumah, saat ini sedang mendengarkan guru menjelaskan materi dengan seksama.


Saat ini ia memakai seragam musim gugur, lengkap dengan blazer tanpa vest karena musim gugur baru saja dimulai. Jadi hawa dingin yang menusuk tulang belum terjadi. Tidak terasa sudah mendekati musim gugur padahal baru kemarin musim panas. Suhu panas dari musim panas sudah mulai turun berganti dengan suhu dingin musim gugur.


Jika melihat sikap Yuda saat ini, pasti tidak akan ada yang menyangka kalau dia selalu bersikap seenaknya di dalam rumah. Perubahan sikapnya yang 180° itu tidak ada yang tahu selain keluarganya. Benar, tidak ada satu orang pun yang tahu, termasuk teman-temannya di sekolah.


Bel tanda istirahat berbunyi, Yuda menutup bukunya dan memasukkan pena yang tadi pakai untuk mencatat ke dalam tas. Rambut ash-brown miliknya terlihat melambai-lambai terkena angin. Mata amber-nya terlihat sangat bersinar –membuat siapa pun yang melihatnya terpesona. Meski masih remaja, Yuda memiliki pesona yang berbeda dari anak lainnya yang seumuran dengannya.


Dia mudah bergaul dan disukai banyak orang karena ramah. Tanpa diminta pun, Yuda pasti akan membantu siapa pun yang membutuhkan bantuannya. Pemuda yang memiliki jiwa bebas sepertinya selalu bertindak sesuai dengan kata hatinya. Dia tidak memandang rendah orang yang berada dibawahnya dan selalu merangkul siapa pun yang dia anggap pantas. Namun dibalik itu semua, ada satu jenis manusia yang dia benci.


Ketika semua murid di kelas Yuda selesai merapikan bangku mereka, ada sekitar 3 orang gang datang menghampiri mejanya.


"Ayo kita ke kantin!"


Dengan senyuman yang lebar, Yuda menyetujui ajakan teman sekelasnya. Dia tanpa merasa malu sama sekali, merangkul bahunya dan berjalan bersama ke kantin.


"Hei, kau sudah dengar beritanya kemarin?" Tanya salah satu teman sekelas Yuda.


"Tentang pelaku pengeboman Havelian Park yang tewas di penjara itu?" Sahut yang lainnya.


"Benar! Menakutkan sekali, ya."


"Iya, bagaimana mungkin dia bisa tewas di dalam sel."


"Bukankah keamanan di dalam dana seharusnya sudah terjamin?"


"Apa kau mendengar sesuatu dari keluargamu, Yuda?"


Merasa namanya dipanggil, Yuda menatap ketiga temannya yang sedang asyik membahas berita yang muncul di televisi.


"Tidak, kasus itu tidak dibawah kewenangan keluargaku." Ucap Yuda dengan sangat enteng. Ekspresinya masih sama seperti biasanya, sangat on-going dan terkesan bermain-main.


"Benarkah? Kami kira kasus sebesar itu akan jatuh ditangan keluargamu."


"Entahlah, aku juga tidak terlalu peduli."


Melihat Yuda yang terkesan tidak tertarik dan santai, membuat yabg lainnya mengalihkan topik karena dianggap membosankan. Menurut mereka, hal yang tidak bisa membuat Yuda tertarik bukanlah hal yang patut untuk terus dibicarakan.


Meski saat ini Yuda terlihat sangat santai dan terkesan tidak peduli, sebenarnya itu hanyalah kebohongan. Di dalam otaknya saat ini muncul beberapa skenario tentang kasus tersebut. Dia yang memang memiliki kelebihan dibanding orang lain tidak mungkin melewatkan hal aneh begitu saja. Baginya, kasus tewasnya pelaku pengeboman Havelian Park sangatlah janggal. Apa lagi jika disambungkan dengan insiden pengeboman dulu, semua terlihat seperti ada benang merah yang digerakkan oleh seseorang dari balik layar.


"Tidak perlu memikirkan hal yang tidak ada hubungannya dengan kita." Ucap Yuda mencoba untuk mengganti topik.


"Kau benar." Teman-teman Yuda langsung menyetujui ucapannya karena mereka juga tidak mau mengungkit hal yang tidak bisa membuat Yuda tertarik.


Dari luar Yuda memang terlihat sangat baik dan ramah, bahkan ia juga memiliki kesan yang cukup berbeda dari putra keluarga kaya lainnya. Hal itu di karenakan Yuda yang mau merangkul siapa saja dan tidak memandang status sosial keluarga orang tersebut. Namun ada hal yang tidak mereka ketahui. Selain sikap Yuda yang berbeda 180° saat di rumah, Yuda juga menyembunyikan wajah aslinya di hadapan orang lain.


Seperti yang tadi sempat disinggung, ada satu jenis manusia yang paling dibenci oleh Yuda; orang yang naif dan bodoh.


Meski Yuda akan selalu memperlakukan mereka dengan baik, di dalam hatinya dia mencemooh, bahkan memandang rendah orang-orang dengan tipe tersebut. Dia juga sangat senang melihat orang lain sedang kesusahan, tentu saja dia berbuat seperti itu karena memiliki sebuah alasan. Ketika seseorang tumbuh dengan sifat yang sangat twisted, pasti ada trigger yang membuatnya seperti itu. Itu lah yang terjadi pada Yuda.


Hati Yuda sangatlah hitam, dia memakai topeng untuk mempertahankan citranya dihadapan publik. Makanya tidak akan ada yabg mengira bahwa dia ternyata adalah orang yang cukup sinis dan tak kenal ampun. Dia senang hidup bebas tanpa dikekang dan dia senang bertemu dengan orang yang memiliki insting bagus seperti Zion.


Bahkan keluarganya tidak ada yang tahu wajah Yuda yang sebenarnya. Dia benar-benar mengunci dan menyembunyikannya dengan baik. Dia bersembunyi dibalik sikapnya yang bebas dan ramah itu. Teman-temannya pun tidak ada yang bisa membuka topeng yang selalu digunakan Yuda. Dia adalah pria yang begitu menakutkan, dalam artian yang berbeda dari Lucas meski mereka sama-sama bermuka dua.


Sesampainya di kantin, mereka langsung duduk di kursi yang sudah disediakan, membawa nampan berisi berbagai macam makanan yang sudah disiapkan oleh sekolah secara gratis. Seperti murid pada umumnya, Yuda dan teman-temannya yang lain berbincang sembari menghabiskan makanan mereka.


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka kembali ke kelas, menunggu guru masuk untuk melanjutkan pelajaran.


Yuda, masih dengan memakai topeng yang menyembunyikan wajah aslinya, duduk tenang ditempat duduknya menunggu guru masuk.


Dia adalah orang yang dipuja-puja dan dikagumi banyak orang. Setiap tindakan yang ia lakukan ditiru dan dijadikan contoh. Semua orang menganggapnya sebagai murid teladan. Tidak ada satupun yang meragukannya. Dia adalah orang yang bisa mendapatkan segalanya hanya dengan tersenyum dan berkata "tolong". Kemampuannya dalam bergaul dan berbaur dengan semua orang dari berbagai kalangan membuat siapa saja iri.


Dia lah Yuda Harvenhelt.


Salah satu target yang harus ditaklukkan Yuriel dalam game. Namun, bagaimana cara Liyuna mengatasi tokoh dengan sifat sepertinya? Itu adalah sesuatu yang harus kita tunggu hingga mereka bertemu secara langsung face to face.


Bagaimana pun juga, cepat atau lambat mereka telah ditakdirkan untuk bertemu.


TBC