
Entah sejak kapan aku merasa seperti melupakan sesuatu. Ketika aku mencoba untuk mengingatnya, kepalaku akan terasa sangat sakit.
Aku rasa itu terjadi ketika aku berumur 11 tahun, sebuah mimpi mengerikan mendatangiku.
Saat itu hujan deras mengguyur Kanada. Aku tidak bisa tertidur dengan pulas karena suara halilintar yang begitu menggelora.
Mimpi yang aku lihat, terlihat seperti sebuah kilas balik kehidupan seseorang.
Begitu menyedihkan dan penuh dengan penyesalan. Saat itu aku menyadari, sebuah pilihan yang buruk pastinya akan mendatangkan suatu malapetaka.
Aku ingat pertama kali datang ke kediaman Ravenray. Saat itu aku masihlah seorang bocah berumur 4 tahun yang tak tahu apa-apa dan sejauh yang kuingat aku hanya memiliki Ibu.
Aku tidak tahu siapa ayahku dan mengapa dia tidak tinggal bersama kami. Ada sebuah pertanyaan yang sellau hinggap di kepalaku saat itu, "Apakah ayah tidak menginginkanku?"
Namun semua itu berubah dalam sekejap. Aku dibawa ke sebuah rumah mewah bak istana dan bertemu dengan sosok yang disebut ayah.
Dan saat itulah aku bertemu dengannya, Altzion Ravenray. Sosok yang disebut sebagai kakak.
Kesenangan yang terlihat seperti ilusi itu mulai retak, memperlihatkan betapa mengerikannya orang-orang di sekitarku. Hatiku menjadi gelap dipenuhi oleh kebencian. Sangat hitam dan menjijikkan.
"Allen aku sangat menyukaimu!"
Anak perempuan itu selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Kami bertemu di sekolah, di sebuah sekolah dasar paling bergengsi di kota Elisien.
Entah berapa kali dia mengatakan omong kosong seperti itu, aku tidak mengingatnya. Yang pasti, dia selalu mengatakannya sejak saat itu.
Ya, ketika aku menyelamatkannya dari seorang preman yang berusaha menculiknya.
Sejak saat itu, dia selalu mengikutinya.
Aku tidak mengerti, jika dia melakukan hal seperti ini, bukankah itu hanya akan membuatnya terlihat jelek di mata orang lain.
Dengan statusku yang tidak jelas dan dianggap sebagai aib keluarga Ravenray, aku harus mengabaikannya. Dengan begitu, reputasi anak itu tidak akan ternoda.
Namun ternyata aku salah. Aku tidak pernah berpikir bahwa anak itu sangatlah gigih. Tidak peduli seperti apa reputasinya di mata orang, tidak peduli seberapa keras dia jatuh, anak itu selalu mengatakan hal yang sama.
Dengan matanya yang penuh dengan cahaya dia mengatakan hal itu.
Selama beberapa tahun, aku mencoba untuk menghindarinya. Bagiku yang telah mengalami hal tidak menyenangkan di masa lalu, akan sangat sulit untuk mempercayainya.
'Bagaimana jika dia berbohong?'
'Mana mungkin ada gang tulus dengan oang sepertiku.'
'Dia pasti punya maksud lain.'
Pikiran-pikiran seperti itu selalu memenuhi kepalaku. Tidak peduli seberapa besar aku menerima kebaikan dan cintanya, aku tidak bisa membuat diriku mempercayainya.
Mungkin itu semacam pertahanan diri yang akan aktif secara otomatis ketika aku merasa dalam bahaya. Perlindungan diri yang membuatku terkurung dalam sebuah bola tanpa pintu, membuatku semakin tenggelam dalam kegelapan.
Seolah tak peduli dengan kegelapan yang ada di sekitarku, anak itu mengulurkan tangannya padaku. Dia bagaikan cahaya yang datang secara tiba-tiba dan selalu menerangi setiap jalan yang aku lalui.
Diumur 12 tahun, kami mulai terikat dengan sebuah janji.
Aku tidak menolaknya karena itu adalah keinginannya. Mungkin dengan begini, aku bisa memegang cahaya itu sedikit lebih lama hingga dia merasa bosan dan pergi dengan sendirinya.
Namun ternyata aku salah. Dia terus menggenggam tanganku dan selalu berada di sisiku. Tidak pernah sekalipun dia meninggalkanku.
Aku ingat, pernah sekali aku menghadiri sebuah pesta. Disana aku menjadi bahan tertawaan dan olok-olok. Aku merasa malu dan marah namun aku tidak bisa memperlihatkan perasaanku di depan mereka semua.
Lalu dia datang, tangannya yang kecil menggenggam tanganku dengan begitu hangat dan dengan percaya diri dia mengatakan, "Dia adalah tunanganku, seseorang yang nantinya akan aku nikahi dan akan berdiri di sampingku. Aku tidak aku membiarkan kalian mempermalukannya."
Dunia terasa seperti berhenti sesaat dan entah sejak kapan, pandanganku selalu tertuju padanya. Meski begitu, aku tidak bisa mengatakannya. Aku harus mengubur perasaan seperti ini karena sejak awal tujuanku hanya satu, yaitu balas dendam.
Ketika perubahan terjadi di keluarganya, aku berpikir bahwa dia akan merasa sedih namun ternyata aku salah. Dia memanglah seseorang yang memiliki hati lembut dan sangat berbeda denganku.
Diumur ku yang ke tujuh belas tahun, aku mendapatkan sebuah tawaran menarik. Sebuah tawaran yang mustahil bisa aku dapatkan dengan mudah.
Seperti seorang iblis yang membisikkan iming-iming kepada umat manusia, wanita itu mengeluarkan tangannya. Memintaku untuk menerima tawarannya dan bekerja sama dengannya.
"Tujuanku hanya satu, yaitu mendapatkan tahta utama. Dengan begitu, aku akan membantumu mendapatkan segalanya."
Aku tahu itu bukan sebuah kebohongan. Dia adalah wanita yang licik, dia bisa berbuat apa saja demi ambisinya.
Dan sepertinya, dia mengincar tahta yang mustahil bisa dia dapatkan. Jika dilihat sekilas, wanita itu sama denganku. Posisinya yang tidak stabil, benar-benar mirip denganku.
Rasanya seperti dirasuki sesuatu, aku menerima tawaran tersebut dan membuatku tidak bisa mengubah masa depan yang akan terjadi.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya menangis dan berteriak seperti kehilangan akal sehat.
Wajah putihnya memerah, matanya membengkak dan suaranya mulai serak. Dia menatapku dengan mata penuh kesedihan, kedua matanya yang selaku bercahaya kini menghilang dan aku tahu bahwa akulah penyebab dari semua itu.
Ketika tahta itu hilang dari tangannya, dia menghilang.
Aku mulai sibuk dengan rencana ku sendiri sehingga aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.
Beberapa tahun kemudian, aku berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku berdiri di tempat teratas dan mendapatkan segalanya.
Sebuah pesta untuk merayakan keberhasilanku diadakan. Semua orang datang dan mencoba untuk menjilat dan mendekatiku.
Wanita licik itu kini telah berhasil mendapatkan tahta itu, tahta yang seharusnya dimiliki olehnya.
Di penghujung acara, seorang wanita cantik dengan gun merah mencolok datang. Bibirnya dipoles dengan warna senanda, membuat kulit putihnya semakin menonjol.
Ingatan-ingatan dimasa lalu mulai kembali dalam kepalaku namun dia berbeda dari apa yang aku ingat.
Dia menjadi semakin cantik, kupu-kupu yang dulu selalu mengikutinya kini berubah menjadi setangkai bunga mawar merah yang telah mekar dengan baik.
Jantungku rasanya berhenti sejenak. Mengingatkanku kembali pada senyumannya yang begitu hangat. Rasa cinta yang dia miliki terhadapku sangat membutakan sekaligus sangat menenangkan.
Namum kini semua berubah, orang yang dia peluk bukanlah aku.
"Lama tidak bertemu."
Tidak peduli seberapa banyak waktu berlalu, senyumannya tetap sama seperti diingatannya.
Kesedihan yang pernah ada di wajahnya seperti tidak pernah ada dan aku tidak bisa menjawab sapaan darinya. Mulutku tidak mau terbuka dan aku tidak bisa melakukannya.
Semua terjadi dengan begitu cepat, suara tembakan mengisi seluruh ruangan pesta, lampu chandelier jatuh menghantam lantai, membuatnya pecah berkeping-keping. Ruangan dipenuhi dengan kegelapan, orang-orang mulai panik dan berlari ke sana kemari.
Aku yang tidak bisa menyesuaikan dengan keadaan yang tiba-tiba berubah mencoba untuk tenang.
Hinga akhirnya aku merasa seseorang memeluk tubuhku, tangannya melingkar di leherku dan tubuhnya mendorongku hingga terjatuh. Secara refleks aku balik memeluknya.
Ketika lampu emergency menyala, seluruh ruangan berubah menjadi merah. Pemandangan yang sangat mengejutkan, bahkan untukku.
Dan ketika aku tersadar, wanita yang tadi memelukku terbaring lemah dilantai. Dia terlihat kehilangan kesadarannya sedikit demi sedikit.
Sebuah belati menancap ditubuhnya, menembus gaun merah yang ia pakai.
Saat itulah, duniaku yang mulai terbangun sedikit demi sedikit kembali runtuh.
Satu-satunya wanita yang tulus denganku, meninggalkan dunia ini.
Aku bahkan tidak bisa memberikan ucapan selamat tinggal. Selama ini aku hanya fokus pada tujuanku, melupakan hal penting lainnya. Melupakan cahaya yang selalu ada bersamaku.
Dengan sendirinya, aku jatuh semakin dalam ke dalam kegelapan.
"Bangunlah, Liyuna..."
Itu adalah akhir dari kehidupan pertamaku. Akhir yang begitu menyedihkan dan membuatku sangat menyesal.
Kenapa aku terlalu fokus pada balas dendam? Kenapa aku terlalu fokus untuk menjatuhkan Zion?
Aku mulai tersadar, kini tidak ada yang tersisa dalam kehidupanku. Seluruh orang yang dulunya melindunginya telah tiada. Aku terlalu dibutakan oleh kebencian dan pada akhirnya aku kehilangan segalanya.
Setelah kejadian itu aku mencoba untum bertahan namun rasa bersalah selalu menggerogoti hatiku.
Setiap hari aku mengunjungi makamnya dan berharap agar semua yang terjadi hanyalah mimpi. Namun tidak ada yang berubah. Kematian Liyuna adalah suatu hal yang pasti dan tidak bisa diubah.
Beberapa tahun kemudian ketika aku sudah tidak bisa menahan semuanya, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku di peristirahatan Liyuna yang terakhir.
"Aku sangat menyesalinya. Aku berharap aku bisa mengulangi semuanya."
Itu adalah permintaan terakhirku sebelum akhirnya ajal datang untuk menjemput.
Ketika aku membuka kedua mataku, aku berada disebuah kamar familiar. Membuatku tersadar bahwa aku telah mengulang kehidupan.
TBC
[A/N: Ada yang bingung dengan chapter ini? Gampangnya ini flashback ketika Allen berumur 12 tahun dimana dia mendapatkan mimpi yang membuatnya sampai menangis (ada di salah saru chapter). Nah, isi dari mimpi itu adalah apa yang sudah diceritakan diatas]