
Lucas sudah sampai di Bandara Internasional Elisien. Ia berjalan menuju pintu keluar, semua mata memandangnya dengan tatapan kagum. Tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari pesona Lucas, rambut perak yang bersinar dibawah sinar matahari, mata ungu gelap yang terlihat seperti berlian menambah kesan layaknya sebuah lukisan.
Mungkin pesona Lucas bisa dibandingkan dengan patung Dewa Yunani yang katanya sangat menawan.
Meski semua mata memandangnya, Lucas tidak terlalu peduli. Dia sudah biasa diperhatikan orang-orang disekitarnya, terutama karena warna rambut dan matanya yang tidak biasa. Dia memiliki pesona unik yang tidak bisa ditemukan dimana pun, hanya Lucas yang memilikinya.
Di bandara, Lucas dijemput oleh sebuah mobil Bentley hitam yang terlihat sangat elegan. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang, membawa Lucas ke apartemen tempat ia akan tinggal nantinya.
Lucas melihat jalanan kota Elisien yang sudah lama tidak ia lihat. Tidak ada banyak hal yang berubah dari ingatannya, semua tetap sama seperti terakhir kali ia meninggalkan kota ini.
Sopir yang saat ini mengantar Lucas adalah salah satu body guard yang bekerja di Obelian's Circle yang ada di Elisien. Sebelumnya dia sudah diberitahu kalau dia akan menjemput calon pewaris Obelian's Circle selanjutnya dari bandara. Mendengar hal itu, dia merasa sangat terkejut sekaligus senang karena bisa bertemu dengan calon pemimpin Obelian's Circle dimasa mendatang.
Ketika pertama kali mendengar nama Lucas, dia sangat penasaran seperti apa calon pewaris Obelian's Circle yang sebenarnya dan saat bertemu secara langsung, dia melebihi ekspektasi nya. Meski Lucas masih muda, dia terlihat sangat tegas dan memiliki aura sulit untuk di dekati, benar-benar cocok sebagai penerus Obelian's Circle.
"Apa perlu saya bantu?"
"Tidak perlu."
Sesampainya di apartemen, Lucas langsung mengambil kopernya dari bagasi dan langsung masuk ke elevator menuju lantai 5.
Setelah itu dia memasukkan baju-baju yang ia bawa ke lemari. Ia menyisihkan seragam sekolah yang ia terima beberapa hari yang lalu dan membuka plastiknya.
Dengan cepat Lucas memakai seragam tersebut, ia mengambil ransel yang ada di koper dan langsung bergegas menuju sekolah.
Karena dari bandara dia langsung berangkat sekolah, Lucas merasa sedikit jet lag namun dia tidak ingin membuang-buang waktu. Dia ingin cepat ke sekolah dan bertemu dengan Liyuna dan Yvette. Mereka berdua adalah teman yang bisa membuatnya lupa akan keadaan rumahnya yang menyebalkan.
Di sepanjang jalan, Lucas ditemani oleh bunga sakura yang berguguran. Kelopak bunga merah muda itu berjatuhan di sekeliling Lucas, membuat beberapa orang yang melihatnya berhenti sejenak untuk mengapresiasi keindahan yang mereka lihat.
Lucas pergi ke sekolah menaiki bis yang lewat SMA Darien.
SMA Darien adalah nama SMA dimana Lucas akan melanjutkan studinya, yang berarti itu sekolah yang Liyuna masuki. Tidak kalah dengan sekolah yang Liyuna masuki sebelumnya, SMA Darien juga memiliki reputasi cukup bagus dikalangan kelas atas. Bagusnya, ada sistem beasiswa di SMA Darien untuk murid berprestasi. Karena itulah ada beberapa murid dari kalangan biasa yang bersekolah disekolah ini. Walau memang benar hampir 90% murid di SMA Darien adalah anak orang kaya, namun mereka tidak membedakan mereka dengan murid beasiswa. Malahan, anak-anak yang memiliki kedudukan tinggi ingin menjalin hubungan dengan murid beasiswa. Bagaimana pun juga, di dunia ini murid pintar dan cerdas sangat dibutuhkan.
Disisi lain, Liyuna terlihat sedang berbincang-bincang dengan Yuriel dan Yvette di lorong. Mereka sedang berjalan menuju ke perpustakaan untuk mencari referensi untuk tugas kelompok mereka.
Saat ini sudah memasuki pelajaran ke tiga, yang artinya sebentar lagi bel tanda istirahat makan siang berbunyi.
"Lalu, kau tahu senior memarahiku karena aku lupa script."
"Itu sih, salahmu sendiri."
"Saat pentas seni nanti, kami akan mendukungmu."
"Sungguh? Kalau begitu akan bersungguh-sungguh."
"Kau ini hanya bersemangat jika Yuna yang bilang" Ucap Allen meledek.
"Tentu saja! Tidak ada yang bisa membuatku bersemangat selaim Yuna."
Sesampainya di perpustakaan, Liyuna dan Allen mencari tempat duduk yang kosong, sedangkan Yvette dan Yuriel mencari buku yang mereka butuhkan lewat komputer yang sudah disediakan.
"Ayo kita ke sana." Liyuna menunjuk ke sebuah tempat kosong yang belum di duduki oleh siapapun.
Allen langsung setuju dan mereka berdua langsung pergi menuju tempat tersebut.
Setelah menemukan buku yang mereka cari, Yuriel dan Yvette langsung bergabung dengan yang lainnya. Mereka mulai mencari bahan untuk tugas mereka dan membaca buku dengan seksama.
Ketika seluruh bahan terkumpul dan mereka sudah membuat outline untuk tugas, mereka langsung mengembalikan buku ke tempat semula dan kembali ke kelas.
Karena masih jam pelajaran, lorong sekolat terlihat sangat sepi. Tidak ada satupun murid yang datang dan melewatinya.
Tiba-tiba saja seseorang mengalungkan tangannya dileher Liyuna, membuat tubuh kecilnya sedikit terdorong kebelakang. Liyuna tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya dan sedikit memekik karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
Rambut halus berwarna perak menyapu pipi Liyuna secara lembut, membuatnya merasa sedikit geli namun tidak menganggu. Wangi shampoo dapat tercium di hidungnya, Liyuna menoleh kearah orang yang memeluknya dari belakang.
Warna rambut yang sangat familiar dan sudah lama tidak dia lihat.
"Lucas?" Bisik Liyuna tepat ditelinga Lucas.
Allen yang mendengar suara pekikan Liyuna langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dahinya mengerut ketika melihat Liyuna dipeluk oleh seorang lelaki yang tidak dia kenal. Entah kenapa Allen merasa sangat kesal.
"Senior Lucas!" Panggil Yvette seketika menyadari siapa orang yang ada di hadapannya.
Lucas menatap kesamping dan matanya bertatapan dengan Liyuna. Semua terasa hening seketika, tidak ada suara yang masuk ke dalam telinga Liyuna.
"Lama tidak bertemu."
Lucas tersenyum cerah menatap Liyuna. Siapapun yang melihat kejadian ini pasti akan berpikir bahwa Liyuna dan Lucas adalah sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Senyuman Lucas terlihat sangat lembut dan hangat, siapapun yang melihatnya pasti akan meleleh.
Allen memegang tangan Lucas yang masih dikalungkan di leher Liyuna. Dia tidak suka seseorang menyentuh Liyuna dengan seenaknya.
"Lepaskan."
Lucas menatap Allen, kedua mata ungunya mulai menggelap melihat Allen. Dia merasa sangat lucu karena sikap Allen terlihat dengan sangat jelas.
'Ah, sepertinya dia menyukai Yuna.'
"Aku tidak mau." Lucas menantang Allen dengan memberikan senyuman palsu yang sering ia perlihatkan pada orang lain.
Senyuman yang terlihat tidak berbahaya namun memiliki arti yang dalam.
Melihat suasana yang semakin tidak enak, Liyuna langsung melepaskan diri dari Lucas.
"Kapan kau kembali?" Tanya Liyuna lada Lucas.
"Tadi pagi."
"Kenapa tidak memberitahu kami?" Yvette berjalan mendekati Liyuna dan Lucas.
Mereka dulunya adalah teman yang cukup dekat, bahkan mereka juga sempat pergi bermain bersama. Setelah lama tidak bertemu, Yvette merasa sangat emosional. Dia senang bisa bertemu lagi dengan Lucas karena sebelumnya dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Maafkan aku."
"Siapa dia kak?" Yuriel yang sedari tadi diam melihat kearah Lucas.
Ini pertama kalinya Yuriel dan Lucas bertemu. Di dalam game, Lucas bukanlah tokoh utama. Dia hanya tokoh sampingan yang bahkan namanya tidak pernah disebut.
"Ah, perkenalkan dia Lucas. Temanku saat masih SD."
Lucas terlihat menatap Yuriel. Untuk sesaat tidak ada emosi apapun di matanya namun semua itu berubah dengan cepat. Seperti biasa, Lucas menampakkan senyumannya yang terlihat sangat tidak berbahaya namun bisa membuat siapa saja lengah.
Ini pertama kalinya Lucas melihat Yuriel, begitu juga dengan Allen. Sejak dia kembali ke Rusia sembilan tahun yang lalu, Lucas tidak memiliki informasi apapun tentang dunia luar. Dia tidak bisa menggunakan ponsel pintarnya dan sambungan internet yang dia pakai juga dipantau. Karena itulah dia tidak mengenal kedua orang yang sepertinya dekat dengan Liyuna dan Yvette.
Yah, bagaimana pun juga sembilan tahun telah berlalu. Banyak hal yang Lucas tidak ketahui.
Meski begitu, Lucas tetap mencoba untuk bersikap seramah mungkin. Bersikap ramah adalah salah satu keahliannya jadi dia tidak perlu susah-susah mengelabuhi mereka.
TBC