
Yuda terlihat berjalan di sebuah lorong yang diselimuti oleh kaca. Ia bisa melihat bayangan yang terpantul dari sana. Sesekali, orang-orang berpakaian putih-biru berjalan melewatinya dengan membawa banyak sekali tumpukan kertas. Beberapa diantaranya membawa sebuah iPad yang entah akan digunakan untuk apa.
Yuda sampai di ujung lorong, ia berdiri di depan sebuah pintu besar berwarna coklat.
"Huuuh..." Ia menarik napas dalam-dalam
Sebenarnya, Yuda tidak terlalu senang datang ke kantor pusat karena suasana yang kurang menyenangkan. Namun di tempat inilah seluruh misi rahasia diberikan dan di tempat inilah para petinggi berada.
Yuda sebagai agen rahasia yang diberi wewenang istimewa juga harus mematuhi peraturan yang ada. Dia tidak bisa seenaknya karena setiap langkah yang ia buat bisa saja membahayakan orang lain.
Setelah merasa sedikit tenang, dia mengetuk pintu perlahan.
"Masuk."
Suara seseorang dari dalam ruangan menyahut ketukan Yuda. Tanpa basa-basi, Yuda langsung mendorong pintu.
Kedua netranya menangkap sosok pria yang sudah terlihat sangat berumur. Rambutnya berwarna putih dan wajahnya sudah mulai ada keriput. Meski begitu, pria itu memancarkan aura kekuasaan yang begitu kental.
Hagen Alizen adalah nama pria tua itu. Dia adalah petinggi kepolisian yang memimpin agen rahasia dan juga tim khusus seperti tim Aegis.
Bagi Yuda yang saat ini menjabat sebagai agen rahasia yang diberi wewenang istimewa, Hagen adalah pemimpin sekaligus atasannya. Dia adalah orang yang dapat menggerakkan orang-orang sepertinya dan menugaskan mereka pada sebuah misi.
"Lama tidak bertemu." Ucap Hagen, ia terlihat menatap wajah Yuda selama beberapa detik.
Mendengar Hagen membuka suara, Yuda langsung memberi salam dengan memasang pose hormat.
"Siap, lama tidak berjumpa pemimpin."
"Tidak perlu seformal itu. Kita kan sudah saling mengenal sejak lama."
Yuda dan Hagen memang sudah saling mengenal sejak lama bahkan sebelum Yuda masuk ke kepolisian.
Yuda pertama kali bertemu dengannya ketika ia masih berumur 6 tahun. Itulah saat dimana mimpi buruknya terjadi, sebuh waktu dimana ia ingin semuanya diulang kembali.
"Baiklah, seperti yang anda inginkan."
Hagen tersenyum mendengar jawaban Allen.
"Bagaiman kabarmu? Kita sudah tidka bertemu sejak kasus pembunuhan Almera Ravenray."
"Aku baik-baik saja, tidak ada masalah apapun."
"Bagaimana dengan kakakmu? Kalian sudah saling bertemu kembali?"
Yuda mengernyitkan dahinya ketika mendengar Hagen menanyakan tentang kakaknya. Sudah sangat jelas bahwa Yuda tidak menyukai kakaknya, Eris. Lalu kenapa Hagen malah menanyakan hal itu padanya? Yuda merasa mood nya menjadi sedikit memburuk.
"Aku belum menghubunginya sejak masuk Akademi dan karena pekerjaanku, aku tidak bisa menghubunginya."
"Benarkah karena hal itu?" Hagen terlihat tidak yakin dengan jawaban Yuda, ia menatap Yuda dengan tatapan seolah tahu bahwa Yuda sedang bohong.
"Tentu saja."
"Meski kalian berada di jalur yang sama?"
Yuda langsung mengerti apa maksud dari perkataan Hagen. Dia sedang membicarakan mengenai pekerjaannya sebagai agen rahasia yang sejalan dengan Eris sebagai ketua tim Aegis. Mereka sama-sama menangani kasus yang tidak bisa ditangani oleh personel biasa.
"Itu tidak benar, saya bekerja secara individu dan kakak saya bekerja secara tim."
Hagen tertawa kecil mendengar jawaban dari Yuda.
"Memangnya aku tidak tahu jika hubungan kalian berdua tidak baik."
Yuda hanya terdiam, disaat seperti ini lebih baik dia tidak membuka suara.
"Kenapa hubungan kalian seburuk itu? Padahal kalian kan kakak adik."
"Karena jarak umur kami yang terlalu jauh, kami memiliki pemikiran yang berbeda."
"Aku tidak yakin dengan hal itu, padahal saat kau masih kecil Eris sering membawamu melakukan misi."
Yuda kembali terdiam karena di tidak bisa menyangkal hal tersebut. Sejak monster bernama Eris itu mengetahui kelebihannya, dia selalu mengeksploitasi dirinya dan memanfaatkannya demi keuntungan semata.
Apa itu kakak? Apa itu adik? Dan apa pula itu hubungan darah dan keluarga?
Yuda tidak paham. Monster macam Eris yang hanya bisa menyedot darahnya tidak bisa disebut sebagai seorang kakak.
"Jadi apa yang ingin anda katakan sampai harus mengirim sinyal darurat pada saya?"
"Ah, benar. Jika bertemu denganmu aku jadi pelupa." Hagen teringat sesuatu setelah mendengar ucapan Yuda.
Ia mengambil sebuah berkas yang ada di lacinya dan memberikannya pada Yuda.
Yuda yang menerima berkas tersebut langsung melihat isinya secara sekilas. Kedua matanya seketika menggelap ketika membaca sesuatu yang tidak ingin ia ingat.
'Frozen December dan juga Reindra.'
"Apa yang anda inginkan dengan kasus lama ini?"
"Cari tahu keberadaannya."
"Siapa?"
"Mantan ketua tim Aegis, Reindra."
Kedua mata Yuda membulat dengan sempurna ketika mendengar nama mantan ketua tim Aegis disebut.
"Itu tidak mungkin, ketua Reindra seharusnya sudah..."
Yuda tidak bisa melanjutkan ucapannya. Sebagai salah satu saksi hidup atas kejadian tersebut, Yuda tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika nama pria itu disebut.
"Benar. Sebagai salah satu dari dua orang yang mengetahui kebenaran dari insiden tersebut, kau pasti tahu kalau Reindra dinyatakan telah meninggal."
"Itu adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa diubah. Jika kau melihat insiden itu secara langsung kau pasti tidak akan pernah berpikir bahwa dia bisa selamat."
"Meski begitu, jasad Reindra tidak pernah ditemukan hingga saat ini."
"Itu tidak membuktikan bahwa dia masih hidup. Berikan aku bukti yang konkrit, baru aku akan mempercayaimu."
"Buka halaman selanjutnya." Hagen meminta Yuda untuk membuka lembar selanjutnya dari berkas yang ada di tangannya.
Yuda melakukan apa yang Hagen minta dan melihat sebuah laporan yang mengindikasikan bahwa Reindra masih hidup. Tidak hanya itu, laporan tersebut juga disertai beberapa foto seorang pria yang blur.
"Kenapa kau memberikan misi ini padaku?"
"Karena kau pernah terlibat dalam insiden tersebut."
"Tidak hanya aku, masih ada kakakku."
"Aku yakin kau paham apa maksudku. Bukankah insiden itu terjadi karena kalian berdua."
"Apa maksudmu?"
"Frozen December. Bukankah, kau dan Eris yang membuat insiden itu terjadi?"
Yuda menggerakkan giginya dengan sangat kasar. Dia ingin membantah seluruh ucapan Hagen namun tidak bisa. Apa yang Hagen ucapkan adalah kebenran. Dia memang terlibat dalam insiden itu.
"Aku tidak ingin menerima misi ini karena saat ini aku masih harus mengintai Cerberus."
"Itulah kenapa aku memintamu melakukan ini. Hanya kau yang bisa melakukannya."
"Cerberus dan Reindra, apa itu ada hubungannya?"
Hagen tersenyum mendengar pertanyaan Yuda yang tepat sasaran. Inilah salah satu alasan menyukai Yuda. Dia adalah pemuda yang jarang ia ditemui, memiliki insting kuat dan pemikiran tajam, dan tentu saja dapat menyimpulkan sesuatu hanya dengan sedikit informasi.
"Benar, menurut laporan Reindra terlihat memasuki area milik Cerberus."
Yuda menutup berkas yang ada ditangannya.
"Kau akan melakukannya kan?"
Yuda tidak punya pilihan lain. Meski merasa enggan, dia harus mengambil misi ini karena mungkin saja bisa membawanya menemukan bangkai Cerberus.
Dan mungkin saja ini saatnya dia menghadapi masa lalunya. Dikehidupannya dia yang sebelumnya, dia gagal untuk menemukan Cerberus hingga membuatnya kehilangan seseorang yang berharga. Dia juga tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, setiap hari tenggelam dalam rasa bersalah dan mimpi buruk.
Namun semua itu sedikit berubah ketika dia datang. Bagai cahaya, dia datang menyinari hidupnya yang gelap, membuat seluruh kegelapan sirna.
Kali ini, dia sudah membuat keputusan. Dia akan menghentikan Cerberus dan menyelesaikan maa lalunya.
TBC
[A/N: Early update for my beloved readers🥰 karena akhir-akhir ini jumlah vote dan view naik, anggap aja ini sedikit bonus dari author untuk kalian. See you next time~]