Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 64 - Seperti Biasa



Hari pertama masuk sekolah biasanya hanya akan diisi dengan sesi perkenalan, pemilihan ketua dan wakil ketua kelas, serta pemilihan bangku. Wali kelas bertanya apakah kelas 1-1 ingin tempat duduknya tetap seperti sekarang atau diacak. Semua setuju untuk tidak mengacak tempat duduk karena tempat duduk yang mereka inginkan memanglah disitu.


Setelah mencapai kesepakatan, wali kelas meminta Yuriel dan Allen untuk ke ruang guru saat istirahat untuk memberikan laporan pasti tempat duduk siswa.


"Kak, aku ke ruang guru dulu, ya." Ucap Yuriel sembari membawa kertas berisi tempat duduk siswa.


"Mau aku temani?" Tanya Liyuna, dia merasa sedikit khawatir karena Allen terlihat sangat agresif pada Yuriel.


"Tidak perlu. Wali kelas meminta ketua dan wakil ketua untuk ke sana."


Yuriel mengatakan hal tersebut dengan senyuman, dia dengan senagaja menekan kata 'wakil ketua kelas' dan melirik ke arah Allen.


Anehnya, Allen yang melihat itu tidak terprovokasi. Ia malah berdiri dari tempat duduknya dan setuju untuk ikut dengan Yuriel.


Yvette dan Liyuna yang melihat hal ini merasa terkejut karena sebelumnya, Allen selalu tidak mau jika ada Yuriel.


"Apakah dunia sebentar lagi akan hancur?" Bisik Yvette, ia menatap punggung Yuriel dan Allen yang semakin menjauh.


Liyuna juga merasa heran namun dia tidak terlalu memikirkannya karena mungkin saja ini adalah kehendak developer game. Yuriel adalah heroine dalam game dating simulation 'Red String', sedangkan Allen adalah salah satu target. Pemandangan seperti ini bukan lah sesuatu yang aneh bagi Liyuna.


Allen berjalan di depan dan Yuriel mengikutinya dari belakang.


Mereka berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Yuriel memecah keheningan diantara mereka.


Dia tahu kalau Allen mau menemaninya bukan karena dia memang ingin melainkan karena ada sesuatu yang ingin dia katakan padanya.


Allen menghentikan langkahnya, ia menatap kedua mata Yuriel.


"Apa yang kau rencanakan?"


"Tidak ada."


"Kau pikir aku akan percaya?"


"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak."


Allen mendengus mendengar ucapan Yuriel yang meragukan. Bagi Allen yang sudah mengetahui siapa Yuriel sebenarnya, dia tidak akan percaya begitu saja pada wanita satu ini.


Allen berjalan mendekati Yuriel, tubuhnya yang lebih besar dari Yuriel menutup cahaya matahari sehingga membuat bayang-bayang.


"Aku tidak akan membiarkanmu jika kau berani melakukan hal yang sama."


Allen mengancam Yuriel namun entah mengapa Yuriel terlihat tidak terpengaruh sama sekali. Dia tidak merasa terintimidasi saat Allen mengancamnya.


Tidak ada yang tahu apa maksud dari pembicaraan mereka berdua. Sejak pertama kali mereka bertemu, Allen dan Yuriel selalu berbicara dengan kata-kata yang menyembunyikan arti. Hanya mereka berdua yang tahu mengenai apa yang sedang mereka bicarakan.


Tidak apa, semua juga pasti akan terungkap pada saatnya.


Sesampainya di ruang guru, Yuriel langsung memberikan kertas berisi nama dan tempat duduk murid kelas 1-1 pada wali kelas. Wali kelas mengucapkan terima kasih atas kerja keras yang telah Yuriel lakukan dan memintanya untuk beristirahat.


Allen pergi entah kemana setelah wali kelas memintanya untuk istirahat. Yuriel juga tidak terlalu peduli pada keberadaan Allen, dia kembali ke kelas untuk makan siang bersama dengan Liyuna dan Yvette.


Seperti biasa, mereka bertiga selalu bersama di sekolah. Sudah 6 tahun lamanya Liyuna dan Yvette mengenal Yuriel dan mereka menjadi dekat satu sama lain. Karena saat ini mereka berada di tempat baru, banyak yang masih belum terbiasa dengan kumpulan gadis cantik ini. Banyak yang melirik kearah mereka dan melihat betapa tidak biasanya grup Liyuna.


Cantik, pintar, sopan, dan elegan. Benar-benar sosok yang sempurna.


Sesampainya di kantin, ketiganya memesan makanan sesuai dengan keinginan mereka. Liyuna memesan egg mayo sandwich dan red velvet dingin, lalu Yvette memesan spaghetti carbonara dan lemonade, dan terakhir Yuriel memesan ramen dan amerikano dingin.


Seperti kantin pada umumnya, saat makan siang tempat ini begitu ramai dengan pengunjung.


"Kamu sudah memutuskan akan bergabung dengan klub apa?" Tanya Yvette pada Yuriel, dia penasaran dengan klub pilihan Yuriel.


"Hmm... aku belum memutuskannya."


"Bagaimana dengan klub musik? Permainan biola mu kan sangat bagus."


"Bagaiman dengan klub melukis? Lukisan Yuri kan juga sangat bagus." Liyuna mencoba memberikan saran.


Lukisan Yuriel memang sangatlah bagus, hal ini juga sering di sampaikan dalam game sehingga Liyuna tidak ragu akan kehebatan Yuriel dalan melukis.


Sebenarnya Liyuna yang ada di dalam game juga pandai melukis, namun 'Riana' tidak begitu. Karena itulah dia memilih kerajinan tangan sebagai ganti melukis. Untung saja Sara adalah seorang desainer, jadi tidak akan ada yang terlalu mencurigainya.


"Melukis ya..."


"Mungkin aku akan mencobanya." Lanjut Yuriel menyetujui saran Liyuna.


Mungkin melukis lebih cocok dengannya dari pada kelas biola. Dikatakan bahwa Yuriel sangat jago bermain biola bahkan dengan kemampuannya dia sebenarnya bisa ikut kompetisi, namun entah mengapa Yuriel merasa sedikit tidak tertarik. Dia menginginkan sesuatu yang baru dan mungkin saja melukis bisa dia jadikan jalan untuk melarikan diri dari pikirannya yang mulai berkabut.


"Aku dengar kau ikut klub teater." Ucap Liyuna, ia menatap Yvette yang sedang menyeruput lemonade yang ia pesan.


"Benar, aku sangat tertarik dengan duni peran. Kebetulan juga ketuanya adalah kenalanku, jadi aku bisa masuk lebih mudah."


"Aku baru tahu kau tertarik dengan dunia peran." Ucap Yuriel.


"Aku juga baru tertarik, sebelumnya sih tidak terlalu."


Sepertinya hanya Liyuna yang tidak mendaftarkan diri di klub mana pun. Kedua temannya mendaftarkan diri sedangkan dia tidak.


"Oh ya, aku dengar Yuna bergabung dengan OSIS?" Tanya Yvette.


Saat Liyuna ke ruang kepala sekolah minggu lalu, Yvette juga harus menemui ketua klub teater sehingga dia tidak tahu alasan mengenai mengapa Liyuna di panggil oleh kepala sekolah. Yvette baru tahu setelah Yuriel memberitahunya.


"Benar, kepala sekolah meminta ku untuk bergabung."


"Apakah sudah ada pengumuman?"


"Katanya sih, hari ini."


Setelah memberikan formulir pendaftaran pada Veya, Liyuna langsung diminta untuk mengikuti seluruh prosedur mulai dari ujian tertulis dan wawancara sehari kemudian. Walau Liyuna masuk OSIS lewat jalur istimewa dan sudah dipastikan lolos, ia tetap harus menunggu pengumuman resmi yang katanya akan diumumkan di hari pertama masuk sekolah.


"Yuna memang hebat." Ucap Yvette, dia menatap Liyuna dengan mata berbinar-binar.


Liyuna terkekeh mendengar ucapan Yvette. Menurutnya dia tidak sehebat seperti yang Yvette pikirkan.


"Itu berlebihan."


"Tentu saja tidak. Tidak semua orang bisa masuk OSIS di SMP Lunaria, hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa."


Apa yang Yvette katakan sebenarnya kurang benar. Beberapa anggota OSIS masuk dengan cara paksa. Alasannya, menjadi anggota OSIS di sekolah elit seperti Lunaria dapat meningkatkan CV mereka dan akan sangat berguna di masa depan. Apa lagi jika mereka bisa menjadi ketua OSIS, banyak keuntungan yang bisa mereka dapatkan.


Setelah mereka bertiga selesai makan siang, ketiganya kembali ke kelas. Di kelas, banyak yang sedang saling berkenalan. Murid lain juga mengajak Liyuna dan yang lainnya berkenalan. Mungkin karena orang-orang disekitar Liyuna adalah remaja yang umurnya sudah lewat dari 10 tahun, mereka dengan dewasa menerima Liyuna dan juga Yuriel. Tidak ada satu pun yang memperlakukan keduanya dengan berbeda. Hal ini membuat Liyuna dan Yuriel merasa senang karena mereka bisa dekat dengan murid lain dan berteman dengan mereka.


"Aku tidak menyangka bisa satu kelas dengan Liyuna." Ucap salah seorang murid, dia terlihat begitu bahagia bisa sekelas dengan Liyuna.


"Benar, melihat Liyuna dan Yuriel secara langsung seperti melihat supermodel."


Meski murid lain memperlakukan Liyuna dan Yuriel secara biasa, terkadang beberapa orang masih melontarkan kata-kata seperti barusan. Mereka terlalu mengagumi visual Liyuna dan Yuriel yang memang sangat otherworldly.


Berbeda dengan Liyuna dan Yuriel yang sebelumnya kesulitan mencari teman, Yvette yang sejak awal memang mudah bergaul dengan siapa saja dengan mudahnya berteman dengan murid kelas 1-1. Bahkan dia juga mengenal beberapa murid di kelas lain. Jika melihat hal ini, Liyuna jadi teringat kenapa di dalam game Liyuna asli memiliki banyak pengikut. Semua pasti karena Yvette yang mempengaruhi murid lain untuk mendukung Liyuna.


Teman tokoh wanita jahat dalam game memang tidak bisa di remehkan. Dia memiliki skill persuasif yang sangat luar biasa. Hanya dengan mengatakan beberapa hal saja dia bisa mempengaruhi orang lain dan berbalik untuk memihak Liyuna.


Keseharian Liyuna di sekolah akan berlanjut untuk beberapa bulan kemudian.


TBC


[A/N : Umur tokoh sampai chapter ini, jangan terlalu kaget sama umur Hajun😂 sejak awal author udah bilang jarak umur-nya sama Liyuna emang 11 tahun]