Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 151 - Kebenaran



Setelah berpisah dengan Yuriel, Allen tidak langsung pulang ke kediaman Ravenray. Dia pergi ke apartemen Victor untuk bermalam disana.


Sepertinya dia belum siap menerima cecaran pertanyaan yang akan keluar dari mulut kakak tirinya, Zion. Setelah tindakan egoisnya menggunakan kekuatan Ravenray, pastinya Zion sebagai pemegang kekuasaan tertinggi saat ini memiliki banyak pertanyaan.


Namun berbeda dari pemikiran Allen, Zion sejak awal tidak memiliki niat untuk memojokkan Allen atas tindakannya. Malahan, saat ini dia merasa sedikit aneh.


Entah kenapa ketika mendengar berita penculikan Nona Muda dari keluarga Castris itu, dia ikut merasa takut dan bingung. Padahal keduanya tidak pernah memiliki interaksi spesial yang bisa membuatnya merasa seperti ini.


Hal yang berkesan diingatan Zion tentang Liyuna hanyalah teh hangat yang pernah gadis itu berikan padanya ketika pemakaman Ibunya. Selebihnya, tidak ada yang membuat gadis itu menonjol. Bahkan ketika dia meminta gadis itu untuk berdansa dengannya, Zion hanya berpikir tindakannya sebagai ucapan terima kasih untuk teh waktu itu.


Benar, tidak ada yang spesial dan tidak ada yang membuat gadis itu menonjol selain kecantikannya.


Karena itulah, dia merasa bingung dan tidak mengerti. Kenapa dirinya yang sama sekali tidak akrab atau bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Liyuna merasa seakan dunia telah runtuh ketika gadis itu di culik?


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini, bahkan jika itu Zion sendiri.


Di sisi lain, Karl terlihat sedang berbicara dengan istrinya, Sara.


"Ada apa?"


"Yuna, sepertinya ada sesuatu yang menganggunya."


"Apa maksudmu?" Karl bertanya dengan nada suara yang lembut.


Dia tahu sejak bahwa Sara sebenarnya sedang marah padanya karena telat memberi tahu berita penculikan Liyuna. Namun walau marah, Sara juga berusaha untuk mengerti.


Jika dia tahu pada detik itu juga kalau putrinya telah diculik, Sara pasti akan bertindak di luar batas. Pikirannya pasti akan terhalang kabut dan dia tidak akan bisa mengambil tindakan yang tepat.


"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi sejak dia tersadar, dia terus meminta untuk bertemu denganmu."


Karl terdiam sejenak, dia mengintip dari bali jendela, melihat apa yang sedang Liyuna lakukan di dalam bilik kamar.


"Apa menurutmu dia sudah mengetahui kebenarannya?"


"Aku tidak yakin, tapi... Bukankah seharusnya dia sudah mengetahuinya?"


Benar, pelaku utama penculikan malam itu tak lain dan tak bukan adalah Harrioth, adik kandung dari Karl sendiri.


Malahan aneh jika Liyuna tidak mengetahuinya sampai sekarang. Harrioth dapat dipastikan ada di kepal malam itu, dan kemungkinan besar telah bertemu dengan Liyuna secara langsung.


Karl menutup matanya selama beberapa detik, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruang rawat Liyuna.


Sara yang melihat suaminya telah membuat keputusan hanya bisa berdoa agar semua berjalan dengan baik. Menurutnya, Liyuna memiliki hal untuk mengetahui semuanya.


Dia bukan lagi anak kecil yang tidka tahu apa-apa. Putrinya kini sudah menjadi orang yang kuat dan cerdas, dan Sara percaya padanya.


Mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka, Liyuna menoleh. Dia melihat sosok Papanya yang selama ini ingin dia temui.


Karl tersenyum ketika kedua matanya jatuh pada sosok Liyuna. Dia terlihat begitu lega melihat putri yang disayanginya terlihat baik-baik saja.


"Bagaimana kabarmu?" Tanyanya dengan suara lembut.


Karl menaruh buket bunga yang sengaja ia bawa untuk Liyuna ke sebuah vas kosong.


"Aku baik-baik saja..."


Melihat eskpresi putrinya, sepertinya dia memiliki banyak pertanyaan untuk Karl.


"Sepertinya Yuna punya banyak pertanyaan untuk Papa, ya?"


"Papa, apakah aku punya seorang Paman?"


"Langsung pada poin utama?" Karl terlihat sedikit terkejut ketika mendengar Liyuna langsung menanyakan tentang Harry, "Putri Papa sepertinya tidak sabaran."


Bagaimana bisa Liyuna bersabar? Dia sudah mati berkali-kali karena tidak tahu kebenaran ini. Kali ini, dia ingin mengetahuinya. Tidak, dia harus mengetahuinya.


"Orang itu dia memperkenalkan diri sebagai Pamanku," ucapan merujuk pada Harry ketika berada di kapal. "Dia bilang aku adalah keponakannya." Lanjutnya menjelaskan.


Karl duduk di kursi samping ranjang Liyuna, dia menggenggam tangan dingin putrinya dengan lembut.


"Itu benar, orang itu adalah Pamanmu, adik kandung Papa."


Liyuna memang sudah siap untuk mendengar kebenaran yang ada, namun ketika kebenaran itu keluar langsung dari mulut Karl, dia menjadi sedikit gugup.


Liyuna meneguk ludahnya dengan kasar, menatap kedua mata biru Karl yang identik dengan miliknya dengan seksama.


"Jika itu benar, lalu bagaimana bisa dia menjadi seperti itu?"


Meski tidak mengatakannya secara jelas, Karl paham apa yang Liyuna maksud.


Perkataan Liyuna mengarah pada identitas Harry sebagai pemimpin organisasi kriminal paling berbahaya. Bagaimana bisa, adik seorang Karl terjerumus dalam kegelapan yang tak ada akhirnya? Liyuna tidak mengerti.


Melihat bagaimana kekejaman Harry dengan kedua matanya, membuat Liyuna semakin penasaran. Harry bukanlah orang yang baik, dia jauh dari kata itu.


Kalau begitu bagaimana bisa dia bebas berkeliaran sampai sekarang? Bukankah dia penjahat? Kenapa tidak ada yang menangkapnya?


Apakah ini karena kekuatan keluarga Castris? Liyuna bertanya-tanya.


Karena Harry dia mengalami kematian berulang kali. Tidak, bahkan Yuriel sendiri...!


"Ceritanya akan sangat panjang, apakah Yuna siap untuk mendengarkan?" Tanya Karl.


Liyuna terdiam sejenak, dia terlihat mencoba untuk mempersiapkan diri. Dia harus tahu kebenarannya dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di kehidupannya yang terdahulu.


Kenapa Yuriel melakukan itu padanya? Kenapa Papanya juga mengabaikannya? Kenapa mereka berbuat seperti itu padanya dan Mama?


Ingin rasanya Liyuna berteriak dan menangis sekuat tenaga. Dunia yang selalu dia anggap sebagai permainan ternyata adalah dunianya yang sebenarnya.


Meski tidak tahu apa alasan dia selalu bereinkarnasi setelah kematian, Liyuna merasa harus mengetahui terlebih dahulu kebenaran yang sudah ada di depan mata.


"Aku siap untuk mendengarkan."


"Ini salah cerita yang sudah lama terjadi, mungkin sekitar 26 tahun yang lalu ketika Papamu masih sangat muda," Karl memulai ceritanya.


Dia kembali mengingat-ingat kenangan masa lalu yang selama ini hanya jadi kenangan saja. Memori-memori indah namun menyakitkan kembali bangkit, seolah dimainkan oleh rol film yang selalu berputar.


"Saat itu bahkan Papa belum mengenal Mamamu. Papa masihlah seorang anak muda yang naif dan manja. Selalu membuat masalah di manapun dan sering membuat kakekmu kewalahan."


Atmosfir disekitar mendadak menjadi sunyi, hanya ada suara AC yang terdengar dan juga suara Karl yang memulai ceritanya.


Karl menutup kedua matanya, gambaran-gambaran mengenai masa lalu berputar jelas diotaknya.


Seorang anak muda berumur 16 tahun yang belum mencapai umur dewasa. Seorang pemuda yang lahir dari keluarga paling terpandang seantero Negeri, calon pemegang tahta utama yang selalu di-Rajakan.


Ini adalah cerita yang terjadi sekitar 26 tahun yang lalu, ketika sang Raja belum memulai debutnya di kalangan sosial kelas atas.


TBC