Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 145 - Barang Terakhir



Tiba-tiba beberapa orang berpakaian serba hitam muncul. Mereka terlihat memiliki badan besar dan juga kekar.


Orang-orang yang berada di dalam sel melihat kedatangan mereka dan menciut ketakutan.


Liyuna juga merasakan firasat tidak enak. Sepertinya sesuatu yang buruk sebentar lagi akan terjadi.


Nava yang berada tak jauh dari Liyuna juga terlihat mulai serius. Dia terlihat sedang bersiap-siap akan apa yang sebentar lagi terjadi.


"Cepat, bawa barang terakhir!"


Suara sel yang dibuka terdengar begitu jelas ditelinga. Siapapun yang melihat hal ini, memojok ketakutan.


Mereka tidak ingin dijual. Mereka bukanlah barang dagangan. Suara tangisan orang-orang mulai terdengar, membuat Liyuna tidak bisa berpikir karena ikut terbawa dengan suasana.


Nava yang lebih tua darinya dan terlihat lebih berpengalaman menghadapi situasi genting, memegang tangannya dengan lembut. Hal ini membuat Liyuna merasa sedikit tenang.


Namun semua itu tak berlangsung lama. Orang berpakaian serba hitam itu menarik rantai yang mengikat tangan Liyuna dengan kasar hingga tubuhnya jatuh terjerembab.


"Apa yang kau lakukan?! Bagaimana bisa kau bertindak kasar pada perempuan!" Teriak Nava tatkala melihat Liyuna yang terjatuh.


Teriakan Nava tidak digubris sama sekali. Liyuna dipaksa untuk keluar dan dibawa menuju tempat yang tidak diketahui.


"Hei! Kenapa kalian membawanya?! Lebih baik bawa aku!!"


Semakin lama, bayangan Liyuna semakin tidak terlihat.


Liyuna, menahan sakit yang ada ditangan dan kakinya. Dia merasa bahwa mungkin saja tulang di tangannya patah. Meski begitu, dia tidak bisa protes. Ia hanya bisa mengikuti dalam diam.


Di sisi lain di tempat pelelangan, para tamu terlihat tidak sabar dengan barang terakhir yang tidak masuk dalam katalog.


"Saya tahu, para tamu yang terhormat sudah menunggu untuk barang terakhir." MC mulai berbicara, ia mencoba untuk membuat suasana semakin menegangkan.


"Tapi kalian harus sedikit bersabar. Barang kali ini memiliki sebuah keistimewaan."


Aula pelelangan terdengar semakin gaduh. Semua terlihat tidak sabar untuk melihat barang seperti apa yang akan ditawarkan.


"Jika menunjukkan pada orang yang tepat, kalian bisa mendapatkan apapun yang diinginkan."


MC terlihat mondar-mandir di panggung. Menatap para tamu dengan senyuman misterius.


"Kalian tahu kenapa?"


Tentu saja tidak ada yang bisa menjawab.


"Karena barang terakhir adalah..."


Seketika lampu yang menyorot kearah panggung dimatikan. Beberapa detik kemudian, lampu kembali menyala dan menyorot sosok gadis muda berambut hitam.


"Putri satu-satunya keluarga paling tersohor di Negara Zen serta pewaris sah Castris Group, Liyuna Aris Castris!!!"


Suara bisik-bisik diantara para tamu kembali terdengar. Melihat sosok yang tidak asing, membuat mereka semakin bersemangat.


Ini adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin mereka bisa menangkap Putri keluarga Castris yang terkenal itu??


Benar-benar pencapaian luar biasa. Hanya dengan keberadaannya saja, siapapun pasti bisa hidup dengan nyaman. Itulah kekuatan besar keluarga Castris.


Raksasa bisnis yang mengatur keberlangsungan hidup sebuah Negara.


"Bagaimana kalau kita mulai dari $100.000? Lelang dimulai!!"


Suara drum terdengar di seluruh penjuru ruangan, menambah kesan misterius yang ada.


Liyuna yang dinyatakan sebagai barang lelangan terlihat masih kebingungan. Dia belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi walau beberapa menit telah berlalu dan angka lelang semakin tinggi.


Saat ini Liyuna berusaha melihat sekelilingnya. Disampingnya hany ada MC yang sedang menaikkan harga lelang.


Lalu dihadapannya, ada banyak sekali orang-orang yang memakai topeng. Liyuna tidak bisa mengenali satupun diantara mereka.


"$110.000!"


"$110.500!"


"$120.000!"


Harga semakin meninggi, Biern terlihat tenang dan tidak mengambil tindakan apapun meski sebelumnya dia terlihat dengan barang terakhir.


Apakah dia kecewa karena barangnya hanyalah seorang manusia? Tentu saja tidak. Dia saat ini hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membidik.


Layaknya seekor binatang buas yang sedang menunggu mangsanya, Biern mengamati situasi dengan cermat.


"$140.500!!"


"$150.000!!!"


"$300.000!!"


Para tamu yang mendengar angka tersebut banyak yang terkejut.


"$500.000!!"


"$700.000!!"


Selama beberapa detik tidak ada kenaikan angka, membuat MC mulai menutup lelangan.


"$700.000 going once!"


"$700.000..."


Namun tiba-tiba seseorang kembali menaikkan papannya. Melihat hal itu, MC yang sejak tadi memandu jalannya lelang merasa sedikit merinding.


Angka yang sangat fantastis, "$150.000!!"


Suara terkejut para tamu tidak bisa disembunyikan. Tidak ada yang menyangka akan ada yang menawar dengan harga setinggi itu.


Walaupun dibilang barang terakhir pun, sebenarnya siapapun yang mendapatkan Liyuna bisa saja berada dalam masalah.


Walaupun itu juga memungkinkan mereka mendapatkan banyak hal. Banyak yang tidak mau menanggung resikonya.


Lea yang sejak tadi duduk di samping Biern pun terlihat sangat terkejut seolah baru saja terkena sebuah ledakan bom. Dia menatap Biern dengan wajah tidak percaya.


Siapa sangka pria di sampignya lebih kaya darinya. Lea telah kalah telak.


"$850.000 going once!"


"$850.000 going twice!"


"$850.000..." MC bersiap untuk mengetuk palu.


Namun secara tiba-tiba, Liyuna yang sejak tadi terdiam menyerangnya dengan sebuah belati kecil hingga membuat separuh wajahnya terluka.


"Aaaargh!!!" Teriaknya kesakitan.


Dia memegang wajahnya yang mulai mengeluarkan darah akibat luka yang terbuka oleh belati.


Melihat kejadian barusan, para tamu mulai berteriak karena terkejut.


Liyuna memegang belati penuh darah dengan erat. Belati yang ada ditangannya adalah pemberian dari Nava.


Sebelum dia diseret kemari, Nava menyelipkan sebuah belati di kantung baju yang ia kenakan. Dan saat inilah, Liyuna memakainya.


Melihat kekacauan yang terjadi, Liyuna melompat kebawah panggung dengan tekad yang bulat meski harus jatuh dan terguling-guling di lantai.


Kakinya terasa sakit karena terjun dari ketinggian yang lumayan, namun dia tidak mempedulikan hal itu.


Para tamu yang melihat Liyuna berusaha kabur, terlihat mulai panik.


"Penjaga!!"


"Cepat tangkap dia!"


"Jangan biarkan dia kabur!"


"Dasar wanita ******!!"


Banyak suara yang saling bertubrukan, membuat kepala Liyuna sedikit sakit.


Namun dia masih berusaha untuk kabur kearah pintu keluar yang ada dihadapannya.


"Hei, apa ini akan baik-baik saja?" Lea yang terkejut dengan perubahan keadaan, mencoba untuk menenangkan diri dengan berbicara pada Biern.


Namun entah sejak kapan, Biern tidak ada. Kursinya kosong seolah dia tidak pernah ada disana.


"Aneh? Bukankah beberapa menit yang lalu dia masih ada disini?" Gumam Lea.


Liyuna berlari menuju pintu keluar dengan sekuat tenaga. Para penjaga yang sejak tadi ada disana, berusaha untuk menghentikannya.


Liyuna yang sejak awal tidak bisa bela diri hanya mampu mengancam mereka dengan belati.


Liyuna mencoba untuk menyerang salah satu penjaga namun mereka dengan mudah menggagalkannya.


"Ukkh..." Ucap Liyuna menahan sakit tatkala tangannya di tendang oleh penjaga.


Belati yang ada ditangannya terlepas, kini dia tidak memiliki senjata apapun.


Meski begitu dia tidak menyerah. Mungkin karena adrenalin yang masih terpacu, Liyuna berhasil memukul salah satu penjaga dengan menabrakkan dirinya ke tubuh penjaga. Hal ini membuat penjaga sedikit mundur kebelakang.


Namun dengan cepat ia memperbaiki keseimbangan dan menendang perut Liyuna dengan kuat hingga tubuh kecilnya terbang dan terpental.


Para tamu yang duduk di dekat pintu masuk terlihat mundur menghindari apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak ingin terlibat dalam kekacauan yang memuakkan seperti ini.


Liyuna yang baru saja di tendang terlihat jatuh tersungkur menahan sakit.


Tangannya terasa sakit, begitu pula dengan perutnya.


"Uhuk... Uhuk..."


Mulutnya mulai mengeluarkan darah ketika ia batuk. Dengan cepat Liyuna menyela darah yang ada di bibirnya dan berusaha untuk bangkit kembali.


Namun par penjaga mulai mengerubunginya. Liyuna tidak tahu harus bagaimana melihat hal ini. Dia menjadi putus asa.


Liyuna memejamkan mata dengan erat tatkala melihat salah seorang penjaga berusaha untuk memukulnya kembali.


Dia bersiap-siap untuk merasakan rasa sakit. Namun rasa sakit itu tak kunjung datang.


Ketika Liyuna membuka matanya secara perlahan, dia melihat punggung seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.


TBC