Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 89 - Kesan Pertama (Allen's POV)



Hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya. Aku sering mendengar tentangnya karena dia adalah putri satu-satunya keluarga Castris yang yang terkenal. Sebagai salah satu anggota Ravenray, bukan hal aneh jika dia mengetahui tentangnya. Meski darah yang mengalir di tubuhku hanya separuh dari darah Ravenray, aku masih termasuk kedalamnya.


Dia memiliki rambut hitam bergelombang yang indah. Mata birunya terlihat bersinar dan hidup, tidak peduli apapun yang dia lakukan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan diriku.


Liyuna Aria Castris. Perempuan yang hidup dengan hak paling istimewa diantara yang lainnya itu selalu menjadi target kebencian.


Aneh jika aku tidak mengetahui hal itu. Tatapan orang-orang begitu familiar bagiku, tatapan tidak suka dan kebencian tak berdasar.


Semua melihat kearahnya dengan tatapan iri namun mereka takut untuk mengusiknya. Benar, orang gila macam apa yang berani mengusik di Tuan Putri.


Meski begitu aku tidak terlalu peduli padanya. Kita hidup di dunia yang berbeda dan lebih baik untuk kita tidak saling berhubungan.


Tuan Putri sepertinya tidak cocok berhubungan dengan darah separuh sepertiku. Lagipula, aku juga tidak terlalu menyukainya. Dia memiliki tatapan mata yang tidak biasa, selalu melihat orang-orang disekitarnya seperti tembok dan mengabaikan tatapan kebencian yang mengarah kepadanya.


Namun suatu hari aku tidak sengaja membuatnya jatuh terguling di tangga.


Tubuh kecilnya berhenti tepat dibawah tangga. Ia terlihat tak sadarkan diri namun aku tidak melihat ada darah di kepalanya.


Semua orang yang melihat kejadian langsung berteriak. Guru yang mendengar suara teriakan para siswa langsung datang ke tempat kejadian. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


Saat ini, putri satu-satunya Castris Group tak sadarkan diri karena sebuah insiden.


Guru tersebut langsung menelpon ambulans dan meminta murid lain untuk segera kembali ke kelas dan hanya menyisakan kami bertiga.


Setelah kejadian tersebut, aku diminta untuk pulang dan pihak sekolah memanggil kakakku, Zion.


Setibanya di rumah, aku langsung mengunci diri. Aku tidak ingin mendengar ceramah orang-orang. Aku tahu aku bersalah tapi aku melakukannya bukan karena sengaja.


Perempuan itu dengan seenaknya menghentikan ku. Padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya.


Tok tok...


Aku bisa mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Allen, buka pintumu."


Suara yang sangat ku kenal masuk kedalam telingaku.


Aku tidak ingin membukanya namun jika tidak aku lakukan, Zion pasti akan menceramahi ku. Orang itu adalah tipe yang seperti itu.


"Apa yang kau inginkan?"


Tanpa sadar nada suaraku berubah menjadi ketus. Aku menatap Zion sejenak sebelum akhirnya kembali ke tempat tidur tanpa mendengar jawaban darinya.


"Apa kau sudah merenungkan tindakanmu?"


Hah! Merenungkan apanya. Kenapa aku harus melakukannya? Kau hanya takut pada kekuasaan milik Castris.


Apanya yang keluarga berkuasa? Bahkan Ravenray tidak sebanding dengan ujung rambut perempuan itu.


"Hah! Merenungkan tindakanku?"


Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi ku namun karena lampu di kamarku tidak aku nyalakan, aku yakin Zion tidak bisa melihatnya.


Aku tidak ingin menjawabnya dan aku tidak punya alasan untuk itu.


Jika bukan karena kejadian ini, mana mungkin Zion mau berbicara padanya panjang lebar seperti ini. Dasar hipokrit.


Aku benar-benar tidak menyukainya.


Meski begitu, aku tetap pergi ke rumah sakit itu menjenguk perempuan itu.


Aku langsung membuka pintu tanpa mengucapkan permisi atau apapun.


"Mama, sudah selesai? Aku lapar sekali."


Itu pertama kalinya aku melihat seorang Liyuna Aria Castris tersenyum bahagia.


Aku tidak tahu ternyata dia bisa menampakkan ekspresi seperti itu.


Liyuna Aria Castris.


Ya, wanita yang mendapat julukan Untouchable Queen itu tidak pernah sekalipun menampakkan ekspresi di depan orang lain. Dia selalu memasang muka datar dan dingin, menatap orang-orang disekitarnya seperti melihat sebuah tembok.


Melihat kehadiranku yang tiba-tiba membuatnya membeku ditempat. Dia terlihat sangat terkejut melihatku berada disini.


Tapi aku tidak peduli.


"Oh, um... Selamat datang...?"


Dia menyapaku namun dari nadanya aku tahu kalau dia merasa ragu. Dia pasti tidak menyangka jika orang yang membuatnya terjatuh akan datang dan menjenguknya.


Aku menaruh totebag berisi bubur ayam ke meja yang ada disebelah tempat tidurnya.


"Terima kasih."


Ini pertama kalinya aku mendengar kata terima kasih keluar dari mulutnya. Walau aku tidak terlalu dekat dan mengenalnya namun aku tahu dia bukan tipe orang yang akan mengatakan hal seperti itu.


Setelah itu kami berbicara. Tidak, lebih tepatnya saling membalas ucapan dengan sinis.


Detik itu juga, aku sadar bahwa Liyuna Aria Castris berbeda dari rumor yang beredar.


Dia memiliki sifat yang cukup unik dan menarik.


Aku jadi tidak bisa menahan diriku. Ini pertama kalinya aku merasa senang menggoda seseorang dan dia selalu mengeluarkan reaksi unik dan berbeda setiap aku menggodanya.


Setelah itu, hari-hari berlalu seperti biasanya dan pesta anniversary Raven Group diadakan.


Seperti biasa, aku harus mengikuti pesta ini dan berdiri di samping Zion namun aku tidak menyukainya. Apalagi melihat tatapan orang-orang yang mirip dengan binatang buas setiap melihatku.


Dunia bercahaya ini tidak cocok untuk orang sepertiku. Aku tidak tahu, mengapa dulu aku menurut dan mau saja untuk masuk ke dalam dunia seperti ini.


Setelah ayah memberi sambutan dan resmi memulai acara, seperti biasa aku mencoba untuk melarikan diri dari tempat menyesakkan ini.


Bahkan tidak akan ada yang menyadari bahwa aku menghilang. Semua anggota keluarga lainnya akan langsung dikerumuni oleh orang-orang.


Ini adalah dunia yang seperti itu. Dunia yang mementingkan koneksi lebih dari apapun.


Aku berniat untuk pergi ke balkon namun mengurungkan niatku ketika melihat seseorang yang beberapa bulan yang lalu aku lihat.


'Dia adalah teman orang itu'


Aku berjalan mendekatinya dan dia terlihat sangat terkejut melihat kehadiranku.


Apaan-apaan dengan reaksinya. Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu.


"Kau sendiri? Dimana Ratu-mu?"


Dahinya terlihat mengerut ketika mendengar ku mengucapkan kata 'Ratu'.


"Ratu yang kau maksud adalah Yuna?"


"Siapa lagi kalau bukan dia?"


"Yuna memang terlihat seperti seorang Ratu, tapi kau sepertinya mengatakan itu bukan untuk memujinya."


Oho! Dia ternyata lebih tajam dari kelihatannya. Sekilas dia tampak seperti perempuan bodoh yang selalu mengekori putri tunggal keluarga Castris.


"Tentu saja itu sebuah pujian."


"Lebih baik kau benar-benar bermaksud seperti itu. Jika tidak, aku tidak akan memaafkanmu."


Tanpa sadar aku mendengus mengejek setelah mendengar ucapannya.


Benar-benar sesuatu yang lucu. Jika dilihat dari status pun, dia tidak akan mampu menyentuhku.


Namun aku tidak terlalu memperdulikan ancamannya karena aku tidak terlalu suka hal-hal yang merepotkan.


"Yvette!"


Seketika aku menoleh ke sumber suara.


Perempuan itu, Liyuna Aria Castris berjalan mendekati kami.


Seorang Ratu. Julukan itu memang cocok untuknya. Dari sekian banyak orang, hanya dia satu-satunya yang cocok dengan seluruh gemerlap dunia ini.


"Allen, cepat sapa Yuna!"


Lagi-lagi dia melakukannya. Perempuan bernama Yvette ini aman bertindak seperti itu karena lawannya adalah aku. Jika dia berbicara seperti itu ke orang lain, sudah pasti keluarganya akan menderita penurunan saham.


"Selamat Datang, aku tidak menyangka kau akan datang kemari."


Aku tidak bisa menghentikan mulutku untuk berbicara dengan nada sinis. Mungkin karena aku telah terbiasa melakukannya sejak dulu.


Seperti yang pernah terjadi, lagi-lagi kamu saling mencemooh. Dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang kasar padaku namun jelas sekali bahwa dia merasa tidak senang.


Aku pun juga begitu. Aku tidak bisa menahan diri ketika menghadapinya. Rasanya sangat menyenangkan bisa berbicara secara blak-blakan sepertinya.


Dia juga sepertinya bukan seseorang yang terlalu memerhatikan tata krama. Tidak, mungkin dia akan bertindak sopan jika seseorang berkedudukan penting mengajaknya berbicara.


Ini karena aku adalah seseorang berdarah separuh makanya dia bisa berlaku sesukanya.


Namun sepertinya aku terlalu cepat menilainya.


Ketika aku terbangun di ruang peristirahatan, hanya tersisa Yvette.


"Dimana dia?"


"Yuna pergi ke kamar mandi."


Aku mengusap kedua mataku yang terasa berat dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan.


'Sepertinya aku harus cuci muka.'


Wajahku pasti terlihat seperti muka bantal saat ini. Yah, aku tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya. Sebentar lagi aku akan meninggalkan Elisien dan pergi ke Kanada untuk melanjutkan studi ku.


Di perjalanan menuju kamar mandi, aku melihat sosok familiar yang sedang mengintip dari balik tembok.


Aku berjalan mendekatinya perlahan dari belakang untuk melihat apa yang sedang dia lihat.


Zion terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang lebih muda darinya dan mungkin beberapa tahun lebih tua dariku.


Aku tanpa sadar melirik kearahnya dan melihat dia yang menatap Zion sambil bersembunyi, aku tidak bisa menghentikan diriku dan mengatakan, "Kenapa kau menguping pembicaraan mereka? Kau tertarik dengan kakakku."


"Kau sudah gila?!"


Wajahnya menampakkan perasaan tidak suka sekaligus terkejut seolah-olah aku baru saja mengatakan omong kosong.


Ini pertama kalinya seseorang bereaksi seperti ini terhadap Zion. Meski aku tidak suka padanya, aku mengakui kalau dia memiliki wajah yang tampan dan tidak aneh jika banyak perempuan menyukainya.


Namun dengan tegas perempuan bernama Liyuna ini menyangkalnya. Aku tidak bisa melihat adanya kebohongan dalam kata-katanya.


"Aku tidak akan melakukannya."


"Melakukan apa?"


"Memarahimu di depan semua orang."


Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku setelah mendengar apa yang dia ucapakan.


Tidak akan memarahiku di depan semua orang, ya.


Tanpa sadar aku tersenyum mendengar hal itu. Perempuan di hadapanku ini, tidak, Liyuna Aria Castris benar-benar berbeda dari rumor yang beredar.


"Benar, sangat tidak cocok bagi Nona Castris marah-marah di tempat umum."


"Berhenti memanggilku Nona Castris, itu terdengar seperti ejekan ditelingaku."


Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak ada maksud mengejekmu. Bukankah kau memang seorang Nona dari keluarga terpandang?


"Kalau begitu, Yuna?"


Dia terlihat semakin kesal mendengar diriku memanggilnya dengan nama akrab. Namun bagiku dia terlihat sangat lucu.


"Suatu hari nanti aku akan kembali, jadi jangan melupakanku."


Aku berharap kau mengingatku. Aku tidak ingin kau melupakanku dan aku ingin kau tetap menjadi dirimu sendiri.


Aku salah telah menilaimu dengan tidak baik, karena itulah saat kita bertemu lagi nanti, aku akan menjadi orang yang paling dekat denganmu dan akan selalu berada di sisimu.


Kau membuatku tertarik untuk lebih mengenalmu.


TBC