
Seminggu telah berlalu sejak insiden pengeboman terjadi. Musik dingin terasa semakin menusuk tulang.
Liyuna dan yabg lainnya sudah mulai masuk sekolah seperti biasa. Tidak ada banyak hal yang berubah karena memang hanya satu minggu berlalu.
Di dalam kelas Liyuna terlihat sedikit gaduh. Banyak murid yang membicarakan tentang insiden pengeboman yang terjadi baru-baru ini.
"Aku tidak menyangka, bagaimana bisa polisi lali dalam menjaga keamanan kota."
"Benar, tanpa sadar aku merasa sedikit takut."
"Kenapa hal buruk terjadi di kota Elisien."
"Orang tua ku bahkan memintaku untuk pergi ke luar negeri untuk sementara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."
Mendengar percakapan teman sekelasnya, Liyuna merasa sedikit mengerti dengan perasaan mereka. Orang macam apa yang tidak merasa takut ketika kota tempat mereka lahir dan dibesarkan tiba-tiba menjadi sasaran empuk pasukan teror.
Orang normal pasti merasa gelisah dan ketakutan. Itu adalah reaksi normal yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga penghuni kota Elisien.
"Liyuna, kami dengar kau berada di tempat kejadian secara langsung. Apa kau baik-baik saja?"
Salah seorang teman sekelas Liyuna tiba-tiba saja menyebutkan namanya. Sepertinya dia telah mendengar desas desus mengenai dirinya yang berada ditempat kejadian saat peristiwa itu terjadi meski keluarganya sudah berusaha menutupi.
Liyuna memang seharusnya tak meremehkan mereka. Mau bagaimana pun juga, mereka juga berasal dari keluarga berpengaruh sama sepertinya.
"Benar, tapi aku baik-baik saja."
Liyuna menanggapi dengan enteng. Dia tidak mau terlalu memikirkan peristiwa waktu itu karena ia takut hal tersebut akan membangkitkan ingatan buruk Yuriel.
"Bagaimana denganmu, Yuriel? Apa kau juga baik-baik saja."
Mendengar nama Yuriel disebut, Liyuna berusaha untuk mengalihkan perhatian teman sekelasnya. Ia tidak ingin merek menanyakan hal seperti itu pada Yuriel karena beberapa waktu yang lalu Yuriel sampai sakit akibat kejadian tersebut.
Namun berbanding terbalik dengan ke khawatiran Liyuna, Yuriel terlihat baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Untungnya kami berada jauh dari tempat kejadian."
Yuriel membalas pertanyaan teman sekelasnya dengan senyuman. Ia tersenyum bukan karena senang melainkan karena tidak ingin orang-orang tahu bahwa kejadian tersebut mengganggunya.
"Kau sungguh baik-baik saja?" Suara Allen datang dari belakang.
Entah sejak kapan, ia sudah berdiri dibelakang Yuriel dan Liyuna.
"Tentu saja, kami dilindungi oleh body guard."
"Ah! Benar juga. Keluarga Castris pastinya telah mempekerjakan banyak body guard."
"Iya, ya. Mereka pasti baik-baik saja."
Orang-orang mulai menyadari bahwa ke khawatiran mereka pada Liyuna dan Yuriel mungkin sesuatu yang tidak diperlukan.
Allen yang melihat hal ini memincingkan matanya. Sejak awal ia memiliki mata yang terlihat seperti orang jahat, sehingga ketika ia memincingkan mata, ia terlihat semakin menyeramkan.
Namun dia tidak bisa menahan ekspresinya. Mendengar orang-orang yang tidak tahu apa-apa merasa lega hanya karena Liyuna dan Yuriel dijaga oleh body guard membuatnya sedikit kesal. Mereka tidak tahu bagaimana perasaan Liyuna maupun Yuriel ketika hal itu terjadi tapi dengan berani mereka bersikap seolah peduli.
"Bagaimana dengan Yvette?"
"Sepertinya kedua orang tua Yvette merasa sangat khawatir. Karena itulah mereka meminta Yvette untuk cuti sekolah selama 1 bulan." Ucap Liyuna menjelaskan.
Sepertinya kejadian waktu itu membuat keluarga Yvette khawatir. Mereka merasa bahwa akhir-akhir ini Yvette selalu berada dalam bahaya. Karena itulah mereka ingin Yvette tetap dirumah selama sebulan. Keluarga Yvette bukanlah keluarga berperingkat tinggi seperti Castris dan Ravenray, karena itulah mereka merasa sedikit khawatir. Bagaimana jika suatu hari nanti Yvette kenapa-napa karena dekat dengan dua keluarga tersebut? Kedua orang tua Yvette pastinya tidak akan bisa menolong putri mereka jika hal itu terjadi.
Orang tua Yvette bukannya membenci Liyuna dan yang lainnya, mereka hanya merasa khawatir. Itu adalah hal yang wajar karena sebagai orang tua, mereka pastinya ingin anak mereka selamat dan aman.
"Bukankah 1 bulan waktu yang cukup lama?"
"Mau bagaimana lagi, kejadian kemarin sangat berbahaya."
Allen tidak menjawab, ia kembali ke bangkunya dan menunggu jam pelajaran pertama di mulai.
Sekolah berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang spesial maupun sesuatu yang menarik. Liyuna dengan tekun mengikuti setiap pelajaran yang ada, selama ini dia bisa mendapat peringkat teratas dan ia selalu berusaha untuk mempertahankannya.
Sebagai seseorang yang selaku bekerja keras, ia ingin semua usahanya terbayarkan.
Liyuna dan Yuriel langsung pergi menuju ke kantin untuk makan siang, tidak lupa mereka mengajak Allen.
"Ayo kita ke kantin."
"Aku tidak ikut."
Liyuna dan Yuriel terlihat sangat terkejut mendengar jawaban dari Allen. Tidak biasanya dia menolak ajakan untuk makan siang bersama.
"Ada apa?"
"Aku ada sedikit urusan."
Mendengar hal itu, Liyuna maupun Yuriel tidak mencoba untuk bertanya lebih lanjut karena mereka ingin menghargai privasi Allen. Keduanya pergi ke kantin tanpa dan meninggalkan Allen sendiri di dalam kelas.
Saat ini, ruang kelas sangat sepi. Semua murid berada di kantin untuk makan siang dan hampir tidak ada satupun murid yang mau tinggal dikelas saat jam makan siang. Hal itu dikarenakan sejak kecil mereka terbiasa diajarkan untuk tidak melewatkan jam makan siang. Bagaimana pun juga kemampuan berpikir juga dipengaruhi oleh seberapa kenyang perut kita.
Setelah memastikan bahwa semua murid dikelasnya sudah berada di luar kelas, Allen berjalan menuju jendela. Ia menatap langit yang terlihat sangat gelap karena tertutup awan. Salju turun dengan begitu banyak, menutupi jalanan dengan warna putihnya.
Bulan Januari tahun ini terasa begitu dingin dan entah mengapa Allen merasa sesuatu yang besar akan terjadi tahun ini.
Bagaimana pun juga semua sudah berubah, semuanya tidak sama seperti dulu dan dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjut.
Allen mengambil ponselnya dari saku celana yang ia pakai lalu menekan rentetan nomor seseorang yang familiar dengannya.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara telepon yang tersambung.
"What's wrong?"
"Datanglah ke Elisien."
"Hm? Why?"
"Aku merasa sesuatu akan terjadi. Datanglah kesini dan menetap untuk sementara waktu."
"Is that an order?"
"No, it's a request."
Suara yang berada diseberang telepon terdengar tertawa kecil.
"Kalau begitu aku akan segera ke sana setelah urusanku disini selesai."
Bip...
Allen mematikan sambungan telepon dan memasukkannya kembali ke saku celananya. Kedua matanya terus menatap keluar jendela.
Dia berharap, semua akan baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Disisi lain di sebuah ruangan tempat berlatih, terlihat tubuh Lucas yang terlihat terbanjiri oleh keringat.
Ia menyeka keringat yang ada di wajahnya dengan wristband yang ia pakai.
"Kau benar-benar tidak menahan diri." Ucap Lucas sembari menatap Hajun yang sedang meminum air.
Hari ini Lucas sengaja membolos. Ia tidak ada mood untum bersekolah setelah apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Ketika ia mengetahui bahwa ledakan bom tersebut adalah peringatan untuk Hajun, Lucas tidak bisa berdiam diri. Karena itulah ia membolos dan memilih untuk berlatih bersama dengan Hajun.
"Dalam pertarungan yang sebenarnya, lawanmu tidak akan peduli jika kau terluka. Jadi untuk apa aku menahan diri?"
"Iya iya aku mengerti."
Hajun melemparkan sebotol air mineral kearah Lucas. Dengan sigap, Lucas menangkap botol tersebut dan membukanya.
Gulp.. gulp..
Dengan cepat, air yang ada dibotol sisa setengah. Hal itu menunjukkan seberapa intens latihan yang dilakukan Lucas dan juga Hajun.
TBC