
Setelah berita mengenai Yuriel muncul ke permukaan, tidak ada seorang pun yang tinggal di Elisien tidak mendengar tentang hal itu.
Media dengan gencar memberitakan skandal yang menimpa Castris, tidak ada yang mau ketinggalan dalam memberitakan berita hangat kali ini.
Beberapa keluarga elit lain yang mengenal Castris merasa bahwa tindakan Karl begitu tiba-tiba. Apa lagi bagi orang yang mengenal Karl dengan baik, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak tahu seperhitungan apa pria itu. Dia adalah orang yang selalu memperhitungkan langkah yang ia buat, karena itu lah dia bisa memimpin keluarga nomor satu di Elisien dan mempertahankan gelarnya.
Namun dengan adanya berita ini, semua berpikir bahwa Karl tidak seperti biasanya. Orang yang selalu bertindak dengan sangat hati-hati sepertinya mana mungkin membiarkan berita seperti ini beredar begitu saja. Apa lagi dengan adanya berita ini, nama nya menjadi tercoreng di muka masyarakat. Para petinggi dan kepala keluarga elit di Elisien memiliki pemikiran yang sama.
Castris mulai bergerak ke arah yang sulit ditebak.
***
Di kediaman Castris, Liyuna terlihat khawatir ketika mendengar berita yang ad adi televisi. Ketika dia mengecek ponselnya pun semua halaman utama diisi oleh berita mengenai Yuriel. Liyuna merasa khawatir dengan keadaan mental Yuriel saat ini.
"Yuri, kamu baik-baik saja?" Tanyanya dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
Jauh berbeda dari apa yang Liyuna bayangkan, Yuriel yang saat ini duduk di sampingnya terlihat biasa saja ketika mendengar berita yang ad adi televisi. Wajahnya tidak menampakkan ke khawatiran sedikit pun, bahkan Yuriel tetap memasang wajah polos dan tidak berbahaya nya.
Hal ini membuat Liyuna sedikit bingung karena reaksi Yuriel tidak seperti perkiraannya.
Apakah Yuriel tidak mengerti kalau dia sedang menjadi bahan gunjingan orang-orang di internet? Atau dia hanya berpura-pura tidak tahu?
Liyuna benar-benar tidak bisa menebaknya.
"Aku baik-baik saja kak, aku tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula apa yang mereka katakan tidak benar."
Tidak, tidak. Ini bukan masalah benar atau tidaknya. Meski rumor yang beredar tidak benar sekali pun, orang-orang tidak akan peduli. Mereka akan tetap memandang Yuriel sebagai seseorang yang buruk, memandangnya sebagai orang yang telah merusak kebahagiaan orang lain.
Tidak akan ad ayang peduli dengan kebenaran, di dunia maya semua bisa berkata sesuka hati mereka. Tidak peduli apa yang dirasakan orang yang mereka bicarakan, mereka adalah orang-orang yang hanya berani bersembunyi dibalik papan ketik. Menunjukkan kebencian mereka dengan argumen yang tidak masuk akal seolah-olah mereka adalah orang yang paling benar.
"Kau sungguh tidak apa?"
Yuriel menganggukkan kepalanya pelan, "Tapi... Aku khawatir dengan paman Karl."
Liyuna paham dengan apa yang dirasakan Yuriel. Dia juga tahu kalau saat ini Karl sedang menjadi topik hangat dan bahan gunjingan orang-irang kerena hal ini.
***
Di sisi lain, beberapa anggota inti dari keluarga elit di Elisien terlihat sedang memaknai berita yang sedang beredar dengan serius.
Yuda yang bersantai di ruang keluarga sembari memakan popcorn melihat berita yang sedang heboh dengan wajah santai. Dia benar-benar berbeda dengan persona yang selalu ia perlihat kan ketika di sekolah.
"Castris mengadopsi anak yang asal usulnya tidak jelas?" Gumamnya sembari memasukkan popcorn yang cukup banyak ke mulutnya.
Siapapun yang melihat Yuda saat ini pasti akan berpikir dia sangat jorok karena makanan yang ia makanan sampai berserakan kemana-mana. Bahkan puluhan kaleng cola juga berserakan di meja, bahkan ada yang tumpah ke sofa. Benar-benar gaya hidup yang tidak sehat. Di umurnya yang masih muda, Yuda sudah menikmati berbagai makanan junk food dan menjadikannya snack sehari-hari.
Meski terlihat tidak menjanjikan seperti itu, mata Yuda tidak bisa membohongi kemampuannya yang sebenarnya. Dia memiliki mata yang bersinar ketika merasa ada sesuatu yang janggal. Intuisinya lah yang membuatnya tahu bahwa ada sesuatu dibalik keputusan Kepala Keluarga Castris.
Berbeda dengan Yuda yang melihat berita mengenai keluarga Castris dengan sangat santai sembari memakan popcorn, Zion melihat berita di kamarnya lewat komputernya yang sejak tadi menyala. Komputer miliknya tersambung dengan layanan chanel televisi. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya dan terkadang di ruang rahasia miliknya, karena itu lah dia tidak punya pilihan lain selain menyambungkan komputernya dengan layanan chanel televisi.
Setelah mendengar berita mengenai Castris, dia terlihat sedang berpikir keras. Anak pertama dari keluarga Ravenray ini memiliki insting yang tidak bisa diremehkan. Dia sebagai ahli waris utama diharuskan memiliki penilaian yang tajam dan tepat. Berdasarkan apa yang barusan ia dengar, ia dapat mengira apa yang sedang terjadi pada Castris.
"Keluarga itu tidak mungkin melakukan pergerakan tanpa perhitungan." Gumamnya, dia terlihat mengambil iPad yang ada di meja kecil sebelah kasurnya.
Matanya terlihat memancarkan cahaya yang terkesan jahat. Ketika hal yang ia curigai berakhir berkaitan, ia tidak bisa menahan semuanya. Ia harus memegang ekor dari semua ini agar tidak tertinggal satu pun petunjuk yang telah ia temukan.
Meski berita mengenai Castris sampai menyebrang lautan, tidak ada yang terlalu peduli dengan hal itu. Orang-orang yang tinggal di belahan bumi lainnya tidak banyak yang memperhatikan berita gosip semacam ini. Mereka tidak peduli apa yang sedang terjadi pada keluarga konglomerat dari negara itu, toh itu juga bukan urusan mereka.
Begitu juga dengan Allen. Anak itu tidak mendengar berita apapun mengenai Castris, dia terlalu sibuk membahas peretasan dengan teman barunya Victor.
Dia terlihat begitu frustasi ketika melihat gadget yang ada ditangannya.
"Kakak mu itu benar-benar orang yang aneh."
"Mana ada orang tidak membuka ponsel selama berbulan-bulan."
Victor tidak bisa menahan rasa frustasinya. Meski dia baru belajar tentang peretasan, dia cukup percaya diri dengan kemampuannya. Bisa dibilang, otaknya itu cukup bagus sehingga dia bisa melahap apa yang dia pelajari dengan cepat. Namun, saat ini dia merasa kesal dan tidak tahu harus bagaimana. Perjuangannya selam berbulan-bulan mengawasi kakak Allen terasa sangat sia-sia.
Meski dia seorang rookie, dia yakin bahwa dirinya tidak meninggalkan jejak apapun. Apa lagi jika kakak Allen hanya orang biasa yang tidak tahu tentang IT. Dia pasti tidak akan bisa melihat kalau ada sesuatu yang berbeda dari ponselnya.
Tapi kenapa orang itu tidak membuka ponselnya sama sekali?!
Victor tidak mengerti cara berpikir orang-orang kaya. Dia bukan anak konglomerat seperti Allen, dia hanya anak yang berasal dari keluarga biasa saja makanya dia tidak mengerti dengan orang-orang seperti Allen.
"Zion tipe orang yang sangat berhari-hati. Dengan insting monsternya itu dia pasti audah merasa ada yang aneh dengan ponselnya." Ucap Allen.
Allen terlihat biasa saja ketika mengatakan hal barusan, seolah dia tidak peduli.
"Hei, boss! Kau yang memintaku melakukan semua ini. Jika tidak ada hasilnya sama saja aku membuang waktu ku."
Mendengar Victor protes padanya, Allen memincingkan matanya dan menatap Victor dengan tatapannya yang kasar. Melihat tatapan Allen yang seperti itu, Victor langsung diam seketika.
Kadang-kadang Allen seperti itu. Terkadang dia menampakkan tatapan yang begitu menakutkan seperti seekor binatang buas. Awalnya Victor tidak terlalu peduli namun akhir-akhir ini dia tidak bisa seperti dulu lagi karena telah melihat sisi Allen yang sangat berbeda.
Seminggu yang lalu, Allen mengalahkan geng jalanan yang berisi anak SMP di dekat tempat mereka tinggal. Ia melihat dengan jelas sebengis apa Allen ketika memukul lawan-lawannya. Bahkan tangan dan kemeja putih yang ia pakai berlumuran dengan darah.
Victor yang tidak pernah melihat kejadian seperti itu jadi tidak bisa berkata-kata. Dia berpikir kejadian tersebut akan mendatangkan masalah, namun nyatanya tidak. Keluarga Allen membungkam mulut semua yang mengetahui hal itu dan mengubur semuanya ke dalam tanah.
Di saat itu lah, Victor memahami seberapa berpengaruhnya keluarga Allen. Victor yakin kalau dia mengikuti Allen akan ada banyak sekali petualangan yang tidak pernah ia rasakan. Dia sangat menyukai sesuatu yang menantang, karena itu lah suatu hari nanti dia ingin berada di sisi Allen untuk membantunya dan merasakan petualangan baru.
Perseteruan antar keluarga konglomerat pasti sangat menyenangkan bukan?
"Bagaimana kalau aku meretas laptopnya saja?"
"Jangan bodoh, dia pasti akan langsung tahu. Orang itu tidak bisa lepas dari laptopnya."
"Bukan kah itu hal bagus?"
"Tentu saja tidak. Jika dia tahu aku melakukan ini, dia pasti akan mencekik leherku."
"Itu adalah hal yang mengerikan."
"Tetap pantau ponselnya, jika memang tidak ada informasi apapun juga tak apa. Anggap saja sebagai latihan untukmu."
Victor tersenyum mendengar ucapan Allen. Meski sifatnya liar dan sulit dikendalikan, Allen sebenarnya adalah orang yang sangat peduli dengan sekitarnya. Walau ia selalu berkata bahwa Victor berisik dan menyebalkan, dia tetap saja mempedulikannya. Buktinya, Allen selalu membantu Victor dengan memberikan banyak buku bacaan tentang peretasan dan alat-alat elektronik yang dibutuhkan. Dia memberikan semua itu dengan uang saku miliknya sendiri. Allen tidak pernah membelanjakan uang sakunya untuk dirinya sendiri, dia selalu memberikannya pada orang lain dan Victor adalah salah satunya.
"Siap, boss!"
TBC
[A/N : Ada kemungkinan aku akan hiatus **. Belum aku tentukan kapan, tapi mungkin setelah chapter 45 rilis.]
^^^Next:^^^
^^^Chapter 44 - Altzion Ravenray^^^