Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 37 - Hajun



Ketika melihat Karl yang tiba-tiba pulang ke rumah, Liyuna tahu bahwa semua akan baik-baik saja. Dia bisa sedikit merasa lega karena bisa merubah alur cerita dalam game, meski hanya sedikit.


Liyuna tidak sengaja melihat Yuriel ada di taman ketika ia berdiri di balkon kamarnya. Yuriel terlihat sedang duduk di sebuah bangku taman sembari membawa sebuah buku. Liyuna yang melihat hal itu langsung turun ke bawah dan menghampiri Yuriel.


"Kau sedang apa?" Tanyanya sembari duduk di samping Yuriel.


Yuriel terlihat sedikit terkejut ketika melihat Liyuna duduk di sampingnya. Dia sedikit panik dan akhirnya menjawab dengan suara kecil, "Sedang membaca buku."


"Apa kau sudah mengunjungi perpustakaan?"


"Iya, ada banyak sekali buku di sana."


"Benar, buku jenis apa pun ada di sana."


Yuriel terlihat ragu-ragu untuk berbicara namun ia memberanikan diri dan menanyakan hal yang membuatnya penasaran, "Apa kak Yuna juga suka membaca?"


Mendengar pertanyaan Yuriel, Liyuna langsung tersenyum. Liyuna tidak tahu apakah Liyuna asli suka membaca buku, namun dia sangat menyukainya jadi dia bisa mengatakan dengan bangga bahwa dia sangat suka membaca buku.


"Aku sangat menyukainya."


Yuriel terlihat sedikit tertegun melihat senyuman Liyuna. Tanpa sadar dia juga ikut tersenyum tipis, namun sayangnya Liyuna tidak melihat hal itu.


"Oh ya, benar kata kak Yuna."


"Hmm?" Liyuna yang tidak mengerti maksud Yuriel terlihat sedikit bingung.


"Tante tidak membenciku."


"Tentu saja, aku tidak mungkin berbohong padamu."


Entah kenapa sejak kedatangan Yuriel, Liyuna jadi sering tersenyum. Mungkin karena Yuriel yang terlihat sangat polos dan baik, membuat Liyuna menurunkan pertahanannya.


Kedua gadis itu berbincang cukup lama. Liyuna berkata bahwa dia akan mempertemukan Yuriel dengan sahabatnya, Yvette. Liyuna juga memberitahu Yuriel bahwa sebentar lagi dia juga pasti akan pindah ke sekolah yang sama dengannya san jika waktu itu datang, Liyuna akan mengajaknya berkeliling.


Yuriel yang melihat Liyuna sangat antusias terlihat sedikit terdiam. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan. Sekilas, Yuriel terlihat berbeda dari biasanya.


***


Di sebuah ruang VIP restoran Raiten, terjadi sebuah pertemuan rahasia yang di pimpin oleh seorang pemuda yang tadi tidak sengaja ditabrak oleh Liyuna.


Pemuda itu benar-benar berbeda dari kebanyakan anak muda lainnya. Mulai dari bagaimana dia membawakan dirinya dan bagaimana ia memandang orang disekitarnya, semua hal tentangnya tidak terlihat seperti anak muda kebanyakan. Tidak ada seorang pun anak muda yang memiliki tatapan sedingin dirinya. Dia terlihat tidak peduli dengan apa pun dan hanya bergerak maju untuk mendapat apa yang ia ingin kan.


Pemuda itu adalah Hajun, seorang hidden target yang rute nya sangat sulit untuk dibuka. Hajun adalah sebuah puzzle yang harus diselesaikan untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Karena itu lah, tidak mudah untuk mendekatinya.


"Kita harus segera mengendalikan semuanya. Jika tidak, semua akan menjadi rumit."


Seorang pria yang duduk dihadapan Hajun membuka sebuah berkas dan membacanya sekilas. Berdasarkan apa yang ia baca, ia bisa menyimpulkan bahwa insiden pengeboman Havelian Park memang harus diusut dengan tuntas, semua harus ada dalam kendali Hajun. Jika tidak, semuanya akan mulai rumit dan sulit untuk di cegah. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka membiarkan semuanya terjadi begitu saja.


Hajun hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Titus, dia memainkan gelas bir yang ada ditangan kanannya.


Meski hanya diam saja dan mendengarkan ucapannya, Titus tahu bahwa Hajun sedang berpikir keras dan berusaha untuk mencari solusi. Titus tahu hal itu karena ia sudah lama bersama dengannya, ia sudah mengenal Hajun sejak ia masih anak-anak.


Sebenarnya, Titus tidak pernah mengira bahwa ia akan bekerja dibawah Hajun karena anak itu masih sangatlah muda. Umurnya bahkan belum mencapai dua puluhan namun dia memiliki kemampuan yang mumpuni. Titus juga tidak merasa heran dengan kemampuannya tersebut karena ia sudah melihat bagaimana Hajun berusaha ketika sedang dalam pelatihan. Ya, kemampuan luar biasa Hajun terbentuk karena sebuah latihan keras, saat itu, Titus masih sangat muda dan Hajun hanya seorang anak kecil biasa. Berkat pelatihan keras dan mengerikan itu, Hajun bisa naik ke posisinya sekarang. Tidak banyak orang bisa melakukannya, apa lagi di umurnya yang baru menginjak 19 tahun, Hajun mampu menyelesaikan banyak masalah yang ada di dunia bawah maupun di area abu-abu.


"Tidak perlu terlalu terburu-buru, setidaknya ada satu hal yang mereka incar." Ucap Hajun dengan suara datar.


Sejak awal insiden ini terjadi, dia sudah tahu apa yang mereka incar, hanya saja Hajun masih tidak yakin dengan alasannya. Mereka mengincar 'orang itu', namun Hajun tidak tahu karena alasan apa. Uang? Ya, bisa saja namun itu adalah alasan yang sangat dangkal.


"Benar, sepertinya kita harus pelan-pelan agar tidak ada yang terlewat." Ucap Titus menyetujui Hajun.


Setelah pembicaraan mengenai insiden pengeboman Havelian Park yang singkat selesai, Hajun maupun Titus tidak berbicara sepatah kata pun. Mereka hanya diam dan menikmati bir yang sebelumnya telah mereka pesan. Raiten bukanlah sebuah bar, makanya tidak menyediakan minuman dengan kadar alkohol yang tinggi, namun tetao menyediakan bir. Meski Hajun masih muda, dia sudah berada di umur yang legal untuk meminum alkohol di Negara ini, jadi Titus tidak memiliki alasan untuk menghentikannya.


"Oh ya, Bos besar kemarin menghubungiku." Ucap Titus dengan santai.


"Ada urusan apa?"


"Beliau menanyakan tentang progress mu disini."


"Katakan saja semua baik-baik saja."


"Aku sudah mengatakannya."


"Jangan sampai urusan ini terdengar olehnya. Apa yang ku lakukan saat ini tidak ada hubungannya dengan Obelian's Circle." Ucap Hajun, tanpa sadar suaranya berubah menjadi sedikit tajam.


Entah apa yang sedang dipikirkannya, namun mood Hajun jadi memburuk ketika mendengar kata 'Bos besar'.


Bos besar yang Hajun tahu hanya satu, yaitu Irina –wanita yang memimpin Obelian's Circle sekaligus bos nya.


"Aku mengerti. Lagi pula, kau melakukan semua ini karena keinginanmu sendiri bukan?"


Hajun hanya terdiam. Dia mengotori tangannya dan masuk ke dunia bawah tidak dipaksa oleh siapa pun. Semua ini adalah pilihannya sendiri. Jika ingin melindungi seseorang, maka harus ada yang berjalan di jalan yang penuh dengan kegelapan, itu adalah sesuatu yang selalu Hajun percayai.


"Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang anak itu?" Tanya Titus tiba-tiba.


Hajun yang mendengar pertanyaan Titus langsung tahu siapa yang dimaksud olehnya. Di kepala Hajun terlintas wajah ketakutan Liyuna yang tadi sempat tidak sengaja bertemu dengannya.


"Sangat lemah dan penakut."


Titus tertawa terbahak-bahak mendengar balasan dari Hajun. Yah, dia memang tidak salah. Melihat bagaimana rekasi Liyuna ketika melihat Hajun, Liyuna memang terlihat sangat lemah dan penakut.


"Jangan begitu keras padanya, dia masih anak-anak."


"Aku tidak melihat adanya keistimewaan dari anak itu."


"Bukankah keluarganya istimewa?"


Hajun terlihat mengerutkan dahinya. Memang benar keluarganya sangat istimewa namun anak itu tidak demikian. Dia terlihat biasa saja dan mudah untuk dihancurkan.


"Mungkin saat ini dia masih terlihat sangat biasa, namun aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya." Ucap Titus, ia memegang dagunya sembari kembali mengingat Liyuna.


Dari apa yang ia lihat, dia bisa merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari Liyuna namun dia tidak tahu apa itu.


Hajun hanya terdiam mendengar ucapan Titus. Meski dia bilang Liyuna terlihat biasa saja, dia juga bisa merasakan sesuatu dari anak itu. Instingnya mengatakan untuk tidak meremehkannya namun Hajun memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula, anak itu tidak ada hubungan dengan dirinya.


"Oh! Bukannya dia seumuran dengan adikmu?" Tanya Titus yang tiba-tiba menyadari sesuatu.


Hajun terlihat tidak suka mendengar ucapan Titus.


"Adikku sedikit lebih tua darinya."


Mendengar jawaban Hajun, Titus merasa sedikit aneh. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi licik.


"Bagaimana kau mengetahuinya?"


"Adikku yang mengatakannya."


Pembicaraan mereka berakhir disitu. Hajun tidak menjelaskan lebih jauh apa yang ia katakan. Yang pasti, adiknya mengenal Liyuna, karena itu lah dia bisa mengetahui tentangnya.


TBC


^^^Next :^^^


^^^Chapter 38 - Yuriel di Sekolah I^^^