Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 79 - Pemakaman



Puluhan mobil ambulans terparkir di halaman kediaman Ravenray. Yuda telah memanggil polisi guna penyelidikan lebih lanjut, tentu saja atas persetujuan Eldo sebagai kepala keluarga. Sirine ambulans dan mobil polisi saling bentrok, membuat suasana menjadi sangat tidak mengenakkan.


Tidak ada seorang pun yang senang mendengar suara sirine ambulans maupun mobil polisi.


Allen terlihat masih duduk di depan rumahnya sejak tadi dan tidak bergerak sama sekali. Yuda yang melihat itu, ikut duduk disampingnya sembari membuka sekaleng kopi yang dibawakan oleh salah satu polisi.


"Kau mau?" Yuda menawarkan sekaleng kopi yang baru saja dia buka pada Allen namun ditolak.


"Aku tidak menginginkannya."


Mendengar penolakan Allen, Yuda tidak marah ataupun merasa kesal. Dia langsung meminum kopi yang sudah mulai dingin karena suhu udara yang cukup ekstrim.


"Kau terlihat baik-baik saja."


"Apa maksudmu?"


"Setelah melihat banyak orang mati, kau terlihat tidak terganggu sama sekali."


"Dari mana kau mengetahuinya? Bisa saja aku berpura-pura terlihat baik-baik saja."


Yuda terkekeh mendengar ucapan Allen. Apa yang keluar dari mulut Allen terdengar sangat lucu baginya. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengecoh matanya dan Yuda yakin akan hal itu.


"Tapi itu tidak mungkin bukan? Di mataku sekarang, mau terlihat sangat tenang setelah semua yang terjadi."


Allen terlihat diam sejenak, "Itu tidak berarti aku baik-baik saja. Aku hanya sudah pernah mengalami hal yang sama jadi saat ini aku sedikit bisa mengendalikan diriku."


Kalau diingat-ingat, hubungan Allen dan Zion sangatlah tidak baik dan Yuda tahu bahwa hubungan mereka memburuk karena apa yang terjadi oleh Ibu Allen.


'Ah, benar juga... anak ini, dulu pernah melihat Ibunya mati di depan matanya.'


Menyadari bahwa atmosfir disekitarnya mulai memburuk, Yuda berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan supaya tidak terlalu canggung apalagi dalam situasi duka seperti ini.


"Ah, ngomong-ngomong kau terlihat dekat dengan Liyuna?"


Mendengar Yuda memanggil Liyuna dengan akrab membuat Allen merasa sedikit aneh. Entah kenapa dia tidak suka dengan Yuda yang selalu menempel dengan Liyuna.


"Panggil dia Nona Liyuna, kalian tidak seakrab itu."


Yuda tidak mungkin melewatkan nada suara Allen yang terdengar sangat tidak bersahabat ketika membicarakan tentang Liyuna.


'Apakah mungkin dia...'


Hanya adalah satu alasan yang Yuda bisa pikirkan setelah mendengar nada suara Allen yang tidak bersahabat padanya setelah membicarakan tentang Liyuna. Allen pasti menyukai Liyuna dan tidak suka dia memanggilnya dengan akrab.


"Mungkin kau tidak tahu, tapi kami sudah memutuskan untuk saling memanggil nama tanpa embel-embel apapun."


Matanya Allen menyipit mendengar ucapan Yuda. Dia tidak menyangka bahwa Yuda dan Liyuna sedekat itu.


"Tenang saja, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya terkesan dengan Liyuna dan orang-orang disekitarnya."


"....."


"Dia dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa."


Malam itu, semua mayat yang berhamburan di kediaman Ravenray di jemput oleh ambulans dan Eldo telah memutuskan untuk mengembalikan jasad mereka pada keluarga mereka dan memberikan pemakaman yang layar serta uang kompensasi.


Selama seharian penuh, kediaman Ravenray tidak ada kata sepi, banyak sekali orang datang dan kembali untuk mengurusi seluruh sisa-sisa kejadian.


Ketika Eldo sampai di rumah, dia langsung memeluk Allen. Walau Allen terlihat baik-baik saja, Eldo tetap merasa khawatir dengan kesehatan mentalnya karena melihat hal semengerikan ini. Eldo tidak memiliki waktu untuk bersedih, sebagai kepala keluarga dia harus bertindak cepat untuk menyelesaikan seluruh masalah ini.


Zion juga sudah mendarat dengan selamat di kota Elisien sejak pagi tadi. Dia tidak sempat mengganti pakaiannya dan langsung melihat jasad Ibunya yang sudah dibersihkan. Tidak ada air mata keluar, dia hanya berdiri di samping Ibunya sambil memegang tangannya yang sudah dingin. Saat ini tubuhnya juga tak kalah dingin dengan tubuh Ibunya. Sejak tadi malam, dia masih memakai baju tipis dan tidak memakai penghangat sama sekali. Tubuhnya saat ini terasa mati rasa, namun dia tidak peduli. Meski tidak terlihat di wajahnya, Zion saat ini sedang berada dalam kesedihan. Hanya saja, dia tidak mengeluarkan air mata dan tidak bisa berteriak histeris.


Waktu berjalan dengan sangat cepat. Pemakaman Almera di jadwalkan sore ini. Hujan salju semakin lebat, menutup langit dan menyisakan kegelapan.


Seluruh keluarga elit yang ada di Elisien dan memiliki hubungan baik dengan Ravenray datang untuk memberikan salam terakhir. Peti mati Almera berada di altar yang dihiasi oleh banyak sekali bunga lily putih.


Para pelayat membawa payung hitam serta memakai pakaian serba hitam sebagai bentuk bela sungkawa. Yvette, Liyuna , dan juga Yuriel berdiri di samping Allen yang sejak tadi terdiam. Mereka merasa semua terkejut ketika mendengar apa yang terjadi. Kedua orang tua Liyuna juga langsung datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Lagipula, orang yang meninggalkan bukanlah orang biasa. Beliau adalah Nyonya Besar dari keluarga Ravenray.


Upacara pemakaman berjalan dengan hikmat diiringi oleh salju yang turun. Dunia sekita terasa sangat sunyi di mata Liyuna.


Hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam game. Memang benar bahwa Almera akan mati, namun dia mati bukan karena dibunuh melainkan karena kecelakaan. Ya, di rute manapun dia meninggal karena sebuah kecelakaan bersama dengan kepala keluarga Ravenray, Eldo. Hal ini juga yang menyebabkan Zion yang masih  berumur 27 tahun kala itu mengambil alih Raven Group dan menjadi Presdir termuda.


Liyuna tidak menyangka bahwa alur dalam game akan berubah sedrastis ini. Dia tidak tahu apakah ini karena keberadaannya atau karena pilihannya. Liyuna mencengkram erat gagang payung yang dia bawa. Bibir bawahnya ia gigit dengan sangat kuat hingga mengeluarkan darah. Saat ini perasaannya sedang bercampur aduk, dia merasa sangat bersalah jika kematian Almera adalah karena keberadaannya atau bahkan karena pilihan yang dia lakukan selama ini dan menimbulkan efek kupu-kupu.


Berbeda dengan Liyuna yang merasa bersalah, Yuriel terlihat sangat tenang seolah-olah dia sudah mengetahui bahwa hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.


Setelah upacara pemakaman selesai, semua orang mulai bubar dan pulang namun Karl dan Sara mengikuti Eldo yang meminta mereka untuk ikut.


"Yuna dan Yuriel kalian temani Allen, ya." Ucap Sara.


Sebagai anak yang penurut, Liyuna dan Yuriel mengangguk. Mereka berdua bersama dengan Yvette menemani Allen. Mereka masuk ke dalam tempat yang sudah disediakan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Yvette, ia merasa khawatir pada Allen yang sejak tadi hanya diam saja.


Allen menatap Yvette dan menjawab, "Aku baik-baik saja."


Melihat hal ini, Liyuna berinisiatif untuk mengambilkan teh hangat supaya teman-temannya tidak kedinginan.


"Aku akan ambilkan teh hangat untuk kalian."


"Biar ku bantu." Ucap Yvette.


Setelah punggung mereka menjauh, Yuriel duduk di dekat Allen dan memandangnya.


"Kau sudah mengetahui hal ini?" Tanya Allen tanpa basa-basi.


Yuriel terdiam sejenak, ia berusaha mencari kata yang tepat untuk di ucapkan.


"Aku sudah melihatnya beberapa kali."


Meski ucapan Yuriel sedikit samar, Allen mengerti dengan baik maksudnya yang sebenarnya.


"Ceritakan semua yang kau tahu. Terutama sesuatu yang tidak ku ketahui."


TBC