Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 136 - Kecelakaan



Mobil putih yang sedari tadi mengikuti Liyuna tiba-tiba menyalip mobil yang ditumpangi oleh para bodyguard.


Liam yang menyadari hal itu langsung memantau laju mobil dibelakang lewat kaca spion.


Dan benar saja, mobil itu semakin lama semakin mendekati mobil yang Liyuna tumpangi.


"Percepat laju mobil." Ucap Liam dengan suara tegas.


Noel langsung memahami arti dibalik ucapan Liam. Dia juga melirik mobil putih dibelakang lewat kaca spion.


Dan benar saja, mobil itu mencoba untuk mendekati mobil yang dia kendarai.


Melihat hal itu, Noel bisa langsung tahu tujuan orang itu.


Dia mengincar Liyuna.


Noel menginjak pedal gas semaksimal mungkin. Karena saat ini mereka sedang berada di jalan raya, Noel tidak bisa seenaknya.


Ia juga harus berhati-hati agar tidak menyenggol mobil lain.


"Mobil itu masih mengikuti."


Noel kembali menambah kecepatan. Liyuna yang tidak biasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi mulai merasa sedikit khawatir.


Ketika ia melihat kembali kebelakang, mobil putih itu masih mengikuti dengan lihai.


"Tch... Keras kepala sekali." Noel tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bersumpah serapah.


Wuuuungg...


Dengan sangat lihai, Noel menghindari mobil yang ada di depannya.


"Hati-hati dasar sialan!"


Para pengendara yang merasa bahwa Noel menyetir mobil dengan seenaknya menyumpahinya.


"Dasar gila!"


Sudah beberapa kali Noel hampir menggores mobil yang di lewati, membuat jantung Liyuna berpacu semakin cepat.


"Apa dia cari mati?!" Liam menoleh kebelakang dan melihat mobil berwarna putih itu semakin mendekat.


Melihat kegigihan mobil tersebut, Noel mengambil langkah berani dengan berbelok disebuah persimpangan.


Ckiiit—


Suara ban dan aspal beradu menjadi satu. Ada bekas ban di jalan tempat Noel mengerem, menandakan seberapa keras dia sedang mengerem.


Tubuh Liyuna sedikit terlempar ke depan, namun dengan sigap Liam memeganginya.


"Nona pakai sabuk pengamannya."


Liam membantu Liyuna untuk memakai sabuk pengaman.


"Persiapkan diri kalian, aku akan menaikkan kecepatan."


Noel kembali menaikkan kecepatan mobil dan berusaha untuk melepaskan diri dari kejaran.


Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil box muncul di depan, membuat Noel harus membanting stir ke kiri.


"Ah!" Teriak Liyuna.


Liam memegang tubuh Liyuna agar dia tidak terlempar karena getaran yang terjadi.


Sreet—


Ckiiiit—


Braaak—


Asap tebal mengepul dari mobil yang Liyuna tumpangi.


Karena Noel tadi memilih jalan yang sepi, tidak ada satupun yang melihat bagaimana kecelakaan ini terjadi.


Noel yang berada di depan, tak sadarkan diri. Tubuhnya terselamatkan oleh air bag yang bereaksi dengan cepat.


Namun sayangnya, guncangan hebat membuatnya pingsan.


Mobil bagian depan rusak parah akibat menabrak pembatas jalan.


Di belakang, Liam terlihat terluka parah, tangannya berdarah karena menahan tubuh Liyuna dan terkena pecahan kaca.


Liyuna sendiri juga tak sadarkan diri.


Liam mencoba untuk mengeluarkan Liyuna dari mobil. Namun ia tiba-tiba saja teringat tentang mobil putih yang sedari tadi mengikuti mereka.


Dia menatap kebelakang, mencoba melihat apakah mobil itu masih ada.


Namun Liam tidak melihat mobil tersebut. Pandangannya sedikit buram karena tertutup oleh darah yang mengalir dari kepalanya.


Meski begitu dia tetap harus menyelamatkan Liyuna. Dia adalah prioritas pertama yang harus Liam lindungi.


Saat berusaha untuk menyelamatkan Liyuna, tiba-tiba pintu mobil terbuka.


Liam berpikir yang membuka pintu adalah salah satu bodyguard yang mengikuti mereka dari belakang.


"Kalian datang di waktu yang tepat, cepat selamatkan Nona—"


Rasa sakit menjalar dari perutnya.


Kedua mata Liam membulat sempurna ketika menyadari apa yang baru saja terjadi.


Sebuah pisau menusuk daging yang ada diperutnya dengan sangat dalam, membuat darah segar mengucur dengan deras.


Darahnya semakin lama semakin terkuras, membuat kesadarannya tidak bisa dipertahankan.


'Tidak bisa, aku harus menyelamatkan Liyuna.'


Dengan gerakan cepat, Liam mengambil taser gun yang ada dibalik jas yang ia pakai dan mengarahkannya pada seseorang yang menusukkan pisau diperutnya.


Namun orang itu dengan sigap menghalau seluruh serangan balasan dari Liam.


"Kami menemukannya."


Liam dapat mendengar suara pelaku dengan samar. Sepertinya memang benar bahwa tujuan mereka adalah Liyuna.


Apa tidak ada yang bisa membantu?


Dimana yang lainnya? Kenapa tidak ada satupun bodyguard yang datang untuk memberi bantuan?


Lama kelamaan, kesadaran Liam mulai menghilang.


"Nona..." Gumamnya lirih.


Liam berusaha untuk meraih tubuh Liyuna yang sudah tak sadarkan diri sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


"Baik, kami akan segera membawanya kepada anda."


Tik...


Alat komunikasi dimatikan.


Pria yang menusuk Liam dengan pisau, mencoba untuk menurunkan tubuh Liyuna dari mobil.


Dia dibantu oleh rekannya dan membopong tubuh Liyuna menuju mobil putih yang sedari tadi mengikuti dari belakang.


Rencana mereka tergolong cukup berhasil.


Mereka sengaja memancing mobil yang Liyuna tumpangi untuk memilih jalanan yang sepi. Dengan begitu, mereka bisa memberi aba-aba pada mobil box yang akan mereka jadikan kambing hitam.


"Apa ada yang terluka?"


"Sepertinya hanya memar."


"Jangan sampai ada luka yang serius."


Malam itu, Liam dan Noel kehilangan jejak Liyuna.


Liyuna dibawa oleh orang-orang tak dikenal dan sayangnya tidak ada cctv yang menangkap kejadian.


Ketika berita ini sampai pada telinga Karl, dia langsung bergegas menuju kediaman Castris dan memerintahkan seluruh bawahannya untuk mencari keberadaan Liyuna.


Yuriel yang kala itu sedang bersama dengan Karl terlihat sangat syok. Ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang berubah begitu mengerikan.


Liam dan Noel dilarikan ke rumah sakit. Untung saja, ada sebuah mobil yang lewat disana dan menemukan adanya kecelakaan.


Berbeda dengan kondisi Noel yang tidak terlalu parah, luka yang Liam alami sangat parah hingga membuatnya hampir mati karena kehabisan darah.


Seluruh personel yang Karl kerahkan langsung bergegas menuju ruang pertemuan.


Mereka sedang menunggu aba-aba dari Karl.


"Seperti yang kalian ketahui, putriku Liyuna Aria Castris telah di culik." Ucap Karl.


Saat ini ia berdiri disebuah tempat yang lebih tinggi dari yang lainnya.


Di ruang pertemuan, terlihat ada banyak sekali komputer dan alat-alar yang tidak diketahui apa kegunaannya.


"Tugas kalian adalah melacak keberadaan putriku. Sebelum tengah malam, temukan lokasinya!"


Hanya itu perintah yang Karl berikan.


Prioritas utama adalah menemukan keberadaan Liyuna.


Tidak peduli dimana pun ia berada, Karl harus menemukan putrinya.


Di sisi lain, orang-orang yang menculik Liyuna membuang seluruh barang bawaan Liyuna melalui jendela.


Ponsel, parfum, bedak, kaca, semua terjatuh ke aspal dan terlindas oleh ban mobil hingga hancur berantakan.


Orang-orang yang membawa Liyuna tidak mau mengambil resiko. Mereka harus membuang seluruh kemungkinan jika ada alat pelacak ditubuhnya.


Bahkan jam tangan yang Liyuna kenakan, juga tidan selamat.


Barang-barang mencurigakan yang bisa dipasangi alat pelacak dengan cepat di singkirkan.


Namun tidak akan ada satupun yang menyangka kalau ada alat pelacak di benda itu.


Malam itu, tirai kebenaran mulai diturunkan.


TBC