Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 65 - Menjadi Anggota Resmi



Hari pertama masuk sekolah tidak diisi oleh mata pelajaran melainkan perkenalan dengan wali kelas dan teman sekelas lainnya. Karena itu lah pada pukul 2 siang mereka diperbolehkan untuk pulang.


Liyuna mendapat notifikasi dari web sekolah jika dia resmi diterima sebagai anggota OSIS, karena itu lah dia harus melapor pada ketua OSIS, Veya Kosch sesegera mungkin.


"Kak, kau mau ke ruang OSIS?"


"Iya, aku harus melakukan konfirmasi."


"Kalau begitu, aku tunggu di tempat parkir bersama kak Noel, ya."


Liyuna mengangguk, setelah itu dia langsung pergi ke ruang OSIS untuk melakukan konfirmasi.


Sesampainya di ruang OSIS, Liyuna langsung mengetuk pintu dan tak berapa lama kemudian, seseorang membukakan pintu untuknya.


"Selamat datang." Ucapnya.


Dia adalah seorang laki-laki berambut coklat kayu yang memiliki tubuh tinggi.


"Liyuna Aria Castris?" Tanyanya memastikan identitas Liyuna.


"Saya Liyuna, senior."


Mendengar konfirmasi dari Liyuna, senior itu langsung memintanya masuk. Di dalam sudah ada anggota OSIS inti, mereka duduk di kursi mereka masing-masing dan menyambut Liyuna.


Anggota OSIS baru tahun ini sebenarnya tidak hanya Liyuna saja, masih ada beberapa lainnya yang juga diterima namun Liyuna sedikit berbeda dari mereka karena ia bergabung atas permintaan kepala sekolah secara langsung. Karena itu lah hanya Liyuna yang diminta untuk konfirmasi secara langsung di ruang OSIS, sedangkan anggota lain boleh melakukan konfirmasi secara online.


Memang terlihat tidak adil namun itulah kenyataan. Siswa yang diperlakukan dengan istimewa dan siswa yang diperlakukan biasa saja bisa ditemukan di sekolah ini. Sekolah bukan hanya melihat background keluarga siswanya saja melainkan kemampuan dan prestasi sang siswa.


Liyuna adalah contoh siswa dengan prestasi dan background yang tidak bisa ditandingi oleh orang lain, karena itu lah pihak sekolah memperlakukannya dengan sangat baik. Sebagai satu-satunya pewaris Castris Group dan siswa yang mendapat peringkat pertama dalam ujian masuk, tentu saja sekolah tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


"Halo, kita bertemu lagi." Veya menyapa Liyuna dengan ramah, dia membuka dokumen berisi formulir Liyuna dan memberinya stempel resmi OSIS.


"Halo, senior."


Veya memberikan kertas formulir Liyuna padanya.


"Dengan ini kamu sudah resmi menjadi anggota OSIS."


"Terima kasih senior. Perkenalkan saya Liyuna, mohon bimbingannya." Liyuna memperkenalkan dirinya pada anggota OSIS lainnya yang ad di dalam ruangan.


"Halo, perkenalkan aku Helga."


"Hai, ini bukan pertama kalinya kita bertemu bukan? Perkenalkan aku Ivoria."


"Perkenalkan, namaku Elliot." Senior berambut kayu yang tadi membukakan pintu untuk Liyuna memperkenalkan dirinya.


Nama-nama yang barusan Liyuna dengar adalah nama yang tidak pernah disebutkan dalam game. Mereka adalah tokoh yang bahkan tidak diperlihatkan nama dan wajah mereka dalam game.


Setelah saling memperkenalkan diri, Liyuna diminta untuk menjadi asisten ketua OSIS dimana dia akan membantu Veya dalan menyelesaikan tugasnya. Karena Liyuna masih kelas 1, dia tidak bisa langsung mendapat jabatan tinggi. Jabatan yang bisa dia dapat di kelas 1 hanyalah sebagai asisten ketua OSIS.


Liyuna mencari Yuriel ketika ia sudah selesai menyelesaikan urusannya di ruang OSIS. Dia berjalan menuju parkiran sekolah, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat Allen yang tertidur di bawah pohon sakura.


Liyuna tidak tahu kenapa Allen bisa tertidur di sana tapi sekolah saat ini sudah sangat sepi, semua murid sudah mulai pulang.


Liyuna berjalan mendekati Allen. Dia berencana untuk membangunkannya namun tangannya ditahan oleh Allen yang ternyata tidak tertidur.


"Semua sudah pulang. Kenapa masih disini?" Tanya Liyuna.


Allen menatap kedua mata Liyuna dengan sangat lembut, membuat Liyuna sedikit terkejut. Dia tidak pernah melihat Allen menatap seseorang selembut itu.


"Apa yang terjadi?"


Jika Allen bersikap seperti ini, kemungkinan terbesar menyangkut kakaknya, Zion. Hanya Zion yang dapat membuat perasaan Allen berubah dengan cepat. Hal ini kerap disebutkan dalam narasi yang ad adi game jadi Liyuna mengetahuinya.


"Kau..."


Allen menggantung ucapannya, dia tidak melihat Liyuna melainkan hanya melihat tangannya yang bertautan dengan milik Liyuna.


Liyuna menunggu Allen untuk melanjutkan ucapannya.


"Tidak bisakah kau menjauh dari Yuriel saja?"


Ucapan Allen membuat Liyuna sedikit terkejut, dia tidak mengira Allen akan berbicara mengenai Yuriel.


Dan lagi, kenapa Allen memintanya untuk menjauhi Yuriel? Di dalam game keduanya adalah tokoh utama dan mustahil Allen tidak menyukainya. Namun ketika melihat Allen yang sekarang, Liyuna tidak tahu lagi harus bagaimana.


Di dalam game, Allen menyukai Yuriel karena sifatnya yang ceria dan posisinya yang kokoh di keluarga Castris. Dia memilih Yuriel karena Yuriel bisa membantunya untuk menggulingkan Zion.


Allen yang ada dihadapan Liyuna saat ini tidak berpikir seperti itu. Liyuna sadar bahwa alur yang ada dalam game sedikit demi sedikit berubah karena dirinya dan Liyuna juga sudah memutuskan untuk membuat Yuriel memilih rute Zion jika memang tidak ada pilihan lain. Ya, rute Zion adalah rute yang paling aman bagi Liyuna.


Liyuna tidak memiliki kewajiban untuk mempersatukan Yuriel dan Allen sehingga perasaan Allen saat ini pada Yuriel seharusnya tidak mempengaruhinya. Namun Liyuna tidak bisa seperti itu, dia tidak bisa membiarkan Allen membenci Yuriel karena bagaimana pun juga keduanya harus akrab, setidaknya mereka bisa menjadi teman.


Alasan Allen tidak menyukai Yuriel juga tidka jelas, Liyuna tidak tahu kenapa Allen tidak menyukai Yuriel.


"Kenapa kau tidak menyukai Yuri?"


Allen tidak menjawab.


"Apa Yuri berbuat salah padamu?"


Meskipun itu hal yang tidak mungkin, Liyuna tetap menanyakannya. Hari dimana upacara penerimaan siswa dilaksanakan adalah pertama kalinya Allen bertemu dengan Yuriel, sehingga mustahil jika Allen tidak menyukai Yuriel karena mereka baru bertemu.


Allen masih belum menjawab.


"Jika Yuri berbuat salah padamu, maafkan dia. Jangan menunjukkan perasaan tidak sukamu secara terang-terangan seperti itu, Yuri adalah anak berhati lembut."


Allen mendengus mendengar ucapan Liyuna. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bagi Liyuna yang tidak tahu apa-apa, Yuriel memang terlihat seperti anak baik berhati lembut yang mudah merasa tersakiti namun di mata Allen, Yuriel bukanlah anak seperti itu. Yuriel memiliki pisau yang ia sembunyikan dibelakang punggungnya. Pisau tersebut akan menusuk siapa saja yang menurutnya menganggu. Itu lah Yuriel yang sebenarnya dan hanya Liyuna yang tidak mengetahuinya.


"Apa menurutmu begitu?"


Allen menatap kedua mata Liyuna, menanyakan apakah benar Liyuna berpikir bahwa Yuriel adalah seseorang yang memiliki hati lembut.


"Tentu saja, dia adalah adikku."


Allen tidak bisa membantah ucapan Liyuna. Memang benar Yuriel adalah adiknya, tapi dia bukanlah adik kandungnya. Seorang adik yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, bagaimana bisa Liyuna yakin bahwa Yuriel adalah orang baik.


Allen bukan lah orang yang munafik. Dia adalah adik dari Zion, meski mereka hanya berbagi ayah. Dengan kenyataan itu, Allen bisa dengan yakin mengatakan kalau dia bukanlah adik yang baik. Dia ingin menjatuhkan Zion, dia ingin Zion menderita, dan dia ingin mengambil segalanya dari Zion. Rasa bencinya terhadap Zion tidak akan bisa hilang begitu saja, Allen yakin akan hal itu.


Yuriel juga tidak ada bedanya dengan dia. Yuriel adalah tipe orang yang bisa menjatuhkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Gadis itu sangat ambisius, dia memiliki ambisi yang begitu besar, sangat besar hingga sulit untuk dicapai.


Allen tahu betul akan hal itu. Dia tahu sebesar apa ambisi Yuriel. Hal itu dikarenakan Allen dan Yuriel adalah seseorang yang berasal dari dunia yang sama.


Keduanya memiliki kemiripan, ini bukanlah deduksi Allen saja, melainkan sebuah kenyataan. Gadis itu, Yuriel Castris adalah seorang penjelajah, sama seperti dirinya.


TBC