Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 114 - Allen dan Yuriel



Dua hari setelah berita kematian Eldo menyebar ke seluruh pelosok Zen, di sebuah kafe sepi yang jarang di datangi orang.


Allen dan Yuriel terlihat duduk di dalam kafe, ditemani oleh asap kopi yang mengepul. Keduanya duduk saling berhadapan.


Tidak ada satupun yang berbicara, mereka sedang menunggu saat yang tepat untuk memecah keheningan.


Hanya ada satu alasan mengapa pertemuan hari ini dilaksanakan. Ya, apalagi jika bukan tentang berita yang sedang hangat itu?


Setelah mengetahui rahasia satu sama lain, keduanya telah mencapai sebuah kesepakatan atau lebih tepatnya disebut gencatan senjata.


Dua insan yang memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya itu saling bertukar informasi dan mencoba melakukan cross-check secara berulang-ulang. Kalau-kalau ada sesuatu yang terlewatkan.


"Jadi ada apa?" Yuriel adalah yang pertama kali memecah keheningan.


Ditangannya ada segelas kopi hangat yang ia pegang dengan table manner yang sempurna. Tidak ada satupun yang bisa menilai kalau dia sebenarnya hanyalah anak angkat dari keluarga konglomerat Castris.


"Aku mengingat semuanya."


"Apa?"


"Seluruh ingatan itu datang padaku secara tiba-tiba."


Yuriel terdiam sejenak, ia mencoba untuk mencerna ucapan yang Allen lontarkan.


"Ini bukan pertama kalinya waktu terulang, benar bukan?"


Yuriel tertegun mendengar pertanyaan Allen. Dia meletakkan cangkir kopi yang ada ditangannya ke meja, menyadari bahwa apa yang akan mereka bicarakan kali ini sangatlah penting.


"Kau..." Ucapan Yuriel terjeda.


Hanya ada satu jawaban yang muncul dipikiran Yuriel.


"Apakah kau melihat seluruh kilas balik kehidupanmu sebelumnya?"


"Kilas balik? Aku tidak yakin dengan hal itu. Bagiku semuanya terasa seperti sebuah ingatan yang nyata."


Allen kembali mengingat-ingat bagaimana rasanya ketika ia pertama kali melihat ingatan kehidupannya yang dulu.


Kehidupan pertama, kedua, ketiga, hingga kehidupan kali ini. Dia mengingat semuanya. Tidak seperti kilas balik sebuah film, semua ingatan yang dia lihat terasa sangat nyata dan begitu menyedihkan.


"Bukankah kau sendiri yang pernah memberiku sebuah petunjuk? Sebelumnya, kau sempat memberiku petunjuk bahwa kau tahu lebih banyak dariku dan kau tahu akan segala hal. Bukankah itu berarti kau juga membawa ingatan kehidupan lainnya?"


Yuriel kembali terdiam, dia tidak bisa menyanggah ucapan Allen.


Ingatan yang ia bawa ini terasa seperti sebuah pengekang yang bisa membuatnya tersadar setiap saat bahwa dia telah melakukan kesalahan.


Kekangan yang membuat emosinya semakin lama semakin lelah.


"Sampai mana ingatanmu kembali?"


"Semuanya."


"Kalau begitu, kehidupan kali ini adalah kehidupanmu yang ke berapa?"


"Ini adalah kehidupan yang ke lima. Tidak, sepertinya ini adalah yang ke enam, benar bukan?"


Yuriel memasang wajah datar seolah apa yang Allen ucapkan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.


Sudah lama sekali Yuriel selalu bertanya-tanya mengapa hanya dia yang mengingat semuanya?


Apakah ini hukuman untuknya?


Hukuman karena perbuatannya yang begitu egois. Hukuman dari apa yang telah ia perbuat, menyakiti dan juga menghancurkan hidup orang lain.


Yuriel tidak menginginkannya. Sejak awal dia hanya ingin merasakan rasa cinta dan kehangatan yang tulus dari seseorang. Ia juga ingin mendapat pujian atas kerja kerasnya.


Hanya itu yang ia inginkan. Apakah itu sesuatu yang sangat mahal untuknya?


"Kenapa semua berakhir seperti itu?"


"Apa?" Tanya Yuriel, dia tidak mengerti dengan pertanyaan Allen.


"Akhir dari setiap kehidupan. Dari setiap kehidupan yang aku ingat, kenapa Liyuna selalu berakhir seperti itu?"


Kedua mata Yuriel membulat dengan sempurna. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkejut.


"Tidak peduli dengan siapa, hanya Liyuna yang tidak selamat. Kenapa begitu? Aku yakin kau mengetahuinya."


"Kedatanganmu kedalam keluarga Castris, bukankah itu suatu hal yang aneh? Karl adalah seorang ayah yang sangat mencintai putrinya. Namun tiba-tiba dia mengadopsi seorang anak yang entah berasal dari mana. Jika dipikir lagi, itu sangatlah aneh."


Yuriel terdiam. Apa yang Allen katakan sangat tepat sasaran. Mungkin hanya dia yang tahu kebenaran dibalik semuanya karena sejak awal dia sudah terlibat.


Mereka berdiam berdiam diri cukup lama, Yuriel juga mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia harus bersiap memberitahu Allen mengenai apa yang dia ketahui karena hal itu mungkin bisa mengubah takdir.


Yuriel mulai membuka mulutnya, menceritakan mengenai asal usulnya dan alasan mengapa dia datang ke kediaman Castris mulai dari Karl yang memberinya sebuah tawaran dan juga mengenai dirinya yang menerima tawaran tersebut.


Tidak ada seorangpun yang tahu akan kebenaran ini. Ini adalah pertama kalinya bagi Yuriel menceritakan mengenai dirinya kepada orang lain. Namun Allen bukanlah orang asing baginya. Di satu kehidupannya yang cukup panjang, Allen pernah hadir dan mendukungnya dari belakang, meski itu adalah sebuah kesepakatan.


Yuriel juga tahu bagaimana sifatnya karena itulah dia bisa mempercayainya.


Ketika ia selesai bercerita, Allen terlihat sangat tenang. Ia mencerna cerita Yuriel dengan penuh kehati-hatian dan atensi. Dia tidak bisa bermain-main lagi, karena mungkin saja ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan setelah ini?"


Kali ini giliran Allen yang terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri belum memutuskan akan mengambil langkah seperti apa.


Namun ada satu hal yang harus dia maupun Yuriel lakukan.


"Sudah pasti kita harus membayarnya bukan?"


Yuriel menatap kedua mata abu milik Allen dengan sangat serius.


"Membayar atas apa yang telah kita lakukan."


Yuriel setuju dengan apa yang Allen ucapkan. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah membayar atas segala kesalahan yang pernah mereka lakukan sebelumnya.


"Kalau begitu kita harus menarik semua orang untuk bergabung dan berkumpul. Dengan begitu, kita semua bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk."


"Itu akan sulit. Aku tidak yakin yang lain juga memiliki ingatan yang sama dengan kita."


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Sepertinya kau melupakan seseorang."


"???" Allen mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan ucapan Yuriel.


"Zion..." Ucap Yuriel dengan jeda diakhir.


"Dia adalah orang pertama yang harus kita rekrut."


"Alasannya?"


"Karena kau adalah adiknya dan orang yang paling dekat dengannya. Selesaikan terlebih dahulu masalah diantara kalian dengan benar. Jangan sampai seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya."


"Akan aku pikirkan."


"Kau harus melakukannya." Desak Yuriel.


"Jika bukan kau siapa lagi? Aku akan mencoba untuk mendekati orang 'itu'. Diantara lainnya, dia adalah orang yang paling bisa diandalkan."


Allen mengerti apa maksud dari ucapan Yuriel. Diantara yang lainnya orang itu memang paling bisa diandalkan karena dalam situasi apapun dia akan selalu memilih keselamatan Liyuna dari orang lain.


Sangat berbeda dengan dirinya yang dibutakan oleh rasa benci dan amarah.


"Apa kau yakin bisa meyakinkannya?"


"Tentu saja, aku sudah memegang titik lemahnya dan asal kau tahu saja, aku sudah mencoba untuk mendekatinya sejak empat tahun yang lalu. Meski dia tidak punya ingatan yang sama seperti kita, aku yakin bhawa dia tidak akan bisa menolak."


Wajah Allen seketika berubah menjadi muram.


Yuriel tidak berubah sama sekali, dia masih sama seperti yang ada di ingatannya. Sangat licik dan manipulatif, selalu menggunakan kelemahan orang lain untuk kepentingannya.


"Jika bisa carilah bantuan dari orang lain yang bisa kau percaya. Tentu saja mereka haruslah orang-orang yang berguna."


"Hmm... orang lain ya..."


"..."


"Sepertinya aku ada satu."


Dengan begitu pertemuan keduanya berakhir. Mereka berdua sepakat untuk mengumpulkan orang-orang yang bisa membantu mereka untuk mengubah masa depan.


TBC