Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 22 - Liburan Musim Panas II



Yvette dan Liyuna kembali ke hotel pukul 11 siang bersama dengan Karl dan Sara. Mereka bersiap untuk makan siang di restoran yang sebelumnya sudah dibooking.


Liyuna meletakkan ember berisi cangkang kerang-kerang dan sedikit pasir putih di atas meja yang ada di kamar hotelnya. Dia dan Yvette tidur di kamar yang berbeda karena Liyuna ingin menjaga privasi. Yvette pun juga tidak masalah jika harus tidur sendiri jadi Karl memesankan satu kamar untuk masing-masing. Tentu saja, Karl dan Sara tidak tidur terpisah. Mana mungkin sepasang suami istri yang saling mencintai seperti mereka tidur di ranjang yang berbeda. Itu adalah sesuatu yang mustahil.


Karena Liyuna bermain di pantai cukup lama, tubuhnya pun mengeluarkan keringat yang cukup deras hingga membasahi dress yang ia pakai. Matahari di musim panas memanglah sangat terik, namun jika kalian menatap keatas, kalian akan disuguhi oleh pemandangan yang sangat menakjubkan. Langit biru cerah tanpa adanya awan sedikit pun. Apa lagi di dunia yang asing ini, segalanya terlihat menakjubkan.


Liyuna mengambil pakaian ganti dari lemari. Sebelumnya dia sudah mengeluarkan pakaian-pakaiannya yang ada di koper dan menatanya di lemari. Liyuna memilih kemeja pantai lengan pendek yang dipadukan dengan celana pendek senada. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia memakai sabun cair dengan aroma vanila favoritnya.


Selesai mandi, Liyuna langsung pergi ke lobby –tempat dimana dia, Yvette, Sara, dan Karl janjian untuk bertemu. Ya, mereka memang tidak turun ke lobby bersama karena akan sangat sulit untuk mengatur waktunya, makanya lobby dijadikan titik temu sebelum mereka pergi makan siang.


Karl sengaja tidak mengajak Liyuna makan siang di hotel karena dia ingin Liyuna merasakan makanan luar hotel dengan pemandangan indah. Karl juga ingin memperlihatkan pemandangan itu pada istrinya, Sara.


Letak restoran yang telah di booking oleh Karl tidak jauh dengan hotel. Dari pintu masuk hotel, mereka hanya perlu berjalan sekitar lima belas menit saja, makanya kendaraan tidak terlalu dibutuhkan. Mereka berjalan bersama-sama sembari berbincang-bincang. Karena ada Yvette, suasana menjadi cukup menyenangkan karena dari dulu dia memanglah mood maker. Yvette yang mudah bergaul dengan siapa saja dapat membangun atmosfir menjadi sangat nyaman. Karl dan Sara merasa bahwa pilihan mereka yang memperbolehkan Yvette ikut memanglah tepat. Sebagai orang tua Liyuna, mereka merasa senang putri kesayangan mereka memiliki teman sebaik dan se-loyal Yvette. Mereka berharap Yvette akan selalu menemani Liyuna dan selalu berada disisinya.


"Yuna, habis ini kita belanja yuk! Tadi aku lihat ada toko pernak-pernik yang lucu."


Yvette menggenggam tangan Liyuna. Suaranya terdengar begitu bersemangat dan antusias. Ini pertama kalinya Yvette pergi berlibur dengan orang lain yang bukan keluarganya. Jika ini liburan musim panas yang lalu, ia akan selalu pergi dengan keluarganya. Namun untuk liburan kali ini, dia ikut dengan Liyuna dan merasa bahagia. Kedua orang tua Liyuna juga sangat baik dan menghargainya. Mereka benar-benar mencerminkan perilaku orang kaya yang baik hati tanpa celah. Pantas saja media tidak pernah mengkritik keluarga Castris. Gosip buruk tentang mereka pun juga tidak ada.


"Baiklah, ayo kita belanja setelah ini." Jawab Liyuna setuju dengan ajakan Yvette.


Sejak ia mengambil alih tubuh Liyuna, ia belum pernah berbelanja sendiri ataupun jalan-jalan sendiri tanpa ditemani Noel. Jadi ia merasa tidak sabar dan ingin segera melihat-lihat area pantai indah ini.


Ngomong-ngomong pantai ini letaknya di sebelah selatan Elisien, bisa dikatakan Kota Elisien itu dekat dengan laut, sehingga waktu yang mereka butuhkan untuk mencapai tempat ini tidak lah lama. Paling hanya sekitar 3 sampai 4 jam –tergolong dekat bukan?


Langkah Liyuna terhenti ketika ia melihat restoran besar yang hampir semua interiornya terbuat dari kayu. Benar-benar sangat indah dan juga terlihat sangat teduh. Apa lagi restoran ini terletak persis di depan pantai. Sambil makan, mereka bisa langsung melihat laut dan merasakan angin sepoi-sepoi.


Karl segera mengajak yang lainnya ke meja yang telah ia booking sebelumnya. Pelayan langsung menyiapkan makanan yang sudah di pesan Karl –ia memesan bundle packet sehingga bisa mendapatkan pelayanan lebih dahulu.


Setelah berbagai macam makanan laut dihidangkan, Liyuna dan yang lainnya langsung menyantap makanan yang mereka suka. Untuk Liyuna sendiri, dia sangat suka cumi-cumi dan udang. Sedangkan Yvette sangat suka kerang. Karl dan Sara bukan tipe orang yang suka memilih makanan, jadi mereka melahap apapun yang ada di meja.


"Yuna, coba ini." Ucap Yvette sembari memberi daging kerang yabg sudah ia lepaskan dari cangkang ke piring Liyuna.


Liyuna yang ingin menghormati Yvette, jadi ia memakan kerang tersebut. Ia terkejut karena daging kerang nya terasa sangat juicy dan tebal.


"Enak sekali." Ucap Liyuna puas.


"Tentu saja, kerang Abalone di restoran sangat terkenal. Mereka bisa mengolah berbagai jenis seafood dengan sangat baik dan menghilangkan bau amisnya." Ucap Sara memberitahu Liyuna.


"Benar! Restoran ini yang terbaik." Yvette menyetujui kata-kata Sara. Setelah merasakan kerang Abalone seenak ini, mana mungkin dia tidak setuju. Perutnya hari ini telah diberkahi.


Disisi lain, Liyuna terkejut dengan jenis kerang yang baru saja disebutkan Sara. Bagaimana tidak, kerang Abalone sangatlah terkenal dengan harganya yang mahal. Bahkan di kehidupan Liyuna yang sebelumnya, dia tidak pernah melihat bentuk kerang tersebut namun nama kerang tersebut sering sekali ia dengar. Liyuna sekali lagi merasakan bagaimana hidup Liyuna yang asli selama ini.


Setelah selesai makan siang, Liyuna meminta izin pada Karl san Sara untuk pergi berbelanja di toko dekat pantai. Sara memberi izin dengan mudah karena Yvette bersama dengan Liyuna lalu ia kembali ke hotel bersama dengan Karl.


"Hati-hati di jalan." Ucap Sara sebelum Liyuna meninggalkan restoran.


"Tenang saja tante, Yvette akan melindungi Yuna." Ucap Yvette dengan percaya diri.


Mendengar ucapan Yvette, Sara tersenyum lega.


Liyuna dan Yvette berjalan keluar restoran menuju toko yang tadi disebut oleh Yvette. Diperjalanan, mereka bertemu dengan banyak sekali orang-orang yang sedang berjualan makanan ringan seperti es serut, sosis bakar, es krim, dan juga es kelapa muda.


Sesampainya di toko, Liyuna dan Yvette melihat berbagai macam aksesoris unik yang terbuat dari kerang. Ada juga aksesoris kerajinan tangan gang terbuat dari kayu dan batok kelapa.


"Yuna, lihat ini." Yvette berdiri menghadap Liyuna, di kepalanya ada bandana yang dihiasi dengan kerang. Benar-benar terlihat sangat cantik karena kerang tersebut di warnai dengan cat biru dan juga glitter perak.


"Cantik sekali." Puji Liyuna.


Bandana itu memang sangat cantik bagi Liyuna.


"Ayo beli ini. Kita beli yang kembar."


"Baiklah."


Tidak ada alasan bagi Liyuna untuk menolak tawaran Yvette karena menurutnya bandana itu memang lucu dan dia merasa Liyuna cocok memakai bandana seperti itu.


"Terima kasih telah berbelanja." Penjual itu hendak membungkus bandana milik Liyuna dan Yvette namun Liyuna hentikan.


"Tidak usah, kami akan langsung memakinya." Ucap Liyuna sembari memakai bandana itu dikepalanya.


Yvette mengikuti apa yang Liyuna lakukan dan menarik tangan Liyuna keluar toko. Mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi beberapa booth makanan dan es krim dan sesekali membeli untuk mencicipi.


Langkah kaki Liyuna tiba-tiba saja terhenti ketika ia melihat sebuah lukisan berukuran sedang berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan. Di lukisan tersebut ada tulisan harga yang artinya itu adalah lukisan yang sedang dijual.


Tanpa sadar kedua kaki Liyuna bergerak menghampiri lukisan tersebut. Ia meraba lukisan tersebut dengan tangannya secara ringan.


Itu adalah lukisan sebuah pohon lauriel kamfer. Pohon itu tumbuh begitu besar ditengah-tengah rerumputan hijau dan di bawah langit biru cerah. Jujur saja, itu bukanlh lukisna terindah yang pernah Liyuna lihat, namun entah mengapa lukisan itu terlihat sangat familiar.


Tiba-tiba saja ada sesosok bayangan terlintas dalam ingatan Liyuna. Seketika itu juga tubuhnya membeku. Ini bukan pertama kalinya Liyuna merasakan hal seperti ini. Bayangan-bayangan sering kali muncul tiba-tiba dalam ingatan Liyuna, termasuk bayangan kali ini.


Dalam bayangan tersebut, ia melihat sosok anak laki-laki yang sedang membaca sebuah buku dibawah sebuah pohon lauriel kamfer yang cukup besar nan tua. Disekitar pohon tersebut ditumbuhi rumput hijau dan tak jauh dari sana terdengar suara aliran air yang mengalir, sebagai tanda bahwa tempat itu dekat dengan sungai. Seorang anak perempuan berjalan mendekati anak laki-laki itu dan duduk disampingnya. Liyuna tidak tahu siapa anak itu karena wajahnya buram namun dia tahu kalau anak laki-laki dan anak perempuan itu memiliki perbedaan umur yang cukup signifikan karena terlihat dengan sangat jelas bahwa anak laki-laki itu memiliki postur tubuh seorang anak remaja sedangkan anak perempuan memiliki postur tubuh yang kecil.


Bayangan-bayangan aneh selalu saja muncul dan pemicunya berbeda-beda. Liyuna tidak mengerti maksud dari apa yang ia lihat. Apa ini ingatan Liyuna yang asli atau hanya imajinasinya saja. Liyuna tidak mengerti.


TBC


[A/N : Jangan lupa rekomendasikan cerita ini ke teman kalian, ya :) feel free to give me feedback and comments. Thank you for reading my story.]