
Pernah sekali aku mengalami syok berat hingga membuatku demam. Saat itu, aku masih sangat muda, umurku baru belasan tahun dan aku masih kekanakan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengalami sesuatu yang sangat mengguncang mentalku.
Aku tidak pernah bermaksud mengatakan hal seperti itu.
Ucapan itu nampak seperti belenggu yang mengikat hati kami dan jiwa kami. Aku yang saat itu masih belum dewasa, tidak bisa menahan dampaknya. Semua terjadi begitu saja, sangat cepat dan tak ada satupun yang bisa menghentikannya.
Aku hanya kesal dan kecewa.
Kenapa mereka datang dalam kehidupan kami yang sangat bahagia.
Ibuku terus menangis dan mengunci di dalam kamar selama berhari-hari. Aku mencoba untuk tidak peduli pada apa yang terjadi namun aku ketika aku melihat ibuku menangis, aku tidak bisa menahan amarahku.
Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku.
Tak berselang lama, insiden mengerikan tersebut terjadi.
Aku jatuh sakit selama beberapa hari karena syok dan saat aku sakit, aku melihat sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.
Instingku mengatakan, itu adalah penglihatan masa depan. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa mendapatkan mimpi seperti itu namun saat pertama kali aku mulai merasa baikan, aku langsung mencari tahu kebenaran dari mimpi yang aku lihat.
Dua tahun kemudian, bukti-bukti yang mulai aku kumpulkan menunjukkan sebuah pola.
Mimpi yang aku lihat, kekacauan kota Elisien dan juga...
Kehancuran Ravenray.
Aku melihatnya dengan jelas. Kota Elisien tertutup oleh asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa dan lautan merah yang berkobar dari seluruh penjuru.
Sesuatu yang besar telah terjadi dan dalam Kekacauan tersebut, Ravenray telah runtuh.
Aku sempat berpikir bahwa itu hanya sebuah omong kosong, tidak mungkin Ravenray runtuh. Keluarga besar nomor dua di kota Elisien tidak mungkin bisa jatuh begitu saja.
Aku tidak ingin mempercayainya namun instingku mengatakan bahwa itu adalah kebenaran. Hal itu akan terjadi dan aku harus mencegahnya.
Aku mulai mencari satu persatu petunjuk yang mungkin saling berkaitan.
Lalu pada suatu hari, hal itu terjadi.
"Pemirsa, melaporkan dari tempat kejadian. Taman hiburan Havelian Park yang baru saja di buka di serang dengan sebuah bom. Pelaku saat ini berhasil kabur dan sedang dalam pencarian."
Mendengar berita barusan, aku tidak bisa memalingkan wajahku.
Di otakku seperti ada alarm yang berbunyi.
'Ini adalah petunjuk penting.'
Aku bergegas menuju ruang rahasiaku dan menulis kejadian barusan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Disini aku, berdiri di depan salah seorang pekerja taman hiburan yang sedang diliburkan akibat insiden tersebut.
"Apa yang kamu inginkan dariku anak muda?" Pria berbaju lusuh itu bertanya padaku.
Dia berbicara cukup sopan, mungkin tahu bahwa aku bukanlah anak sembarangan melihat dari pembawaanku.
Sejak dulu orang selalu mengatakan bahwa aku memiliki pembawaan yang dingin namun kau cukup karismatik dan dapat membuat siapa saja mengikuti ku.
Tentu saja, aku tidak pernah benar-benar memikirkan hal seperti itu dengan serius.
Sifat ku yang seperti ini sudah terbentuk sejak aku kecil karena ayahku selalu berkata, "Bertemanlah dengan orang-orang yang memiliki nilai."
Dia bukan ayah yang buruk. Dia menyayangiku dan selalu mengajariku banyak hal. Meski begitu, bagi sebagian orang dia bukan orang yang baik.
Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar jahat. Aku percaya akan hal itu.
"Apa anda memiliki daftar pengunjung Havelian Park selama seminggu terakhir?"
Pria itu mengerutkan dahinya mendengar ucapanku.
Aku tidak menyalahkannya. Jika ada anak muda berumur belasan tahun tiba-tiba datang dan menanyai hal seperti itu, siapapun pasti akan merasa aneh.
"Aku tidak memilikinya."
Dia berbohong.
Dia mengalihkan pandangannya dan memegang tangannya dengan gelisah. Itu adalah gerak gerik seseorang berbohong.
Aku tidak sebodoh itu. Untuk membaca seseorang berbohong atau tidak, aku sudah mempelajarinya sejak lama.
Aku mengambil ponselku dan mengetikkan sebuah nominal.
Ponsel ku pegang tepat dihadapan pria itu dan aku memastikan dia bisa melihat angka yang aku tulis dengan jelas.
Pria itu terlihat terkejut namun dia tidak gentar.
"Daftar pengunjung adalah rahasia."
Aku menambahkan lagi nominalnya menjadi dua kali lipat dan memperlihatkannya kembali pada pria itu.
Kedua matanya terlihat sedikit membulat melihat besaran yang aku tawarkan dan pada akhirnya dia menyerah pada godaan.
"Akan aku beri, tapi jangan sebarkan ke orang lain."
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya."
Pria itu mengirimkan data pengunjung Havelian Park berbentuk file pdf. Setelah itu aku mengirimkan uang sogokan melalui m-banking.
Aku pulang ke kediaman Ravenray membawa data tersebut dan mulai mengecek satu persatu nama yang ada dengan laptop yang ada di kamar.
Tok.. tok..
Aku mendengar pintu kamarku diketuk dan menghentikan kegiatanku sesaat.
"Zion, kenapa kau tidak keluar untuk makan malam?"
"Aku sedang tidak ingin makan."
"Apa kau sakit?"
"Tidak, aku hanya ingin waktu sendiri untuk belajar."
"Baiklah, Bi Ina menyisakan makan malam untukmu. Jika lapar turun kebawah dan panaskan."
"Baik."
Setelah suara langkah kaki Ibuki sudah tidka terdengar, aku mulai melanjutkan pencarianku.
Ini adalah sebuah pertaruhan. Aku tidak tahu apakah pengunjung Havelian Park menjadi salah satu alasan pengeboman atau tidak namun instingku mengatakan untuk mencari tahu.
Beberapa halaman sudah aku teliti, namun aku tidak menemukan nama-nama orang penting. Aku melihat dari hari saat kejadian berlangsung lalu mundur hingga satu minggu sebelumnya.
Kedua mataku terfokus pada layar laptop. Disana ada nama yang setahun selama setahun belakangan selalu ku dengar, Liyuna Aria Castris.
Nama itu tercatat dalam daftar pengunjung Havelian Park, seminggu sebelum kejadian pengeboman terjadi.
Aku tidak pernah berpikir bahwa dia adalah targetnya karena jarak pengeboman dan jarak kunjungannya sangat berjauhan. Namun setelah melihat daftar selama berjam-jam dan meneliti satu persatu, hanya namanya lah yang bisa menarik kriminal datang.
Putri satu-satunya keluarga Castris sekaligus calon pewaris utama. Siapapun yang tahu akan eksistensinya pasti ingin menangkap anak tersebut.
Itu bukan sesuatu yang aneh. Keluarga seperti kami selalu terpapar tindak kejahatan yang tidak pernah orang lain bayangkan sebelumnya. Terutama sebagai calon pewaris utama, banyak pihak yang ingin menyingkirkan sebuah keluarga dengan menghancurkan calon pewaris mereka.
Meski masih ada sedikit keraguan, aku tetap menulis namanya pada sticky notes kuning dan menempelkannya di dinding.
Selama dua tahun terkahir, pencarianku mengalami titik terang. Kecelakaan-kecelakaan dingin yang sering terjadi di kalangan keluarga elit hanyalah sebuah pengecoh.
Target sebenarnya adalah Liyuna Aria Castris.
Sejak saat itu aku terus mencari bukti, tak peduli akan memakan waktu berapa lama.
Hingga pada suatu titik dimana aku audah menginjak tahun terakhir di SMA, aku menemukan sebuah artikel tua tentang keluarga Castris yang pernah mengalami kecelakaan bertahun-tahun yang lalu.
Itu adalah berita yang cukup membuatku terkejut.
Berita yang seharusnya tidak pernah hilang, telah terhapuskan dari berbagai macam sumber. Tidak ada yang tahu kebenaran dari sumber tersebut karena Castris telah menguburnya dalam-dalam.
Akhirnya keberangkatanku keluar negeri tiba. Aku yang belum sempat melanjutkan penyelidikan, memutuskan untuk berhenti sejenak untuk belajar.
Empat tahun kemudian aku akan melanjutkan semuanya dan mengungkap apa yang sebenarnya sedang terjadi dan juga mencari tahu apa maksud mimpi yang pernah ia dapatkan.
Mimpi itu nyata. Sesuatu akan terjadi di Elisien dan aku ingi menghentikannya.
Kala itu aku tidak tahu jika keputusanku untuk menunda investigasi akan berujung pada kematian Ibuku.
Dan investigasi yang kulakukan, membuat keluargaku hancur lebih cepat dari seharusnya.
TBC
[A/N : Disini kita diperlihatkan alasan kenapa Zion melakukan investigasi sejak lama. Dari chapter awal udah diperlihatkan kalau Zion melakukan investigasi mengenai kecelakaan-kecelakaan kecil yang menimpa bisnis milik keluarga elit lainnya namun tidak pernah dibahas kenapa dia melakukan hal tersebut. Disini kita diperlihatkan sudut pandang Zion mengenai hal tersebut. Maaf ya, buat kalian yang nunggu sudut pandang Zion tentang Allen. Nanti kalau sudah waktunya akan diungkap kok.]