
Angin malam terasa menusuk tulang-tulang. Sirine dari mobil polisi dapat terdengar dari seluruh penjuru, garis batas polisi yang berwarna kuning mengamankan tempat terjadinya perkara.
Semua personel dari kepolisian sibuk ke sana kemari mencari barang bukti. Diantara semuanya yang hadir, terlihat Eris sedang berdiri berbicara dengan salah satu bawahannya.
"Kami akan segera mengamankan serta mencari barang bukti yang ada."
"Lakukan dengan tepat."
"Baik."
Sebagai bawahan, ia memberi hormat pada wakil ketua dalam tim mereka.
Ini adalah kejadian 9 tahun yang lalu ketika Eris masih menjadi seorang wakil ketua dalam tim Aegis. Tim Aegis adalah tim khusus yang dibentuk oleh Kepolisian Elisien Pusat dalam menangani kasus-kasus tidak biasa seperti perdagangan manusia, konflik antar penguasa dunia bawah, penjualan organ manusia ilegal, penjualan senjata api ilegal, dan sebagainya. Kasus-kasus tersebut tidak bisa ditangani oleh tim kepolisian biasa karena membutuhkan banyaknya koneksi dan kemampuan yang melebihi orang lain.
Meski masih muda, Eris menunjukkan peforma yang begitu luar biasa, membuatnya mampu menjadi wakil ketua tim di umurnya yang masih 25 tahun. Namun sehebat apapun dia, Eris tidak bisa mengalahkan kehebatan ketua tim Aegis, Reindra.
Pemuda yang seumuran dengannya itu bisa menjadi ketua di umurnya yang ke-23. Benar-benar suatu pencapaian yang mengerikan. Diumur itu seharusnya Reindra baru saja lulus dari Akademi namun dia sudah mampu menduduki posisi tertinggi. Apa lagi melihat latar belakangnya yang berasal dari kalangan biasa, Eris menjadi iri hati. Ia merasa Reindra tidak pantas untuk menduduki jabatan tertinggi.
Di sisi lain, terlihat Yuda yang masih sangat muda muntah-muntah setelah melihat jasad yang tak berbentuk. Baginya yang masih berumur 6 tahun, ini pertama kalinya dia melihat pemandangan mengerikan seperti itu. Seluruh makanan yang ada diperutnya serasa ingin keluar, ia tidak bisa menahan rasa mual dan jijik melihat jasad tersebut.
"Wakil ketua, apa adik anda baik-baik saja?" Salah satu bawahan Eris yang melihat Yuda muntah-muntah sejak tadi merasa kasihan. Ia merasa Yuda terlalu kecil untuk melihat hal-hal seperti ini.
Namun berbeda darinya yang khawatir, Eris sama sekali tidak merasa begitu.
"Biarkan saja dia. Dia sendiri yang ingin berlatih untuk membiasakan diri dalam menangani kasus seperti ini."
"Tapi..."
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Kau bisa bertahan kan? Katanya kau ingin menjadi detektif yang hebat."
Yuda mengusap mulutnya dengan lengan bajunya, ia menatap Eris dengan wajah yang sulit untuk dibaca namun pada saat itu, Yuda yang masih kecil hanya mempercayai penilaian kakaknya.
"Benar, aku masih bisa melakukannya."
Yuda saat itu tidak tahu kalau dirinya sudah berada dalam genggaman Eris dan dia tidak tahu jika pilihannya akan mendatangkan mala petaka.
Buliran salju turun perlahan-lahan, membuat suasana semakin dingin. Hari itu, sebuah tragedi besar yang dikenal sebagai Frozen December terjadi.
Dari 25 personel yang dikerahkan, hanya satu orang yang selamat. Tragedi itu membuat luka yang tidak bisa disembuhkan dan tercatat sebagai insiden terburuk dalam sejarah kepolisian Elisien sejak terbentuk.
***
Yuda terlihat membuka kedua matanya. Ia mencoba untuk tidak mengingat kejadian yang sudah lama terjadi. Sejak hari itu, dia selalu mendapatkan mimpi buruk ketika tertidur.
"Nak Yuda kamu ikut lagi. Sudah lama tidak bertemu."
"Benar, senang dapat bergabung lagi."
Baginya bergabung dengan Eris sangatlah tidak menyenangkan. Dia hanyalah alat bagi Eris untuk memuaskan seluruh hasrat dan ambisinya. Wanita kejam itu tidak peduli siapa yang harus dia singkirkan untuk menjadi nomor satu.
Wanita mengerikan yang ia sebut sebagai kakak.
"Nak Yuda, ini diminum dulu kopinya."
Yuda menerima kopi pemberian salah satu anggota dari tim Aegis. Anggota yang sudah berumur paruh baya bernama Piren itu saat ini bekerja dibawah kepemimpinan Eris dan sudah mengenal Yuda dengan baik. Sejak Eris naik jabatan 8 tahun yang lalu sejak tragedi mengerikan itu, Piren bergabung menjadi salah satu anggota tim Aegis yang baru. Dia sangat menghormati Eris yang begitu hebat dalam menyelesaikan setiap kasus yang ia tangani. Piren juga sudah menganggap Yuda seperti anaknya sendiri.
"Terima kasih, Pak Piren."
Yuda menyeruput kopi hangat, dalam diam dia ditemani oleh asap dari kopi hangat yang mulai mengepul ke udara. Membuat tubuh dan hatinya yang dingin mulai menghangat.
"Nak Yuda tidak perlu memaksakan diri."
Piren merasa kagum dengan dedikasi Yuda yang mau belajar untuk menjadi detektif hebat namun dia juga merasa kasihan karena Yuda masih sangat lah muda. Tidak seharusnya anak semuda dia ikut dalam penyelidikan berat seperti ini, jika bukan karena dia adik dari Eris sudah pasti dia tidak akan mendapatkan izin untuk ikut mengamati.
Piren benar-benar tidak tahu bagaimana cara keluarga elit seperti Harvenhelt bekerja, bagaimana mungkin mereka membiarkan ank semuda Yuda melakukan hal seperti ini.
***
Karena hanya ada mereka berdua di ruangan ini, Titus tidak perlu bersusah payah berbicara formal dengan Hajun. Lain cerita jika ada orang lain bersama dengan mereka.
"Ya, aku sudah mendengarnya."
"Apa menurutmu Castris sedang melakukan pergerakan?"
"Mari kita lihat saja nanti."
Hajun melemparkan panah kecil ke arah papan darts dan mengenai tepat ditengah-tengah. Di waktu luangnya, Hajun biasanya menghabiskan waktu untuk bermain darts maupun di ruang menembak.
Titus merasa hari ini Hajun berbeda dari biasanya. Di kedua matanya, terlihat jelas sekali ada mata panda. Sepertinya Hajun mengalami insomnia, hal yang jarang sekali ka rasakan.
"Apa tidurmu kurang nyenyak tadi malam?"
"Ya, begitu lah."
"Bagaimana jika hari ini kau istirahat saja?"
Hajun tidak membalas saran dari Titus bukan karena dia tidak mendengarkan, melainkan karena dia tidak bisa melakukannya. Dia sudah mencoba untuk tidur namun tetap tidak bisa melupakannya.
Titus menghela napas melihat Hajun yang mengabaikan saran darinya. Meski sudah sangat mengenali watak dari Hajun, Titus tetap merasa sulit untuk berbicara padanya.
"Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini? Apa kau sedang memikirkan tentang wanita?"
Titus sedikit terkekeh karena ucapannya sendiri. Selama lebih dari 10 tahun bersama dengan Hajun, dia tidak pernah memiliki kontak dengan seorang wanita. Namun Titus ingin sedikit menggoda Hajun.
"Iya."
"!!!"
Titus seketika berhenti terkekeh ketika mendengar jawaban dari Hajun. Barusan dia tidak salah dengar bukan?
Hajun berkata dia sedang memikirkan seorang wanita?! Seorang Hajun?!
Sepertinya dunia sebentar lagi akan hancur. Hajun tidak mungkin... Seorang Hajun?! Memikirkan seorang wanita?! Wanita?!
Titus tidak bisa berkata-kata lagi. Semua hal yang tadinya ingin keluar dari mulutnya tiba-tiba terbungkam. Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa setelah mendengar ucapan dari Hajun.
Setelah panah kecilnya sudah habis, Hajun duduk di sofa panjang yang ada di ruangan. Dia duduk santai sembari merenggangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
"Beri aku obat tidur."
Hajun meminta dengan suaranya yang sedikit serak karena semalaman ia terjaga. Dia tidak punya pilihan lain selain mengandalkan obat tidur untuk mengobati tubuhnya yang sudah sangat lelah. Sejak beberapa hari yang lalu sulit sekali untuknya beristirahat. Ada banyak sekali masalah yang harus ia tangani termasuk urusan Obelian's Circle.
Ketua tidak akan membiarkannya menyepelekan tugasnya disini, lagi pula dia sudah dipercayakan untuk memegang kendali atas Obelian's Circle yang ada di Elisien. Jika saja dia tahu apa yang Hajun lakukan disini, Irina pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.
Apa yang Hajun lakukan saat ini telah melanggar kesepakatan yang ia lakukan dengan Obelian's Circle. Namun dia tidak takut akan hal itu, bagi Hajun Obelian's Circle atau apapun itu tidak terlalu penting. Saat ini dia ada diposisi dimana harus melindungi nyawa dari banyak orang.
Semua adlah pilihannya sendiri jadi dia tidak bisa protes akan hal itu.
"Akan segera aku ambilkan."
Titus pergi keluar untuk mengambilkan obat tidur untuk Hajun. Setelah Titus pergi, Hajun terlihat menutup kedua matanya dengan lengannya dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan.
Kepalanya terasa begitu berat namun ia tidak bisa tidur. Jika ia tertidur, bayang-bayang wanita itu akan selalu datang dan menghantuinya.
Benar-benar menyedihkan, tidak seperti dia yang biasanya.
TBC