
Dengan begitu, musim semi Liyuna yang kesepuluh di mulai.
Kelopak bunga sakura berguguran menyelimuti sepanjang jalan kota Elisien. Liyuna dan Yuriel yang saat ini sudah kelas 1 SMA tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan menawan. Mereka berdua sudah melewati ujian tengah semester yang berarti bawah semester kedua sudah di mulai.
Entah sebuah kebetulan atau tidak, Liyuna, Yuriel, Yvette, dan Allen kembali berada di satu kelas. Mungkin ini kehendak developer game, atau mungkin juga karena halo Yuriel yang sangat kuat.
Empat tahun berlalu begitu saja sejak insiden pembunuhan Almera Ravenray. Banyak orang meninggalkan kota Elisien, terutama orang-orang biasa yang memang tidak ingin terlibat dalam perseteruan antar keluarga konglomerat. Mereka takut kena imbas dan bagi mereka yang sudah merasakan hidup di Elisien yang kompetitif, mereka yakin bisa melanjutkan hidup di kota lain yang tak kalah besar dari Elisien. Beberapa juga memutuskan untuk pergi bekerja ke luar negeri, berharap semua masalah yang terjadi berlalu dengan cepat.
Sejak saat itu, Riana berusaha untuk bertemu dengan Liyuna asli namun hasilnya nihil. Meski dia bisa sampai ke tempat dimana gazebo emas berada, dia tidak bisa menemukan Liyuna asli seolah-olah mereka tidak diperbolehkan untuk bertemu. Mungkin saja karena memang belum waktunya mereka bertemu namun ada banyak sekali pertanyaan di kepala Riana sampai saat ini.
Tapi sepertinya, dia harus bersabar sedikit lebih lama lagi.
"Yuna, selamat pagi."
"Yuriel, selamat pagi."
"Yvette juga."
"Selamat pagi semuanya."
Di pagi hari yang cerah ini, sekolah sudah dipenuhi oleh murid-murid yang ingin belajar. Mereka saling menyapa ketika bertemu di lorong dan saling membantu jika kesusahan. Benar-benar berbeda dengan yang dulu dimana semua berkompetisi dan saling menjaga jarak. Meski begitu, Liyuna tidak menyalahkan mereka. Bagaimana mereka diasuh juga menjadi faktor dari sifat mereka yang seperti itu.
Satu semester telah berlalu, Liyuna maupun Yuriel dapat berbaur dengan yang lainnya dengan sangat mudah dan seperti biasa mereka berdua memuncaki peringkat akademis diangkatan mereka. Tidak heran, banyak orang mengenal siapa mereka. Selain berasal dari keluarga konglomerat terkaya di Elisien, mereka juga memiliki prestasi yang luar biasa. Banyak yang ingin mengenal mereka karena hal itu, apalagi melihat Yuriel yang sangat ramah dan baik ke semua orang, membuat reputasi Castris bersaudara menjadi semakin tinggi.
Tidak hanya itu, Yvette yang selalu bermain bersama mereka pun juga memiliki banyak pengagum. Gadis ceria yang mudah bergaul dengan siapa saja itu, hanya dalam seminggu dia telah dikenal hampir seluruh angkatan. Benar-benar kemampuan komunikasi yang baik. Selain itu juga, Vlistha Electronic milik keluarga Yvette juga semakin hari mejadi semakin besar. Bisnis mereka berkembang dengan sangat baik membuat Yvette semakin populer.
Berbeda dengan Liyuna, Yuriel, dan Yvette. Tidak ada satupun murid yang berani mendekati Allen. Setiap mereka ingin mengajaknya berbicara, Allen akan menatap mereka dengan sangat tajam. Walau dia tidak melakukan kekerasan atau apapun, banyak yang takut padanya. Meski begitu, ada juga yang berani mendekatinya dan mengerti bahwa Allen tidak seburuk itu. Dia hanya tidak terlalu bisa mencari teman dan sulit berkomunikasi dengan orang asing karena ia sering memasang wajah seram disertai tatapan yang tajam.
"Kalian terlambat."
Allen terlihat memasang wajah kesal. Wajahnya yang dulu masih terlihat belum dewasa, sekarang sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit, menampakkan bahwa saat ini dia adalah seorang remaja berumur 16 tahun. Tidak ada banyak hal yang berubah dari Allen, sifatnya yang kasar dan suka seenaknya masih sama, begitu juga cara berpakaiannya yang tidak rapi.
"Apa maksudmu? Bahkan kelas belum dimulai!"
Liyuna tersenyum melihat teman-temannya bertengkar seperti ini. Tidak ada hari tanpa pertengkaran kecil, apalagi Allen yang yang selalu berhasil membuat Yvette kesal. Entah sejak kapan, hubungan Allen dan Yuriel menjadi tenang. Mereka jarang bertengkar dan lebih sering bekerjasama. Mungkin ini karena efek game, Liyuna tidak tahu.
Ketika mereka pertama kali masuk SMA, Yuriel dan Allen beradu mulut untuk menentukan siapa yang akan duduk di samping Liyuna. Meski Yvette juga ingin duduk di samping Liyuna, dia tidak ingin memaksanya jadi memutuskan untuk tidak ikut-ikutan hingga pada akhirnya Yuriel dan Allen setuju untuk duduk bersama biar adil dan membiarkan Yvette duduk di samping Liyuna.
Kelas pagi ini berlalu begitu saja.
Kali ini Liyuna tidak bergabung dalam OSIS dan hanya mengikuti klub kerajinan tangan. Sedangkan Yvette, dia melanjutkan hobinya di bidang teater, begitu juga dengan Yuriel yang melanjutkan untuk bergabung dengan klub melukis. Allen sendiri memutuskan untuk ikut klub basket, Liyuna tidak tahu bahwa dia memiliki kemampuan yang cukup hebat di bidang olahraga karena seingatnya, di game tidak ada narasi semacam itu.
Sepuluh tahun berlalu, Liyuna merasa itu adalah waktu yang cukup lama untuknya. Ingatannya tentang dunia sebelumnya sudah mulai memudar dan hanya tersisa fragmen-fragmen kecil yang terkadang membuatnya teringat kembali akan memori masa lalu. Liyuna tidak merasa itu sesuatu yabg menakutkan, lagipula sepuluh tahun telah berlalu.
Tidak hanya memori masa lalu saja yang mulai menghilang namun memori tentang game Red String pun perlahan hilang dan tertimbun ingatan lain di otaknya. Dia tidak pernah menulis plot Red String dalam sebuah buku maupun kertas karena takut akan ada yang membacanya, lagipula dunia ini tidak sepenuhnya dunia fantasi. Lebih tepat jika mengatakan bahwa dunia ini adalah dunia paralel.
Meski ingatannya tentang alur cerita Red String sedikit memudar, Liyuna tidak mempermasalahkan itu. Semua sudah berjalan melewati jalur yang berbeda dimana Liyuna sendiri tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang sedang menunggunya di depan sana.
Di umurnya yang ke dua belas, Liyuna tidak bertunangan dengan Allen dan setelah itu Liyuna juga menyadari bahwa Allen dan Yuriel tidak saling mencintai seperti yang seharusnya.
"Kalau begitu, aku mau ke ruang klub dulu."
Mereka berempat berpisah ketika bel pulang berbunyi keseluruh penjuru sekolah. Ini sudah menjadi keseharian mereka, berkumpul di pagi hari dan berpisah di sore hari. Semakin mereka dewasa, banyak yang yang mulai berubah sedikit demi sedikit.
Langit jingga mewarnai kota Elisien, ditemani oleh hembusan angin musim semi yang membawa kelopak bunga sakura terbang kesana-kemari.
Liyuna menaruh sedikit rambutnya dibelakang telinga, melihat langit jingga dari balik jendela. Ini adalah pamandangan yang menakjubkan. Entah sejak kapan dia mulai terbiasa dengan kehidupan ini. Entah sejak kalan dia mulai berbaur dengan tempat asing ini.
Liyuna merasa bersyukur bahwa dia diberi kesempatan untuk kembali merasakan kehidupan. Kehidupan dimana semua usaha dimasa lalu yang pernah ia alami serasa sudah sangat lama.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Liyuna ketahui, salah satunya kabar dari Lucas. Sejak dia pulang ke Rusia 9 tahun yang lalu, Lucas sama sekali tidak menghubunginya, dia juga tidak menghubungi Yvette. Liyuna ingin sekali mengetahui kabar tentangnya karena Lucas adalah salah satu teman berharga yang merubah kehidupannya. Sedikit demi sedikit dia membantu Liyuna memperbaiki citranya yang buruk dikalangan murid-murid dan membuatnya bisa berbaur dengan yang lainnya.
Meski tidak ada kabar sama sekali, Liyuna yakin bahwa mereka akan bertemu lagi. Jika tidak, Liyuna sendiri yang akan pergi ke Rusia untuk menemuinya. Liyuna penasaran, seperti apa Lucas sekarang.
Liyuna tidak perlu menunggu lama, keinginannya dengan segera akan terkabul. Lagi pula, ini adalah waktu yang telah dijanjikan.
TBC