
Sehari setelah insiden pengeboman di persimpangan yang berada ditengah-tengah kota, media sosial menjadi heboh.
Insiden tersebut memakan korban jiwa dengan jumlah yang tak sedikit. Beberapa diantara bisa selamat karena berada jauh dari tempat kejadian. Namun untuk orang-orang yang berada tepat di tempat kejadian, tentu saja tidak akan selamat. Rubuh mereka hancur bersamaan dengan bom yang meledak.
Beberapa korban yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit agar bisa segera mendapat pertolongan, sedangkan warga lainnya yang berada di tempat kejadian kini harus mendapat bantuan khusus untuk memulihkan kondisi mental mereka.
Kota Elisien adalah kota yang aman. Itulah yang orang percayai.
Namun kejadian kemarin seperti meludahi wajah pemerintah. Tidak ada yang menyangka bahwa pasukan teror akan kembali beraksi setelah apa yang terjadi beberapa tahun silam.
Pertama adalah insiden Havelian Park, kemudian insiden pembantaian di kediaman Ravenray, dan sekarang ini.
Para petinggi kepolisian mulai pusing menangani tudingan masyarakat dan kritik yang mereka lontarkan.
Bukannya mereka lalai dalam mencegah hal ini namun musuh kali ini lah yang sulit untuk dilawan.
Jika tidak, mana mungkin mereka bisa kehilangan ekor Cerberus selama puluhan tahun. Hewan mitologi berkepala tiga itu sangat pandai sekali menyembunyikan bangkainya. Pihak kepolisian dibuat bingung.
Bahkan tim kompeten seperti Aegis saja masih sangat sulit untuk mendapatkan informasinya tentang mereka.
"Pemirsa, sebuah bom meledak di persimpangan yang ada di tengah kota Elisien. Pelaku pengeboman di duga sebagai sekelompok pasukan teror yang sengaja–"
Pik!
Liyuna menoleh kesamping karena tv yang ia tonton tiba-tiba dimatikan. Ia melihat Sara berdiri disampingnya sembari membawa remot.
"Kenapa dimatikan? Aku sedang menonton."
"Yuna, tidak usah menonton berita seperti itu. Mama khawatir padamu."
Sara duduk di samping Liyuna, ia memegang tangan putrinya.
Setelah mendengar laporan dari Noel dan Liam, Sara segera bergegas pulang ke kediaman Castris. Ia begitu khawatir pada putri semata wayangnya dan takut sesuatu terjadi padanya.
"Mama tidak usah khawatir, aku baik-baik saja."
"Tetap saja, hati Mama tidak bisa tenang."
Liyuna mengerti kekhawatiran Sara. Lagipula, ini bukan pertama kalinya ia berada di situasi yang bisa membahayakan nyawanya jadi tidak aneh jika Sara merasa khawatir.
Liyuna sendiri tidak tahu mengapa ada kejadian seperti ini. Apakah ini karena dirinya yang seorang wanita jahat? Atau karena Yuriel sebagai seorang pemeran utama? Liyuna tidak mengerti.
"Bagaimana keadaan Yuri?"
"Yuriel masih istirahat. Sepertinya dia sangat syok."
Kemarin setelah sampai di rumah, Yuriel tiba-tiba saja mengalami hiperventilasi. Liyuna yang melihat hal itu langsung meminta pertolongan para pelayan karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah diperiksa oleh dokter, dia mengatakan bahwa Yuriel sepertinya mengalami tekanan emosi yang begitu kuat sehingga membuatnya seperti itu. Dokter juga mengatakan bahwa mungkin saja peristiwa yang baru saja ia alami menjadi pemicu tekanan tersebut dan menyarankan untuk membiarkannya istirahat dan memberinya obat tidur.
Liyuna langsung mengikuti kata dokter dan tak lama kemudian Sara datang.
Hal yang membuat Liyuna penasaran adalah mengapa Yuriel tiba-tiba saja mengalami syok berat. Padahal saat bom meledak hingga mereka masuk mobil, dia terlihat baik-baik saja meskipun lebih banyak terdiam.
Meski penasaran, Liyuna tidak bertanya. Ia tidak ingin mengingatkan Yuriel pada hal yang bisa membuatnya terluka.
Sara memeluk Liyuna. Beberapa tahun belakangan ini, dia tidak bisa tenang karena Liyuna selalu berada dalam bahaya. Meskipun ia sudah mempekerjakan banyak body guard, rasanya semua sia-sia. Liyuna tetap terpapar bahaya dan Sara tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia kehilangan Liyuna.
Sara tidak menyalahkan body guard yang menjaga Liyuna karena ia tahu bahwa mereka juga berusaha keras untuk membuat Liyuna tetap aman. Namun tetap saja sebagai seorang Ibu, Sara merasa khawatir.
Liyuna membalas pelukan Sara. Ia merasa sedikit sedih karena selaku membuatnya khawatir. Liyuna ingin Sara tidak terlalu mengkhawatirkannya karena dia tidak akan mati begitu saja.
Benar, Liyuna hanya mati karena terlibat dengan target. Jika dia menghindari semua rute, Liyuna yakin dia akan selamat.
Malam harinya, Liyuna pergi ke kamar Yuriel untuk memeriksa keadaannya.
"Kakak..." Panggil Yuriel dengan suara lirih.
Sejak mengalami hiperventilasi kemarin malam, Yuriel terus berada di kamarnya untuk memulihkan diri.
"Yuri, kau sudah baikan?"
Yuriel menegang tangan Liyuna dengan erat. Wajahnya terlihat masih sangat pucat dan sepertinya kondisi dia belum membaik.
Liyuna duduk di ranjang Yuriel dan balas memegang tangannya. Melihat Yuriel yang seperti itu Liyuna menjadi tidak tega.
"Kak... Jangan tinggalkan aku." Ucapnya lirih.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Temani aku."
"Tentu, aku akan menemanimu."
Malam itu, Liyuna dan Yuriel tidur bersama. Mimpi buruk yang selalu menghantui Yuriel tidak muncul ketika ia tahu bahwa Liyuna berada disampingnya.
Sebuah dataran luas yang dipenuhi cahaya. Tempat yang sangat menyilaukan namun terlihat sangat indah.
Itu adalah tempat dimana dia bertemu dengan Liyuna asli. Disebuah gazebo emas yang terlihat mencolok ditengah-tengah hujan cahaya.
"Sudah lama tidak bertemu."
"Kenapa baru muncul sekarang? Aku ingin bertemu denganmu sejak lama."
"Maaf, aku tidak bisa sering bertemu denganmu."
"Kenapa?"
"Setiap pertemuan yang kita lakukan akan memakan energi spiritualku. Jadi, aku tidak bisa sering menemui mu atau aku akan menghilang."
"Lalu, apa yang membuatmu ingin menemui ku kali ini?"
Liyuna asli terlihat terdiam sejenak, dia menatap Riana dengan matanya yang begitu indah. Di dalam mimpi ini, anehnya tubuh Riana tidak terlihat seperti tubuh aslinya di dunia sebelumnya melainkan mengambil wujud Liyuna kecil dalam game.
Riana tidak tahu apa alasannya namun semua ini terasa aneh baginya. Melihat seseorang dengan wajah yang sama dengannya, membuatnya sedikit bertanya-tanya.
"Apa kau bisa merasakannya?"
"Merasakan apa?"
"Sebuah angin kekacauan."
Riana terdiam. Dia mengerti apa yang Liyuna asli katakan. Ia membicarakan tentang kekacauan yang akhir-akhir ini terjadi.
"Benar, tanpa sadar aku bisa merasakannya. Sejak tante Almera dibunuh, semua jadi berubah. Tidak, mungkin sejak penyerangan di danau Alkelan waktu itu semua menjadi kacau."
"Apakah sudah waktunya?"
"Apa maksudmu?"
"Kematian tante Almera."
"Huh?"
Liyuna asli terlihat sedikit termenung mendengarkan informasi dari Riana. Ia sedang berpikir mengenai sesuatu namun Riana tidak tahu apa itu.
"Ternyata begitu, semuanya telah berubah."
Lagi-lagi Liyuna asli mengatakan sesuatu yang sangat tidak jelas. Riana tidak mengerti arah pembicaraan kali ini karena sedikitnya petunjuk yang bisa ia dapatkan.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin kali ini semua akan berjalan baik-baik saja."
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa itu?"
"Tentang kematian tante Almera. Kenapa dia bisa meninggal sebelum waktunya? Kau pasti mengerti apa maksudku bukan? Karena aku..."
WUUUSH—
Angin berhembus dengan sangat kencang, menerbangkan rambut Riana hingga berantakan. Liyuna asli menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi seolah tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Bukan berasal dari dunia ini."
"Apa itu membuatmu penasaran? Aku rasa itu bukanlah hal yang penting."
"Itu penting buatku! Apa karena aku keberadaanku di dunia ini semua jadi berubah? Apakah aku yang membuat tante Almera meninggal sebelum waktunya?"
"Hanya ada satu hal yang bisa aku katakan. Itu bukan karenamu. Sejak kau berada di dunia ini, kau menulis hal baru dalam kertas kosong. Setiap hal yang kau lakukan tidak akan memiliki akhir yang sama seperti apa yang ada diingatanmu. Lagipula, semua ini adalah cerita baru yang hanya kamu miliki, bukan milikku."
Riana berusaha menelaah ucapan dari Liyuna asli. Jika memang benar apa yang ia katakan berarti selama ini dia melakukan hal yang sia-sia. Jika benar keberadaannya bagaiman lembaran kosong yang nantinya akan ia tulis sendiri isinya, itu berarti semua usahanya untuk menghindari kematian adalah sesuatu yang sia-sia?
Ria menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut. Ia menatap Liyuna asli dengan mata yang bergetar.
"Kau tidak perlu memikirkan hal yang rumit. Semua jawaban yang kau inginkan sebenarnya berada sangat dekat denganmu." Liyuna asli berjalan mendekati Riana.
"Kau hanya perlu mengamatinya, setiap tindakan orang-orang terdekatmu. Nantinya jawaban itu akan muncul dengan sendirinya." Lanjutnya.
Kini Liyuna asli berdiri tepat dihadapan Riana. Dia terlihat sangat cantik dengan polesan lipstick berwarna merah dan dress berwarna senada.
"Kau adalah aku dan aku adalah kau. Kita berbagi takdir yang sama dan ketika cerita ini mencapai akhir, semua akan tertulis kembali."
Riana menatap kedua mata Liyuna asli dan tiba-tiba saja semua mulai menggelap.
TBC
[A/N: heyoo~ sebentar lagi masuk Arc Liyuna berumur 17 tahun! Apakah kalian ingin mengadakan QnA seperti sebelumnya? Jika iya bisa masukkan pertanyaan kalian di kolom komentar. Nanti author akan buatkan sesi khusus QnA. Ayo keluarkan teori kalian sebelum Arc baru dimulai✨]