
Liyuna mendongakkan kepalanya keatas, ia dapat melihat dagu yang terlihat seperti pahatan.
"Allen?" Ucap Liyuna dengan suara lirih.
Ia benar-benar terkejut melihat Allen tiba-tiba menghadangnya.
Allen tidak menggubris Liyuna, ia menatap Zion tanpa ekspresi. Ini pertama kalinya Allen berhadapan secara langsung dengan Zion di tempat umum.
Liyuna yang merasa gelisah, menatap Zion yang saat ini sedang menatap Allen. Semua terasa sangat lama, padahal baru beberapa detik berlalu.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Allen mengalihkan perhatiannya pada Liyuna. Ia memegang tangan Liyuna dan menariknya kembali ke lantai dansa.
Zion terlihat pergi menjauh dari lantai dansa dan kembali bersosialisasi dengan orang-orang penting yang ingin berhubungan dengan Ravenray.
Lagu kedua dimulai, Liyuna kembali berdansa namun dengan partner yang berbeda, yaitu dengan Allen.
Allen menatap kedua mata Liyuna dengan tegas. Entah kenapa Liyuna tidak bisa membaca suasana hatinya saat ini.
Setelah bertemu dengan Zion, tidak mungkin suasana hatinya baik bukan? Liyuna menahan helaan napas yang hampir keluar dari mulutnya.
Berbeda dengan Zion maupun Allen yang menganggap apa yang mereka lakukan biasa, para tamu yang melihat bagaimana Liyuna berganti pasangan dansanya dengan Allen membuat sedikit kehebohan.
Kedua putra dari keluarga Ravenray berdansa dengan calon pewaris Castris Group, sudah pasti ini bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja.
Walau status Allen memang sangat dipertanyakan nama fakta bahwa nama dia tercantum dalam data resmi keluarga Ravenray tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.
Meski kebanyakan orang memilih untuk menghindarinya, ada beberapa orang yang diam-diam mendukungnya. Meski begitu mereka tidak berani menunjukkan dukungan secara frontal, mereka masih ingin menjaga image mereka di depan orang lain.
Mendukung seorang anak yang statusnya tidak memiliki keuntungan bisa membuat segalanya menjadi fatal. Karena itulah, penting bagi para pemimpin perusahaan besar untuk menimbang dan mengukur pihak mana yang nantinya akan menang.
"Kalian membicarakan apa?"
"Apa?"
"Kau dan Zion..."
Allen menggantung ucapannya, dia merasa sedikit ragu untuk menanyakan apa yang saat ini sedang ia pikirkan pada Liyuna atau tidak.
Namun Liyuna mengerti kenapa Allen bersikap seperti ini.
Dia merasa takut dan tidak percaya diri. Hal seperti ini pernah terjadi dulu sekali dan Liyuna masih mengingatkan. Saat ia bertemu dengan Allen pertama kali di pesta, Allen juga menunjukkan perilaku seperti ini.
"Dia hanya berterima kasih padaku."
"Berterima kasih soal apa?"
"Soal teh. Aku pernah memberinya teh."
Mendengar hal itu, hati Allen terasa sedikit aneh. Allen tahu bahwa dia seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya Allen bisa melepaskan apa yang sudah berlalu, namun dia tidak menginginkannya. Dia ingin terus menggapai sesuatu yang dulu tidak pernah bisa ia gapai.
"Teh?"
"Ya, empat tahun yang lalu aku memberinya secangkir teh."
"Sejak kapan kau berhubungan dengannya?"
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Saat itu, kau ingatkan apa yang terjadi empat tahun yang lalu."
Allen terlihat berpikir sejenak, "Maksudmu saat tante tiada?"
"Benar. Aku melihatnya berdiri sendirian didepan makam Ibunya dan memberinya secangkir teh. Dia berterima kasih untuk hal itu."
"Aku kira kalian..."
"Allen." Panggil Liyuna dengan suara lembut.
Setelah semua hal yang telah ia lalui bersama dengan Allen, Liyuna tidak bisa tinggal diam ketika temannya merasa tidak percaya diri. Dia ingin Allen mempercayainya dan mengetahui bahwa masih ada orang yang akan selalu berada disampingnya.
Allen mental kedua mata Liyuna. Seluruh suara musik yang memenuhi ruangan seolah terhenti. Allen hanya bisa menatap Liyuna dan memblokir suara yang selain miliknya.
"Itu tidak akan terjadi. Kau tidak usah khawatir."
Liyuna yakin bahwa dirinya tidak akan terlibat dengan Zion lagi. Jika memang harus terlibat, itu hanya sebatas sopan santun. Liyuna tidak membenci Zion namun dia juga tidak ingin membuat Allen merasa sedih. Hubungannya dan Zion yang buruk sudah bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang mengetahuinya karena Allen secara terang-terangan memperlihatkan perasaan tidak sukanya namun tidak ada satupun yang tahu bagaimana perasaan Zion terhadap Allen.
Bahkan di dalam game sekalipun, Zion selalu bersikap pasif ketika Allen menyerangnya. Dia tidak mencoba melawan maupun membalas perbuatan Allen.
Di rute Zion, Liyuna ingat kalau Allen tidak melakukan perlawanan sama sekali. Berbanding terbalik dengan rute Allen dimana dia dengan sangat gencar mengincar Zion.
Kalo dipikir-dipikir lagi, di rute lain juga sama. Allen hanya bertindak agresif di rute miliknya sendiri. Sedangkan di rute tokoh lain, dia sama sekali tidak melakukan perlawanan, bahkan dia juga jarang sekali muncul.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Lamunan Liyuna buyar seketika. Ia menatap Allen dengan tatapan kebingungan.
"Huh?"
"Saat ini kau sedang berdansa denganku, kemana perginya perhatianmu? Jangan memikirkan hal lain ketika bersamaku."
Liyuna merasa aneh ketika mendengar ucapan Allen. Ucapan yang baru saja ia katakan terdengar seperti seorang kekasih yang sedang merajuk karena pasangannya tidak memperhatikannya.
Malam terasa begitu panjang. Lagu kedua akhirnya selesai.
Liyuna memutuskan untuk pergi ke ruang istirahat agar tidak ada yang bisa mengajaknya berdansa lagi. Dia ingin membersihkan pikirannya dan menghirup udara segar.
Kembali memikirkan tentang alur cerita dalam game Red String membuatnya kehilangan banyak tenaga. Sepuluh tahun telah berlalu, ingatannya tentang game tersebut pun sudah semakin memudar. Ia tidak tahu apakah semua yang dia lakukan bisa menyelamatkan hidupnya atau tidak namun saat ini, Liyuna ini hidup sesuai dengan pilihannya.
Di sisi lain, setelah lagu kedua selesai. Yuriel terlihat mendekati Allen.
"Apa yang baru saja kalian bicarakan?"
"Bukan urusanmu."
"Kau lupa dengan perjanjian kita?"
Allen melirik Yuriel dengan sudut matanya.
"Hanya masalah ini dan itu." Allen menghela napas. Jika Yuriel bermain licik dengan menyebut perjanjian, dia tidak bisa membalas ucapannya.
"Hei, kau... Kau ingatkan dengan apa yang aku katakan sebelumnya?"
"Apa?"
"Tentang kau dan Liyuna."
Mata Allen terlihat sedikit menggelap. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya jika mengingat hal itu.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Tidak ada, hanya saja untuk kali ini jangan dekati dia dengan tujuan seperti sebelumnya."
Allen sangat mengerti maksud dari Yuriel. Dia mengkhawatirkan Liyuna, begitu juga dengan Allen. Namun Allen juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Kesempatan yang telah ia sia-siakan dahulu, ia ingin mengubahnya.
Namun semua tidak bisa berjalan sesuai keinginannya.
"Kau tahu kalau kau sudah kehilangan kesempatanmu, bukan?"
"Aku tahu itu."
"Aku bicara seperti ini bukan hanya untukmu, tapi untuk mereka juga."
"Lagipula, ini adalah kesempatan yang aku inginkan. Kesempatan milikmu, sudah selesai."
"Kau tidak perlu susah payah memberitahuku hal ini aku sudah tahu."
"Kalau begitu, lakukan dengan benar. Kali ini ayo kita bekerja sama lagi, namun bukan untuk mendapatkan tahta Castris melainkan untuk melindungi Liyuna."
Kedua mata Yuriel bersinar menampakkan tekad kuat yang telah bulat. Ini adalah langkah pertama yang akan dia ambil.
Kali ini, Yuriel akan melindungi Liyuna apapun yang terjadi.
Allen menatap kedua mata Yuriel. Ketika kedua mata penuh tekad itu saling bertatapan, ada perasaan saling percaya dan keberanian yang kuat.
Keduanya sudah memutuskan apa yang akan meraka lakukan selanjutnya.
Babak baru, akan segera dimulai. Kebenaran yang selama ini mereka berdua sembunyikan, akan segera terungkap.
Apa sebenarnya yang membuat kedua orang tersebut saling berkerja sama?
TBC