Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 108 - Tekad yang Bulat



Setelah Yuda kembali ke apartemen tua yang dia sewa dipinggiran kota, dia langsung membaca kembali berkas laporan yang diberikan Hagen padanya.


Yuda masih tidak percaya dengan laporan mengenai Reindra. Sebagai seseorang yang terlibat langaung dengan insiden Frozen December, Yuda tahu bahwa Reindra sudah tiada.


'Ya, seharusnya memang begitu. Tidak mungkin dia bisa selamat.'


Meski kedua mata Yuda terlihat fokus pada lembaran laporan yang ada ditangannya namun sebenarnya kesadarannya ada di tempat lain. Saat ini dia sedang melamun, mencoba mengingat-ingat insiden yang terjadi ketika dia masih berumur 6 tahun. Sebuah insiden yang membawa mimpi buruk tiada akhir.


Meski lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, Yuda masih tidak bisa melupakan insiden tersebut. Ia selalu dihantui rasa bersalah.


Ia menatap kedua tangannya yang terlihat bergetar. Dengan kedua tangan itu, dia membunuh semua orang.


Frozen December, sebuah insiden yang menghancurkan sebuah tim khusus dari kepolisian, Tim Aegis. Seluruh personel yang tergabung dalam tik tersebut kehilangan nyawanya ketika bertugas dan hanya menyisakan Eris yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua.


Di dalam laporan yang ada ditangannya, Yuda bisa melihat foto seorang laki-laki yang memakai topi hitam dan jaket senada. Krena foto tersebut terlalu blur, Yuda tidak bisa dengan jelas melihat apakah benar itu Reindra atau bukan.


Tapi jika itu benar Reindra maka akan ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya.


'Bagaimana dia bisa selamat? Dan kenapa dia bersembunyi selama ini?'


Lalu apa hubungan dia dengan Cerberus? Mengapa Hagen mengatakan bahwa ada kemungkinan Reindra dan Cerberus saling berkaitan.


Sepertinya pekerjaan Yuda akan bertambah. Dia bahkan tidak tahu apakah akhir tahun ini dia bisa menyelesaikannya atau tidak.


"Setidaknya, asalkan dia tidak terlibat aku akan merasa tenang." Gumamnya.


Karena tidak punya pilihan lain, Yuda menerima misi tambahan tersebut. Selain untuk mencari tahu keberadaan Reindra, Yuda juga harus mencoba untuk menghadapi masa lalunya.


Mungkin dengan begitu, dia bisa melanjutkan hidupnya seperti manusia pada umumnya dan mimpi buruk itu bisa menghilang dari kehidupannya.


Namun Yuda tahu itu tidak mudah karena rasa bersalah yang ia rasakan. Dia tidak bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati dan tentu saja keluarga mereka tidak akan terima begitu saja setelah mengetahui kebenaran.


***


Ketika langit mulai di telan oleh kegelapan malam dan salju terus turun berjatuhan, seorang anak laki-laki terlihat tertidur tidak pulas di kamarnya yang gelap.


Dari luar, bisa terlihat keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Nafasnya beberapa kali terdengar tersendat. Dahinya berkerut dan wajahnya menunjukkan ekspresi kurang nyaman.


Malam itu, anak laki-laki itu melihat sesuatu. Sesuatu yang nantinya akan mengubah hidupnya.


Anak itu adalah Altzion Ravenray. Pewaris utama Raven Group serta kakak tiri dari Allencio Ravenray.


Keesokan harinya, Zion terbangun dengan tubuh yang teras begitu berat. Matanya terlihat sangat tidak fokus dan sangat terlihat sekali bahwa dia sedang kebingungan.


Zion yang sejak kecil telah dilatih untuk mengatur emosinya, kini terlihat sangat berantakan. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi namun sepertinya dia mendapatkan sebuah mimpi yang kurang mengenakkan.


"Yang barusan itu apa?"


Zion memegangi kepalanya, wajahnya terlihat begitu pucat seperti orang yang sedang sakit.


"Wanita yang aku lihat dalam mimpi adalah... tidak, lagi pula apa benar yang tadi itu mimpi?"


Bip... bip...


Suara telepon yang ada di meja Zion berdering. Dengan segera ia menekan tombol terima untuk mendengar siapa yang memanggilnya di pagi hari seperti ini.


"General manager, hari ini jam 4 sore, anda ada janji dengan klien dari China."


"Jay, bisakah kau ubah jadwal pertemuannya menjadi besok?"


Jay terdiam mendengar pertanyaan dari Zion. Dia merasa sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Zion meminta hal seperti itu.


"Ya, itu mungkin untuk dilakukan."


"Tolong ubah seluruh jadwal hari ini. Aku sepertinya tidak akan bisa berangkat kerja hari ini."


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Tidak, aku hanya merasa sedikit tidak enak badan."


"Apa perlu aku buatkan janji bertemu dengan dokter?"


"Tidak perlu, aku hanya ingin istirahat di rumah."


"Baiklah aku mengerti. Sebaiknya ku menjaga kesehatanmu dengan baik, musim dingin sudah hampir berakhir jadi tubuh akan rentan sakit."


"Ya, terima kasih sudah peduli."


Bip... bip...


Tangan Zion mengambil sebuah sticky notes yang bertuliskan "Cerberus", "Castris", dan juga "Liyuna". Ketiga sticky notes itu dia tempelkan kembali dekat dengan sebuah artikel tentang kecelakaan mematikan yang pernah dialami kepala keluarga Castris sewaktu muda.


"Korban dari kecelakaan tersebut adalah sopir pribadi dan juga adik kandung dari Karl. Namun entah kenapa kebenaran tersebut disembunyikan dan di depan media penerus keluarga Castris seolah hanya Karl dan keberadaan adiknya di rahasiakan."


Zion menyadari sesuatu ketika menggabungkan beberapa petunjuk yang ada.


"Target Cerberus sejak awal adalah Castris dan yang menerima intensi jahat dari mereka adalah putri Karl, Liyuna Aria Castris. Lalu keberadaan anak angkat itu, Yuriel."


Kepingan puzzle yang selama ini ia kumpulkan mulai membentuk sebuah gambaran yang cukup jelas.


Wajah terkejut Zion terlihat begitu jelas, menyiratkan betapa mengerikannya kebenaran yang dia ketahui.


"Aku harus segera membuat ayah berhenti."


Dia kembali teringat bahwa ayahnya mulai mengorek informasi tentang Cerberus. Jika ini dilanjutkan maka ayahnya akan berada dalam bahaya. Zion tidak bisa membiarkan semua itu terjadi.


Tidak hanya ayahnya, dia dan juga Allen pun juga berada dalam bahaya. Zion tidak menyangka bahwa semua berputar pada satu titik.


"Jika apa yang aku lihat itu kenyataan dan bukan hanya mimpi belaka maka..."


Zion kembali menuju kamarnya dan melepaskan piyama yang ia pakai.


Sebentar lagi musim semu akan datang dan suhu udara semakin meningkat. Zion mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit tipis namun tetap memakai jaket musim dingin yang cukup tebal.


Ia segera turun melalu elevator supaya cepat sampai di lantai bawah.


"Kau tidak berangkat kerja?"


Zion menghentikan langkahnya. Ia melihat Allen yang sedang berada di basement, ia terlihat sedang menaiki motornya.


"Kau sendiri tidak sekolah?"


"Aku sedang bolos."


"Kalau begitu, jangan sampai ayah tahu." Zion masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesinnya. Setelah itu ia melesat pergi menembus jalanan bersalju yang licin, meninggalkan Allen sendirian di basement.


"Apa orang itu salah makan?" Gumam Allen terheran-heran.


Bagi Allen, situasi saat ini sangatlah aneh. Zion seharusnya tidak membiarkannya membolos begitu saja dan melaporkan apa yang dia lakukan pada ayah mereka.


Karena seperti itulah sifat Zion. Dia tidak akan membiarkan siapapun yang membuat nama Ravenray kotor.


Tapi dia baru saja membiarkannya bolos? Sepertinya Zion memang habis memakan sesuatu yang salah.


Drrrt... Drrrt...


Allen mengambil ponsel dari saku jaket kulit hitam yang ia pakai.


"Ada apa?"


"Hei, aku sudah sampai di bandara. Kau ada dimana?"


"Aku masih di rumah."


"Seriously?"


"Yeah."


"Lalu aku harus menunggumu sampai kapan? Kenapa kau tidak kesini lebih dulu?"


"Kau tunggu saja, aku akan segera kesana."


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama, boss. Aku tidak mengerti bahasa Zenis[1]."


"Hum."


Allen langsung memutus sambungan. Dia memakai helm yang ada di tangannya dan menyalakan mesin kotor besar yang dia di naiki. Setelah itu ia bergegas menuju ke bandara untuk menjemput seseorang.


TBC


[1] Zenis adalah bahasa resmi negara Zen.