
"Yuriel!" Panggil Allen. Sepertinya dia menyadari ada sesuatu yang aneh namun sayangnya Yuriel yang terlalu panik tidak bisa mendengar panggilan dari Allen.
"Kak Yuna!!" Yuriel terus-terusan memanggil nama Liyuna, tubuh ya bergetar begitu hebat.
"YURIEL!!"
Allen berteriak sekuat tenaga, ia menaruh kedua tangannya di bahu Yuriel dan membuatnya saling bertatapan. Mendengar suara keras dari Allen, Yuriel mulai sedikit sadar, dia menatap wajah Allen dan mencoba untuk menormalkan kembali pernapasannya.
"Ceritakan pelan-pelan."
Yuriel mengambil napas dalam-dalam dan mulai bercerita dari awal ketika dia terbangun dan tidak menemukan Liyuna, lalu bagaimana dia mendengar suara tembakan.
"Kau yakin itu suara tembakan?"
"Tentu saja aku sangat yakin, aku tidak mungkin melupakan suara itu. Lagi pula itu suara yang..." Yuriel tidak melanjutkan ucapannya namun Allen mengerti apa yang ingin dia katakan karena Yuriel telah menceritakan semuanya padanya.
"Apa?! Tembakan? Itu tidak mungkin!" Yvette yang mendengar ucapan Yuriel langsung menutup mulutnya saking terkejutnya.
Ia tidak menyangka bahwa mereka akan terlibat dalam masalah besar seperti ini.
"Apa mereka menargetkan Yuna?" Tanya Yvette.
Satu-satunya yang bisa dia pikirkan adalah, Liyuna yang menjadi target karena dia adalah pewaris sah Castris Group di masa depan dan salah satu anggota keluarga Castris yang terhormat.
"Semuanya tenangkan diri kalian. Petama-tama, hubungi keluarga Castris, lakukan cara apapun supaya bisa tersambung. Seperti yang kita lihat, Liyuna tidak ada di dalam vila begitu juga dengan Kak Noel. Mungkin saja Liyuna sedang dilindungi oleh kak Noel dan baik-baik saja." Ucap Allen, dia mencoba untuk memberi instruksi pada Yvette dan Yuriel agar keduanya bisa berhenti panik.
"Aku akan menghubungi keluarga Castris." Ucap Yvette menawarkan diri.
Yuriel memberikan ponselnya pada Yvette supaya dia bisa menghubungi keluarga Castris dengan segera, sedangkan Allen sedang memeriksa di sekitar vila, berharap ada sedikit petunjuk mengenai keadaan dan keberadaan Liyuna.
Yuriel juga ikut memeriksa di sekitar vila, ia pergi di sekitar danau namun tidak berhasil menemukan apapun.
Yvette mencoba memanggil nomor Sara mupun Karl namun tidak ada satupun diantara mereka yang mengangkat. Yvette sangat kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana, namun dia tiba-tiba ingat bahwa kediaman Castris memiliki telepon yang langsung tersambung pada kepala pelayan.
"Halo, dengan kediaman Castris. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, halo selamat malam. Ini dengan Yvette Vlistha. Kami membutuhkan bantuan, tepatnya di danau Alkelan. Nona Liyuna Aria Castris sedang dalam bahaya. Segera kirimkan pasukan pencarian."
"Kami akan segera sambungkan kepada kepala keluarga Castris, tolong jangan dimatikan sambungannya."
Mendengar ucapan dari Yvette, kepala pelayan langsung mencoba untuk menghubungi Karl dengan nomor darurat.
Beberapa menit kemudian, Karl mengangkat telepon dan kepala pelayan langsung memberitahu apa yang Yvette katakan. Mendengar penjelasan dari kepala pelayan, Karl langsung memanggil personel khusus untuk melakukan evakuasi dan pencarian. Dia meninggalkan ruang rapat dengan sangat terburu-buru dan segera meluncur ke tempat kejadian.
Wajah Karl terlihat sangat tidak baik, dia begitu mengkhawatirkan Liyuna karena dia sendiri tidak yakin apakah bantuan bisa datang tepat waktu atau tidak karena jarak kediaman Castris dan vila tempat Liyuna berlibur cukup jauh walau masih sama-sama di kota Elisien.
"Bagaimana dengan Yuriel?" Tanya Karl yang saat ini sudah tersambung dengan Yvette secara langsung tanpa perantara.
"Yuriel baik-baik saja. Hanya Yuna yang menghilang."
"Kalian tetap tenang dan jangan matikan sambungan telepon. Bantuan akan segera datang."
Yvette hanya bisa menjawab "hum" ketika Karl mengatakan hal itu. Saat ini tenaganya seperti tersedot oleh lubang hitam dan dia merasa sangat lelah sekali.
Allen yang saat ini sudah masuk ke dalam hutan, mulai mencari keberadaan Liyuna dengan menggunakan lampu senter di ponselnya. Langkahnya terhenti ketika dia menemukan syal milik Liyuna yang sangat kotor dan robek.
Kedua matanya menyipit, dia mengambil syal tersebut dan mencoba untuk melihat sekitar.
Dia berhenti tepat di depan sebuah pohon yang ukurannya cukup besar, dia memegang batang pohon tersebut dan melihat ada lubang di dalamnya.
'Lubang peluru.'
Allen mulai sedikit panik setelah mengkonfirmasi bahwa suara yang Yuriel dengar benae-benar suara tembakan. Dia mencoba untuk melihat keadaan di sekitar pohon dan akhirnya bisa sedikit bernapas dengan lega karena tidak ada beks darah di tempat ini.
Di sisi lain, Yuriel masuk ke hutan yang arahnya berlawanan dengan Allen. Dia mencoba mencari jejak Liyuna namun tidak menemukan petunjuk apapun. Ketika Yuriel masuk sedikit lebih dalam, langkah kakinya terhenti ketika dia melihat seseorang terbaring di atas tanah.
Dengan segera, Yuriel menghampiri orang tersebut untuk melihat wajahnya.
"Kak Noel!"
***
Ia menghembuskan napasnya perlahan, mencoba untuk meminimalisir dadanya yang sakit karena terbentur batu saat ia jatuh ke tebing. Setelah ia merasa tubuhnya sedikit lebih kuat, ia membuka kedua matanya secara perlahan.
Pandangannya masih sangat buram, ia hanya bisa melihat dedaunan kering dan ranting yang jatuh ke tanah. Tidak ada penerangan sedikitpun di tempat Liyuna terjatuh sehingga sulit baginya untuk mengetahui posisinya sekarang.
Ketika kedua matanya sudah menyesuaikan cahaya yang masuk, Liyuna mengeluarkan tanah yang ada di mulutnya dengan meludah. Meski tidak bersih dengan sempurna, setidaknya mulutnya sudah tidak terlalu berasa tanah.
Liyuna memegangi bagian tubuhnya yang terada sakit. Ia bisa merasakan ada banyak sekali luka gores akibat jatuh dari tebing, untung sekali tebing tempat Liyuna terjatuh tidak terlalu tinggi sehingga lukanya juga tidak terlalu parah.
Liyuna mencoba untuk berdiri namun ternyata kaki kanannya terkilir, sulit baginya untuk berdiri apalagi berjalan. Meski kesulitan, Liyuna tetap memaksakan dirinya untuk berjalan. Ia menatap tebing tempat ia terjatuh untuk sesaat lalu memutuskan untuk mencari jalan keluar lain.
Liyuna berjalan sedikit pincang, ia mencoba mencari tempat dimana ada cahaya namun di sepanjang perjalanan Liyuna tidak menemukannya.
Beberapa menit berlalu, meski tidak terlalu jelas, Liyuna melihat ada cahaya diujung hutan.
'Apa itu desa tempat tinggal warga?'
Liyuna berjalan menuju cahaya tersebut sambil menahan rasa sakit.
Dia tidak boleh lemah, dia harus bertahan. Liyuna dalam game tidak mati di umur 12 tahun jadi dia harus optimis.
Liyuna tidak menemukan apa yang dia cari setelah dekat dengan cahaya yang tadi ia lihat. Tidak ada desa, maupun warga . Cahaya tersebut berasal dari sebuah rumah kecil yang terbuat dari rongsokan besi berkarat. Liyuna melihat beberapa orang pria yang memiliki tubuh besar berotot memakai pakaian serba hitam. Berbeda dengan pakaian dari orang-orang yang pernah mengejar Lucas, orang-orang yang ada dihadapan Liyuna memakai kaos hitam dan celana training senada. Muka mereka juga ditutupi oleh masker hitam atau syal dengan warna senada.
Namun bukan itu yang membuat Liyuna terkejut melainkan ditangan mereka ada senjata api. Senjata api yang mereka bawa bukanlah senjata api biasa, melainkan AK-74. Senapas laras panjang yang lebih berbahaya dari revolver.
Liyuna bersembunyi dibalik batu besar dan berusaha untuk menenangkan diri. Jika dia tidak bisa tenang maka ia akan berada dalam bahaya.
"Bagaimana misinya?"
"Sepertinya gagal, target tiba-tiba menghilang."
"Berdasarkan laporan, penjaganya berhasil.di lumpuhkan."
"Kalau begitu, kenapa kau bisa kehilangan target?"
Seseorang yang kelihatannya adalah pemimpin kelompok bertanya pada seorang pria yang kini duduk pasrah di tanah. Awalnya Liyuna tidak melihat orang tersebut karena terhalang oleh batu hang ia gunakan sebagai tempat bersembunyi namun ia mulai menyadari kehadiran orang tersebut ketika orang tersebut merintih kesakitan.
Liyuna melihat bagian perutnya terlihat dangat basah, sangat kontras dengan bagian lain.
Seseorang yang terlihat seperti pemimpin itu menendang pria yang terduduk di tanah tepat di bagian perutnya yang basah. Orang tersebut terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa sambil memegangi perutnya.
Ketika dia mengangkat tangannya, Liyuna dapat melihat warna merah pekat. Seketika itu juga Liyuna sadar bahwa itu adalah darah, orang yang sedang terduduk di tanah sedang terluka dan perutnya sepertinya berlubang hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Bagaimana bisa kau gagal? Tidak hanya membiarkan target lolos namun kau juga terluka oleh penjaga yang bahkan bukan body guard resmi. Dasar memalukan."
"Maafkan saya ketua, saya tidak menyangka bahwa seorang sopir di keluarga Castris memiliki kemampuan hebat untuk bertarung."
"Aku tidak ingin mendengar alasan. Intinya ku telah gagal, kau tahu kan akibat dari kegagalan?"
Orang itu terlihat sudah pasrah, dia tidak menantang maupun melawan. Sejak dia pertama kali memutuskan untuk melalukan pekerjaan ini, dia sudah tahu resikonya.
Kegagalan berarti kematian.
Mendengar percakapan barusan, Liyuna jadi menyadari sesuatu. Sopir yang mereka maksud pasti adalah Noel. Liyuna tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya kali ini.
'Mereka berhasil melukai kak Noel.'
Liyuna berusaha untuk menjauh dari tempat ini namun belum sampai dua langkah, ia mendengar suara tembakan yang begitu keras ditelinga nya.
Dor...
Tubuh pria yang terduduk di tanah itu tiba-tiba jatuh sepenuhnya. Kedua matanya masih terbuka dan di kepalanya ada peluru yang menembus. Wajahnya mulai dibasahi oleh darah segar yang keluar deras lewat dahinya yang berlubang. Melihat kejadian ini di depan matanya, Liyuna tidak bisa tenang.
Secara refleks dia bergerak kebelakang dan berusaha untuk lari namun tiba-tiba tubuhnya terkunci dari belakang dan seseorang menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Tubuh kecil Liyuna dipaksa untuk menunduk dan dipaksa untuk kembali bersembunyi dibalik batu. Liyuna berusaha memberontak namun tenaganya tidak cukup kuat.
"Sssshhh.."
TBC