
Liyuna dan Yvette pergi mengambil teh hangat yang disediakan di tempat yang tak jauh dari tempat pemakaman. Mereka membawa masing-masing dua gelas. Setelah mengambil teh hangat, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat Yuriel dan Allen berada namun langkah kaki Liyuna terhenti ketika dia melihat Zion berdiri di depan makam Ibunya.
"Yvette, bisakah kau kembali sendiri?"
Yvette menatap Liyuna sesaat namun akhirnya memutuskan untuk menghargai apa yang Liyuna ingin dan pergi sendiri.
"Baiklah, kami akan menunggumu."
Setelah Yvette pergi menjauh, Liyuna menatap Zion dari kejauhan. Zion terlihat hanya diam berdiri di depan makam dengan membawa payung yang sudah penuh dengan salju. Dia terus menatap makam Ibunya, membuat Liyuna sedikit iba.
Liyuna tidak ingin mendekati Zion dan menurutnya lebih baik untuk tidak berhubungan dengannya karena Liyuna ingin dia dan Yuriel bersatu. Namun setelah apa yang ia lihat, Liyuna tidak bisa melakukannya karena mungkin saja Almera meninggal karena ulahnya.
Jika saja dia tidak masuk ke dunia ini dan jika saja dia tidak menghancurkan alur cerita, mungkin saja Almera tidak akan mati secepat ini. Meski begitu, Liyuna juga enggan mati. Dia ingin bertahan hidup meski sebagai seorang wanita jahat.
Dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, Liyuna mendekati Zion dan berdiri di sampingnya lalu menyodorkan teh hangat yang seharusnya untuk dirinya.
"Sebaiknya anda tetap menjaga suhu tubuh anda supaya tetap hangat."
Zion melihat tangan kurus Liyuna yang menawarkan segelas teh hangat untuknya. Zion tidak bisa menolak pemberian Liyuna karena dia tidak ingin bertindak tidak sopan.
Zion mengambil teh pemberian Liyuna dan meminumnya. Hangat, tubuhnya terasa sedikit hangat. Entah karena teh yang dia minun atau karena seseorang memberikannya dengan penuh perhatian, Zion tidak tahu namun saat ini ia bisa merasakan rasa hangat yang begitu nyaman.
Liyuna berdiri di samping Zion selama beberapa menit, berharap itu bisa meringankan perasaan Zion. Meski tidak terlihat ia mengeluarkan air mata, Liyuna tahu bahwa Zion sedang merasa sedih. Tidak ada seorang pun anak yang tidak merasa sedih ketika orang tuanya meninggal, begitu juga dengan Zion.
"Kalau begitu, saya permisi." Ucap Liyuna, ia berjalan pergi dan kembali ke tempat dimana Yuriel dan yang lainnya berada.
Zion menatap punggung Liyuna yang menjauh dan kembali meminum teh pemberiannya. Matanya yang sedari tadi terlihat sangat kosong kini menampakkan sekelebat cahaya, seolah olah dia kembali hidup dan menemukan cahayanya.
Saat Liyuna kembali, dia langsung memberikan satu gelas teh yang masih ada di tangannya. Melihat Liyuna yang membawa satu gelas teh saja membuat Yvette bertanya-tanya karena sebelumnya dia membawa dua gelas.
"Aku sudah meminumnya tadi."
Liyuna tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak ingin atmosfir menjadi canggung kembali dan memutuskan untuk menyembunyikan fakta bahwa dia tadi bertemu dengan Zion.
Waktu bergulir dengan sangat cepat, berita mengenai pembunuhan Almera menyebar dengan sangat cepat layaknya air yang jatuh dari ketinggian. Sangat kuat dan sulit untuk dihalau, menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.
Mendengar berita pembunuhan tepat di jantung Elisien membuat warga jatuh dalam kepanikan. Tidak hanya Almera saja namun puluhan pelayan dan pekerja juga menjadi korban. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa Ravenray dapat ditembus dengan mudah.
"Ini menakutkan, jika mereka bisa menembus penjagaan keluarga Ravenray, lalu bagaimana dengan warga bisa seperti kita."
"Benar, sepertinya kota Elisien menjadi tidak aman."
"Sepertinya aku akan pulang kampung untuk sementara ini."
"Lihatlah jumlah korban yang berjatuhan. Ini bukanlah jumlah yang sedikit."
"Apa sudah ada informasi lebih lanjut dari pihak kepolisian?"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Elisien? Kenapa kejadian seperti ini akhir-akhir ini sering terjadi?"
"Seperti yang kita ketahui, tadi malam keluarga Ravenray di serang oleh sekelompok orang bersenjata. Keamanan dapat di bobol dengam mudah dan banyak korban berjatuhan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Pembawa berita terlihat sedang mewawancarai salah seorang polisi yang juga bertugas dalam kasus ini. Mereka mengadakan acara tanya-jawab untuk membuat warga sedikit tenang karena saat ini berbagai sosial media sedang meledak membahas masalah ini. Tentu saja, pihak kepolisian tidak benar-benar memberitahu kejadian yang sebenarnya untuk meminimalisir kepanikan yang memang sudah melanda. Banyak orang mulai pergi dari kota Elisien dan beberapa perusahaan tutup untuk sementara.
Sepertinya sesuatu yang besar sedang mengintai kota Elisien dibalik bayangan. Sesuatu yang jahat dan mengerikan dan pedang itu ditunjukkan pada keluarga elit. Beberapa keluarga yang sangat ketakutan memutuskan untuk pergi keluarga negeri sampai masalah ini mereda.
"Ini benar-benar mengejutkan." Ucap Sara sembari menonton berita di televisi ditemani oleh Liyuna.
"Benar, aku tidak menyangka Tante Almera akan menjadi korban."
"Kota ini lama kelamaan menjadi semakin tidak aman." Gumam Sara, dia memeluk tubuh Liyuna dengan sangat erat.
Sejak kejadian percobaan pembunuhan, Sara sangat mengkhawatirkan keselamatan Liyuna. Jika tidak beruntung, mungkin saja Liyuna juga akan bernasib sama dengan Almera. Sara tidka menginginkan hal itu, dia ingin melindungi Liyuna putrinya.
"Sepertinya Mama harus mengunjungi keluarga Harvenhelt untuk berterima kasih."
"Umm...?"
"Dia kan sudah melindungi mu beberapa waktu lalu, Mama akan mengunjunginya dan berterima kasih secara langsung."
"Kalau begitu aku ikut."
Liyuna baru ingat bahwa dia belum mengucapkan terima kasih dengan benar pada Yuda. Benar kata Sara, sepertinya dia harus ikut dan mengucapkan terima kasih.
Disisi lain, Yuriel sedang berada di ruang kerja Karl. Saat ini Karl duduk si kursi kerjanya sembari melihat-lihat dokumen yang ada di meja, sedangkan Yuriel berdiri dihadapannya tanpa bergerak sedikitpun.
"Kau sudah tahu situasinya kan? Semua semakin tidak terkontrol."
Karl tidak memandang Yuriel sama sekali dan tetap fokus pada dokumen yang harus dia selesaikan namun ucapannya mengarah untuk Yuriel.
"Saya sangat mengerti akan hal itu."
"Aku tidak akan membiarkanmu kembali membuat kesalahan. Kau harus tahu bahwa aku membawamu ke sini untuk menjadi umpan."
Kedua mata Yuriel menggelap mendengar hal tersebut. Dibandingkan siapapun juga, dia sangat tahu peran dan tugasnya. Dia juga menerima ini karena dia ingin melindungi Liyuna namun semua tidak berjalan seperti seharusnya. Mungkin ini adalah karma yang harus dia bayar setelah membuat permintaan seperti itu.
Karl adalah ayah yang baik bagi keluarganya namun di mata Yuriel, dia adalah iblis berhati dingin. Karl hanya memperhatikan dan melindungi orang yang dia sayangi namun Yuriel tidak masuk dalam kategori tersebut. Dia datang ke kediaman Castris karena sebuah perjanjian dan Karl tidak akan peduli dengan keadaannya.
"Untuk selanjutnya, saya akan pastikan bahwa kak Yuna akan baik-baik saja."
Yuriel tidak bisa membiarkan semuanya hancur berantakan. Dia harus membuat semuanya dibawah kendalinya dan membayar kesalahannya. Kali ini, dia tidak ingin kehilangan Liyuna.
Jika sampai terjadi sesuatu pada Liyuna, Yuriel mungkin akan menjadi gila. Dia tidak punya alasan untuk melihat kematian Liyuna. Dia ada disini untuk menghentikan hal itu.
Dia akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan Liyuna karena dia adalah sebuah cahaya yang telah menyelamatkannya. Sebuah cahaya yang membuatnya sadar bahwa masih ada orang yang benar-benar tulus menyayanginya di dunia ini.
TBC
[A/N : Seseorang baik denganmu, belum tentu orang itu baik juga dengan yang lain. Gak perlu kaget kalau sifat Karl aslinya seperti ini, karena dari awal author udah kasih petunjuk kalau dia menimbang sesuatu berdasarkan berguna atau tidak. Dia ayah yang baik tapi bukan berarti baik juga bagi yang lain.]