Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 115 - Mulai Bergerak



Setelah jasad Eldo ditemukan, ia langsung di bawa ke tim forensik untuk di otopsi.


Karena kedudukannya yang cukup berpengaruh di Elisien, warga mendesak untuk dilakukan penyelidikan atas apa yang menimpa Eldo.


Orang seperti Eldo seharusnya tidak mungkin mengalami kecelakaan karena kesalahan mekanisme. Apalagi setelah istrinya dibunuh seperti itu, pasti ada hal lain yang terjadi.


Pihak kepolisian langsung menelpon Yuda untuk datang ke markas pusat. Hagen memberinya perintah khusus untuk datang, ia berkata ada sesuatu hal yang harus mereka diskusikan.


Sesampainya di markas pusat, Yuda langsung masuk ke ruangan Hagen. Disana ia melihat Hagen yang sedang membaca sebuah berkas.


"Apa kau sudah melihat hasil otopsi?" Tanya Hagen, ia masih melihat ke berkas yang ada di meja.


Hagen tahu bahwa Yuda lah yang baru saja masuk ke ruangannya. Hany Yuda yang berani masuk dengan seenaknya. Yah, meskipun di tidak terlalu sering melakukannya.


"Aku belum melihatnya. Sesampainya di markas aku langsung datang kemari."


"Kalau begitu lihatlah." Hagen menyerahkan sebuah dokumen yang baru saja dikirimkan dari tim forensik.


Yuda langsung mengambil dokumen itu dan duduk di sofa yang ada di ruang kerja Hagen. Dia membaca selembar demi selembar dengan perlahan.


Bagi Yuda yang memiliki kelebihan, membaca sekali saja sudah cukup. Seluruh isinya secara otomatis akan terkunci dalam ingatannya.


"Pembunuhan?" Tanya Yuda, kini kedua inderanya menatap tepat ke mata Hagen.


"Benar."


"Pelakunya?"


"Kemungkinan besar, Cerberus."


"Mereka lagi?"


"Tidak ada organisasi seberani mereka di Elisien."


"Apa motif mereka membunuh Eldo?"


"Itu sedang diselidiki namun sepertinya Eldo telah mengejar pemimpin Cerberus sejak berbulan-bulan yang lalu."


"Dia ingin balas dendam?"


"Kemungkinan besar begitu."


Yuda melihat kembali hasil otopsi yang Hagen berikan. Disitu tertulis ada obat bius di dalam tubuh Eldo yang kemungkinan besar menyebabkannya tidak sadarkan diri dan menabrak pembatas jalan.


Dahinya terlihat mengerut, ia tidak menyangka akan menangani dua kasus pembunuhan keluarga Ravenray. Jika melihat kebelakang, dia merasa sedikit iba dengan Zion.


Dulu saat Yuda masih muda dan sering menghadiri pesta, dia sering bertemu dengan Zion.


Pemuda yang 3 tahun lebih tua darinya itu sangatlah luar biasa. Dia sangat berbeda dari kebanyakan orang yang pernah Yuda temui.


Penilaian, ekspresi, sikap, dan pengambilan keputusan. Semua itu bisa dia lakukan dengan sangat tepat dan terstruktur, benar-benar kemampuan yang mengerikan sekaligus mengagumkan.


"Sebaiknya masalah ini diumumkan sebagai kecelakaan biasa ke publik." Ucap Yuda manyarankan.


Jika kenyataan dari kecelakaan ini diungkap, warga pasti akan merasa tidak tenang. Apalagi berita mengenai pembunuhan Almera masih tergolong sangat baru. Mereka harus meminimalisir kepanikan warga yang mungkin saja terjadi.


"Aku sudah memberitahu pada seluruh stasiun televisi untuk mengumumkannya sebagai kecelakaan karena ada malfungsi pada mobil yang ia kendarai."


"Kalau begitu, aku akan kembali. Jika ada perkembangan dari kasus ini, tolong hubungi aku."


"Tentu saja. Lagipula kasus Cerberus memang ada ditangan mu."


Setelah diizinkan untuk undur diri, Yuda langsung kembali ke apartemen tua yang ia tinggali. Meski apartemen itu tua, Yuda bisa tenang tinggal disana karena sepi. Tidak banyak orang tinggal di apartemen seperti itu.


Apalagi di Elisien yang tergolong sebagai kota kaya, tidak mungkin ada yang mau tinggal di tempat tua yang menyeramkan meski harganya murah.


Di perjalanan pulang, ia teringat kembali mengenai ingatan yang sudah sangat lama terjadi.


Itu terjadi setelah Almera meninggal. Gadis itu mendatanginya dan mengucapkan sesuatu yang tidak bisa ia percaya.


"Apa kau tidak bisa melakukannya?"


"Kenapa kau berbicara omong kosong."


"Lakukan apa yang aku minta."


"Kenapa kau menyuruhku? Sepertinya ada yang aneh dengan otakmu."


"Kau yakin tidak mau mendengarkan ku? Kalau begitu bagaimana jika aku mengatakan pada seluruh dunia mengenai kebenaran dari insiden Frozen December?"


"Apa?!"


"Lakukan seperti apa yang aku minta maka rahasiamu akan aman. Kau tidak perlu percaya padaku tapi aku janji kau tidak akan menyesal jika menyetujuinya."


Sesampainya di apartemen, Yuda langsung mengganti pakaian dan kembali mendengarkan rekaman yang ia dapat baru-baru ini.


"Sebentar lagi akan dimulai."


Hanya sampai disitu rekaman menangkap percakapan Cerberus. Sudah tidak terhitung berapa kali Yuda mendengarkan rekaman tersebut sampai menghafal isinya.


Meski begitu, ia harus mendengarnya berulang kali untuk memastikan apa yang sedang mereka bicarakan.


Sepertinya untuk beberapa hari ke depan dia harus begadang untuk menyelesaikan teka-teki ini.


Disisi lain, di sebuah penthouse.


Terlihat Harry sedang duduk memainkan sebuah biola. Ia memainkan biola tersebut di depan sebuah kaca besar yang ada di ruang tamu. Dari sana dia bisa melihat cahaya berkilauan dari gedung-gedung tinggi lainnya.


Dari atas penthouse, cahaya itu terlihat seperti berlian yang berkilau.


...



...


Sebuah alunan nada mulai terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Harry memainkan sebuah requiem (lacrimosa).


Mungkin saja itu untuk mengantar kepergian Eldo. Namun itu juga bisa berarti sesuatu yang besar akan segera terjadi.


Requiem in D minor karya seorang komponis musik klasik yang sangat terkenal dalam sejarah.


Alunan demi alunan dimainkan dengan sangat sempurna, membuat siapa saja yang mendengar akan berpikir bahwa dia adalah seorang violinist profesional.


Ketika ia sudah mencapai nada terakhir, Harry meletakkan biola yang ada ditangannya ke atas sofa.


Tak jauh dari sana ada Feon yang sedang berdiri dengan tegak, wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun.


"Bagaimana persiapannya?" Tanya Harry sembari berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.


"Semua sudah beres, Red Diamond bisa segera berlayar."


"Bagaimana dengan barang lelang? Apa kalian mendapat barang bagus?"


"Ya, kami mendapatkan beberapa barang bagus."


"Apakah tamu sudah mendapat undangan?"


"Kami sudah menyebarkannya kepada orang-orang yang berminat pada pelelangan."


"Siapkan dengan baik, ini adalah acara yang cukup besar."


"Baik, saya mengerti."


Harry duduk di sofa dan meletakkan gelas air yang barusan ia minum ke meja.


"Menurutmu bagaimana lagu barusan? Bukankah itu sangat cocok untuk mengantar Eldo ke alam baka?"


"Tidak ada yang lebih cocok dari lagu itu." Harry tersenyum mengejek.


Hardy sengaja membiarkan Eldo membuntutinya dan ia tidak mengira bahwa Eldo sebodoh itu dan dengan mudah masuk ke dalam perangkap.


Yah, mungkin saja dia sudah dibutakan oleh amarah karena kematian istrinya.


"Jangan sampai ada masalah dengan Red Diamond..." Ucapan Harry terjeda, ia melirik ke arah Feon dengan matanya yang tajam.


"Karena itu akan menjadi tempat pemakaman putri Karl."


"Saya mengerti. Akan saya pastikan tidak akan ada masalah."


"Bagus. Aku tidak mau pemakaman besar yang sudah aku siapkan untuk putri Karl gagal."


Beberapa waktu kemudian, hanya Harry yang ada di ruang tamu. Feon sudah pergi untuk menjalankan tugas yang Harry berikan.


"Sebentar lagi aku akan menghancurkan semuanya." Gumam Harry, kedua matanya menatap tajam sebuah foto yang memperlihatkan sosok Karl dan Liyuna.


"Aku akan mengambil putri kecilmu dan membuatmu sadar bahwa pilihanmu itu salah." Lanjutnya.


Angin musim semi berhembus dengan begitu kencang, membawa kelopak bunga sakura terbang melintasi dan mewarnai jalanan.


Sebuah awal mula dari kasus besar telah dimulai, tirai kebenaran sedikit demi sedikit mulai terbuka.


Memperlihatkan berbagai macam kebenaran yang Liyuna sendiri tidak ketahui.


Siapa yang akan menyangka bahwa dirinya akan menjadi target untuk kesekian kalinya?


Sebenarnya, mengapa Harry terlihat sangat dendam pada keluarga Castris? Siapa identitas sebenarnya dari pemimpin Cerberus itu?


Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.


TBC


Requiem (Lacrimosa) Violin Version: https://youtu.be/ARyQ55oZt4U