
"Tante Sara, bagaimana keadaan Yuna?"
Dari luar ruangan, Liyuna bisa mendengar suara Yvette yang terdengar khawatir.
"Yuna sedang beristirahat, maaf tante tidak bisa mempersilahkan kalian masuk. Tante mau Yuna untuk istirahat total sembari memulihkan mentalnya."
Tentu saja apa yang Sara katakan tidak seratus persen benar. Saat ini Liyuna tidak sedang beristirahat, dia hanya ingin waktu untuk sendiri karena itulah ia menolak kehadiran teman-teman dekatnya.
"Apakah separah itu?" Kini giliran Allen yang bertanya. Sejak saat itu, dia sangat menyesali pilihannya.
Seharusnya malam itu dia ikut dengan Liyuna sampai di rumahnya. Dengan begitu mungkin saja Liyuna akan baik-baik saja.
Tentu, itu hanyalah sebuah harapan yang tidak akan terwujud. Meski Allen ikut pun, dia tidak akan bisa melakukan apapun karena penculikan akan tetap terjadi.
Mungkin lebih baik jika dia tidak ikut, karena dia bisa membuat Victor membantunya.
"Tidak, bukan begitu. Sepertinya Liyuna mengalami sedikit syok karena kasus penculikan kali ini. Tubuhnya baik-bain saja, namun Tante khawatir dengan kondisi mentalnya."
"Apa Tante sudah membuat janji dengan psikiater? Aku rasa kak Yuna harus mencoba untuk mengikuti terapi."
Yuriel yang merasa sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Liyuna mencoba untuk memberi saran.
"Tentu saja, nanti setelah luka-luka Yuna sudah sembuh, Tante pasti akan membuat janji temu dengan psikiater."
Yuriel menghembuskan nafas dengan lega. Setidaknya, Liyuna bisa mendapatkan penanganan profesional. Untuk saat ini, itu saja sudah cukup.
"Ini saya bawakan buah untuk Yuna, semoga Yuna lekas sembuh." Yvette memberikan sebuah parsel berisi aneka ragam buah.
Ukuran parsel tidak terlalu besar, jadi Yvette bisa membawanya dengan mudah.
"Terima kasih banyak, sekali lagi Tante minta maaf karena tidak bisa mempertemukan kalian dengan Liyuna."
"Tidak masalah Tante, yang terpenting adalah kesehatan Liyuna. Semoga Liyuna lekas membaik," Allen mengucapkan doa dengan tulus. Dia benar-benar berharap Liyuna cepat sembuh.
"Kalau begitu, kami akan pulang. Tolong titipkan salam kami pada Yuna."
Sara tersenyum lembut pada Yvette dan yang lainnya. Setelah punggung anak-anak itu mulai menghilang di balik dinding, Sara membawa parsel buah yang diberikan Yvette masuk ke dalam lalu meletakkannya di meja dekat ranjang Liyuna.
"Yuna yakin tidak mau bertemu dengan teman-teman?"
"Hum..." Liyuna hanya menjawab dengan suara lirih.
Prioritas utamanya saat ini adalah bertemu dengan Ayahnya, Karl. Setelah mendapatkan ingatan tentang kehidupan sebelumnya, Liyuna mulai merasa adanya keterikatan mengenai kebenaran keluarga Castris dan tragedi kematian yang selalu menghantuinya.
Jika benar Yuriel hanyalah sebuah bidak, maka ada orang yang menjalankannya.
Saat ini, Liyuna harus mengetahui semua kebenaran, demi untuk bertahan hidup.
...***...
"Apa menurutmu kondisi Yuna sangat parah?" Yvette bertanya pada dua sahabat yang berjalan disampingnya.
Saat ini wajahnya terlihat sangat lesu seperti telah kehilangan seluruh energinya.
"Tante bilang dia baik-baik saja kan? Percayalah padanya." Jawab Yuriel dengan nada suara tenang.
Meski terdengar tenang, sebenarnya saat ini hatinya terada seperti akan meledak. Mengingat bagaimana Liyuna kembali berada dalam bahaya, membuatnya sangat tidak tenang.
"Setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Yvette sekali lagi. Hari ini dia ingin terus bersama dengan Yuriel dan Allen jika memungkinkan.
"Aku akan pulang, kakakku menyuruhku untuk segera kembali." Jawab Allen.
"Sejak kapan kau menurut padanya?" Yvette menatap Allen tak percaya.
Seorang Allencio yang sangat membenci kakaknya, menuruti perintah Altzion dengan patuh? Sepertinya dunia akan segera hancur.
"Aku punya hutang padanya." Allen menjawab dengan ringan.
Ya, sebelumnya dia meminta sesuatu yang egois pada kakaknya. Karena itulah saat ini, mau tidak mau dia harus mengikuti apa yang Zion perintahkan.
"Aku juga akan pulang, aku ingin menenangkan diri."
"Oh begitu, ya. Sayang sekali kita tidak bisa bersama. Kalau begitu aku juga pulang saja deh."
Allen dan Yuriel memutuskan untuk menunggu mobil yang akan menjemput Yvette datang. Setelah melihat mobil yang Yvette tumpangi melaju menjauh, baik Allen maupun Yuriel saling bertatapan.
Seolah memahami isi pikiran masing-masing, keduanya sepakat untuk mencari tempat yang tenang untuk berbicara.
"Bukankah seharusnya peristiwa ini tidak terjadi dalam waktu dekat?" Tanya Allen sembari duduk di sebelah Yuriel.
Saat ini keduanya sedang berada di taman belakang rumah sakit. Mereka duduk dibawah sebuah pohon yang cukup besar.
Yuriel terdiam selama beberapa detik, "Benar, seharusnya begitu."
"Mungkin kau saja yang tidak ingat? Apa kau yakin mengingat semuanya dengan jelas?"
Mendengar pertanyaan Allen yang meragukannya membuat Yuriel menatap pemuda itu dengan tajam.
"Kau meragukanku?! Bukankah kita sudah sepakat untuk bekerja sama? Seharusnya kau tidak meragukanku!!"
Allen dapat merasakan amarah Yuriel yang semakin memuncak, namun dia tidak ikut terbawa emosi.
Dengan tenang dia berkata, "Saat ini kau tidak berpikir dengan jernih, redam amarahmu."
Yuriel membuang muka kesal, ia menghembuskan nafas dengan kasar. Tanpa sadar, rasa gelisah yang saat ini menggerogoti hatinya membuat Yuriel menggigit jarinya.
"Aku sungguh mengingat semuanya. Tidak ada satupun kehidupan yang ku lupakan. Bahkan, ingatan akan kematian kak Yuna masih sangat jelas dalam otakku."
Kedua mata Yuriel terlihat mulai menggelap. Lagi-lagi dirinya jatuh dalam rasa penyesalan dan rasa bersalah. Rasanya ia hampir gila karena perasaan-perasaan itu tidak pernah menghilang. Namun, dia juga tidak bisa berbuat banyak karena semua yang terjadi adalah pilihannya sendiri.
Allen menatap Yuriel selama beberapa detik. Hanya dengan melihat kondisi gadis itu saja, Allen tahu kalau mentalnya sedang terguncang. Percuma saja mereka berdiskusi sekarang, mungkin akan lebih baik kalau Allen menunggu Yuriel tenang.
"Pokoknya, kau tenanglah dulu dan rapikan pikiranmu. Setelah itu, kita bisa bertemu lagi untuk membahas rencana selanjutnya." Ucap Allen mengakhiri percakapan.
Allen meninggalkan Yuriel tanpa menoleh kebelakang. Sedangkan Yuriel sendiri terlihat menatap punggung Allen yang semakin menjauh.
Apa yang Allen katakan benar. Seharusnya Yuriel tidak boleh seperti ini. Dia harus menjadi kuat, bukankah dia sendiri yang menginginkan kesempatan lagi?
Disisi lain, Karl mengurus seluruh laporan yang masuk mengenai peristiwa penculikan Liyuna. Dia dibantu oleh Yuda yang berada dipihak pemerintah. Tentu saja, kejadian ini tidak boleh sampai keluar ke permukaan. Bagaimana pun caranya, baik Karl maupun Yuda harus bisa menekan seluruh informasi yang bisa tercium oleh publik.
"Peristiwa penculikan tidak akan diumumkan ke media. Pemerintah memutuskan untuk membuat peristiwa ini menjadi kecelakaan mobil biasa." Ucap Yuda sembari membaca lembaran laporan yang ada di meja.
Karl yang duduk tak jauh dari saja juga terlihat sedang mengurusi berkas-berkas yang baru saja masuk, "Memang lebih baik seperti itu. Kita tidak bisa membuat keributan dan menyeret warga biasa dalam masalah ini."
Lawan mereka bukanlah penculik biasa, melainkan Cerberus, sindikat kriminal paling berbahaya di negara ini. Belum waktunya warga biasa mengetahui tentang keberadaan mereka.
"Ngomong-ngomong, kenapa pihak pemerintah meminta bantuan dari Obelian's Circle? Apa yang mereka rencanakan?" Tanya Karl pada Yuda.
Baginya, aneh sekali jika pemerintah meminta bantuan pihak asing dalam menangani masalah ini. Meski Obelian's Circle memiliki koneksi yang begitu kuat, namun tetap saja mereka adalah pasukan luar yang tidak bisa diikut sertakan dengan seenaknya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Walau Hajun adalah anggota Obelian's Circle, dia bergerak secara individu. Berdasarkan informasi yang kudapatkan, dia tidak menggunakan nama Obelian's Circle ketika menyentuh dunia bawah."
"Lalu bagaimana rekasi pihakmu?"
Karl penasaran dengan bagaimana pihak pemerintah akan bereaksi setelah ini, karena itulah dia ingin memastikan.
"Tidak ada respon, mereka hanya memberiku misi untuk menangkap pemimpin Cerberus. Siapa juga yang akan menyangka kalau timingnya sangat tepat dengan peristiwa penculikan Nona Liyuna."
Karl terdiam selama beberapa detik, "Baiklah, kalau begitu kita sudahi dulu masalah ini disini. Aku mau menjenguk putriku."
Karl bersiap untuk pergi, namun dihentikan oleh Yuda.
"Sepertinya lebih baik Nona Liyuna menghilang sementara dari permukaan."
"Mengenai hal itu, bisa kita bicarakan nanti."
TBC