
Ketika hari mulai gelap, semua murid SMA Darien satu persatu mulai meninggalkan lingkungan sekolah. Beberapa murid terlihat masih tinggal karena ada kegiatan klub yang tidak bisa mereka tinggalkan.
"Ah, ingin rasanya aku membolos."
"Kau sudah gila? Ketua akan memarahimu." Salah satu anggota klub teater menatap Yvette dengan tidak percaya.
Bisa-bisanya dia memiliki pikiran untuk membolos kegiatan klub.
"Tapi..."
"Sudahlah, hal tidak baik akan datang padamu jika kau menyepelekan ketua."
Yvette tidak bisa berkata-kata lagi. Memang benar bahwa ketua klub teater sangat menyeramkan ketika marah. Jika ketahuan membolos, bisa-bisa mereka tidak akan masuk kedalam list peserta yang akan tampil dalam teater yang akan datang.
Dengan hati yang kesal, Yvette membuang napasnya dengan kasar. Ia menatap langit jingga yang mulai menggelap.
"Aku iri pada Yuriel dan Allen..." Gumamnya.
Disisi lain, Yuriel, Liyuna, dan Allen terlihat berada di mobil yang sama. Mereka bertiga duduk berdesakan di kursi belakang mobil karena kursi depan sudah di duduki oleh body guard Liyuna, Liam.
"Aku merasa kasihan pada Yvette." Ucap Yuriel ketika kembali teringat bagaimana ekspresi Yvette ketika mengetahui kalau kegiatan klub Yuriel diliburkan untuk hari ini.
Saat itu, Yvette terlihat benar-benar akan menangis karena hanya dia yang tidak bisa ikut bermain bersama Liyuna setelah pulang sekolah.
Disisi lain, Yuriel merasa senang karena Liyuna tidak akan sendirian dengan Allen.
"Kasihan? Aku meragukannya." Gumam Allen, dia menatap ke arah luar jendela mobil sambil memangku dagunya dengan telapak tangannya.
Meski mendengar ucapan Allen yang duduk disebelahnya, Yuriel berpura-pura tidak mendengarnya dan bersikap acuh.
Posisi duduk kali ini, Yuriel berada di tengah sedangkan Allen dan Liyuna berada di samping.
Ya, Yuriel tidak ingin Allen dan Liyuna duduk berdekatan. Lebih baik dia yang duduk di tengah.
"Nona hari ini mau kemana?" Tanya Noel yang sedang menyetir.
"Kita pergi ke restoran terdekat, ya, kak."
"Loh, kita tidak jadi bermain?"
"Kita makan malam dulu. Setelah itu ayo kita bermain di arcade."
"Baiklah, aku setuju."
Mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah restoran terdekat dari SMA Darien.
Liyuna, Yuriel, dan juga Allen masuk ke dalam restoran dan langsung memesan ruang VIP.
Liam yang memang bertugas sebagai body guard mengikuti Liyuna dan yang lainnya dari belakang. Sedangkan Noel tetap berada di parkiran untuk menjaga mobil. Mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika mobil yang mereka tumpangi tidak ada yang menjaga.
Disisi lain, body guard lain yang menaiki mobil berbeda dengan Liyuna juga ikut mengamankan lingkungan sekitar dengan berpencar.
Sisanya, dikerahkan untuk menjaga pintu ruang VIP tempat Liyuna dan yang lainnya makan.
Hal seperti ini dilakukan untuk memastikan bahwa Liyuna dan Yuriel aman.
"Jadi kalian mau pesan apa?" Tanya Liyuna sembari membuka menu fisik yang baru saja diberikan oleh pelayan restoran.
"Spaghetti ayam dengan black truffle sepertinya enak dan saus yang creamy sepertinya enak." Ucap Yuriel sembari melihat-lihat menu lainnya.
"Aku ingin coba foei gras."
"Tambahkan spaghetti carbonara-nya juga."
"Salad juga jangan lupa."
"Untuk minumnya, aku lemon tea saja."
"Black tea untukku."
"Kalau begitu red velvet frappe untukku."
Setelah mendaftar seluruh pesanan yang mereka inginkan, Yuriel memanggil pelayan dengan menekan tombol yang ada di meja.
Pelayan yang sudah menerima seluruh pesanan Yuriel dan yang lainnya langsung kembali ke dapur untuk disampaikan pada chef.
"Apakah Lucas sudah menghubungimu kak?" Tanya Yuriel.
Dia penasaran bagaiman kabar Lucas setelah hari itu karena sampai sekarang tidak ada kabar tentang nya.
"Terakhir kali dia bilang sedang berunding dengan Ibunya untuk melepaskan kakaknya."
"Benar."
"Tidak kusangka ternyata orang itu kakak dari Lucas." Gumam Yuriel.
Ia menatap Allen yang juga membalas tatapannya.
Kedua orang itu mengingat wajah Hajun dengan baik. Mereka pernah bertemu dengannya. Bukan dikehidupan saat ini melainkan di kehidupan sebelumnya.
Namun ingatan Yuriel maupun Allen tentang Hajun tidak terlalu banyak. Namun keduanya sudah pasti mengingat orang itu.
Dalam satu kehidupan, dia adalah orang yang pernah menculik Liyuna dan dia adalah orang yang membuatnya kehilangan nyawa.
Yuriel dan Allen tidak menyangka kalau orang itu adalah kakak dari Lucas.
"Terima kasih." Ucap Liyuna pada pelayan yang mengantarkan mereka makanan.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama dan berjalan-jalan ke sebuah mall setelah makan malam.
Allen berpisah dengan Yuriel dan Liyuna di mall dan memutuskan untuk pulang sendiri. Sedangkan Yuriel, dia harus pergi ke kantor Karl karena dipanggil.
"Apa benar tidak apa kalau sendiri?" Tanya Liyuna khawatir.
Dia tidak tahu apa yang ayahnya butuhkan dari Yuriel namun melihat bagaimana Yuriel dipanggil, sepertinya ada hal penting yang tidak boleh dia ketahui.
Liyuna bukanlah orang yang kepo jadi dia tidak masalah jika ayahnya dan Yuriel membahas sesuatu yang rahasia.
"Iya, aku tidak apa-apa kak."
Noel menurunkan Yuriel di depan perusahaan Castris Group sebelum akhirnya mengantar Liyuna.
Liyuna duduk di bangku belakang bersama dengan Liam. Entah kenapa sejak pulang dari mall ketika Allen sudah pergi, Liam meminta untuk duduk dibelakang bersama dengannya dan meminta Yuriel duduk di depan bersama dengan Noel.
"Ada apa?" Tanya Liyuna.
Melihat gerak gerik Liam yang tidak biasa, Liyuna merasakan ada yang aneh. Biasanya Liam tidak pernah meminta untuk duduk disampingnya kecuali jika ada bahaya yang mengancam. Jadi kali ini Liyuna memiliki firasat kuat kalau sesuatu sedang terjadi.
Mendengar pertanyaan Liyuna, Liam tidak langsung menjawab. Namun pada akhirnya mulutnya terbuka untuk memberitahu Nona yang ia layani.
"Sejak tadi, ada seseorang yang mengintai mobil yang kita tumpangi."
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Aku juga kurang tahu jelasnya, yang pasti mereka selalu mengikuti dibelakang."
Secara refleks Liyuna menatap kebelakang namun dia tidak bisa menemukan mobil yang dimaksud.
"Mobil itu berjarak sekitar 4 mobil dari milik kita."
'Kalau 4 mobil berarti dibelakang mobil body guard.'
"Apa semua akan baik-baik saja?"
Liyuna mulai khawatir tentang keselamatannya dan juga body guard yang melindunginya. Dia tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini selalu menjadi target orang-orang jahat.
"Sepertinya tidak apa-apa karena dia hanya mengikuti mobil kita saja."
"Sejak kapan mobil itu mengikuti?"
"Setelah kita keluar dari restoran."
'Itu berarti sebelumnya mereka tidak mengikuti kita saat ada di sekolah.'
"Lebih baik kita langsung pulang setelah ini."
"Baik, dimengerti."
Mendengar apa yang baru saja dilaporkan oleh Liam, Noel mulai menekan pedal gas dan melesat membelah jalanan kota Elisien yang ramai.
Noel juga mencoba untuk melepaskan diri dari mobil putih yang membuntuti dari belakang. Sedangkan Liam mencoba untuk menghubungi bodyguard lain dan meminta mereka untuk menghalangi laju mobil tersebut.
Asalkan mobil itu tidak membahayakan Liyuna, mereka juga tidak akan mengambil tindakan yang ekstrim.
Namun tidak ada yang tahu kalau keputusan tersebut adalah sebuah keputusan yang kurang tepat.
Bencana baru telah mengintai Liyuna dan kebenaran sebentar lagi akan terungkap.
Ketika dihadapkan pada sebuah kebenaran, bagaimanakah langkah Liyuna selanjutnya?
TBC