
Mobil putih Sara terparkir di depan sebuah restoran mewah. Di gedung restoran tersebut tertulis 'Raiten' dengan ukuran yang cukup besar. Raiten adalah restoran yang cukup terkenal milik Raven Group. Restoran tersebut sangatlah mewah dan juga menjamin kerahasiaan seluruh pelanggannya. Jika mereka ingin melakukan pertemuan rahasia, Raiten pastinya akan melindungi identitas pelanggannya tersebut namun Raiten juga tidak bisa digunakan untuk melakukan transaksi ilegal maupun tindak kriminal dalam bentuk apa pun.
Sara membukakan pintu mobil untuk Liyuna dan menggenggam tangan kecilnya. Mereka berjalan menuju pintu masuk restoran yang di jaga oleh dua satpam. Sesampainya di depan resepsionis, Sara berkata, "Meja atas nama Sara."
Resepsionis langsung menunjuk dimana letak meja yang sudah Sara reservasi sebelumnya. Ya, sebelum datang ke restoran, Sara sudah melakukan reservasi terlebih dahulu agar dia bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Liyuna di tempat yang sunyi. Sara sengaja meminta ruang VIP khusus yang jumlahnya terbatas dan hanya bisa dimasuki jika telah membuat reservasi sebelumnya. Apa lagi jika melihat background Sara, siapa pun pasti akan langsung melayaninya dengan sangat baik.
Sara dan juga Liyuna pergi ke ruangan yang telah ditunjuk oleh resepsionis. Mereka tidak diikuti oleh pelayan karena nanti di ruang VIP tersebut akan ada ipad yang bisa digunakan untuk memesan makanan, jadi pelayan hanya akan masuk ke ruangan saat mengantarkan makanan saja. Karena sistem yang seperti itu, Raiten sering digunakan untuk pertemuan penting para petinggi perusahaan untuk membicarakan bisnis mereka.
Liyuna duduk di kursi yang bersebrangan dengan Sara. Ia mengambil ipad yang ada di meja dan memilih makanan yang ingin ia pesan. Karena masih pagi, Liyuna memilih makanan yang ringan yaitu english breakfast dan memilih air putih sebagai minuman. Sedangkan Sara memesan sandwich dan teh camomile.
Setelah memesan, mereka menunggu pesanan diantar. Liyuna memecah keheningan dengan bertanya, "Mama akan pulang kan?"
Sara menatap Liyuna sejenak sebelum menjawab, "Iya, Mama akan pulang bersama Yuna."
Liyuna tersenyum mendengar hal itu, "Yuna senang mendengarnya."
"Sepertinya Mama sudah membuat Yuna kesulitan, ya?"
"Yuna tidak merasa disulitkan."
"Kalau begitu, makan lah yang banyak dan ayo kita pulang."
"Iya, ayo kita pulang."
Meski pun pembicaraan mereka sangat singkat, arti yang terkandung dalam setiap kata begitu besar. Bagi Sara yang sempat takut menghadapi kenyataan, kata 'ayo kita pulang' melambangkan dirinya yang sudah siap untuk menghadapi apa yang ia takutkan. Kenyataan bahwa Karl mengadopsi seorang anak yang tidak ia kenal harus ia hadapi saat ini juga. Rasa percaya yang pernah goyah sebelumnya harus ia perkuat demi ikatan yang telah meraka miliki. Ikatan itu tidak akan bisa terputus begitu saja, Sara harus bertahan dan percaya. Suatu saat, jawaban pasti akan datang dan dia akan mengerti mengapa Karl melakukan semua ini.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Seorang orang pelayan mendorong troli makanan yang terbuat dari kayu eboni dengan ukiran yang begitu klasik dan menempatkan makanan di meja Sara dan Liyuna. Setelah semua pesanan berada di meja, pelayan tersebut membungkukkan tubuhnya dan keluar dari ruangan.
Sara dan Liyuna menyantap makanan yang mereka pesan dengan hati yang lega. Semua sudah diluruskan dan Liyuna sudah mengubah sedikit alur dalam game. Liyuna sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari atas tindakannya, dia tidak tahu apakah akan ada efek kupu-kupu atas semua yang ia lakukan. Tapi Liyuna tahu dengan pasti bahwa dia tidak bisa kehilangan orang-orang yang berharga baginya. Mau itu Yvette, Sara, dan juga Karl. Mereka adalah orang yang harus Liyuna lindungi. Tidak peduli seburuk apa karma yang akan Liyuna dapat atas tindakannya, dia harus terus maju dan menerjang semua plot yang ada dalam game dan mendapatkan happy ending untuk dirinya sendiri.
"Makanan disini enak sekali." Ucap Liyuna yang merasa bahwa makanan di restoran yang saat ini mereka kunjungi berada di atas rata-rata. Dia tidak pernah merasakan makanan seenak ini sebelumnya. Yah, memang sih makanan buatan BiBi Olla juga enak tapi jika dibandingkan makanan yang saat ini dia makan rasanya sedikit berbeda. Level makanan di restoran ini sedikit berada di atas masakan Bibi Olla.
"Benarkah? Kalau begitu lain kali kita akan ke sini lagi."
Liyuna tersenyum bahagia mendengar ucapan Sara dan lanjut makan.
"Atau, kau bisa meminta Allen untuk mengajakmu ke sini."
Mendengar ucapan Sara, Liyuna tersedak. Ia terbatuk-batuk dan refleks mengambil minuman. Liyuna tidak menyangka Sara akan menyebut nama yang sudah lama tidak ia dengar.
"Kenapa meminta pada Allen?"
"Raiten adalah restoran milik Raven Group dan kalian juga seumuran bukan?"
Mendengar ucapan Liyuna, mata Sara menjadi bercahaya. Dia menampakkan wajah seperti ingin menggoda Liyuna.
"Eh, benarkah? Sepertinya saat di pesta anniversary Raven Group dua tahun yang lalu Mama melihat Yuna sangat akrab dengan Allen."
Seketika Liyuna mengingat kejadian dua tahun yang lalu ketika ia dan Allen bertemu di pesta dan pergi ke lantai dua bersama. Di saat itu lah Liyuna juga membuat keputusan untuk tidak menghindari target lagi.
"Itu tidak benar." Secara tidak sadar Liyuna menyangkal bahwa mereka dekat. Yah, memang tidak salah jika mengatakan mereka tidak dekat bukan? Lagi pula, mereka hanya berbincang sebentar.
Sara terkekeh mendengar jawaban Liyuna namun memutuskan untuk menyudahi topik tersebut dan lanjut makan.
Setelah makanan meraka habis, Liyuna meminta izin pada Sara untuk ke toilet sebentar karena ia merasa ingin buang air kecil. Sara menawarkan untuk mengantarnya namun Liyuna menolak. Meski saat ini ia terlihat seperti anak kecil, jiwanya adalah orang yang sudah berumur 18 tahun jadi tidak perlu diantar. Lagi pula, Liyuna yakin tidak akan tersesat seperti saat di pesta Raven Group karena sebelumnya ia sudah melihat tanda toilet sebelum masuk ke ruang VIP.
Liyuna berjalan melewati lorong panjang, di kanan maupun kirinya terdapat banyak sekali pintu khusus ruang VIP yang terlihat jelas karena adanya penanda bewarna emas di setiap pintu. Berbeda dengan tempat diadakannya pesta anniversary Raven Group, restoran Raiten tidak memiliki lorong yang rumit maupun struktur bangunan yang sulit untuk diingat. Mungkin karena ini adalah tempat makan publik dimana banyak orang datang dan pergi jadi dibuat se-simpel mungkin namun tidak mengabaikan segi estetik.
Ketika berbelok tiba-tiba saja tubuh kecil Liyuna sedikit terdorong ke belakang. Secara refleks dia meminta maaf pada seseorang yang tidak sengaja ia tabrak.
"Ah, maafkan aku." Ucapnya sembari sedikit menundukkan kepalanya.
Orang yang ia tabrak tidak merespon permintaan maaf Liyuna dan hanya diam berdiri dihadapannya. Tanpa melihat wajahnya pun, Liyuna dapat merasakan aura menakan dari orang tersebut, sekilas mengingatkannya lada Karl.
Orang tersebut memakai setelan berwarna hitam keabuan dan sepatu kulit berwarna senada. Kedua tangannya terangkat keatas, memegang sebuah lighter yang belum dinyalakan dan rokok yang sudah berada di dekat bibirnya.
Liyuna mendongakkan kepalanya sedikit keatas untuk melihat siapa orang yang ada dihadapannya saat ini.
Dia adalah pria muda yang kemungkinan umurnya sudah hampir mendekati dua puluhan. Namun bukan itu yang membuat fokus Liyuna teralihkan, melainkan warna rambutnya yang tidak biasa.
Rambutnya mengingatkan Liyuna pada Lucas. Rambut putih yang tidak biasa namun berbeda dengan rambut Lucas yang berwarna putih seperti perak, warna rambut pemuda itu berwarna putih keabuan. Rambutnya memang berwarna putih namun terlihat lebih gelap dari rambut Lucas.
Napas Liyuna tercekat ketika melihat kedua mata pemuda itu. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang datar, pemuda itu memiliki mata sedingin es di kutub utara. Jika Liyuna bertemu dengannya di gang sepi yang gelap, dapat dipastikan bahwa ia akan pingsan. Sorot matanya tidak menampakkan kebaikan sama sekali, sangat gelap dan juga dingin.
Tanpa sadar, tubuh kecil Liyuna sedikit gemetar karena ketakutan. Di kehidupannya yang sebelumnya pun, dia tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki mata dingin sepertinya. Hal ini membuatnya ketakutan sekaligus ingin cepat-cepat pergi dari sini.
Untungnya pemuda tersebut langsung pergi begitu saja saat melihat Liyuna. Dia tidak mengatakan apapun dan tidak menoleh kebelakang. Ada satu laki-laki lagi yang berjalan mengikutinya dari belakang. Laki-laki tersebut memakai topi fedora hitam dengan mantel hitam panjang yang mencapai bawah lututnya.
Setelah kedua orang tersebut pergi dan Liyuna tidak dapat melihat punggung mereka lagi, Liyuna langsung bergegas kembali ke ruang VIP dimana ada Sara. Dia melupakan keinginannya untuk ke kamar mandi dan memilih untuk segera pergi dari tempat ini. Liyuna bisa menahan diri untuk tidak ke kamar mandi namun dia tidak mau melihat pemuda yang barusan tidak sengaja ia tabrak. Liyuna masih merasa ngeri ketika mengingat sorot matanya.
TBC
^^^Next :^^^
^^^Chapter 36 - Hidden Target^^^