Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 142 - Gudang Penyimpanan



Aula tempat pelelangan sudah penuh dengan para tamu undangan.


Demi menjaga kerahasiaan identitas para pengunjung, mereka diharuskan mengenakan topeng yang dapat menutupi seluruh wajah mereka. Selain itu, mereka juga diperbolehkan untuk menggunakan voice changer jika memang diperlukan.


Hanya orang-orang yang memiliki kualifikasi saja yang bisa bergabung dalam pelelangan ini.


Karena acara belum dimulai, suasana menjadi sangat hening. Tidak ada satupun yang berbicara. Semua menunggu dengan sangat sabar dan tidak ada rasa bosan di wajah mereka.


Di sisi lain, Liyuna masih syok mengetahui identitas sebenarnya dari penculiknya. Dia menatap Harry dengan wajah tak percaya.


"Bagaimana mungkin kau adalah Pamanku?!" Tanya Liyuna.


"Aku tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya." Lanjutnya.


Harry menatap Liyuna dengan wajah datarnya seolah dia malas repot-repot menjelaskan semua pada Liyuna.


"Sekarang kau sudah tahu, kan?"


Liyuna menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jika benar kau adalah Pamanku, kenapa kau melakukan hal ini padaku?"


"Hmm... Kenapa, ya? Kau penasaran?"


Bulu kuduk Liyuna berdiri tatkala melihat Harry menyeringai. Ini pertama kalinya Liyuna melihat seringai seseorang terlihat begitu menakutkan.


Melihat bagaimana Harry merespon setiap pertanyaannya dengan tidak serius membuat Liyuna sulit untuk menganalisa apa yang sebenarnya Harry inginkan darinya.


Satu hal yang pasti, Harry tidak menyukai Karl. Karena ia menyebutkan nama Karl dengan nada penuh racun.


'Tapi kenapa? Jika dia adalah adik Ayah, kenapa dia membencinya?'


Meski situasi tidak mendukung, Liyuna mencoba untuk berpikir jernih.


Setidaknya untuk sekarang, Harry tidak ada niat untuk melukainya. Liyuna bisa bernafas dengan lega dan mencoba untuk mencari celah agar bisa meminta bantuan.


Tok... Tok....


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Liyuna.


Harry menatap pintu itu sekilas sebelum mempersilahkan untuk dibuka.


"Lapor! Acara pelelangan akan segera dibuka."


"Bawa dia."


Tanpa penjelasan apapun, Harry menatap Liyuna. Bawahannya langsung mengerti apa yang Harry maksud dan berjalan mendekati Liyuna.


Liyuna yang melihat hal tersebut seketika merasa panik. Padahal baru saja dia merasa lega karena sepertinya Harry tidak akan melakukan apapun padanya. Namun sepertinya dugaan Liyuna salah.


"Ah!!"


Liyuna berusaha untuk melarikan diri namun kakinya ditarik dengan begitu kasar.


Sekon berikutnya, Liyuna dapat merasakan kedua tangannya dibelenggu oleh sebuah rantai yang dingin, membuatnya terlihat seperti seorang tahanan.


"Lepaskan aku!" Teriaknya memberontak.


Liyuna mencoba untuk menendang orang yang memasang rantai padanya namun usahanya tidak berhasil.


"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku sekarang juga!"


Liyuna berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan rantai yang membelenggunya namun tidak berhasil. Tangannya menjadi memerah karena bergesekan dengan rantai besi yang tidak bersahabat.


Liyuna merasa tidak berdaya. Seandainya dulu dia ikut kelas bela diri, mungkin dia tidak akan merasa seperti ini.


Namun di dunianya yang dulu maupun sekarang, dia tidak pernah berlatih bela diri. Semua terlambat karena peristiwa penculikan sudah terjadi.


"Lebih baik kau diam. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk melukaimu." Ucap Harry memperingatkan.


Bibir Liyuna seketika tertutup. Keringat dingin membasahi wajahnya.


Tidak seharusnya dia meremehkan penjahat. Paman atau bukan, orang yang ada dihadapannya saat ini adalah penjahat.


Sreeek—


Dengan kasar, bawahan Harry menarik rantai hingga membuat Liyuna terjatuh dari tempat tidur.


Tubuhnya terasa sakit sekali seolah habis dipukuli. Beberapa jam yang lalu dia baru mengalami kecelakaan, jadi tidak aneh jika tubuhnya terasa seperti akan hancur.


Tanpa meninggalkan sepatah katapun, Harry keluar dari kamar diikuti oleh Liyuna yang diseret dengan kasar.


Liyuna menggigit bibir bawahnya menahan semua rasa sakit. Jika ingin hidup, dia harus bertahan.


Bukankah dia sudah membulatkan tekad? Hal seperti ini tidak akan membuatnya putus asa. Walau Liyuna masih berusaha untuk mencerna keadaan saat ini, dia tahu kalau dia tidak akan mati.


Setidaknya tidak di tempat ini. Dia masih ingat hal-hal apa yang membuat Liyuna asli mati dalam game.


Tidak ada cerita dimana Liyuna akan mati diatas kapal pesiar.


Namun sayangnya, Liyuna tidak tahu. Dia tidak memiliki kesempatan untuk membuka hidden route yang ada.


Ketika sampai disebuah lorong, Liyuna merasa bahwa orang yang menyeretnya sedikit tidak fokus dan pegangannya melonggar.


Liyuna yang melihat hal ini merasa bahwa ini adalah kesempatan. Dia mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan mencoba untuk menendang orang tersebut.


Buuugh—


"Hei! Berhenti!!"


Liyuna tidak mengindahkan teriakan orang tersebut dan terus berlari.


Dor!


"Aaaargh!!!"


Suara tembakan membuat langkah kaki Liyuna terhenti. Dia menatap kembali ke belakang dan melihat Harry yang memegang pistol ditangannya.


Orang yang tadi menariknya, kini berlutut di lantai dengan darah yang menggenang.


Dor!


Mata Liyuna membulat dengan sempurna. Tubuhnya seketika bergetar hebat melihat apa yang baru saja terjadi.


"Aaah!" Teriaknya histeris.


Dia berjongkok memegang kedua kepalanya. Air matanya mulai mengalir tanpa ia sadari.


Liyuna bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Baru saja, di depan matanya dia melihat Harry membunuh seseorang.


"Jika kau tetap memberontak, lain kali peluru ini akan menembus otakmu."


Tanpa perasaan, Harry mendekati Liyuna yang masih gemetar dan berjongkok di lantai.


Dia mengambil rantai yang mengikat tangannya dan menariknya dengan kasar hingga membuat tubuh Liyuna terjatuh.


Tidak peduli dengan keadaan Liyuna yang masih syok, Harry menarik rantai tersebut. Tubuh Liyuna ikut tertarik layalnya sepuah kain pel yang membersihkan lantai.


Air matanya terus keluar, tangannya terasa begitu sakit seolah akan patah. Meski begitu, tak ada seorangpun yang bisa menolongnya.


Entah berapa lama Harry menyeret tubuhnya, Liyuna sempat kehilangan kesadaran.


Ketika ia terbangun, Liyuna sudah berada di sebuah tempat yang asing.


Dilihat dari benda-benda yang ada di ruangan, sepertinya tempat ini adalah sebuah gudang penyimpanan.


Liyuna tidak mengerti kenapa dia dibawa kemari.


"Jalanlah sendiri."


Harry melepaskan rantai yang ia genggam dan menatap Liyuna yang mulai melemah dengan tatapan dingin.


Liyuna yang melihat tatapan mata Harry merasa ketakutan.


Padahal itu adalah mata yang sama dengannya, namun dia merasa sangat takut ketika menatapnya.


Dengan tubuh penuh dengan luka dan lebam, Liyuna berusaha untuk berdiri.


Karena sejak tadi dia diseret, ada banyak luka baru di tubuhnya.


Liyuna meringis ketika melihat tangannya yang mulai mengeluarkan darah akibat gesekan rantai yang membelenggu.


Karena tidak ada pilihan lain, Liyuna berjalan mengikuti Harry. Tak lupa, ia juga melihat ke sekeliling, berusaha untuk memperhatikan apa saja yang ada dalam ruangan.


"Apa kau lihat ini?" Harry menunjuk kesebuah lukisan yang ada di dinding.


Liyuna mengikuti tangan Harry yang menunjuk. Sebuah lukisan katedral kuno terlukis disana.


"Itu adalah lukisan asli karya Arlene Jia."


"Lukisan asli? Endless Prayer adalah sebuah harta nasional. Tidak mungkin itu bisa ada disini."


Liyuna yang pernah mengikuti kelas melukis setidaknya tahu seberapa penting Endless Prayer untuk negara Zen.


"Aku memiliki seorang Forger (pemalsu) yang hebat. Lukisan seperti ini bukan seberapa."


Liyuna benar-benar tidak percaya dengan informasi yang baru di dengarnya.


Jika Harry bisa melakukan forgery (pemalsuan) lukisan paling berharga untuk sebuah negara dan menukarnya dengan yang asli, maka dia benar-benar berbahaya.


Lebih berbahaya dari yang Liyuna duga.


"Dan kau lihat disana?" Harry menatap sebuah perhiasan berkilau yang dilindungi dengan sebuah kaca.


"Mermaid's Tears..." Ucap Liyuna dengan lirih.


Dia mengenali perhiasan itu. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga kaya raya, Liyuna tahu satu atau dua perhiasan paling mahal di dunia karya seorang artisan populer di masa lalu yang kini sudah meninggal dunia.


Setelah dilihat-lihat lagi, Liyuna baru saja menyadari bahwa semua barang-barang yang ada di gudang penyimpanan ini adalah barang langka yang katanya sudah tidak bisa ditemukan lagi.


Wajah Liyuna menggambarkan segalanya, dia terlihat sangat terkejut sekaligus tidak percaya.


Ketika matanya kembali bertemu dengan Harry, betapa terkejutnya ia ketika melihatnya tersenyum seolah memamerkan barang-barang langka yang ia miliki.


Cahaya lampu yang remang, menutupi sebagian wajah Harry, menambah kesan menegangkan sekaligus mengerikan.


Saat itu juga, Liyuna sadar bahwa mungkin saja dia berada dalam situasi yang genting.


TBC


[A/N: Karena jangka update yg cukup lama, readers boleh baca ulang kalau lupa sama alur. Karena mau dibaca sebanyak apapun, cerita ini akan tetap gratis. Jadi kalian jangan khawatir, cerita ini bisa kalian baca berulang kali. Author bakal tetap up cerita ini walau lama dan mulai banyak yang ninggalin🙂. ]