Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 23 - Kalung Kupu-Kupu



Liyuna merasa bayangan-bayangan yang sering ia lihat memiliki sebuah arti. Namun dia tidak mengerti. Jika memang benar itu adalah ingatan Liyuna yang asli, mengapa timeline nya berbeda? Mengapa bayangan yang ia lihat menampakkan waktu yang berubah-ubah serta mengapa orang yabg ia lihat berbeda pula.


Liyuna sangat yakin kalau pria yang dulu pernah ia lihat –seseorang yang ia tunggu disebuah cafe dan anak laki-laki yang duduk di bawah pohon kamfer adalah orang yang berbeda. Kenapa Liyuna bisa mengetahuinya? Jawabannya sudah jelas, mereka memiliki gestur tubuh yang berbeda.


Jika memang Liyuna asli yang ingin memperlihatkan bayangan seperti ini, kenapa timeline nya acak? Kenapa tidak dilihatkan sedikit demi sedikit namun tetap mengikuti alur waktu yang sama? Liyuna tidak mengerti. Apa yang ia lihat bukan sekadar bayangan saja. Ia yakin sekali ada maksud dibaliknya. Karena itulah ia mulai menulis hal-hal aneh yang ia lihat di mimpi maupun yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Suatu hari nanti, dia yakin akan menemukan jawabannya. Ya, dia hanya perlu bersabar hingga jawaban itu muncul sendiri dihadapannya.


"Yuna!" Panggil Yvette sembari menepuk pundak Liyuna pelan.


Yvette melihat Liyuna melamun cukup lama ketika ia melihat lukisan seorang anak laki-laki yang sedang duduk di bawah pohon kamfer. Yvette mengakui kalau lukisan itu sangat indah dan cantik, namun Liyuna terlihat tidak seperti biasanya. Dia tidak pernah melamun kan sesuatu sampai seperti itu. Makanya ia mencoba menarik kembali kesadaran Liyuna dengan memanggilnya dan syukurlah Liyuna langsung menoleh kearahnya. Kini Yvette dapat bernapas dengan lega.


"Yvette, aku mau ke sana sebentar." Ucap Liyuna sembari menunjuk lukisan itu.


"Eeeh?!" Yvette belum sempat bertanya, Liyuna sudah berjalan mendekati penjual lukisan tersebut.


Yvette yang melihat hal itu merasa sedikit kehilangan arah karena begitu tiba-tiba. Yuna memang terkadang sangat sulit untuk ditebak.


Setelah membayar lukisan tersebut, penjual lukisan membungkus lukisan dengan box kardus yang cukup tebal dan di sudutnya dipasang pelindung agar tidak rusak. Harga lukisan itu tidak terllau mahal karena bukan lukisan klasik atau pun lukisan milik pelukis ternama, namun Liyuna tidak terlalu peduli. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah lukisan tersebut membangkitkan ingatan atau bayangan mengenai seseorang yang berkemungkinan besar memiliki hubungan dengan Liyuna.


"Yuna, kenapa tiba-tiba membeli lukisan? Ini bukan karya pelukis ternama loh." Ucap Yvette yang kini berdiri di samping Liyuna. Meski keluarga Yvette tidak sekaya Liyuna, dia tetap tahu mana lukisan milik pelukis terkenal dan mana yang tidak. Orang sekelas Liyuna tidak seharusnya membeli karya seni dengan sembarangan karena jika membeli sebuah karya dengan sembarangan bisa saja tidak bisa dijadikan investasi untuk di masa mendatang.


"Aku tahu." Liyuna tersenyum kecil, kedua tangannya memegang lukisan yang sudah dibungkus dengan rapi dan aman lalu menatap Yvette.


"Tapi bagiku lukisan ini sangat indah." Lanjutnya.


Mendengar apa yang baru saja Liyuna ucapkan, membuat Yvette kembali sadar bahwa Liyuna tidak peduli dengan untung atau tidak. Ya, sama seperti ketika dia menolong keluarganya. Liyuna tidak pernah memikirkan hal seperti itu, dia hanya bertindak sesuai dengan hatinya, itu saja. Menurut sudut pandang Yvette, lukisan yang Liyuna beli sangat tidak bermanfaat namun bagi Liyuna itu sesuatu yang pantas untuk dibeli dan diapresiasi. Yvette merasa pikirannya terlalu sempit, dia baru saja paham kalau memang seperti ini lah sifat Liyuna. Dia tidak melihat sesuatu berdasarkan nilainya, melainkan berdasarkan keindahan dan bertindak sesuai kata hatinya.


"Benar, itu sangat indah."


Liyuna memanglah orang yang sangat indah. Indah dalam artian dia adalah orang baik yang selalu di salah pahami. Semakin Yvette mengenal Liyuna, ia semakin melihat sisi Liyuna yang berbeda. Sisi yang tidak banyak orang ketahui.


Setelah membeli lukisan tersebut, Liyuna dan Yvette kembali ke hotel. Mereka kembali ke kamar masing-masing dan mengucapkan salam perpisahan.


Di dalam kamar, Liyuna menaruh lukisan yang barusan ia beli di pojok ruangan. Perutnya terasa penuh karena habis makan siang dan saat ini tidak ada yang ingin dia lakukan. Liyuna memutuskan untuk tidur sejenak, hingga ia mendengar suara ponselnya berdering dan membuatnya terbangun dari dunia mimpi. Ia melihat nama orang yang menelponnya dan merasa sedikit terkejut.


'Papa?' Ucapnya dalam hati. Tidak biasanya Karl menelpon Liyuna seperti ini. Liyuna langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang.


"Halo, Pa? Ada apa?" Tanya Liyuna yang merasa penasaran mengapa Karl tiba-tiba menelponnya padahal mereka ada di hotel yang sama.


"Yuna sayang, apa kamu sekarang ada di kamar?"


"Iya, Pa. Aku ada di kamar sekarang."


"Sendirian?"


"Ya, aku sendiri."


"Papa saat ini ada di depan kamarmu. Boleh buka kan pintu untuk Papa?"


Liyuna terkejut mendengar hal ini. Dia tidak menyangka Karl ada di depan kamarnya. Namun tanpa basa-basi Liyuna membuka kan pintu untuk Karl. Dan benar saja, Karl berdiri di depan pintunya dengan ponsel di telinganya.


Liyuna langsung memutus sambungan telepon ketika melihat Karl.


"Silahkan masuk, Pa." Ucap Liyuna mempersilahkan Karl untuk masuk.


Melihat putrinya yang mempersilahkannya masuk, Karl tersenyum lembut. Putrinya sejak kecil memang memiliki manner yang baik dan sopan. Dia benar-benar tidak pernah mengecewakan Karl dan Sara, makanya Karl ingin memberi sesuatu padanya. Sesuatu yang sangat berharga dan tiada duanya.


Karl masuk ke kamar Liyuna dan duduk di sudut kasur. Dia melihat-lihat isi kamar hotel yang Liyuna tempati –rapi dan bersih. Pandangan Karl terhenti pada sebuah box berukuran sedang di pojok kamar. Ia tidak melihat Liyuna membawa box itu dari rumah, apa mungkin ia baru membelinya?


Liyuna mengikuti arah pandangan Karl dan menjelaskan, "Ah, itu lukisan yang tadi aku beli, pa. Tadi aku melihat lukisan yang indah jadi aku membelinya."


Mendengar ucapan Liyuna, Karl merasa senang karena kini Liyuna semakin memperlihatkan apa yang dia inginkan, tidak sepeti Liyuna yang dulu. Karl tidak peduli apa yang dibeli Liyuna memiliki nilai atau tidak, yang terpenting adalah Liyuna merasa senang dengan apa yang ia lakukan.


Liyuna duduk di samping Karl, ia masih memikirkan apa yang sebenarnya Karl inginkan darinya.


"Papa ada perlu apa sama Yuna?" Tanya Liyuna sekali lagi.


Karl menatap kedua mata Liyuna sejenak sebelum tersenyum, "Bagaimana pendapat Yuna jika punya seorang adik?"


Kedua mata Liyuna sedikit melebar mendengar pertanyaan Karl. Seketika juga dia mengerti apa yang sedang Karl bicarakan.


'Ah, ini pasti tentang Yuriel.'


Liyuna tidak langsung menjawab. Dia tahu bahwa sebentar lagi prolog akan dimulai dan Yuriel akan datang dalam kehidupannya. Ia sudah melihat hal ini berkali-kali di dalam game. Setiap Liyuna memainkan rute baru, ia pasti akan mengulang prolog. Ia tidak tahu reaksi seperti apa yang diberikan oleh Liyuna yang asli ketika mendengar pertanyaan ini karena adegan ini tidak dimasukkan dalam game. Namun, jika dia yang menjawabnya, dia sudah tahu apa yang ingin dia katakan. Ya, dia sudah memutuskan hal ini sejak pertama kali ada di dunia ini.


Dia akan menerima Yuriel dan memperlakukannya seperti keluarga.


Itu adalah sesuatu yang telah dia putuskan sejak jauh-jauh hari. Jadi, kali ini, jawaban yang akan dia berikan sudah pasti.


"Yuna akan merasa sangat senang karena punya teman bermain, apa lagi jika adik Yuna seorang perempuan. Kita bisa belanja bersama, bermain bersama dan juga tidur bersama. Ah, Yuna juga tidak masalah jika adik Yuna laki-laki. Pasti akan sangat menyenangkan jika punya adik." Jawab Liyuna dengan suara antusias yang dibuat-dibuat. Kedua sudut bibir Liyuna tertarik keatas, menampakkan wajah bahagia dengan senyuman. Namun matanya tidak terlihat begitu. Dia memang akan memperlakukan Yuriel seperti keluarga, namun Liyuna juga merasa sedikit ketakutan. Ia takut akan masa depan yang nantinya akan ia lalui.


Karl menyadari senyum Liyuna yang tidak sampai ke matanya. Karl tahu bahwa Liyuna tidak menjawabnya dengan tulus. Ada sesuatu yang membuat Liyuna terganggu namun dia tidak tahu apa itu. Karl yang selama hidupnya selalu bertemu dengan kompetitor yang klien asing, dapat dengan mudah membaca gerak-gerik, ekspresi, dan nada bicara seseorang untuk mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan.


Dari apa yang Karl lihat, Liyuna memang merasa senang jika punya adik. Dia memang benar-benar akan merasa bahagia jika memilikinya. Namun, ada sesuatu yang Liyuna sembunyikan. Perasaan seperti ketidakyakinan dan juga perasaan takut. Meski mengetahui hal itu, Karl tidak tahu mengapa Liyuna berpikir seperti itu. Mungkin saja dia berpikir seperti itu karena takut kasih sayang kelurganya akan berpindah pada adiknya.


"Sungguh?"


"Iya, sungguh."


Karl mengambil sebuah box kecil yang ada di saku celana nya dan memberikannya pada Liyuna. Liyuna menerima box itu dan bertanya, "Apa ini?"


"Coba buka."


Liyuna membuka box berwarna hitam pekat dengan pita berwarna biru tua tersebut. Ketika melihat isinya, Liyuna merasa sangat terkejut.


Sebuah kalung yang terbuat dari berlian dengan bandul kupu-kupu di ujungnya. Kalung tersebut terlihat dipahat dengan sangat hati-hati dan berlian yang menghiasi kalung tersebut terlihat bersinar. Melihat hal ini, Liyuna langsung tahu kalau harganya pasti tidak main-main.


"Indah sekali." Ucapnya tanpa sadar.


Kalung yang ada di dalam box benar-benar indah. Liyuna tidak pernah melihat kalung seindah ini sebelumnya.


"Itu adalah hadiah untuk Liyuna dari Papa." Ucap Karl.


Liyuna yang mendengar hal itu langsung mengucapkan terima kasih dan memeluk Karl. Liyuna sempat ingin bertanya, hadiah dalam rangka apa, namun dia menelan kembali pertanyaan tersebut. Dia takut dengan jawaban Karl dan hatinya mengatakan itu adalah hadiah yang Karl berikan agar Liyuna mau menerima Yuriel.


Karl mengelus puncak kepala Liyuna dengan lembut dan membalas pelukan Liyuna.


Untuk ke depannya, Liyuna ingin terus menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Ia benar-benar menyayangi Karl dan Sara seperti orang tuanya sendiri dan ia ingin mereka selalu bahagia.


Liyuna akan menerima Yuriel dan menganggapnya sebagai adik kandungnya sendiri dan akan bertahan hidup hingga akhir.


TBC