
Musim berganti dengan begitu cepat. Daun-daun hijau kini mulai kecoklatan dan jatuh diterpa angin yang mulai mendingin.
Musim gugur telah datang dan seragam musim panas telah ditinggalkan.
Liyuna dan Yuriel mengenakan seragam musim dingin mereka. Sebuah kemeja lengan panjang berwarna coklat muda dengan vest coklat tua dan blazer krem. Rok coklat tua diatas lutut yang mereka kenakan terlihat sangat kontras dengan atasan yang tebal.
Karena itulah mereka mengakali dengan memakai stocking tebal berwarna senada dengan kulit mereka.
Tidak lupa, Liyuna mengganti pantofel musim panas yang biasa ia pakai dengan sepatu boots semata kaki. Dengan begini, persiapan musik baru telah selesai.
"Kak, jangan lupa bawa syal." Yuriel terlihat buru-buru turun kebawah. Ia menuruni anak tangga sembari berteriak ke arah kamar Liyuna.
"Aku tidak akan pakai, udara belum sedingin itu."
Liyuna berjalan keluar kamar sembari merapikan dasinya. Ditangannya ada tas sekolah yang ia jinjing.
Sarapan telah siap sejak beberapa menit yang lalu. Bibi Olla yang selalu membuatkan makanan untuk mereka terlihat sedang beberes di dapur.
Sayangnya, hari ini hanya Liyuna dan Yuriel yang sarapan. Sara dan Karl sudah pergi bekerja sejak dini hari tadi.
"Kak, apa kau sudah membuat tugas hari ini?"
"Tugas melukis? Ya, aku sudah membuatnya."
"Baguslah, jika belum aku akan membantumu."
"Tidak perlu sampai seperti itu."
"Tak terasa kita sudah kelas 2, ya, kak."
"Kau benar."
"Setelah lulus nanti, kakak akan melanjutkan di universitas mana?"
"Hmm... Aku belum memikirkannya. Kalau Yuri sendiri ingin melanjutkan kemana?"
"Aku juga belum menentukan, mungkin aku akan ikut dengan kak Yuna."
"Apa Yuri tidak punya hal yang ingin dilakukan?"
Sebenarnya sejak dulu Liyuna penasaran tentang hal ini. Dia tidak mengerti kenapa Yuriel selalu ingin mengikuti pilihannya.
Awalnya dia berpikir kalau Yuriel masih belum bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya. Namun jika dipikirkan kembali, sepertinya bukan karena itu.
Yuriel adalah gadis yang cemerlang. Dia bisa mempelajari apapun dengan sangat cepat. Tentu saja, dia juga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
Lalu apa alasan dia selalu mengikuti Liyuna?
Liyuna sangat penasaran akan hal itu.
"Hmm... Untuk saat ini aku hanya ingin berada di dekat kak Yuna."
Obrolan mereka berhenti sampai di situ. Liyuna tidak mencoba untuk bertanya lebih lanjut dan memaksa Yuriel untuk mengatakan alasan yang sebenarnya. Begitu juga dengan Yuriel, dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak berjauhan dengan Liyuna.
Sudah cukup kegagalannya dulu. Kali ini dia harus bisa melindungi Liyuna.
Meski sudah menjalani hidup ini berkali-kali, Yuriel tetap tidak memprediksi apapun karena setiap kehidupan memiliki alur yang berbeda tergantung apa yang mereka pilih.
Noel mengantar Yuriel dan Liyuna ke SMA Darien. Saat ini kedua kakak beradik itu sudah berada di kelas 2.
Ya, waktu memang berjalan dengan sangat cepat.
"Selamat pagi, Liyuna."
"Pagi, Yuriel."
Disepanjang koridor, ada saja murid-murid yang menyapa kedua kakak beradik dari keluarga Castris itu.
Semakin hari popularitas keduanya semakin naik, bahkan tidak ada satupun murid yang tidak mengenal Liyuna dan kelompoknya.
Liyuna, putri semata wayang keluarga Castris serta pewaris sah Castris Group di masa depan. Memiliki wajah cantik yang tegas dengan rambut hitam bergelombang yang menawan. Jika menatap mata birunya, sudah dipastikan akan tersihir.
Yuriel, anak angkat keluarga Castris sekaligus adik kesayangan Liyuna. Memiliki senyum bak malaikat dan ramah pada siapapun. Rambut coklatnya terlihat sangat cocok dengan daun yang berguguran.
Yvette, sahabat sejak kecil Liyuna. Seorang mood maker dengan segudang informasi. Jika didekatinya, tidak ada seorangpun yang bisa menolak. Hampir semua murid juga mengenalnya karena sifatnya yang supel itu.
Lalu yang terakhir ada Allen. Putra kedua keluarga Ravenray. Memiliki mata tajam bewarna abu bak elang dan juga tubuh atletis yang kuat. Serta satu-satunya pria dalam kelompok Liyuna.
Meski memiliki tempramen yang sedikit buruk, tidak membuat murid-murid lain berhenti untuk membencinya.
Tiba-tiba saja Yvette memeluk Liyuna dari belakang. Mendengar suara Yvette yang khas, membuat Liyuna tersenyum.
"Yuna, aku merindukanmu."
"Apa kau hanya merindukan kak Yuna?" Yuriel menggembungkan kedua pipinya.
Tidak peduli dikehidupan manapun, Yvette akan selalu berada di pihak Liyuna. Yuriel tahu akan hal itu.
Meski begitu, terkadang ia ingin menjadi orang yang paling dekat dengan Liyuna.
Mungkin dia sangatlah egois, melihat apa yang pernah ia lakukan.
"Eyy~ tentu saja aku juga merindukan Yuriel."
"Sayang sekali sepertinya Yuna tidak berpikiran sama denganmu."
Allen yang entah datang dari mana tiba-tiba melepaskan pelukan Yvette. Setelah itu ia menjauhkan Yvette dari Liyuna.
"Apa?! Itu tidak mungkin!"
Yvette menatap Liyuna dengan mata berkaca-kaca.
"Katakan kalau itu tidak benar."
Liyuna tertawa kecil sebelum akhirnya mengelus puncak kepala Yvette dengan ringan.
"Tentu saja aku juga merindukanmu Yvette."
"Kalau aku bagaimana?"
Tiba-tiba saja Allen berdiri sangat dekat dengan Liyuna. Kedua wajah mereka sangat dekat sehingga Liyuna dapat merasakan nafasnya.
Liyuna sedikit terkejut dengan jarak mereka yang dekat. Ia bisa melihat dengan jelas mata abu-abu milik Allen yang sangat indah.
"Te-tentu saja, aku juga merindukanmu." Tanpa sadar, Liyuna jadi tergagap karena gugup.
Mendengar jawaban positif dari Liyuna, Allen tersenyum dengan lembut. Ia memegang tangan Liyuna dan menaruhnya di puncak kepalanya.
Liyuna yang mengerti arti dari gestur Allen langsung mengelus lembut puncak kepalanya, sama seperti yang dia lakukan pada Yvette sebelumnya.
Melihat Allen yang seperti itu, Liyuna tidak bisa menolaknya. Lagi pula saat menjemput Lucas kemarin, dialah yang paling berjasa karena telah membawa Victor bersama dengan mereka.
Liyuna tidak tahu apa jadinya mereka jika Victor tidak ada.
Yuriel merasa sedikit kesal melihat Allen yang terlalu dekat dengan Liyuna. Ia memegang kerah seragam Allen dan menariknya kebelakang hingga menjauhi Liyuna.
Allen menatap Yuriel yang sedang menariknya. Ingin rasanya ia protes dan memarahi Yuriel, namun dia tidak bisa melakukan itu semua di depan Liyuna.
Sesampainya di kelas, mereka berempat duduk di kursi masing-masing. Mereka berempat duduk di bangku yang berdekatan, sama seperti sebelum-sebelumnya dengan Liyuna yang berada di tengah.
"Setelah pulang, ayo kita main ke kafe."
"Bukankah kau ada kegiatan klub?"
"Ah! Benar juga. Aku dan Yuriel ada kegiatan klub."
"Kalau begitu, aku dan Liyuna akan pergi berdua saja."
Mendengar hal ini keluar dari mulut Allen, Yvette dan Yuriel langsung menatapnya dengan tajam
Kedua gadis itu tidak mungkin membiarkan Liyuna pergi berdua saja dengan Allen.
"Apa?" Tanya Allen dengan muka tidak bersalah.
"Tidak, pokoknya aku tidak akan membiarkan kalian pergi berdua.,"
"Benar, jika kak Yuna pergi berdua saja dengan Allen, lebih baik aku bolos klub saja."
"Kau tidak boleh melakukan hal itu bukan?"
"Hmmph! Makanya jangan pergi berduaan dengan Allen."
Kehidupan sehari-hari mereka mulai berjalan seperti semestinya. Ketegangan yang selama ini terjadi sudah mulai memudar.
Namun dalam sebuah drama, ketenangan melambangkan sebuah bencana yang akan segera datang. Tidak ada yang tahu bencana apa yang akan datang menghampiri mereka namun, semua akan terjadi dengan sangat cepat.
TBC